And One (Part 3)

TITLE : And One (Part 3)

MAIN CAST:

  1. Sooyoung SNSD
  2. L INFINITE
  3. Gongchan B1A4

OTHER CAST :

  1. Jin BTS
  2. Soojin (Sooyoung Sister)
  3. Kim Himchan B.A.P

 

GENRE : Romance, Family, Sad, Friendship

RATING : PG 15

CREAT BY : H-By

—-

NB :

  • maaf jika terdapat kesalahan dalam penulisan (typo)
  • maaf jika ada kata-kata kasar/menyinggung
  • maaf jika ada kesamaan cerita

—-

 Anyeong readerdeul ^^ im back

Mian sebelumnya, ada revisi nih.. yang masalah keterangan umur di part 1, anggep itu semua ga berguna ya.

Dan aku ngerekomendasiin kalian buat ndengerin lagu sad waktu baca ini. Ya, kali aja bisa mewek hehehe

—-

happy reading and don’t be siders

—-

anddagtone

Prolog

Mungkin kita pernah membaca kisah hidup seseorang yang mengidap sebuah penyakit, tapi jarang dari kita mengetahui bagaimana perjuangan orang-orang yang mendampingi penderita tersebut.

—[AND ONE]—

Sooyoung masih diam dan berdiri di depan pintu. Dia bisa melihat jika Soojin masih belum sadarkan diri diatas ranjang rumah sakit itu.

“Hiks.. Hiks…”

Tak jauh dari ranjang Soojin, Ny. Choi terlihat masih menangis. Sedangkan Tuan Choi hanya diam dan merangkul istrinya itu. Sungguh, melihat ommanya menangis, melihat kedua orang tuanya sedih seperti itu benar-benar membuat hati Sooyoung sakit dan ingin ikut menangis.

“Apa yang terjadi? ada apa dengan Soojin Unnie sebenarnya?” Batin Sooyoung yang masih terlihat bingung dan syok.

Diapun beranjak memegang knop pintu dan berniat masuk ke dalam kamar rawat Soojin. Tapi…

“Soojinku yang malang” Sooyoung bisa mendengar Tuan Choi mulai berbicara.

“Kenapa Tuhan membuatnya seperti ini? Kenapa harus anak kebanggaanku?” lanjut Tuan Choi. Dia terlihat membelai pipi Soojin dengan lembut.

“Dia bahkan tidak pernah membentaku, atau menentangku, atau memberontak terhadap semua aturanku…” Tuan Choi terus saja mengatakan segala kebaikan Soojin.

‘DEG’ Dan entah kenapa, Sooyoung tersentak mendengar ucapan itu.

“Dan aku selalu melakukan semua itu” batin Sooyoung.

“Kenapa harus anaku Soojin?” Tanya Tuan Choi yang sepertinya mulai menangis.

“Dan kenapa bukan aku?” Entah kenapa, Sooyoung menyambung perkataan Tuan Choi.

Mungkin hanya perasaanya saja, tapi Sooyoung merasa jika Tuan Choi ingin Sooyounglah yang menimpa semua itu.

“Hiks.. hiks…, Bahkan dia baru menginjak 17 tahun” Sambung Omma Sooyoung.

Sooyoungpun semakin bingung, dia semakin penasaran dengan penyakit Soojin sebenarnya.

“Aku sungguh tidak sanggup melihat dia seperti ini, melihat dia terbaring dan kesakitan disini…” Lanjut Ny.Choi disela isakanya.

“Omma…” Gumam Sooyoung sedih.

‘Tik!’ Setetes air mata mulai mengalir di pipi Sooyoung. Meski dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Soojin, tapi perasaanya benar-benar aneh. Dia merasa sesuatu yang buruk akan terjadi. Dia merasa, jika Soojin tidak dalam keadaan baik-baik saja.

“Maaf!”

‘DEG’

Sooyoung langsung menoleh kebelakang saat seseorang tiba-tiba berbicara. Dan Sooyoungpun bisa melihat seorang dokter muda disana.

“N.. nde?” Tanya Sooyoung.

“Apa kau keluarga Choi Soojin?” Tanya Dokter itu. Dan Sooyoung hanya mengangguk.

“Oh, kenalkan… aku Dokter Kim Himchan… aku adalah dokter yang menangani kakakmu” ucap Dokter itu sambil membungkuk sedikit pada Sooyoung.

Sooyoung terdiam sejenak dan melihat kartu pengenal Dokter itu.

 

[              Kim Himchan                     ]

[                       22th                               ]

[                Neurology                       ]

 

‘DEG’

“Syaraf ?” batin Sooyoung sedikit heran.

“Oh.. Nde.. anyeonghaseyo” Sapa Sooyoung sambil membungkuk sedikit pada namja itu.

 

–[2 Month Latter]—

@Dining Room

“Sooyoungie… bisakah kau menjaga toko hari ini?” Tanya Ny.Choi pada Sooyoung yang sedang sibuk memakan roti bakar kesukaanya.

Sooyoung terdiam sejenak. “Hari ini aku harus les omma, kau tahu sendiri ujianku sudah semakin dekat..” tolak Sooyoung.

“Kau kan bisa belajar di rumah, kau juga bisa minta bantuan Soojin” ucap Tuan Choi.

“Memang dia mau membagi kecerdasaanya untuku?! lagipula… kenapa tidak Soojin Unnie saja yang menjaga toko?” Tanya Sooyoung sambil menunjuk Soojin yang juga sedang makan.

“Soojin tidak boleh terlalu lelah Sooyoungie” jawab Omma Sooyoung lembut.

“Soojin tidak boleh terlalu lelah dan aku harus selalu lelah?” tanya Sooyoung dengan nada sedikit kesal.

Semua langsung menoleh pada Sooyoung, “Sooyoungie, Soojin kan masih dalam proses penyembuhan, Ayolah kenapa kau selalu saja memikirkan dirimu sendiri?!” Tanya Appa Sooyoung marah. Dan Sooyoung hanya mendengus mendapat pernyataan itu.

Soojin berdiri sambil tersenyum melihat ekspresi Sooyoung. “Sudahlah Appa, kau tidak perlu berteriak padanya…, sebaiknya memang aku saja yang menjaga toko hari ini…, aku tida-“

“PYARR!”

Soojin yang berniat menaruh piringnya ke tempat cucian kini langsung terhenti saat tiba-tiba piring itu terjatuh dan pecah. Semua tentu langsung menoleh pada Soojin dan juga piring tadi.

“apa yang kau lakukan?” tanya Sooyoung dengan nada memarahi.

“Soojin, kau tidak apa-apa??” Tanya Ny.Choi dengan wajah khawatir. Dia segera menghampiri Soojin dan berniat menolong anak pertamanya itu.

“Ah mianhae.. kurasa.. aku.. sedikit lelah hehe…” ucap Soojin sambil berjongkok dan berniat membersihkan piring tadi.

Mendengar itu, tentu saja Sooyoung langsung mendengus. “Hashhh ya ya ya… secara lisan kau memang ingin menjaga toko, tapi secara tersirat.. kau tetap saja mendukung mereka agar aku menjaga toko hari ini…, sialan!” ucap Sooyoung kesal.

“Eh? Sooyoungie.. aku-”

“Ah sudahlah…, aku bisa apa melawanmu, kau selalu di pihak mereka… sedangkan aku berdiri sendiri” ucap Sooyoung lalu pergi begitu saja dari ruang makan itu.

“Choi Sooyoung!”

——

TAP! TAP! TAP!

Seperti biasa, Sooyoung berjalan dengan malas siang itu. Sebenarnya dia malas berpanas-panasan di dipinggir jalan, tapi bertemu dan berperang terus dengan kedua orang tuanya di rumah juga membuatnya enggan untuk sampai.

Tapi, Sooyoung berhenti tepat di depan sekolah Soojin. Sooyoung menoleh pada sekolah seni yang sangat terkenal di daerahnya itu. Sejenak, dia menatap Sekolah Soojin tersebut dari atap hingga tanah.

“Apa hebatnya sekolah ini? cih!” Ejek Sooyoung dengan nada meremehkan.

Karena kesal, dia segera berjalan dan beranjak pergi dari tempat itu. Tapi..

“Sooyoungie, omma minta tolong… kau pulang bersama Soojin ya, Omma takut terjadi sesuatu padanya jika dia naik bus sendirian”

Sesaat Sooyoung teringat oleh permintaan Ommanya tadi pagi. Hahh… benar, dia hampir lupa jika dia punya tugas baru.. yaitu menunggu Soojin pulang.

Sooyoungpun memutuskan untuk duduk di kursi taman yang menghadap ke sekolah Soojin. Sembari menunggu kakaknya, dia memutuskan untuk mendengarkan musik dengan earphonenya.

“Hey gadis aneh! bisakah kau tidak duduk disini? kau membuat teman-temanku tidak bisa menemukanku..”

“Eung?” Sooyoung yang baru beberapa menit menikmati lagu, kini sudah terganggu dengan suara yang sangat tidak mengenakan. Diapun melepas satu earphonenya dan menoleh kebelakang.

“Ommo…” Sooyoung langsung terkejut setelah melihat seorang namja sedang duduk membelakanginya. Ya, tentu saja. Semua kursi di Taman itu memang memiliki dua sisi yang saling membelakangi.

“Kenapa kau ada disini?” Tanya Sooyoung pada namja bernama Myungsoo yang kini sedang membaca sebuah buku.

Myungsoo menoleh sejenak pada Sooyoung, Dengan tatapan dingin dan datar tentunya.

“Kau lupa, kau sedang duduk di seberang sekolahku” ucap Myungsoo tanpa menoleh.

Sooyoung mengernyit, “Aku tahu, tapi kenapa kau sudah keluar? kau.. kau membolos ya?” Tanya Sooyoung curiga.

Myungsoo langsung menoleh kebelakang dan menatap Sooyoung tajam. “Tentu saja tidak!” ucap Myungsoo tak terima.

“Lalu dimana Unnieku?” tanya Sooyoung sambil menoleh-noleh kesekitar sekolah Soojin.

“Dia terlalu bodoh.. sehingga dia belum juga selesai mengerjakan tes hari ini…” ejek Myungsoo dengan nada santai.

Sooyoung menoleh pada Myungsoo dengan tatapan kesal. “Cih… Sombong sekali.., jika Soojin unnie bodoh, lalu apa sebutan yang pantas untuku” gumam Sooyoung pelan.

“Cih..” Entah kenapa Myungsoo tersenyum tipis setelah mendengar pernyataan Sooyoung tersebut.

“Dasar aneh” Ejek Myungsoo pelan dan tanpa sepengetahuan Sooyoung tentunya.

“Oh.. bukankah itu Appa?” Sooyoung langsung berdiri saat dia melihat mobil Appanya berhenti di depan sekolah Soojin. Meski tidak terlalu kelihatan, tapi Myungsoo ikut menoleh dan melihat apa yang Sooyoung lihat.

“Bukankah tadi dia bilang sibuk dan tak bisa menjemput…? tapi kenapa…” Sooyoung bergumam pelan.

Myungsoo melirik Sooyoung yang terlihat tidak baik-baik saja sekarang. Dia bisa melihat wajah sendu dari yeoja yang ia kira selalu ceria itu.

Beberapa saat kemudian, Soojin terlihat keluar dari sekolah itu dan segera masuk ke dalam mobil Tuan Choi.

“Hey, kenapa kau tidak kesana? bukankah itu keluargamu?” tanya Myungsoo sambil menunjuk mobil Tuan Choi.

“Hufftt..” Medengar itu, Sooyoung malah menunduk lemah sambil memanyunkan bibirnya.

“Aku dibodohi lagi..” gumam Sooyoung sambil mengacak rambutnya frustasi. Dia tak peduli jika dia jadi terlihat seperti orang gila sekarang.

“Dibodohi?” Tanya Myungsoo tak mengerti.

Sooyoung mengangguk pelan, “Kenapa harus menyuruhku menunggu jika mereka bisa mengorbankan pekerjaanya?” Gumam Sooyoung lagi.

“Apa yang kau bicarakan sebenarnya?” Tanya Myungsoo bingung.

Sooyoung menoleh pada Myungsoo sejenak lalu menggeleng. “Bukan apa-apa… hashh harusnya aku tahu, aku kan memang orang bodoh” gumam Sooyoung pelan.

“Eung?” Myungsoo masih tidak mengerti dengan maksud Sooyoung. Tapi dia mulai tahu satu hal, ada yang tidak beres dengan keluarga Sooyoung.

“Hey! Choi!” Myungsoo dan Sooyoung langsung menoleh saat seseorang tiba-tiba berteriak tak jauh dari mereka.

“Eung?” Sooyoung mengerutkan dahinya saat dia menyadari jika Jin lah yang baru saja memanggilnya.

“Apa maumu?” Tanya Sooyoung dengan nada sedikit ketus.

“Ya Tuhan, bisakah kau tidak berbicara seperti ular begitu?” Tanya Jin saat dia sudah berdiri di hadapan Sooyoung.

“Jika denganmu, aku akan terus melakukanya! itu adalah wujud antisipasi jika nanti kau mengajaku bertengkar lagi, week!” Ucap Sooyoung sambil menjulurkan lidahnya.

“Ya Tuhan, kau selalu saja berburuk sangka padaku” ucap Jin kesal. Beberapa saat, Jin menoleh pada Myungsoo yang kini sudah menghadapkan tubuhnya seperti semula seolah dia tak mengenal Sooyoung.

“Apa maumu?” Tanya Sooyoung.

“Hey! apa kau tahu jika Melody Performing Art High School sudah membuka pendaftaran beasiswa untuk siswa baru?” Tanya Jin sambil menunjuk sekolah Soojin.

“Untuk apa aku tahu?” tanya Sooyoung dengan tatapan datar.

‘DEG’

Entah kenapa, Myungsoo menghentikan kegiatanya membaca setelah dia mendengar pernyataan Sooyoung barusan.

“Kau tidak ingin masuk kesini? Ya.. kau harus tahu.. Sekolah kita punya koneksi baik dengan sekolah ini, jadi kursi yang di sediakan lebih bany-“

“Aku sudah bilang padamu kan? aku sama sekali tidak ingin sekolah di kota ini?! apalagi masuk ke sekolah antah brantah ini!!” Bentak Sooyoung.

Myungsoo tentu saja tersentak mendengarnya. “Antah Brantah?” batinya.

Jin sendiri langsung terdiam sejenak, “Ng.. Waeyo? bukankah Soojin Noona ju-“

“Karena Soojin ada disinilah, makanya aku tidak akan masuk kesini Jin-ssi!” Sahut Sooyoung dengan nada marah.

“Sooyoungie..”

“Tidak satu sekolah denganya saja aku sudah sering di remehkan dan di banding-bandingkan, bagaimana jika aku berada di satu gedung denganya..?” Tanya Sooyoung. Dan Jin langsung terdiam mendengarnya.

“Diremehkan? Di banding-bandingkan?” Batin Myungsoo penasaran.

“ Atau jangan-jangan… kau ingin aku merasakan itu juga saat aku SMA? kau ingin melihat aku di permainkan oleh teman-temanku nanti eoh?” tanya Sooyoung curiga.

Jin membulatkan matanya, “Sooyoungie.. tentu saja tidak! aku bukan bermaksud seperti itu, Mianhae.. aku..”

“Hasshh kenapa aku jadi marah-marah begini” Sooyoung tiba-tiba mendongak saat dia merasa ada air mata yang akan keluar dari matanya. Beberapa saat kemudian, dia membungkuk sedikit pada Jin.

“Mianhae, aku sudah berlebihan dan marah-marah padamu… mianhae” ucap Sooyoung pelan.

‘DEG’

Jin tentu saja terkejut dan semakin merasa bersalah pada Sooyoung. Dia tahu jika Sooyoung sedang merasa tidak baik sekarang.

“Aku harus menjaga toko…, aku pergi dulu, Anyeong” ucap Sooyoung lalu segera pergi meninggalkan Jin yang hanya terdiam.

 

——

 

Seorang yeoja bernama Sooyoung masih terlihat membersihkan meja dan kursi yang sudah tertata rapi. Ya, sebenarnya toko kue keluarganya itu tidak terlalu besar. Tapi karena semua pekerjaan harus Sooyoung tangani sendiri hari ini, diapun merasa sedikit kelelahan.Sesekali, Sooyoung mengusap keringat yang mengalir di dahinya.

“Haahh… Fighting Sooyoungie!” ucap Sooyoung menyemangati diri sendiri.

Setelah selesai membersihkan meja, Dia segera berjalan menuju tempat kasir dan berniat menata segala perlengkapan disana.

“Aku dataaaaang!”

Sooyoung langsung menoleh ke arah pintu masuk saat seseorang tiba-tiba berteriak dengan riang.

Sooyoung mengernyit, “Chansik?”

“Oh hay!” sapa Gongchan dengan wajah ceria yang selalu di tunjukan oleh namja itu.

“Apa yang kau lakukan disini? kau mengantar sesuatu?Eh,, tapi… bukankah Ommaku sudah belanja semua kebutuhan di tokomu tadi pagi?” tanya Sooyoung heran.

“Aku kesini bukan untuk mengantar sesuatu” ucap Gongchan.

“Kau ingin membeli kue? Ah… sebenarnya toko ini belum buka.. tapi kau bisa mengambil yang kau ing-“

“aku kesini karena Ommamu bilang dia harus pergi ke Busan.. jadi dia memintaku kesini untuk membantumu” sahut Gongchan.

‘DEG’

Sooyoung sedikit terkejut mendengarnya, “Ommaku… memintamu… membantuku?” Tanya Sooyoung sedikit ragu.

Gongchan mengangguk, “Dia terlihat khawatir padamu Sooyoungie” ucap Gongchan sambil tersenyum penuh arti.

Dan Sooyoung ikut tersenyum mendengarnya. Ya, Gongchan memang selalu membuatnya berfikir positif terhadap apa yang akan terjadi.

“PYARRR!!!”

“Eh?”

Sooyoung dan Gongchan langsung menoleh saat sebuah suara seperti benda terjatuh terdengar dari arah dapur toko.

“Apa itu?” Ucap Sooyoung dengan ekspresi terkejut. Dia dan Gongchan segera berlari ke arah Dapur dan melihat apa yang terjadi.

“Soojin Unnie?!” Sooyoung lansung memekik saat dia melihat Soojin sudah tergeletak tak berdaya dengan beberapa pecahan piring di sekitarnya. Sooyoung dan Gongchan pun langsung menghampiri Soojin dan berniat menolong yeoja itu.

“Ya Tuhan… Soojin Noona.. apa yang kau lakukan?” tanya Gongchan disela kegiatanya menggendong Soojin.

Soojin menghela nafas sejenak sebelum dia menjawab.

“Aku hanya… ingin membantu Sooyoung…” ucap Soojin dengan suara parau.

‘DEG’

Sooyoung yang berjalan di belakang Gongchan tentu saja terkejut mendengarnya. Kini, perasaan bersalah langsung menghantui pikiranya.

 

——

 

“PLAKK!!”

Wajah Sooyoung langsung tertoleh saat Tuan Choi langsung menampar pipinya dengan keras. Goncghan yang berdiri tak jauh dari sana, hanya bisa terbelalak melihat hal itu. Dia bisa melihat, jika mata Sooyoung mulai berkaca-kaca. Wajahnyapun menampakan kebecian dan kesedihan dalam waktu bersamaan.

“Apa yang kau lakukan?! aku sudah bilang.. Soojin masih dalam proses penyembuhan! kenapa kau masih menyuruhnya mencuci piring?! bukankah Ommamu juga sudah meminta Gongchan untuk membantumu?! Choi Sooyoung.. kenapa kau selalu saja egois dan tak pernah memikirkan kebaikan Soojin?!” pekik Tuan Choi marah.

Sooyoung hanya diam, dia sama sekali tak menjawab, menyangkal maupun menanggapi Appanya itu. Dia terlalu sedih dengan apa yang terjadi pada Soojin, apalagi ditambah dengan perlakuan kasar dari Appanya itu.

“Ada apa ini?” Tanya Ny. Choi yang baru datang dari arah pintu. Dia cukup terkejut melihat pipi Sooyoung yang masih merah.

“Sooyoungie, waegurae?” Tanya Ny. Choi lembut saat dia sudah berdiri di samping Sooyoung.

“Mianhae..” ucap Sooyoung lirih. Benar, hanya itu yang bisa ia ucapkan. Itupun dengan wajah yang begitu menyedihkan.

“Mianhae.. hiks…” Sooyoung mulai mengulangi ucapanya. Namun kali ini terdengar juga isakan disana.

“Sooyoungie.. kenapa kau minta maaf? Yeobo.. apa yang sudah kau lakukan?” tanya Ny.Choi pada suaminya.

“Mianhae..Hiks…. mianhae…” Ucap Sooyoung lagi. Setelah itu, dia segera pergi dari rumah itu. Dia terlalu malu untuk mengeluarkan air mata di depan kedua orang tuanya.

“Sooyoungie..”

 

—–

 

“Hiks… hiks… hikss…” Sooyoung masih terus terisak di kursi taman yang berada di dekat rumahnya. Dia menutup wajahnya dengan kedua tanganya agar orang lain tidak bisa melihat bagaimana sedihnya dia sekarang. Namun, bisa dilihat jika bahu Sooyoung naik turun seiring dengan isakan yang keluar dari mulutnya.

“TAP!”

Sooyoung terdiam sejenak saat dia merasa ada seseorang yang berdiri di depanya. Dengan sedikit ragu, dia membuka kedua tanganya.

‘DEG’

Dan perlahan, dia bisa melihat seorang namja tinggi sedang berlutut di depanya. Yang membuat Sooyoung terkejut adalah, karena namja bernama Gongchan itu membawa dua lollipop dan ditaruh di depan kedua matanya.

Sooyoung terdiam sejenak sambil menatap namja itu. Beberapa saat kemudian, Gongchan mengayunkan lolipop itu kesamping agar dia bisa melihat wajah Sooyoung sekarang. Gongchan terlihat tersenyum lembut pada yeoja itu.

“Nah” Gongchan menyodorkan lolipop yang ada di tangan kanannya pada Sooyoung.

“Go..gomawo.. hiks…” Ucap Sooyoung sambil menerima lolipop itu perlahan. Gongchan bisa melihat, jika tangan Sooyoung gemetar saat menerima lollipop itu.

Tidak seperti tadi, Gongchan kini hanya terdiam melihat bagaimana sedihnya Sooyoung saat ini. Ada setetes kepedihan Sooyoung yang ikut merasuk ke dalam hatinya. Beberapa saat kemudian, Gongchan memilih duduk di samping Sooyoung.

Beberapa saat, mereka hanya diam. Hanya terdengar isakan perih Sooyoung disana. Tidak seperti biasanya, Gongchan kini hanya diam dan tidak berani mengucapkan apa-apa.

“Kenapa… kenapa aku seperti ini Gongchanie?” tanya Sooyoung disela isakanya. Dia masih meremas kedua tanganya dengan erat.

“….” Tidak ada jawaban. Gongchan masih membiarkan Sooyoung meluapkan segala emosinya.

“Kenapa… aku… selalu menjadi orang… yang tidak berguna meski aku sudah berusaha? Hiks…” Sooyoung terus saja bertanya pada namja di sampingnya itu.

“……” Masih tidak ada jawaban. Gongchan seakan lupa dengan semua ucapan positifnya sekarang. Dia hanya diam dengan dada yang terasa sesak. Matanya ikut berkaca-kaca seakan dia merasakan bagaimana pedihnya hati Sooyoung saat ini.

“Kenapa.. aku selalu menghancurkan segalanya?!.. hiks…. kenapa… kenapa aku selalu menjadi penyebab sebuah masalah? Hiks..” Tanya Sooyoung lagi. Kali ini dia berbicara sambil mencengkram gagang lolipop tadi dengan erat.

Gongchan pun menarik nafas dalam setelah mendengarnya.

“Kenapa Gongchanie? Kenapa Tuhan tidaka adil? kenapa aku terlahir seperti ini?!” Kali ini, Sooyoung bertanya sambil menoleh pada Gongchan.

‘DEG’

Melihat itu, Gongchan kembali menarik nafas dalam. Bibirnya kini bergetar dan terasa sulit untuk mengucapkan sesuatu.

‘TIK!’ Setetes air mata mulai ikut jatuh dan mengalir di pipinya. Ingatan bagaimana Tuan Choi dengan begitu kejam menampar Sooyoung masih terngiang di ingatanya.

‘TAP!’

Tanpa bicara apa-apa, Gongchan meraih kepala Sooyoung lalu di sandarkanya pada bahunya yang kekar. Setelah itu, dia menepuk-nepuk kepala Sooyoung pelan agar gadis itu sedikit lebih tenang.

“Mianhae.. aku tahu yang sebenarnya, tapi aku tidak bisa membantumu..” ucap Gongchan lirih. Dan Sooyoung sedikit tersentak mendengarnya.

“Aku.. berjanji untuk menjadi teman yang baik untukmu…., tapi… “ Gongchan menghela nafas sejenak.

“Tapi.. pada kenyataanya, aku tak pernah bisa membantumu apa-apa..” ucap Gongchan lirih.

“Hiks.. hiks.. hiks…” Dan Sooyoung hanya bisa menggeleng di sela isakanya.

Gongchan terdiam sejenak, “Jika kau masih terpukul karena ini, kau bisa tinggal di rumahku untuk sementara…, aku… akan bilang pada bibi Choi tentang ini… ” ucap Gongchan.

Sooyoung mengangguk, “Gamsahae..” ucap Sooyoung lirih.

 

—[1 Week latter]—

Sooyoung segera berlari ke rumah sakit saat dia mendengar Soojin kembali terjatuh. Bahkan, kabarnya Soojin mengalami pendarahan hebat di kepalanya.

TAP

TAP

TAP

Sooyoung langsung memperlambat langkahnya saat dia melihat kedua orang tuanya sedang berdiri dengan wajah panik di depan pintu UGD.

“Appa.. Omma… apa yang terjadi?” Tanya Sooyoung.

“…..” Tidak ada jawaban. Kedua orang tuanya hanya menatapnya dengan sendu, itupun hanya beberapa detik.

“Appa, Omma… Apa penyakit Soojin unnie sebenarnya? Kenapa dia sering mengalami hal seperti ini? ” Tanya Sooyoung. Kali ini dengan ekspresi sedikit memaksa.

“Bukan sesuatu yang serius Sooyoungie, hiks.. dia… dia hanya kelelahan..” ucap Omma Sooyoung pelan.

Sooyoung memalingkan wajahnya sejenak ke arah lain. “tidak serius? lalu kenapa dia harus di tangani oleh dokter spesialis syaraf?” Tanya Sooyoung.

‘DEG’

Omma dan Appa Sooyoung langsung menoleh. “Ba. bagaimana… kau…”

“Kenapa kalian tidak mau mengatakanya padaku? setidak berartikah itu aku di keluarga ini? apa aku bukan anggota keluarga yang penting yang tidak boleh tahu apa penyakit kakaku sendiri?” tanya Sooyoung lagi.

“Bukan seperti itu Sooyoungie..”

“Kenyataanya memang selalu seperti itu! kalian tidak pernah menganggapku ada di keluarga ini!” ucap Sooyoung lalu pergi begitu saja dari tempat itu.

——-

Sooyoung memasuki perpustakaan besar yang memang tersedia di rumah sakit itu. Sebenarnya dia sedikit ragu untuk datang kesana. Tapi saat dia mengingat ada sebuah pertanyaan yang masih belum terjawab, Diapun melawan keengganan itu.

Dia mulai menyusuri tiap rak dan mencari sebuah buku yang mungkin bisa memecahkan teka-teki di otaknya. Dan dia terhenti pada ujung rak yang berada di paling kiri perpustakaan itu.

[Staff List ]

Itu judul buku yang membuat Sooyoung berhenti melangkah. Dengan cepat, Sooyoung meraih buku itu dan berniat mencari informasi di dalamnya.

Lembar perlembar mulai dia periksa. Dia terus mencoba mencari seseorang yang sangat ingin dia ketahui keteranganya itu. Dan dia terhenti pada sebuah lembaran dimana dia melihat sebuah foto namja.

“Nama : Kim Himchan…, Umur : 23rd tahun, Lulusan : Seoul Medical University…. Mulai bekerja : tahun 2012….”

“Dia dokter baru? pantas masih muda..” Gumam Sooyoung pelan sebelum dia melanjutkan membaca.

“Menangani kesalahan pada sistem syaraf dan sistem pernafasan khususnya pada penyakit Amyotropic Lateral Sclerois (ALS)”

‘DEG’

Mata Sooyoung membulat untuk beberapa saat. Tubuh Sooyoung langsung melemah, Kedua tanganya langsung tergelantung lemah seakan sudah tidak ada otot disana.

“Apa ini?” gumamnya lirih.

“Amyotropic… Lateral.. Sclerois…? Penyakit apa itu? “

Sooyoung terdiam sejenak untuk befikir. Dia berusaha membuang pikiran buruk tentang kakak satu-satunya. Berusaha mengingat penyakit ringan yang mungkin di derita oleh Soojin.

Tapi… beberapa saat setelah itu, dia segera menaruh buku tadi dan beranjak mencari buku lain.

Dengan tergesa-gesa, Sooyoung mencari jajaran buku penyakit yang berjajar rapi pada sebuah rak.

‘TAP!’

‘Dapat!’

[Amyotropic Lateral Sclerois (ALS)]

Sooyoung segera mencari tempat duduk dan beranjak membaca buku itu.

[Amyotropic Lateral Sclerois atau ALS adalah sebuah penyakit dimana terjadi kelumpuhan pada sel saraf otot pernafasan. Beberapa gejala dari penyakit ini yaitu tidak bisa mengangkat barang berat atau lemah saat berjalan. Bila terkena syaraf pencernaan maka penderita akan sulit saat menelan, mudah tersedak, ataupun hilang refleks batuk. Selain itu penderita akan mngalami kram dan kejang otot sehingga pada akhirnya bukan hanya kaki dan tangan saja yang tidak bisa di gerakan, namun juga adanya perubahan suara atau bahkan tidak bisa berbicara pada akhirnya. Selain karena kelumpuhan pada otot pernapasan sendiri, progresif dari sistem syaraf yang berhubungan dengan kerusakan sel syarafnya juga sangat cepat dan bisa menyebabkan otot syaraf mati dan akhirnya penderita meninggal.]

‘DEG’

Mata Sooyoung membulat sempurna. Telunjuknya langsung berhenti pada kata Terakhir itu.

“Me.. ning… gal?” gumam Sooyoung parau. Tak terasa, Cairan bening mulai terlihat di pelupuk matanya.

[Penderita hanya bisa bertahan 3-4 tahun dan penyembuhan untuk penyakit ini belum di temukan.]

‘DEG’

Mata Sooyoung semakin membulat sempurna. Cairan bening yang telah terkumpul di pelupuk matanya, kini mulai mengalir perlahan di pipi indahnya.

“Belum di temukan?” gumamnya lagi.

Apa ini?

Apa yang terjadi pada Soojin Unnie?

Kenapa dokternya adalah orang yang menangani penyakit aneh ini?

Sooyoung terus saja bertanya-tanya tentang semua ini. Dan setelah itu juga, dia akan langsung menyangkal jawaban buruk yang tiba-tiba muncul di otaknya.

“Tidak.. Tidak mungkin..! ini tidak mungkin!” ucap Sooyoung sambil menggelengkan kepalanya.

“GRKK!” Sooyoung langsung berdiri dari duduknya. Disempatkanya untuk mengusap air mata yang membasahi pipinya. Setelah itu, Dia mengambil buku tadi dan berniat meminjamnya .Dia memutuskan untuk beranjak pergi dan berniat menemui Dokter yang menangani kakaknya itu.

 

——-

 

Sooyoung menatap papan keterangan yang berada di atas sebuah pintu.

[Neurology Departement]

Begitu tulisanya. Entah kenapa, Sooyoung jadi takut dan langsung merinding jika melihat kata itu ‘Neurology / Sistem Syaraf’.

Dengan menggenggam erat buku ALS tadi, Sooyoung memantabkan niatnya untuk masuk ke dalam ruangan itu.

Tapi…

Belum juga memegang knop pintu, Pintu tersebut sudah terlebih dulu terbuka.

‘DEG’

Sooyoung langsung memundurkan tubuhnya dengan tatapan terkejut.

“Eh? kau?” Gumam Sooyoung sambil menatap namja yang kini juga menatapnya.

“Ada apa Myungsoo-ya? Oh… kau.. adik dari Choi Soojin kan?” Lalu, dari belakang Myungsoo, muncul Dokter Kim yang kini menatap Sooyoung.

Sooyoung terdiam sejenak dan menatap keduanya bergantian, “Kenapa dia ada di ruangan Dokter Kim?” batin Sooyoung.

“Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Myungsoo dingin.

‘DEG’

Mengingat hal itu, Sooyoung jadi teringat oleh buku yang ia bawa. Sooyoungpun menunduk dan menarik nafas dalam.

“Ada apa denganya?” Batin Myungsoo heran.

“Dokter Kim..” Panggil Sooyoung. Dia terlihat mendekat pada Himchan perlahan dan melewati Myungsoo.

Myungsoo dan Himchan menatap Sooyoung bingung. Apalagi, tetes demi tetes air mata keluar dari mata gadis itu.

“Apa yang terjadi? Kenapa kau mena-“ Dan Himchan terhenti saat dia melihat buku yang Sooyoung bawa.

“I..itu..”

Sooyoung mendongak dan menatap Himchan sendu.

“Apa yang terjadi pada kakaku dokter?” Tanya Sooyoung lirih.

“Eh? apa ini berhubungan dengan Soojin?” Myungsoo tentu saja heran dengan pertanyaan Sooyoung.

“Kenapa kau…. Yang menangani dia?” Tanya Sooyoung lagi.

“Nona Choi…”

“Kenapa dokter yang menangani dia harus dokter spesialis saraf? Kenapa harus dokter semacamu yang menanganinya?!” Tanya Sooyoung lagi.

Himchan hanya diam dan menatap sedih ke arah Sooyoung. Sedangkan Myungsoo menatap Sooyoung heran dan bingung.

“Soojin? Di tangani… Himchan Hyung?” batin Myungsoo.

“Dokter! Dia tidak mengidap penyakit ini kan?” Tanya Sooyoung sambil menunujuk buku yang ia bawa.

‘DEG’

Dokter Kim terlihat terkejut mendapat pertanyaan itu. “Apa dia.. sudah tahu? apa dia mencari tahu?” Batinya.

“Dia tidak akan lumpuh kan dokter? Hiks.. Dia.. dia tidak akan meninggal dengan cepat kan? Hiks… dia.. akan bertahan lebih dari empat tahun kan ? Hiks.. hiks…. Iya kan dokter?” Sooyoung mengguncang kerah baju dinas Himchan sambil terus terisak. Dia menunduk namun kedua tanganya masih berpegangan pada baju dokter itu.

“Soojin? Lumpuh?” batin Myungsoo yang tentu saja tersentak mendengarnya.

Himchan terdiam sejenak. “Mianhae,” ucap Himchan. ya, Memang hanya itu yang bisa dokter tampan itu ucapkan.

“Kenapa kau minta maaf? Hiks.. kau…kau.. akan menyembuhkan dia kan? Hiks… kau… kau akan menolongnya kan dokter?” Tanya Sooyoung lagi.

“Hiks.. hiks.. hiks…” Sooyoung semakin menangis tersedu. Sungguh, jika dia bisa pingsan, dia ingin pingsan saja. Dan saat dia terbangun semua akan kembali seperti semula dan tidak ada sesuatu yang terjadi pada kakak satu-satunya itu.

Himchan hanya menunduk. Sungguh, Hal seperti inilah yang paling menyakitkan baginya. Melihat pasien dan keluarganya terpuruk seperti ini.

Perlahan, Sooyoung jatuh terduduk dan sekarang terlihat seperti orang yang berlutut pada Himchan.

‘DEG’

Himchan maupun Myungsoo tentu terkejut melihat hal itu.

“Beberapa hari lalu…, dia menolak masuk di sekolah yang sama dengan Soojin. Tapi sekarang.. dia berlutut seperti itu.. seakan kesembuhan kakaknya lebih berharga daripada harga dirinya sekalipun” Batin Myungsoo.

“Hiks… Aku mohon, selamatkan kakaku… selamatkan dia bagaimanapun caranya… aku mohon, biarkan dia hidup lebih lama dan bahagia dengan orang-orang yang dia sayang…, aku mohon padamu, Aku mohon padamu dokter… hiks.. hiks.. hiks..…” pinta Sooyoung sambil membungkuk berkali-kali pada Himchan. Air mata terus mengalir di pipinya. bahkan beberapa dari air mata itu, membasahi lantai ruangan Dokter Kim.

Melihat Itu, Myungsoo seakan tercekak. Dia merasa benar-benar iba dan ikut merasakan betapa sakit Sooyoung saat ini. Sungguh, sebenarnya dia bukan orang yang peduli dengan sekitar. Dia hanya memikirkan apa yang perlu dia pikirkan. Dia tak peduli dengan apa yang terjadi pada orang lain.Tapi sekarang, Myungsoo merasa aneh. Myungsoo merasa ada sesuatu yang menyakitkan yang ikut masuk ke dalam hatinya.

‘TAP’

Myungsoo berniat menghampiri Sooyoung dan menenangkan gadis itu. Tapi ternyata Himchan ikut berlutut dan menghadapkan tubuhnya pada Sooyoung.

“Hey.. Nona Choi” Panggil Himchan lembut.

“Dia terlalu baik untuk menerima ini…, hiks… dia… terlalu muda.. untuk mengidap penyakit ini…,hiks… “ Lagi-lagi Sooyoung mengucapkan perkataan yang siapapun bisa ikut sedih jika mendengarnya.

“TAP!” Himchan memegang kedua bahu Sooyoung dan menyuruh gadis itu menatapnya.

“Nona Choi.. tenanglah..” ucap Dokter Kim lembut.

“Aku.. akan berusaha semampuku untuk mengobatinya…., sungguh…” ucap Dokter Kim. Sooyoung sendiri hanya diam dan menatap dokter itu.

“Yang terpenting adalah… kau.., keluargamu, dan juga teman-temanya.. selalu mendukungnya bagaimanapun keadaan dia nanti” ucap Dokter Kim.

“Hiks…” Dan Sooyoung hanya mengangguk pelan. Dia menutup mulutnya agar isakanya berhenti. Atau setidaknya sedikit teredam.

“Benar-benar tidak bisa di percaya.., “ batin Myungsoo. Dia kini hanya bisa menatap Sooyoung yang terus menangis di hadapan Himchan.

“Hiks.. hiks…”

“Eh?” Myungsoo, yang merasa mendengar isakan dari luar kini langsung menoleh.

“Siapa itu?” Batin Myungsoo penasaran. Diapun segera keluar dan melihat siapa orang yang terisak itu.

‘TAP!’

‘DEG’

Myungsoo langsung terkejut saat dia melihat seorang yeoja yang kepalanya di perban, kini bersandar pada tembok dengan lemah. Yeoja itu menangis tersedu-sedu, tak kalah dengan Sooyoung.

“Soojin..” ucap Myungsoo pelan. Dia segera menghampiri Soojin, meski dia tidak tahu apa yang akan dia lakukan setelah itu.

“Hiks.. hiks.. hiks…” Soojin terus terisak. Dia memejakan matanya rapat-rapat, Dia menutup mulutnya dengan tangan agar isakanya tidak terdengar siapapun.

Myungsoo menghela nafas sejenak. Hatinya sekarang sudah benar-benar ikut sakit karena melihat dua yeoja menangis dengan begitu menyedihkan di hadapanya.

Beberapa saat kemudian, Myungsoo berjalan mendekat pada Soojin.

“Soojin-ssi…, ayo.. kita kembali ke kamarmu” ajak Myungsoo. Dia segera memegang kedua bahu Soojin dan berniat membawa yeoja itu pergi. Dia hanya tidak mau Sooyoung tahu jika Soojin mendengar ucapanya bersama Dokter Kim tadi.

.

__TBC__

.

.

Gimana readerdeul? ada yang terbawa sampe mewek ga? atau masih kurang ngefeel?

Ah mian ya atas semua kesalahan. /BOW/

Tetep di tunggu tanggepanya, semakin banyak semakin semangat ngelanjutinya🙂

50 thoughts on “And One (Part 3)

  1. Ve berkata:

    Soojin kasian kena penyakit ALS, ternyata Soo eonni sayang bgt yaa sm soojin sampai mohon” ke himchan buat sembuhin soojin.
    Kenapa sih Soo eonni selalu di gituin sm appanya?padahal kan dia anaknya juga..
    Ini Soo eonni jadinya sm siapa nih? Jin, Myungsoo, atau Gongchan?
    Next ditunggu….

  2. tanpa dengerin lagu sad pun air mata ku dah segalon(?) ya ampun… appa soo kejam banget,walau pun soojin punya penyakit ALS tp ga gitu gitu juga kali -,- nyesek bacanya… apa lagi pas ada kalimat ‘ kenapa harus anak kebanggaan ku? ‘ nyindir sooyoung banget,apa maksudnya biar sooyoung aja yg harus ngerasain bukan soojin? oh iya soojinnya knp? next eonn… daebbak (Y)

  3. tanti berkata:

    annyeong aku reader bru… Sbnarnya aku adalah knight.. Tp stlah nemuin blog ini dan bc smw ffnya aku jd tertarik.. Critanya bgus2.. Mian bru cmment dsini.. Ne ffnya bkin aku nangs kshan soo selalu gk dianggap pdahal dya sayank bnget ma soojin.. Next chingu.. N fighting buat nulisnya..

  4. ranranii berkata:

    Soojin kasian…
    Sooyoung kasian jugaa…
    Appanya kok jahat banget sih, kasian tuh sooyoung sampek di tampar…
    Ciee himchan jadi dokter wkwk
    Itu myungsoo sama himchan sodara yaa…
    Ditunggu lanjutantannya, fighting!!!

  5. febryza berkata:

    soojin kasian tapi engga seharusnya appanya sooyoung nampar begitu kan sooyoung belom tau soojin kenapa udah gitu kan itu bukan salah sooyoung pas soojin sampe pingsan gitu, sooyoung sebenernya sayang juga kok sama soojin cuma dia engga suka aja dibeda-bedain gitu

  6. kiki berkata:

    annyeonggggg, ini ff bener2 bikin gue bombay, gak nyangka kalo soojin eonnie mengidap ALS, soo eonnie yg sabar ne,
    lanjut terus thor,🙂

  7. Sooyoung eonnie itu sebenarnya baik. Hanyakan saja ia merealisasikan dengan cara yang sedikit berbeda. Buktinya saja iya masih tetap ingin Soojin eonnie hidup dan mempunyai keluarganya sendiri. Yang tabah Soo eonn.

  8. sooexoyoung143 berkata:

    Waaahb author fanficnya daebak.. Aq nangis ni.. Author harus bertanggung jawab.. Ahaa main main saja.. Aduhai.. Gue manangis baca fanfic ini.. TT^TT

  9. AAAAH aku mewek nih author-nim serius ㅠㅠ
    Soojin kasian banget ㅠㅠ
    Sooyoung juga kasian, dia pasti sebenernya sayang banget sama kakaknya ㅠㅠ
    Part 4 nya jangan lama lama plis, semangat 😁

  10. Alasan Soojin dimanja ternyata karna dia mnderita sakit ALS?
    ga nyangka juga sih..

    Sooyoung, ternyata perhatian juga sama Soojin, cuma selama ini disembunyikan. Poor Choi Sister ;( .

    Itu. Si Myung, kenapa ada di ruangannya Himchan? Himchan siapanya Myung?

  11. mrn berkata:

    aduhhh tambah sedih aja, orang tua soo ga gitu juga kali meskipun soojin sakit tapi soo unnie kan ga berhah digituin huh , nangis loh baca part ini apalagi yg lagi sma gongchan aduhhh sedih bgt

  12. aduhh thor, hobi banget sih bikin orang mewek tiap kali baca ff ini’-‘ ga tega liat sooyoung yg selalu di salahin, suka banget sama sifatnya gongchan😀 hadduuu–” gak nyangka choi soojin si mrs. perfect itu kena ALS😥 next thor😀 chapter selanjutnya happy dikit dong :3

  13. yeniswisty berkata:

    asli… mewek nya tuh gk bisa di tahan..
    2 2 nya kasihan.. walaupun Sooyoung keliatan cuek di luar tapi peduli banget sama Soojin (y)

  14. Kyaknya myungsoo mulai ada rasa sma soo😀

    ksian soojin,sprtinya pnykitnya prah bngt😦 itukan,aku udh yakin soo tuh sbnrnya baik bngt, demi kakaknya dia smpe segitunya,,

    ciahh…gongchan,,ikutn nngis,tpi aku msih pnsrn sma isi htinya gongchan:/

  15. Itu… Sooyoung dia macak/? jadi orang jahat buat nutupin sifatnya yang sebenernya baik dan perhatian kayak soojin yaa?
    Aku baru tau jelas penyakit ALS dari ff-ini hehe
    Kasihan yaa soojin, tapi aku ga terlalu tersentuh entah kenapa, mungkin soalnya itu soojin yaa? Bukan sooyoung
    Aku mau lanjut baca next part dulu kak hehe😀

  16. Gak nyangka kalo ternyata soojin kena penyakit ALS
    Baca.ny jadi ikuta sedih dehhh
    Smga aja bisa disembuhin dehhh…kasian soo dia sayang bngt ama soojin yaa

  17. Soohaelin berkata:

    Soojin kena penyakit itu!!! Himchan sama myungsoo punya hubungan apa? Soo bener bener sayang sama eonni yah. Appanya soo suka main hakim sendiri ckck. Aku baca part ini nyess banget:’) nice part, next baca part selanjutnya😀

  18. SY berkata:

    Ashhh sesek rasanya TT soo syang bngt bngt sama kaka nyaaa dan sbg sahabat smoga gongchan selalu ada buat soo 😦

    Keep writing fighting

  19. SYLove berkata:

    gak tanggung penyakitnya ALS (shock!)
    Sooyoung itu penyayang tapi sayangnya dia sembunyiin.
    Myung mulai peduli Sooyoung ><
    Pasti nyesek banget jadi Soojin.
    btw apa hubungan Myung dan Himchan?

  20. ismi khaerin berkata:

    Hiks kak ini sumpeh mata ne ngalir mulu airnya kya sungai, ngfeel bgt mlh,
    Hah klo mnginat myung chan kyknya mrka kakak beradek menginat maga mrka sma2 kim

  21. yani yanuari berkata:

    aigooo part yng in bner” mnguras air mata😥 soo eonni bner” mnyedihkan smpe” dya brlutut sma himchan oppa T.T soojin eonni jga sama, dya trisak pas dnger soo eonni mnangis trisak” U.U😥 d’tnggu ajaa next part min

  22. nisa berkata:

    kasihan banget sih sooyoung….. beban hidupnya terlalu berat….. itu si myungsoo udah mulai suka ya sama sooyoung….. soojin sebenernya juga kasihan deh…. hiks…..hiks sedih deh bacanya

  23. disatu sisi kasian sama soojin, tapi disatu sisi lagi lebih kasian sama sooyoung.. Mungkin soojin emang sakit fisiknya, tapi sooyoung sakit juga batin sama fisik.. Di omelin iya, ditampar iya, dikucilin iya..
    Appa mereka gabisa adiil
    Kasian sooyoung.nyaaa😥

  24. Tapi soojin sebenernya kasian, tapi sooyoung juga kasian. Tapi dari semua yang ada, emang ayahnya Sooyoung aja yang paling nyebelin.

    Ini bikin nangis sumpah, tanggung jawab ayo /muehehehe canda/
    Pokoknya ini keren lah aku suka aku suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s