And One (Part 1)

Title : And One (Part 1)

Cast :

  1. Sooyoung SNSD (17th)
  2. L INFINITE (18th)
  3. Jin BTS (17Th )

Other Cast :

  1. Gongchan B1A4 (17th)
  2. Soojin (Sooyoung Sister) (18Th )
  3. Kim Himchan B.A.P (18th)

Genre: Family, Romance, Sad, Family

Rating: PG 15

Creat By : H-By

NB :

  • maaf jika terdapat kesalahan dalam penulisan (typo)
  • maaf jika ada kata-kata kasar/menyinggung
  • maaf jika ada kesamaan cerita

Anyeong readerdeul ^^, wah udah lama gak update FF disini.

Mian ya yang udah nunggu lama, oh iya, aku bawa ff baru nih, semoga kalian suka ya🙂

dan mian, teaser ff yang ‘ITS LIKE A DREAM’ ga jadi dan aku ganti ini.

Happy reading & don’t be siders

—–And One—–

krghna

–[*Part 1*]–

TENG! TENG! TENG!

Waktu telah menunjukan pukul 9 malam, tapi Mall berisi puluhan manusia itu masih terlihat ramai. Orang-orang masih sibuk mencari barang-barang yang mereka inginkan.

“Yuri! Yuri! Cepat kesini!”

Seorang yeoja yang sedang mencoba sebuah topi berwarna biru tua kini langsung menoleh.

“Bwoya Sooyoung-a?!” Tanya yeoja yang di panggil tadi dengan kesal.

“Cepat kesini dan lihatlah!” Pekik yeoja yang di panggil Sooyoung itu. Dia terlihat begitu riang ketika memanggil sahabatnya bernama yuri itu.

“Hashh, jangan bilang jika kau melihat boneka yang matanya sudah lepas!! Itu tidak lucu!” ucap Yuri sambil menghentakan kakinya sedikit lebih keras saat dia melangkah.

“Anhi.. tapi ini…” ucap Sooyoung sambil menunjukan sebuah baju berwarna merah dan bertuliskan Manchaster United di belakangnya.

“Woww, ini keren…, modelnya berbeda dengan kaos MU biasanya” ucap Yuri yang sepertinya juga ikut antusias.

Sooyoung mengangguk setuju, “Kau benar, ahh… aku ingin membeli ini saja..” ucap Sooyoung sambil memutar baju itu.

“Bukankah Soojin Unnie tidak suka sport? Kenapa kau meng-“

“Siapa yang mau membelikan ini untuk Soojin? Tentu saja aku membeli kaos ini untuk diriku sendiri” ucap Sooyoung menyangkal.

“Eihh? Ya! Kau kan baru saja mendapat baju kebesaran tim basket sekolah..”

Sooyoung tersenyum dan sedikit membuang nafas, “Itu beda urusan Yul, sepak bola ya sepak bola, Basket ya basket”

“Tapi kita kesini untuk membeli hadiah ulang tahun unniemu Soo!“ Lagi-lagi Yuri terlihat berusaha meluruskan niat Sooyoung.

“Hoaammmmmmm” Mendengar itu, Sooyoung langsung menguap, mungkin dia sudah bosan dengan omelan Yuri.

“Apa?” Tanya Yuri tak mengerti.

“kau tahu? sebenarnya aku tidak benar-benar ingin memberi dia baju ataupun hadiah” Ucap Sooyoung dengan wajah remeh.

“Eh?”

Sooyoung memanyunkan bibirnya sebelum dia melanjutkan bicara, “lagipula… dia pasti akan mendapat banyak baju dan kado yang lebih banyak dan lebih bagus dari pemberianku…” ucap Sooyoung asal.

“PLAKK!!” Dan sebuah pukulan keras langsung mendarat di kepala Sooyoung.

“Aww.. App- poda!!! Yak kenapa kau memukul kepalaku?!” Bentak Sooyoung tak terima. Dia bahkan mendorong tubuh Yuri agar sedikit menjauh darinya.

“Bagaimana kau bisa bicara begitu?! Dia itu saudarimu satu-satunya…!” Bentak Yuri balik.

“Hasshh kau tidak akan mengerti meskipun aku menjelaskanya ber ulang-ulang, sudahlah.. cepat ambil barang yang ingin kau beli lalu pulang!” ucap Sooyoung lalu pergi begitu saja meninggalkan Yuri.

“Hmmm… Manusia itu benar-benar ya…”

——

“Aku pulaaang~” Pekik Sooyoung saat dia telah sampai di rumahnya yang nyaman itu. Rumah dua lantai yang didominasi oleh kayu, dan pasti cukup untuk empat orang yang tinggal disana.

TAPP!

Tapi langkahnya terhenti saat tidak ada satupun orang yang menyambutnya meski Ibu, Ayah, dan juga kakaknya berada disana.

“What- the hell-… is this?” Gumam Sooyoung pelan saat dia melihat ruang tamu dan juga ruang keluarga yang kini sudah terhias indah oleh bunga, Balon, dan juga beberapa hiasan khas pesta ulang tahun.

“Jadi mereka benar-benar serius untuk merayakan ulang tahunya?” gumam Sooyoung pelan.

“Oh iya…” Setelah teringat sesuatu, Wajah suntuk Sooyoung kembali berubah ceria. Diapun segera mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan ia berniat menunjukan barang itu pada keluarganya.

“Omma, Coba lihat! Aku berhasil masuk dalam tim basket sekolah!” ucap Sooyoung riang sambil menghampiri Ommanya yang sedang menata bunga di Vas.

“Sooyoungie, kau pulang terlambat lagi! Sudah kubilang… hari ini Omma memintamu pulang lebih awal agar kau bisa membantu kami!” Tidak juga menoleh ataupun melirik, Omma Sooyoung terlebih dulu memarahinya.

“Eh..?” Sooyoung pun langsung terdiam setelah melihat tanggapan Ommanya itu.

Sooyoung mendengus pelan. Tapi dia tak kehabisan semangat, diapun menghampiri Appanya dan berniat menunjukan sebuah kaos yang masih di gengamnya erat.

Tapp!

Sooyoung meraih tangan Appanya yang tidak di gunakan untuk menata kertas warna-warni.

“Appa, Appa.. lihat…! Aku berhasil masuk dalam tim basket sekolah dan besok aku akan mengikuti kejuara-“

Shett!

‘DEG’ Sooyoung langsung menghentikan ucapanya dan sedikit menjauhkan tubuhnya, saat Appanya tiba-tiba menangkis tangan Sooyoung dan menoleh padanya dengan tatapan serius.

“Sooyoungie! Bisakah kau tidak mengganggu?!” Bentak Appa Sooyoung.

“Ee.. a.. aku hanya-“

“Kau tahu kan jika besok adalah acara ulang tahun kakakmu yang ke 17?” Tanya Appa Sooyoung dengan nada yang masih tinggi.

Sooyoung menunduk, “Arraseo” ucap Sooyoung pelan.

“Lalu kenapa kau masih memikirkan basket yang tidak berguna itu?” Tanya Tuan Choi lagi.

‘DEG’ Mata Sooyoung langsung membulat mendengarnya, Bahkan Omma dan Soojin yang sedang menghias dinding dengan balon pun ikut menoleh.

“Appa…” Ucap Soojin lembut.

“Kau itu yeoja! Apa yang bisa kau harapkan dari sebuah permainan basket?” Tanya Tuan Choi lagi.

Sooyoungpun hanya bisa diam dan menunduk mendengar pertanyaan itu.

“Kau harusnya mencontoh Unniemu! dia berlatih acting, bernyanyi, dan juga melukis… agar dia bisa menghasilkan karya yang indah, yang bisa menghibur orang lain, sedangkan kau.. apa yang bisa kau hasilkan dari sebuah permainan bask- ”

“Jika kau tidak suka mempunyai anak sepertiku, kenapa kau tak membuangku saja?!” Sahut Sooyoung. Dia masih menunduk, namun bisa terdengar jika nada bicaranya berubah menjadi sangat dingin.

“Bwo?! Ka.. kau..”

“Jika kau menyesal mempunyai anak semacamku, kenapa kau tidak membiarkan aku mati saja bersama Seunghyun Oppa du-?!”

“PLAKK!!”

Sebuah tamparan keras langsung mendarat di pipi chuby Sooyoung dan membuat wajah Sooyoung tertoleh ke samping.

“Appa!” Pekik Ny.Choi dan juga Soojin. Keduanya langsung menghampiri Sooyoung dan juga Tuan Choi.

“Appa, kau tidak perlu bicara dan berbuat sekasar itu!” Ucap Soojin sambil merangkul Sooyoung dan menjauhkan tubuh Sooyoung sedikit dari Appanya.

Sooyoung sendiri masih diam dengan mata berkaca-kaca. Alisnya berkerut dan tatapanya penuh kemarahan.

Beberapa saat kemudian, dia trsenyum miris. “Soojin.., Soojin.., Soojin…, Selalu dia yang kalian Sebut,anak kalian hanya dia kan?!” Tanya Sooyoung tanpa menoleh.,

“Bwo?!”

“Sooyoungie, jangan bicara seperti itu…” Ucap Soojin pelan. Dia berniat menenangkan adiknya. Tapi..

TAPP!

“MENYINGKIR DARIKU!” Sooyoung tiba-tiba menoleh pada Soojin dan memekik begitu keras padanya.

BRUKK!!

lalu dengan begitu kasar, dia mendorong tubuh Soojin hingga yeoja itu jatuh tersungkur.

“Soojin-a…!”

“Choi Sooyoung!!!”

Sooyoung sama sekali tak peduli dengan bentakan Appa maupun Ommanya, dia langsung mendongak dan menatap tajam keluarganya itu satu-persatu.

“Keluarga aneh! Tidak berperasaan! Egois! Aku benci kalian semua!!!” Pekik Sooyoung pada semuanya. Bisa terlihat jika air mata mulai mengalir di pipinya.

“Sooyoungie tenangla-“

Sheett!!

Tap! Tap! Tap!

Tanpa mengizinkan Ommanya berbicara, Sooyoung terlebih dulu berlari dan meninggalkan rumah itu.

“Hikss…! Keluarga macam apa itu.. hiks.…”

Sooyoung terus mendumal saat dia berjalan di taman yang memisahkan gerbang dengan rumahnya.

TAPP!

“BRAKK!” Sooyoung mendorong gerbang rumahnya dengan kasar. Dia juga masih berjalan sambil menunduk dan menangis.

Eh? Awas!

Bruk!

“BRUKK!!”

Karena sama sekali tak melihat jalan, Sooyoungpun menabrak seseorang hingga keduanya terjatuh.

“Ah! Appoda!” Rintih Sooyoung pelan.

Diapun memeriksa lututnya yang kini berdarah karena terbentur oleh trap(anak tangga) yang berada di gerbang.

“Ahh, Sial!” umpat namja yang Sooyoung tabrak itu.

Sooyoung langsung mendongak dan melihat orang yang baru saja bertabrakan denganya. Namja yang kini sudah berdiri di depanya dan menatapnya dengan tajam.

“bagaimana dia bisa mengumpat seperti itu saat akulah yang terluka karena ini?!

“Tapi… siapa dia?” batin Sooyoung curiga, dia terus melihat namja itu dari atas sampai bawah dengan tatapan penasaran. Sama halnya dengan apa yang Sooyoung lakukan, namja itu juga terlihat memperhatikan Sooyoung secara keseluruhan.

“Eh?” Namja itu langsung mengernyit saat dia menyadari jika mata Sooyoung sedikit bengkak dan masih tersisa air mata disana.

“Siapa kau?!” tanya Sooyoung mengalihkan. Dia segera berdiri sendiri tanpa bantuan namja di hadapanya itu.

“apa ini rumah Choi Soojin?” tanya orang itu sambil menunjuk rumah Sooyoung.

Sooyoung mendengus karena pertanyaanya tidak di jawab. Dia melipat kedua tanganya di dada, dan terus saja menatap namja tadi dengan tajam.

“Siapa kau?” Ulang Sooyoung lagi.

Namja itu juga terlihat kesal, “Kau adiknya kan? kalau begitu berikan ini padanya! dia meninggalkan tas bekal ini seenaknya di laciku!” ucap namja itu sambil menyerahkan kotak bekal pada Sooyoung dengan sedikit kesal.

Sooyoung menatap namja itu curiga.“Apa dia teman Soojin Unnie? Atau pacarnya?” Batin Sooyoung penasaran.

“Aku-“ Saat ingin menjawab, Tiba-tiba Sooyoung malah teringat dengan kejadian tadi. Kejadian yang sering sekali menimpanya saat dia ada di rumah.

“Aku bukan Soojin dan aku sama sekali tidak peduli dengan apa yang kau bawa itu!.” Ucap Sooyoung.

Namja itupun langsung mengerutkan dahinya, dan menyipitkan matanya. “Aku tidak suka yeoja ini!” Batin namja itu.

“Tapi kau tadi keluar dari rumah ini! Apa salahnya jika-“

“Kau namja kan?!” Sahut Sooyoung.

“Bwo?”

“Jika kau namja, berhenti menjadi pengecut dan kembalikan barang itu pada pemiliknya secara langsung!” Lanjut Sooyoung dengan wajah ketusnya.

“Hey-”

Belum juga bicara, Sooyoung terlebih dulu meninggalkan namja itu dengan langkah terpincang.

——

“Punya keluarga tapi seperti tidak punya keluarga! Sialan!” umpat Sooyoung kesal. Dia masih terjaga di kursi taman yang terletak tak jauh dari rumahnya.

Taman itu memang tidak terlalu luas, namun pencahayaanya cukup untuk menerangi orang-orang yang sedang depresi di malam hari layaknya Sooyoung. Taman itu juga m emiliki air mancur kecil di tengah sehingga Sooyoung tidak bosan meski dia sudah duduk disana selama hampir satu jam.

“Bahkan saat aku pergi di malam yang selarut ini, mereka sama sekali tak mencariku! Sialan!” Sooyoung terus saja mendumal kesal. Nyeri akibat luka di lututnya pun sama sekali tak ia hiraukan.

“Haaassshhhh….. kenapa aku terlahir seperti iniiiii?!!!” Pekik Sooyoung lagi. Kali ini cukup keras dan mengakibatkan gema disana.

“Pasti kau kabur lagi dari rumah”

“Eh?” Sooyoung langsung menoleh saat seseorang yang berdiri tak jauh dari tempatnya tiba-tiba berbicara.

“Cih! Kau rupanya! Apa maumu?” Tanya Sooyoung ketus setelah dia menyadari siapa orang itu.

“Dasar bodoh! Apa kau tidak tahu bedanya kalimat permintaan dengan kalimat Tanya? Cih pantas saja nilai sastramu paling jelek di kelas” ejek namja yang berseragam sama dengan Sooyoung itu. Dia terlihat berjalan mendekati Sooyoung sambil menuntun sepedahnya.

Mendengar itu, Sooyoung langsung berdiri dan menatap namja itu tajam. “Diam! Jika kau kesini hanya untuk mencari masalah denganku… aku akan membunuhmu sekarang juga!”ancam Sooyoung. Dan sontak namja tadi langsung menghentikan langkahnya.

“Aigoo aigoo! Lihat.. kau ini yeoja tapi bersikap seperti namja begitu, bahkan lebih mengerikan…, Ya Choi Sooyoung! Kau akan sulit mendapat pacar jika kau masih se- “

Sooyoung mengernyit heran saat namja bernama Jin itu tiba-tiba berhenti berbicara. Sooyoung bisa melihat jika Jin malah menatap ke arah kakinya.

“Bwo.. Bwoya! Ap.. apa yang kau lihat haahh?!” Tanya Sooyoung curiga. Dia bahkan menyilangkan kedua tanganya di depan roknya.

“Apa yang terjadi dengan kakimu?” Tanya Jin dengan nada yang berbeda dari yang sebelumnya.

Sooyoungpun menunduk dan melihat lututnya yang berdarah itu.

“Oh… ini, bukan apa-apa” ucap Sooyoung cuek lalu kembali duduk.

“Cih! Dasar yeoja jorok!” ejek Jin. Dia pun kembali berjalan menghampiri Sooyoung dan segera duduk di samping yeoja itu.

“Kau kabur lagi?” Tanya Jin setelah dia benar-benar sudah duduk di samping Sooyoung. Meski tatapanya lurus ke depan, tapi ternyata tanganya sedikit terangkat di depan tubuh Sooyoung.

“Eung?” Sooyoung sedikit terkejut saat ternyata Jin menyodorkan sebuah plaster luka padanya.

“Cepat pakai sebelum aku muntah melihatnya” ucap Jin dengan kalimat sarkasme yang memang selalu keluar saat dia bicara dengan Sooyoung.

“Cih…” Mendengar sekaligus melihat hal itu, Sooyoung malah tertawa kecil. Dia menatap Jin sejenak.

“Bwoya?!” Tanya Jin sambil menoleh pada Sooyoung dengan wajah kesal.

“anhi” Ucap Sooyoung singkat. Dia segera mengambil plaster pemberian Jin, lalu di letakan plaster itu di lututnya yang terluka.

“Jin-Ssi” Panggil Sooyoung pelan. Dia masih menunduk dan mengusap-usap plaster yang kini telah menutupi lukanya.

“Hmm?” Tanya Jin sambil menoleh pada Sooyoung. Dia menatap wajah Sooyoung yang sedikit tertutup poni.

“Kau ingin cepat lulus dan tidak bertemu denganku lagi kan?” Tanya Sooyoung lirih.

Dan Jin tentu tersentak karena pertanyaan itu. “Apa maksudmu?” Tanya Jin tak mengerti.

“Jika iya, berarti kau harus bersyukur” Ucap Sooyoung tanpa menjawab pertanyaan Jin.

“Choi Sooyoung, bisakah kau berbicara sedikit lebih jelas?” Jin terlihat mulai kesal karena dia tak kunjung mengerti maksud Sooyoung.

Sooyoung menghela nafas lalu mendongak ke langit. Melihat bintang –bintang yang sedikit tertutup awan dan juga ranting pohon yang berada tak jauh darinya.

“Aku ingin kabur” Ucapnya lirih.

“Huh?”

“Aku ingin masuk ke SMA yang jauh dari sini, kalau bisa jauh dari Korea..” Lanjut Sooyoung.

“Kau ingin Sekolah ke luar Negeri? Kau serius? Apa kau pikir sekolah di sini tidak bagus?” Tanya Jin tak mengerti.

Sooyoung menggeleng, “Bukan masalah bagus atau tidak, aku hanya ingin jauh dari keluargaku..”

‘DEG’

Jin langsung tersentak mendengar hal itu.

“Waeyo?” Tanya Jin pelan.

Sooyoung menghembuskan nafasnya dengan berat. Dia seperti enggan untuk menjawab pertanyaan singkat Jin itu.

“Choi Sooyoung” Panggil Jin lagi saat dia tak kunjung mendapat jawaban dari Sooyoung.

Sooyoung menoleh sejenak sambil tersenyum, “Hmmm…bukan apa-apa, Kurasa aku harus pergi…” ucap Sooyoung lalu berdiri. Jin pun hanya bisa menatap Sooyoung dengan wajah kesal sekaligus penasaran.

“Gamsahamnida Jin-ssi.., Anyeong” ucap Sooyoung lalu segera berlari meninggalkan taman itu.

—***—

Sooyoung menatap jemu ke arah ruang keluarga yang kini sudah di penuhi oleh puluhan orang. Sejak tadi, dia hanya diam dan menyendiri di dekat jendela. Dia melipat kedua tanganya di dada sambil bersandar pada dinding yang ada disamping jendela.

“Weird!” Umpat Sooyoung pelan. Tatatapnya terlihat begitu malas dan enggan sekarang.

Dia menatap lagi pada Soojin, Yeoja yang berdiri tepat di tengah-tengah ruangan itu. Yeoja itu berdiri di antara hadirin dan juga kedua orang tua Sooyoung. Yeoja cantik, Putih, kalem, dan pandai yang lahir satu tahun lebih dulu dari Sooyoung itu.

“Jadi ini yang mereka bilang tidak punya uang? Bahkan hanya untuk membelikanku sebuah sepeda… , mereka bilang tidak punya uang?” Gumam Sooyoung dengan wajah penuh kebencian.

“Berada di antara merekapun aku tidak pantas” Batin Sooyoung dengan wajah sendu. Dia merapatkan bibirnya dan berusaha menahan kepedihan yang ada di hatinya.

“Berdiri disini, tapi seakan tidak ada disini!” Ucap Sooyoung lirih.

“Anggota keluarganya ada empat, tapi seakan hanya ada tiga” Sooyoung terus saja mengucapkan kalimat-kalimat yang selalu ada di pikiranya.

“Mereka tidak akan mendengarnya”

“Eh?” Sooyoung langsung menoleh saat seseorang tiba-tiba berbicara di dekatnya.

“Gongchan? kenapa kau disini?” Tanya Sooyoung heran saat dia melihat teman satu kelasnya itu berada di sampingnya sekarang.

Namja yang di panggil Gongchan itu menoleh pada Sooyoung sambil tersenyum.

“Kau lupa? kita tetangga, dan aku ingin memberikan hadiah pada kakakmu karena dia sering membantuku mengerjakan PR” ucap Gongchan tanpa melepaskan pandanganya dari Soojin.

Melihat itu, Sooyoung kembali mendengus. “Begitu ya” gumamnya pelan.

“Ya.., dia selalu berbuat baik pada semua orang” ucap Gongchan.

“Kau benar…” ucap Sooyoung lemah.

“Tapi kau terlihat tidak menyukai acara ini…, kau mendumal terus sejak tadi, menatap keluargamu layaknya mereka adalah musuh terbesarmu, mengumpat tak jelas, Hmmm… ”

Sooyoung memutar bola matanya malas, beberapa saat kemudian dia menoleh pada Gongchan dengan tatapan tidak suka.

“Kau datang kesini untuk Soojin kan? jadi lebih baik kau mejauh dariku! kau temanku, tapi sama sekali tidak membantu!” ucap Sooyoung lalu beranjak pergi.

“Bagaimana jika kau yang menerima hadiah ini?” Tanya Gongchan sambil mengangkat kado yang sudah ia siapkan untuk Soojin.

“Ha?” Sooyoung menghentikan langkahnya lalu menoleh pada Gongchan.

“Kau marah karena kau iri dengan semua ini kan?” Tanya Gongchan dengan wajah tidak bersalah.

“Iri? Cih!” Sooyoung langsung tersenyum remeh mendengar hal itu.

“Kau pikir aku mau menerima sesuatu yang bukan di tujukan untuku? Kau meremehkanmu eoh?” Tanya Sooyoung marah.

“Itulah Choi Sooyoung!” Ucap Gongchan tanpa menoleh. Dia masih menyandarkan tubuhnya pada jendela, dan tatapanya masih lurus ke arah Soojin.

“Bwo?!” Sooyoung hanya mengernyit tak mengerti setelah mendengar ucapan Gongchan. Sungguh, Gongchan adalah salah satu namja yang menurutnya memiliki kepribadian 4D. Terkadang dia begitu menyebalkan, namun terkadang dia bisa benar-benar setia kawan.

“Kau selalu berusaha mendapatkan apa yang kau inginkan dengan usahamu sendiri, tanpa mengandalkan orang lain, tanpa menunggu belas kasih orang lain”

“Aku melakukan semua itu karena tidak ada satupun orang yang bisa ku andalkan, tidak ada satu orangpun yang memiliki belas kasihan padaku!” Sahut Sooyoung.

“Itulah kenapa kau tidak perlu iri!” Sahut Sooyoung.

“Eh?”

“Mungkin Soojin Noona tidak bisa melakukan apa yang kau lakukan tadi, jadi kau tidak perlu iri…, karena saat kau ingin mendapat sesuatu, kau bisa mendapatkanya dengan tanganmu sendiri” ucap Gongchan.

Sooyoung mengerutkan alisnya sambil terus menatap Gongchan penuh tanya. Tapi beberapa saat kemudian membuang nafas.

“Freak!” Umpatnya lalu kembali beranjak pergi dari tempat itu.

Tapi, Baru sampai di depan pintu rumahnya, tiba-tiba…

“Sooyoung!” Panggil Soojin.

“Hashhh, apa lagi?!” Tanya Sooyoung sambil menoleh dengan kesal.

“GREBB”

Soojin merangkul lengan Sooyoung erat lalu di tariknya ke tengah ruangan dimana kua tart Soojin yang bertingkat tiga itu berada.

“Bwoya!” Bentak Sooyoung yang berjalan dengan enggan.

“Tunggu sebentar, okey!” ucap Soojin sambil melepaskan rangkulanya saat mereka telah sampai.

Terlihat jika Soojin meraih sebuah pisau, setelah itu dia memotong kue tart tadi dengan hati-hati.

“Kue pertama, aku berikan untuk Ommaku yang sudah berjuang untuk melahirkanku dan juga adiku” ucap Soojin. Dia segera menyerahkan piring kecil berisi potongan kue tadi kepada Ny. Choi.

“Gomawo Soojin-a” Ucap Ny. Choi lalu memeluk Soojin dengan wajah terharu.

“Waah Soojin benar-benar anak yang berbakti”

“Daebak”

“Kita perlu mencontohnya”

Sooyoung bisa mendengar jika para hadirin memuji Unnienya itu.

“Freak!” Umpat Sooyoung pelan dan dengan ekspresi muak.

“Lalu, yang kedua adalah untuk appaku yang sudah bekerja keras mencari uang untuk keluargaku” Lanjut Soojin sambil menyerahkan potongan roti yang kedua pada Appanya.

“Gomawo Soojin-a, kau adalah anak kebanggaan appa” Ucap Tuan Choi dengan wajah terharu.

“Oh God” Gumam Sooyoung malas sambil memutar bola matanya. Diapun beranjak pergi dari tempat itu.

“Dan yang ketiga adalah.. untuk adik tercintaku, Choi Sooyoung…,” Ucap Soojin sambil berlari kecil ke hadapan Sooyoung.

“Bwo?” Sooyoung menatap Soojin heran sekaligus curiga.

“meski dia memiliki sifat yang berbeda denganku, tapi dia tetaplah adiku, dan inilah gunanya perbedaan.. karena saat kita sama-“

“Saat kita sama, semua orang juga bisa menerimaku dengan baik!” sahut Sooyoung.

“Bwo?” Semua hadirin langsung menatap Sooyoung tak mengerti.

“Soojin-ssi, berhenti bersikap berlebihan!” Pinta Sooyoung dengan tatapan datar.

“Sooyoungie” Ucap Soojin pelan.

“Choi Sooyoung!” Bentak Tuan Choi.

“seindah apapun ucapanmu, mereka tetap meremehkanku, mereka akan semakin memujimu dan merendahkanku saat kau bicara seperti tadi, apa kau mengerti?!” lanjut Sooyoung.

“Sooyoungie Mianhae” ucap Soojin dengan wajah menyesal.

“Choi Sooyoung! sudah hentikan!” Bentak Tuan Choi sambil mendorong tubuh Sooyoung sedikit.

“Cih!” Sooyoungpun langsung membuang wajahnya ke arah jendela. Dia hanya berusaha menyembunyikan matanya yang terlihat berkaca-kaca.

“Ini semua tak akan berubah Choi Soojin, Aku.. akan selalu menjadi adikmu yang keparat!” ucap Sooyoung dengan tatapan tajam ke arah Soojin. Dan semua mata langsung membulat setelah mendengarnya.

“Choi Sooyoung! kubilang-“

Tuan Choi menghentikan ucapanya saat Sooyoung langsung pergi begitu saja dari tempat itu.

Tap! Tap! Tap!

Sooyoung tak peduli dengan semua orang yang kini menatapnya aneh. Sekarang ini dia hanya ingin pergi menjauh.

“BRUK!”

Tapi sepertinya niat Sooyoung tidak berhasil. Karena baru juga lima langkah menjauh dari gerbang, seseorang terlebih dulu bertabrakan denganya sehingga keduanya terjatuh.

“Ahh… “ Rintih Sooyoung pelan.

“Hahh kau lagi, kenapa kau suka sekali keluar dari gerbang dengan-“

“Hikss… hiks… hiks…” Dan namja yang Sooyoung tabrak itu langsung terdiam saat Sooyoung tiba-tiba terisak. Kedua tanganya bertumpu pada aspal dengan kepala yang menunduk kebawah, poninya dan beberapa rambutnya yang terlepas dari ikat rambutnya kini menutupi hampir seluruh dari wajah cantik Sooyoung.

“He.. hey, a.. apa kau terluka?” tanya namja itu.

Perlahan Sooyoung mendongak dan menatap orang yang dengan begitu menyebalkan sudah menabraknya.

‘DEG’

“Dia?”

__[TBC}__

Mian jika masih terdapat banyak kesalahan, tetep di tunggu tanggepanya ya ^^ biar semakin semangat ngelanjutinya.

dimohon kerja samaya, berikan sesuai dengan apa yang sudah anda dapatkan🙂

60 thoughts on “And One (Part 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s