And One (Part 12)

TITLE : And One (Part 12)

MAIN CAST:

  1. Sooyoung SNSD
  2. L INFINITE
  3. Gongchan B1A4

OTHER CAST :

  1. Jin BTS
  2. Soojin (Sooyoung Sister)
  3. Soyu Sistar

GENRE : Romance, Family, Sad, Friendship

RATING : PG 15

CREAT BY : H-By

—-

NB :

  • maaf jika terdapat kesalahan dalam penulisan (typo)
  • maaf jika ada kata-kata kasar/menyinggung
  • maaf jika ada kesamaan cerita

—-

happy reading and don’t be siders

—-

Autumnan

Prolog

Mungkin kita pernah membaca kisah hidup seseorang yang mengidap sebuah penyakit, tapi jarang dari kita mengetahui bagaimana perjuangan orang-orang yang mendampingi penderita tersebut.

–[AND ONE]–

“Hiks.. Hiks…”

Meski sangat pelan, tapi Gongchan bisa mendengar isakan dari bibir Sooyoung. Bahu yeoja itu terlihat naik turun dan bergetar.

Dalam diam, Gongchan membelai rambut Sooyoung dengan lembut. Berusaha menenangkan hati Sooyoung meski itu hanya sedikit. Di saat itu juga, dia bisa melihat jika Myungsoo sudah benar-benar mencium Soojin meski itu hanya sekedar menempelkan bibir.

Gongchan membuang nafas panjang, “Kenapa kau begitu bodoh Sooyoungie? kau bahkan masih menangis setelah kau berusah membuat mereka bersama” ucap Gongchan pelan.

“…………” Dan Sooyoung tidak bisa menanggapi ucapan itu. Dia juga sadar jika ucapan Gongchan benar.

—***—

“Ya!”

“Eung?” Sooyoung menghentikan kegiatanya dan segera menoleh ke sekeliling saat dia mendengar seseorang seperti sedang memanggil. Dan saat dia menoleh ke arah pintu, dia melihat Alice masuk dan berjalan ke arahnya.

“Apa?” tanya Sooyoung datar.

“Dimana Gongchan?” Tanya Alice.

“Dia makan bersama Soyu dan Jin” jawab Sooyoung. Dia terlihat kembali memakan bekal yang sudah Ommanya siapkan tadi pagi.

Alice terlihat duduk di samping Sooyoung sambil menatap yeoja tinggi itu dengan tatapan aneh.

“Cih! kau masih makan makanan bekal seperti ini? daebak!” ucap Alice dengan nada sedikit mengejek.

Dan Sooyoung sama sekali tidak menanggapi. Dia lebih memilih untuk mengunyah makananya yang berharga itu.

“Kau tidak menyusul Gongchan?” Tanya Sooyoung setelah dia menelan makanan yang ada di mulutnya.

Alice menggeleng, “Aku ingin bertemu denganmu” ucap Alice mantab.

Sooyoung menegakan tubuhnya dan menatap Alice heran, “Kenapa? apa nilai tesmu buruk karena kau duet denganku?” Tebak Sooyoung.

Alice menggeleng sambil tertawa kecil. “Aniya, apa semua hal yang berhubungan dengan kita selalu berbau pertengkaran begitu..” Ucap Alice sedikit kesal.

“Lalu?” tanya Sooyoung lagi.

“Gomawo” ucap Alice. Saat mengatakanya, dia terlihat sedikit canggung. Dan Sooyoung tentu saja mengernyit tak mengerti. Sungguh, mendengar Alice berterima kasih padanya terasa lebih mengejutkan di bandingkan saat mendengar Alice menawarkan diri menjadi partnernya.

“Mwoga?*(untuk apa?)” Tanya Sooyoung.

“Sebenarnya… Victo Unnie sudah menceritakan segalanya padaku, tentang apa yang sudah kau dan kakakmu lakukan untuk menolongnya” ucap Alice. Kali ini dia berbicara dengan nada biasa.

Sooyoung mengangguk paham. Namun setelah itu dia menggeleng, “Sebenarnya, aku tidak melakukan apa-apa,kakakmu lah yang sangat kuat sehingga dia bisa terlepas dari keparat-keparat itu” ucap Sooyoung menyangkal.

Alice tertawa kecil. Dia seolah mengerti tentang sesuatu.

“Ya.. aku tahu kau akan bicara seperti itu” ucap Alice paham. Sejenak, dia melipat tanganya di meja lalu dia menatap papan tulis kelas Sooyoung itu.

“Tapi ada yang perlu kau tahu, mungkin semua orang mengira aku mau berduet denganmu demi Gongchan, tapi sungguh.. itu tidak benar! “ Ucap Alice meyakinkan.

“Jinjja?” gumam Sooyoung sedikit terkejut. Sebenarnya dia juga mengira jika Alice berubah baik padanya karena Gongchan adalah sahabatnya.

“aku mau berduet denganmu…, karena aku tahu kau akan menyanyikan lagu untuk Soojin Unnie, dan tentu saja… aku melakukanya karena kau sudah menyelamatkan harga diri kakaku” ucap Alice.

Sooyoung tersenyum, ada setetes rasa lega di hatinya. Bukan karena Alice melakukanya demi Victoria dan bukan demi Gongchan, tapi karena Alice sudah mau tersenyum padanya dan mungkin tidak lagi menganggapnya musuh.

“Lagipula…, jika aku berduet denganmu demi dia, itu semua pasti tetap tidak akan berhasil…”

‘DEG’

Sooyoung menoleh tak mengerti, “Maksudmu?” Tanya Sooyoung bingung.

“Hmmm.. dia sudah melihat bagaimana mengagumkanya hidupmu sejak lama, itulah yang membuat namamu terukir di hatinya yang sudah membatu dan sama sekali tidak bisa ku hancurkan” ucap Alice lagi.

Meski sedikit-sedikit paham, tapi dalam hatinya yang terdalam, dia berusaha menyangkal pikiranya.

“Dan aku tidak heran…. jika yang ada di matanya hanya kau…,” ucap Alice sambil menoleh pada Sooyoung sekilas.

“Mwo? Alice-a.. apa yang kau bicarakan sebenarnya?” Tanya Sooyoung lagi.

Alice melepaskan lipatan tanganya lalu di sandarkan bahunya pada kursi.

“Meski aku bicara padanya, yang benar-benar dia dengar hanya suaramu. Hmmm… bahkan saat aku bersamanya, hanya kau yang ada di pikiranya” lanjut Alice tanpa menjawab pertanyaan Sooyoung. Dia berbicara sambil menatap lurus kedepan. Dan dengan sebuah senyuman miris.

“Ya Song Alice, apa maksudmu sebenarnya?” Tanya Sooyoung bingung.

Alice menoleh pada Sooyoung dengan tatapan heran sekaligus kesal,

“Ya! Kau munafik atau kau memang sangat menjaga Friend Zone kalian? bagaimana kau bisa tidak tahu maksudku?” Tanya Alice bingung.

‘DEG’

“Menjaga… Friend Zone?” batin Sooyoung.

“A.. aku hanya tidak mau terlalu percaya diri..” ucap Sooyoung sedikit ragu.

Alice tertawa kecil, “Bahkan siapapun akan langsung tahu bagaimana perasaan Gongchan padamu saat mereka melihat caranya menatapmu” ucap Alice.

‘DEG’

“Begitukah?” batin Sooyoung.

“Aku sangat iri padamu Choi Sooyoung, karena kau memiliki Gongchan yang selalu ada disisimu, bahkan saat ada yeoja yang lebih cantik darimu…, dia sama sekali tidak mau menanggapi mereka” ucap Alice.

“Bukankah kau juga sudah dekat denganya?” tanya Sooyoung yang berusaha menyangkal.

Alice berdecak heran, “Cihh, bagaimana kau bisa sebodoh ini? setelah tahu jika sikapmu terhadap perasaanya ternyata seperti ini, aku jadi ragu untuk menyerah…, haahh kurasa kau tidak bisa membalas apa yang sudah Gongchan lakukan padamu” ucap Alice.

‘DEG’

Sooyoung kembali tersentak. Memang benar, dia masih bingung dengan perasaan Gongchan terhadapnya, dan juga perasaanya terhadap Gongchan sendiri.

“Aku tidak tahu karena dia tidak pernah mengungka-“

“Ommo!”

“Eh?” Sooyoung dan Alice langsung menoleh ke pintu saat Jin memekik histeris. Di belakangnya, ada Soyu dan Gongchan yang juga menatap mereka dengan wajah bingung.

“Alice? apa yang kau lakukan disini?” tanya Soyu sambil menghampiri dua yeoja itu.

“Aa.. kami.. hanya..”

“Ya! Nenek lampir! apa kau mengancam Sooyoung lagi? ya…, jika benar maka kau tidak akan berhasil! kau tidak akan bisa merebut Gongchan darinya!” ucap Jin sambil menunjuk Alice dengan kesal.

“PLAKK!”

“YA! apa yang kau bicarakan!” ucap Gongchan memarahi.

“Cih! Ya… baiklah…, pikirkan sesukamu!” Ucap Alice lalu berdiri dan beranjak pergi. Tapi sebelum melangkah, dia menoleh pada Sooyoung.

“Kau harus memikirkan apa yang ku katakan tadi! kalau tidak.. aku benar-benar akan membatalkan rencanaku! arraseo!” ucap Alice pada Sooyoung.

“………” Sooyoung hanya diam dan tak bisa menjawab. Entah kenapa dia jadi bingung sendiri dengan situasi ini.

“Apa yang mereka bicarakan?” batin Gongchan dan Soyu curiga.

“Ya! benar kan? kau mengancam apa padanya sehingga dia jadi diam begitu eoh?” Tanya Jin kesal.

Alice mendengus sambil menatap Jin datar. Beberapa saat kemudian dia menoleh pada Gongchan.

“Gongchanie, sebaiknya kau pindah ke kelas A saja saat kita naik kelas 2 nanti, agar kau tidak sekelas dengan orang aneh ini!” ucap Alice sambil menunjuk Jin.

“Mwo?!” tanya Jin tak terima. Tapi Alice tidak peduli dan pergi begitu saja dari kelas itu.

—*Beberapa bulan kemudian*—

‘BEEB BEEB’

Sooyoung mengurungkan niatnya untuk berjalan ke tengah lapangan saat dia melihat tulisan ‘Omma’ di layar handphonenya.

“Nde yoboseyo Omma~” jawab Sooyoung.

“Sooyoungie.., bisakah kau ke rumah sakit?” pinta Omma Sooyoung dari seberang telepon.

Sooyoung mengernyit saat dia mendengar nada panik disana.

“Wae? Mwoseun iriya?” Tanya Sooyoung yang tiba-tiba ikut panik.

“Ayahmu…,eung.. o.. omma tidak bisa menjelaskanya lewat telepon, jebal.. datanglah ke rumah sakit…” pinta Omma Sooyoung lagi.

“Baiklah.. aku mengerti, dan.. Omma.. , apapun yang terjadi.. jangan panik ne? aku akan secepatnya kesana” ucap Sooyoung menenangkan.

“Nde” Jawab Omma Sooyoung.

Setelah menutup telepon, Sooyoung segera mengambil tasnya. Setelah itu, dia segera berjalan menuju senior untuk meminta izin.

“Seungyeol Oppa” Panggil Sooyoung.

Namja yang Sooyoung panggil itu langsung membalikan badan dan menatap Sooyoung.

“Ada apa Sooyounga? kenapa kau membawa tas?” Tanya Seungyeol.

“Oppa, mianhae.. hari ini aku minta izin pergi lebih dulu dan tidak ikut latihan, aku ada urusan penting” pinta Sooyoung.

Seungyeol melipat tanganya di dada lalu menatap Sooyoung serius. “Hmmm…., beberapa menit lalu Gongchan minta izin tidak bisa ikut latihan, dan sekarang kau. Wae? kalian ingin berkencan?” Tanya Seungyeol.

Sooyoung membuang nafas. “Anhi, bukan seperti itu oppa” ucap Sooyoung meyakinkan. Sungguh, dia sedang terburu-buru sekarang dan tidak bisa beralasan apapun.

“Kau lupa? bulan depan.. kita akan maju ke pertandingan melawan SMA Yongin, dan kau tahu berapa kali kau membolos latihan Minggu ini eoh?”

‘DEG’

Tatapan Sooyoung langsung beralih pada namja yang berjalan dari belakang Sungyeol. Benar, dia Myungsoo.

Sooyoung mengambil nafas dalam sebelum dia menanggapi ucapan Myungsoo, “Jika aku terlihat tidak layak, kau bisa menjadikanku pemain cadangan.., jadi biarkan aku pergi sekarang jebal” pinta Sooyoung.

“Ya ya baiklah, kau bisa pergi” ucap Seungyeol pada akhirnya.

“Gamsahamnida, kalau begitu aku per-“

“Apa terjadi sesuatu dengan Soojin?” tanya Myungsoo to the point.

“Anhi..” jawab Sooyoung.

“Jadi kau memang akan berkencan dengan Gongchan?” Tanya Myungsoo lagi.

Sooyoung menghela nafas panjang. Sungguh, dia benar-benar enggan dengan namja itu sekarang.

“Aku pergi!” ucap Sooyoung lalu pergi begitu saja.

——

Sooyoung segera berlari menuju halte yang berjarak sekitar 200 meter dari sekolahnya. Tapi dia terhenti saat dia melihat Gongchan keluar dari gerbang dengan sepedah.

“Ah itu Gongchan… Ya! Gongcha-“ Sooyoung sebenarnya ingin memanggil Gongchan, tapi dia langsung terdiam saat dia melihat Alice berjalan dari luar dan menghampiri namja itu.

Mereka terlihat berbicara sambil sesekali tertawa bersama. Lalu beberapa saat kemudian, Alice terlihat duduk di boncengan belakang Gongchan. Setelah itu, mereka terlihat pergi.

“Eung? apa.. Gongchan izin tidak latihan karena ingin pergi bersama Alice?” batin Sooyoung. Entah kenapa, ada perasaan iri yang tiba-tiba muncul di hatinya.

“Ahh sialan! kenapa aku malah memikirkan hal itu..” umpat Sooyoung pada dirinya sendiri. Beberapa saat kemudian, dia kembali berlari keluar dari sekolah itu.

——

Sooyoung tepat di depan pintu UGD. Sekarang, dia bisa melihat Ommanya duduk di kursi tunggu dengan wajah gelisah.

“Omma” panggil Sooyoung sambil menghampiri ibunya perlahan.

“Sooyoungie…, Appa, dia…dia…” Omma Sooyoung terlihat berdiri sambil berusaha menjelaskan sesuatu pada Sooyoung.

‘DEG’

Sooyoung membulatkan matanya, “Ada apa dengan aboji?” Tanya Sooyoung sambil memegang kedua bahu ibunya itu.

“Dia di pukuli oleh preman saat dia akan berangkat, salah satu dari mereka memukul appa dengan botol minuman sehingga kepalanya berdarah”

‘DEG’

Sooyoung semakin tersentak, “Jinjja? Ya Tuhan.. lalu bagaimana keadaan Appa sekarang?” tanya Sooyoung.

“Sekarang dia belum sadarkan diri karena dia kehabisan darah…, dan… dan ternyata rumah sakit ini hampir kehabisan stok darah O” jelas Omma Sooyoung.

“Jinjja?a.. ba.. baiklah… kalau begitu…aku.. aku akan bilang pada dokter agar dia mengambil darahku” ucap Sooyoung.

—–

Sooyoung memegang lenganya yang masih terasa nyeri karena di tusuk jarum suntik. Lalu dia menghentikan langkahnya, saat dia melihat Ommanya berdiri di depan kasir dengan wajah bingung.

“Tapi pembayaran untuk perawatan dan rehab Noona Soojin sudah jatuh tempo nyonya, dan kami hanya memberi waktu satu minggu untuk pembayaran penyembuhan Tuan Choi”

‘DEG’

Samar-samar, Sooyoung bisa mendengar apa yang petugas resepsionis itu katakan.

“Bisakah kau memberiku satu hari lagi? aku sungguh akan melunasinya besok” ucap Omma Choi memohon.

“Nyonya, kami tidak bisa bertindak seperti itu…, ini sudah peraturan dari rumah sakit” ucap sang petugas.

Ny. Choi membuang nafas panjang, Sooyoung bisa melihat jika ibunya itu sedang kebingungan.

“Hanya satu hari, jebal Nona” mohon Omma Sooyoung.

Petugas itu terlihat menatap Ny. Choi dengan wajah sendu, “Baiklah…, aku akan memberi anda waktu satu hari lagi…, tapi tolong Nyonya, besok kau harus benar-benar melunasinya” ucapnya.

“Ya, aku janji, gamsahamnida.. jeongmal gamsahamnida”

‘TAP!’

Sooyoung langsung bersembunyi saat ibunya terlihat berbalik dan akan berjalan ke arahnya. Dalam diam, dia menatap sendu ibunya yang terlihat berjalan menuju kamar ayahnya di rawat.

“Dia pasti kebingungan sekarang” gumam Sooyoung pelan.

—***—

–[Lapangan Basket]—

“Sooyoungie, aku lapar.. kau mau menemaniku makan kimbab?” tanya Gongchan saat latihan telah resmi selesai.

Sooyoung menoleh pada namja tinggi itu. “Aaa, Gongchanie…mianhae, aku harus bicara dengan Myungsoo sunbaenim.. lain kali saja ne?” ucap Sooyoung dengan wajah menyesal.

‘DEG’

Gongchan terdiam sejenak mendengar nama itu. “Bicara dengan Myungsoo hyung? apa… mereka sudah baikan?” batin Gongchan penasaran.

Tapi.. beberapa saat kemudian…

“Jinjja? ne, baiklah… ^^” ucap Gongchan pada akhirnya.

Ya, meski terasa sedikit sakit, tapi dia tersenyum setelah dia mengingat satu hal, yaitu ‘kesedihan Sooyoung berkurang’. Baginya, Itu yang lebih penting untuk Sooyoung.

——

Myungsoo langsung membuka surat yang Sooyoung berikan padanya.

[SURAT PENGUNDURAN DIRI]

Begitu judul surat itu.

“Huuffttt…” Myungsoo membuang nafas panjang meskipun dia belum membaca isinya. Sedangkan Sooyoung hanya diam dan menunduk.

“Apa karena aku?” gumam Myungsoo pelan saat dia beranjak membaca isi surat tersebut. Ada siratan kesedihan dari nada bicara namja itu.

“Benar..” jawab Sooyoung pelan.

“Huufffttt..” Myungsoo kembali membuang nafasnya.

“Lalu dimana lagi aku bisa melihatmu jika kau keluar dari club ini?” Tanya Myungsoo jujur. Dia memberanikan diri menatap Sooyoung yang masih berdiri di depanya.

Ya, Myungsoo sadar jika dia salah karena sudah menyetujui permintaan Sooyoung untuk mendampingi Soojin, namun dia sama sekali tidak mau melupakan Sooyoung dan tetap menyimpan perasaanya itu.

Sooyoung mendongak dan menatap Myungsoo datar.

“Kau tidak dengar? aku keluar karenamu. Aku keluar karena aku tidak mau melihatmu dan tidak mau berurusan lagi denganmu..” ucap Sooyoung.

‘DEG’

Myungsoo tersentak mendengarnya. Dia tidak menyangka Sooyoung akan bicara sekejam itu padanya.

“Sooyoungie..”

“Sebaiknya kau juga melakukan apa yang aku lakukan.., mungkin akan sulit pada awalnya, tapi kau akan terbiasa…” ucap Sooyoung lagi.

Myungsoo tercekak, dia sama sekali tidak bisa bicara apa-apa lagi. Dia hanya menatap Sooyoung dengan ekspresi tak percaya.

Sooyoung menghela nafas dalam saat melihat ekspresi Myungsoo.

“Terimakasih atas bimbinganmu selama ini, aku pergi..”

karena dikira sudah tidak ada hal yang perlu ia bicarakan dengan Myungsoo. Sooyoungpun berpamitan dan beranjak pergi.

‘TAPP!’

Lalu tanpa bicara apa-apa, Myungsoo langsung berjalan ke arah Sooyoung dan..

‘GREBB!’

Dia meringkuh tubuh Sooyoung dari belakang dengan sangat erat.

‘DEG’

Dan Sooyoung tentu saja terkejut karenanya. Dia bahkan terbeku beberapa saat akibat perlakuan Myungsoo itu.

“Beritahu aku Sooyoungie…, beritahu aku… bagaimana aku menghilangkan perasaan ini?” ucap Myungsoo berbisik. Sooyoung bisa merasakan hembusan nafas Myungsoo yang berat itu.

“Bahkan saat kau mengatakan bermacam kata-kata kasar…, aku tetap tidak bisa melupakanmu…” lanjut Myungsoo. Semakin lama, nada suaranya semakin pelan dan parau.

‘DEG’

Sooyoung hanya bisa diam, dia tahu bagaimana perasaan Myungsoo saat ini. Sejujurnya, dia juga tidak mau menyakiti namja itu dengan cara seperti ini. Karena baginya, ini juga terlalu menyakitkan.

‘GREBB’

Sooyoung meraih tangan Myungsoo, lalu di lepasnya perlahan-lahan.

Tanpa perlawanan ataupun pemberontakan, Myungsoo diam saja dan membiarkan apa yang ingin Sooyoung lakukan. Dan ternyata Sooyoung membalikan badanya untuk menatap Myungsoo.

“Buang nama Choi Sooyoung dari hatimu..”

“Berhenti mencariku…”

“Hapus semua kenangan dan ingatanmu tentangku..”

“Tutup telingamu saat kau ingin mendengar suaraku..”

“Tutup matamu saat kau mencariku dan ingin melihatku…”

“Tutup hatimu saat kau merindukanku..”

“Pergi ke tempat dimana aku tidak akan datang kesana..”

“Datang pada waktu dimana aku tidak berada di waktu yang sama..”

“Dan… “

“Belajarlah untuk mencintai orang lain…” ucap Sooyoung dengan nada pelan. Dia berbicara dengan ekspresi dewasa dan begitu berbeda dengan yang tadi.

Myungsoo hanya bisa terdiam membeku. Baginya, tak ada satupun saran Sooyoung yang bisa ia lakukan. Dia terlalu mencintai yeoja itu. Terlalu banyak hal yang membuatnya jatuh hati pada yeoja itu.

Sooyoung tersenyum lembut untuk beberapa saat.

“Gamsahamnida J “ ucap Sooyoung lalu membungkuk 90o pada Myungsoo.

Dan Myungsoo hanya diam dan menatap punggung Sooyoung yang perlahan-lahan mulai hilang dari balik pintu.

‘TIK!’

Tanpa sepengetahuan Myungsoo, Sooyoung menitikan air matanya dalam diam.

—***—

–[Kelas 2-B]–

“Yaa sekian pelajaran hari ini… sampai jumpa besok…,” pamit Lee Sonsaengnim sebelum dia beranjak pergi.

“Gamsahamnida~” pekik siswa siswi di kelas itu.

‘DAP DAP!’

“Sooyoungie.. Sooyoungie, ireona…, pelajaran sudah selesai” Bisik Gongchan sambil menepuk-nepuk punggung tangan Sooyoung pelan.

Yeoja yang baru saja di panggil itu langsung bangun meski dengan sedikit malas.

“Eung.. ? euummm ne..” jawabnya pelan. Tanpa bicara apa-apa, Sooyoung segera membereskan semua barang yang ada di mejanya.

Sedangkan Gongchan yang sudah selesai beres-beres pun langsung menghadapkan tubuhnya pada Sooyoung.

“Kenapa kau sering tidur akhir-akhir ini? apa terjadi sesuatu?” Tanya Gongchan dengan wajah penasaran.

Sooyoung menghentikan kegiatanya lalu menoleh pada namja yang duduk di sampingnya itu.

“Sekarang tokoku buka sampai malam, jadi aku harus mengerjakan PR di jam tidurku..” jawab Sooyoung.

Gongchan terdiam sejenak sambil menerawang tingkat kebohongan ucapan Sooyoung.

“Jinjja? tapi… apa bedanya tidak mengerjakan pr dengan tidur di kelas? itu sama saja tidak seimbang kan?” tanya Gongchan dengan nada sedikit menyindir.

Bukan apa-apa, dia berbicara seperti itu karena mereka sudah kelas dua sekarang. Dia khawatir nilai Sooyoung terlalu buruk sehingga nantinya dia tidak bisa masuk ke universitas.

“Huffftttt….” Sooyoung membuang nafas malas lalu kembali membereskan barang-barangnya.

“Aku hanya sedang menyesuaikan diri, dan… lain kali.. aku akan tidur di kelas dan juga tidak mengerjakan pr agar semuanya seimbang ^^” jawab Sooyoung dengan santainya. Sekilas dia menoleh pada Gongchan sambil tersenyum lebar.

“Ya! mworago?!” bentak Gongchan sambil menyentil dahi Sooyoung.

“Hehehe.. aku bercanda…,” jawab Sooyoung sambil tekekeh kecil.

“Ishh kau ini suka sekali membuatku marah! eummm.. keureom, ayo kita ke café dan membeli jus enak agar kau tidak stress” ajak Gongchan.

“Aku ikut!!” Pekik Jin sambil membalikan badanya dan menatap Gongchan dengan wajah berbinar.

“Nado!” ucap Soyou yang entah sejak kapan sudah berdiri di samping Sooyoung.

Sooyoung terdiam sejenak sambil menatap teman-temanya, “Hmmm.. mianhae chingudeul.. aku… masih punya urusan…, mungkin.. lain kali saja ne…” tolak Sooyoung.

Gongchan membuang muka sambil membuang nafas. Dia terlihat kesal dengan kata-kata yang akhir-akhir ini sering ia dengar dari mulut Sooyoung itu.

“Wae? mau bertemu Myungsoo sunbae lagi?” tanya Gongchan dengan nada yang sangat berbeda dengan biasanya. Dia bahkan menatap Sooyoung tanpa ekspresi.

‘DEG’

Sooyoung cukup terkejut mendengar pertanyaan itu. Jin dan Soyu pun tak kalah terkejutnya.

“Gongchanie… bukan seperti-“

“Ahhh, bagaimana aku bisa sebodoh ini? Sudahlah lupakan…” ucap Gongchan lalu pergi begitu saja.

Sooyoung berniat memanggil Gongchan, namun mulutnya seakan tidak bisa mengeluarkan suara. Dan pada akhirnya, dia hanya bisa menatap kepergian Gongchan dengan wajah menyesal.

“Apa dia Gongchan? kenapa aku tidak pernah melihatnya seperti itu?” gumam Jin dengan wajah tidak percaya.

Soyu menoleh pada Sooyoung dengan wajah bingung. “Sooyoungie…” panggil Soyu. Sebenarnya, dia ingin bertanya kebenaran ucapan Gongchan. Tapi dia tidak sampai hati mengatakanya.

“Apa itu benar Choi? Ya! Bagaimana kau bisa mengutamakan Myungsoo sunbae saat Gongchan sudah sebaik itu padamu?” Tanya Jin yang terlihat ikut kesal.

Sooyoung menghela nafas panjang. Sungguh, ucapan Jin barusan benar-benar membuat hatinya sakit.

Sooyoung menoleh pada Jin dengan wajah lemah. “Aku paham kenapa dia marah, tapi sungguh… ini tidak ada hubunganya dengan Myungsoo sunbae” ucapnya.

“Lalu?” Tanya Soyu.

Sooyoung menghela nafas panjang lalu membuangnya. “Aku… hanya ingin membantu Ommaku…” jawab Sooyoung.

“Aaaa… begitu ya? eummm.. kalau begitu.. cepat kejar dia dan jelaskan semuanya” suruh Jin.

“Itu tidak semudah itu seokjina..” ucap Soyu yang berusaha membaca perasaan Sooyoung.

“Kalaupun aku menjelaskan semuanya…, aku tetap bersalah karena sudah sering mengabaikanya..” ucap Sooyoung dengan wajah menyesal.

Soyu dan Jin terdiam sambil mendengarkan ucapan Sooyoung. “huffftt.. aku memang tidak bisa membalas semua yang sudah dia lakukan padaku” lanjut yeoja itu.

—–

Soyu terus berjalan dengan ekspresi bingung. Sesekali, dia memiringkan kepalanya ke kanan atau kiri seakan dia sedang memikirkan sesuatu. Dan itu membuat namja yang berjalan beberapa langkah di belakangnya jadi sedikit bingung.

Jin pun memberanikan diri menghampiri Soyu dan menyejajarkan langkahnya. “Ya! perhatikan jalanmu Jinhyun-a, kenapa kau melamun di jalanan ramai seperti ini?” tanya Jin tiba-tiba.

Soyu menghela nafas tanpa menoleh, “Hmmmm…Aku hanya bertanya-tanya, Sebenarnya apa yang membuat Gongchan tidak mau mengungkapkan perasaanya pada Sooyoung? dan.. kenapa Sooyoung terlalu bodoh sehingga tidak peka terhadap sikap Gongchan?” gumam Soyu sambil mengusap-usap dagunya.

Jin melipat kedua tanganya di dada lalu ikut berfikir. “Kau pikir semua namja merasa mudah untuk mengatakan dan mengungkapkan perasaanya? ada kalanya.. mereka memikirkan akibat yang mungkin akan timbul, jadi mereka mengurungkanya” ucap Jin.

Soyu menoleh pada Jin sekilas, “Jinjja?”

Jin mengangguk mantab. “Keureom..”

“Aaaa.. Jadi begitukah cara berfikir para namja? Hmmm…. lalu… apa alasan Gongchan? apa.. apa karena Myungsoo sunbae? atau… karena dia takut merusak persahabatanya dengan Sooyoung? atau… mereka tidak di restui orang tua mereka?” gumam Soyu lagi.

Jin membuang nafas melihat sikap Soyu, “Ya! kenapa sekarang kau jadi begitu memikirkan kisah percintaan orang lain?” tanya Jin kesal.

Soyu membuang nafas, “Aku.. hanya lelah melihat Sooyoung tidak pernah tertawa bahagia.., yaa… setidaknya.. jika dia sedih karena masalah keluarganya…, dia masih punya kebahagiaan yang mungkin bisa dia dapat dari seseorang yang mencintainya” ucap Soyu.

Jin membuang nafas, “Kau bahkan jadi tidak pernah memikirkan hubungan kita” batin Jin.

‘TAPP!’

‘DEG’

Jin langsung tersentak saat Soyu tiba-tiba menggenggam lenganya.

“W.. Wae?” tanya Jin gugup.

“Ayo kita mengintrogasi Gongchan! setidaknya agar semua ini jelas” ajak Soyu sambil menatap Jin penuh harap.

“Ba.. baiklah…, aku.. a.. akan membantu sebisaku” jawab Jin masih dengan tergagap.

——

“Ya! apa yang kau lakukan?!” Gongchan terus memberontak saat Soyu dan Jin memegang kedua tanganya dan membawanya ke suatu tempat.

“Kita harus bicara enam mata!” ucap Jin dengan nada tegas.

“Mwoya?” tanya Gongchan dengan nada enggan. Apalagi saat dia tahu, Jin dan Soyu membawanya ke sebuah café yang berada tidak jauh dari rumahnya.

.

.

“Duduklah, kami hanya ingin bicara baik-baik denganmu!” ucap Soyu saat mereka sudah masuk dan duduk di salah satu meja yang ada di café tersebut.

Soyu beranjak berdiri dan berniat memesan makanan, tapi dia langsung terhenti saat seorang pelayan datang membawa buku menu.

‘DEG’

Semua mata membulat melihat pelayan itu.

“Sooyoungie?” ucap Gongchan dengan wajah terkejut.

Yeoja yang di panggil Sooyoung itu hanya bisa diam dengan wajah menunduk.

——

“Beberapa hari lalu, Appaku… dipukuli preman saat dia berangkat kerja…, saat itu masih sangat pagi… jadi tidak ada orang yang menolongnya” Ucap Sooyoung tanpa menatap siapapun.

“Sangat pagi?” tanya Soyu dengan wajah tidak mengerti.

“Yaa…, karena tanpa sepengetahuanku ataupun ommaku…, dia bekerja mengantar koran sebelum dia ke kantor dan dia menjadi petugas pom bensin setelah dia bekerja…” ucap Sooyoung.

‘DEG’

“Dan kau… juga ikut bekerja paruh waktu?” tanya Jin sedikit ragu.

Sooyoung mengangguk, “Karena dia masih dalam proses pemulihan…, akulah yang harus bekerja untuk biaya check up dan rehabilitasi Soojin Unnie” jawab Sooyoung.

Jin, Soyu dan Gongchan membuang nafas dengan berat. Sungguh, mereka benar-benar tak percaya jika Sooyoung sampai berbuat seperti itu demi keluarganya.

“Apa itu sebabnya kau keluar dari club basket?” tanya Gongchan.

Sooyoung mengangguk sambil tersenyum tipis. “Aku hanya berfikir…., aku sudah tidak punya waktu untuk memikirkan diriku sendiri…” jawab Sooyoung.

‘GREBB’

Soyu merangkul Sooyoung yang memang duduk di sampingnya. “Bicaralah jika kau kesulitan, kami.. akan membantu sebisa mungkin..” ucap Soyu.

Sooyoung menoleh pada Soyu sambil tersenyum manis, “Gomapta.. ^^”

—[Perjalanan pulang]—

“Kenapa kau menungguku? kau pasti bosan..” ucap Sooyoung pada namja yang berjalan di sampingnya itu.

“Aku… ingin bicara padamu..” ucap Gongchan sedikit ragu.

Sooyoung menoleh sambil mengernyit. “Mwo?” tanya Sooyoung.

‘DAP’

Gongchan maju satu langkah lebih cepat lalu menghentikan langkahnya di depan Sooyoung sehingga yeoja itu ikut berhenti.

“Mianhae..” ucap Gongchan pelan.

“Eung?” Sooyoung diam sejenak dan berusaha mengartikan maksud Gongchan. Lalu beberapa saat kemudian dia tersenyum.

“Gwenchana…, aku juga salah karena sering mengabaikanmu…, untuk itu… aku.. juga minta maaf” ucap Sooyoung.

Gongchan terlihat diam dan masih menunduk.

“Mianhae…” ucap Gongchan lagi.

Sooyoung membuang nafas, “Sudah kubilang tidak apa-apa Gongchanie… kenapa kau terus me-“

‘TAPP!’

Sooyoung langsung menghentikan ucapanya saat Gongchan tiba-tiba maju dan mendekat padanya.

“Ya Chansika.. wa.. waeyo?” tanya Sooyoung bingung.

Gongchan terlihat mengambil nafas lalu mulai menatap Sooyoung.

“Mianhae..” ulang Gongchan lagi.

Sooyoung mengernyit dan menatap Gongchan tak mengerti. “Gongchana..?”

“Mianhae… karena.. aku hanya bisa seperti ini..” ucap Gongchan sedikit berbisik.

Sooyoung terlihat bingung,”Apa maksudnya?” batin Sooyoung.

“Mianhae…, karena aku hanya bisa mengungkapkan perasaanku dengan tindakan…, sehingga kau tidak bisa mengerti..” lanjut Gongchan lagi.

‘DEG’

Entah kenapa, jantung Sooyoung berdentum kencang saat mendengarnya.

Gongchan menarik nafas dalam, “Aku pikir…, akan lebih baik jika aku terus seperti ini…, berada di sampingmu dan mengungkapkan perasaan sayangku atas nama persahabatan” ucap Gongchan lagi.

‘GREBB’

Gongchan meraih tangan Sooyoung dan menggenggamnya erat.

“Tapi… aku benar-benar minta maaf Sooyoungie…” ucap Gongchan.

“Maaf karena aku tidak bisa menahan perasaanku ini untuk tumbuh…, maaf karena selama ini aku menyembunyikanya…” lanjut Gongchan.

“Gongchanie..”

“Saranghae Sooyoungie…, mianhae…” ucap Gongchan sambil menatap mata Sooyoung intens.

‘DEG’

Sooyoung langsung terbeku. Meski semua orang sudah pernah mengatakan hal itu, tapi… mendengar kata itu dari mulut Gongchan sendiri ternyata terasa sangat berbeda. Dia bahkan seperti terkirim ke sebuah ruangan hampa setelah mendengarnya.Sekarang, dia tidak bisa bernafas dengan normal dan Jantungnya berdetak begitu cepat.

“Ada apa ini? kenapa dia seperti ini?” batin Sooyoung.

“Maka dari itu Sooyoungie… , jebal…, hiduplah dengan baik…! jika kau mencintai Myungsoo hyung.., maka jangan pikirkan Soojin Noona, kau juga berhak bahagia” pinta Gongchan.

‘DEG’

Sooyoung tersentak. Dia pikir, Gongchan akan memintanya membalas perasaanya. Tapi… ternyata…

Gongchan tetap mengutamakan kebahagiaan Sooyoung. Dia bahkan tetap meminta Sooyoung mempertahankan Myungsoo meski Sooyoung sendiri sedang berusaha melupakan namja itu.

“Kau bahkan tidak ingin tahu bagaimana perasaanku terhadapmu” ucap Sooyoung.

.

.

.

Setelah apa yang Gongchan katakan, semua jadi terasa begitu canggung. Di perjalanan, mereka hanya diam dengan pikiran masing masing.

‘TAP!’

Dan pada akhirnya, Sooyoung dan Gongchan berhenti saat mereka telah sampai di depan rumah Sooyoung.

Rumah Sooyoung terlihat sepi karena Appa Sooyoung masih di rawat di rumah sakit. Soojin pun juga masih berada di rumah sakit.

“Masuklah dan segera kerjakan prmu…,” ucap Gongchan yang berusaha mencairkan suasana.

Sooyoung tersenyum, entah kenapa dia mudah sekali tersenyum meskipun sudah terjadi hal yang begitu canggung tadi.

Gongchan membuang nafas panjang, terlihat uap dingin yang keluar dari mulut namja itu.

“Sooyoungie… Jangan terlalu memikirkanya.., aku tidak mau hubungan kita berubah karena aku menyatakan perasaanku…, jika kau sulit menerima semua perlakuanku atas nama cinta… kau bisa menganggap semuanya karena kita bersahabat” pinta Gongchan. Di akhir kalimat, dia menoleh pada Sooyoung dengan tatapan serius.

Sooyoung terdiam dan menatap Gongchan. Entah apa yang dia pikirkan sebenarnya.. tapi.. ada sesuatu yang ingin ia sampaikan.. namun tidak bisa ia sampaikan..

“Aku pergi.. anyeong ^^” pamit Gongchan lalu beranjak melangkahkan kakinya.

Tapi… baru beberapa langkah berjalan..

“Gongchanie.. Kau tidak memberiku kesempatan untuk berbicara?” panggil Sooyoung.

Gongchan tentu saja langsung menghentikan langkahnya dan membalikan badannya untuk menatap Sooyoung.

“Mwo?” tanya Gongchan tak mengerti.

Sooyoung terlihat menarik nafas dalam-dalam. Lalu setelah itu.. dia mulai berjalan mendekat pada Gongchan.

Gongchan sendiri hanya menatap Sooyoung dengan tatapan bingung. Bahkan saat Sooyoung sudah sangat dekat denganya.. dia tetap menatap Sooyoung tak mengerti.

‘TAPP!’

Sooyoung memegang kedua lengan Gongchan sebagai tumpuan lalu mulai menjinjitkan kakinya…dan…

‘CHU~’

Tanpa bicara sepatah katapun, Sooyoung langsung memejamkan mata dan mulai menempelkan bibirnya pada bibir Gongchan dengan lembut.

‘DEG’

Gongchan tentu saja langsung melebarkan matanya karena perlakuan Sooyoung tersebut. Sungguh, dia tidak bisa berfikir jernih sekarang. Jantungnya terlalu berdebar kencang. Darahnya berdesir dengan sangat cepat seakan semuanya berkumpul di pipinya.

Beperapa Saat, Gongchan hanya terdiam dan berusaha menalarkan semua ini. Tapi setelah itu.. dia mulai memejamkan matanya dan mulai menggerakan tanganya untuk memegang pinggang ramping Sooyoung.

Lama mereka berciuman dan saling menyatukan bibir tanpa ada nafsu yang berlebihan. Sejenak, mereka melupakan status yang selama ini mereka pegang.

Sebenarnya.. Sooyoung tidak benar-benar yakin dengan perasaanya. Tapi.. itulah yang bisa ia ungkapkan pada Gongchan. Pada namja yang selama ini selalu menjadi malaikat pelindungnya.

——

Sooyoung tiba-tiba berhenti menulis saat dia teringat kejadian tadi. Tapa sadar, dia memegang bibirnya dan mengusapnya pelan.

‘DEG’

Dan tiba-tiba, jantungnya kembali berdetak saat dia mengingat bayangan bagaimana dekatnya Gongchan tadi.

“Brrr… apa yang kupikirkan?! ishhh…” Sooyoung terlihat bergidik sendiri lalu dengan cepat, dia segera menyadarkan pikiranya.

“Tapi… kenapa omma tidak menelpon? apa terjadi sesuatu?” gumam Sooyoung.

Diapun segera meraih handphonenya dan beranjak menelpon ibunya.

‘TUUUT TUUT TUUT’

Sooyoung mengernyit saat Ommanya tak kunjung mengangkat telepon.

“Ada apa ini? apa dia sudah tidur?” gumam Sooyoung pelan.

“BEEB”

“Yoboseyo”

‘DEG’

Sooyoung sedikit tersentak saat dia mendengar suara asing di sana.

“Mmmm.. apa ini handphone Nyonya Choi? anda siapa?” tanya Sooyoung.

“Benar ini handphonenya.. dan aku adalah asisten dokter Kim”

‘DEG’

“Kenapa dokter ini yang menjawab?” batin Sooyoung heran.

“Maaf, apa kau salah satu kerabatnya?” tanya dokter yeoja bersuara pelan itu.

“Ya benar, aku anaknya.. mm.. bisa aku tahu dimana ibuku?” tanya Sooyoung.

“Begini nona… ibumu sedang berada di ruang inap karena beberapa saat lalu di jatuh pingsan”

‘DEG’

Mata Sooyoung membulat,

“Mwo?! apa yang terjadi?” tanya Sooyoung panik. Dia bahkan sampai bangkit dari tempat duduknya.

“Begini, sepertinya.. dia terlalu terkejut saat anaknya yang bernama Soojin .. beberapa waktu lalu baru saja masuk UGD karena terjadi pemberhentian pada sistem pernafasanya…” jelas sang dokter.

‘DEG’

Sooyoung semakin dan semakin tersentak, jantungnya bahkan berhenti berdetak untuk beberapa saat.

“Sebaiknya anda kesini…, karena kemungkinan… ini.. adalah saat-saat terakhir bagi nona Soojin..”

‘DEG’

Bagaikan di sambar petir, Sooyoung langsung terdiam kaku mendengarnya. Tubuhnya bahkan langsung lemas mendengar pernyataan dokter itu.

‘PRAKK!’

Handphone Sooyoung langsung terjatuh di meja.

“Saat… terakhir…?”

.

.

.

Apa Soojin akan bertahan hidup? atau kalah dengan penyakitnya ?

Apa jika Soojin pergi, Sooyoung akan kembali pada Myungsoo? atau lebih memilih Gongchan?

Apa Jin akan mengungkapkan perasaanya?

.

.

WAIT FOR LAST CHAPTER!

PART 13!

.

.

__TBC__

Gimana readerdeul? jelek? kurang panjang? kurang ngefeel?

mian atas semua kesalahan. dan mian kalo sedikit, soalnya aku kejar-kejaran sama jobku.. jadi mohon dimaklumi ya (DEEP BOW)

Tetep di tunggu tanggepanya ya, dan seperti biasa.. part terakhir bakalan aku pasword..

dan aku melayani permintaan pasword lewat bbm nih *biar laku* kalo ada yang mau, silakan tanya pinya😀

.

.

Dan Saengil Chukhae buat bebeb Youngjae ^^

semoga masalah B.A.P cepet kelar ye.., udah kangen berat nih *curcol*

10933998_319262984939466_586404815735014130_n

 

54 thoughts on “And One (Part 12)

  1. Coba jelaskan kenapa gue baca ini baperan banget? Ya allah udah asik ngeship 2young eh malah Sooyoung gitu.

    Pas bagian ini nih
    “Kau tidak dengar? aku keluar karenamu. Aku keluar karena aku tidak mau melihatmu dan tidak mau berurusan lagi denganmu..” ucap Sooyoung.

    Plis banget ini Sooyoung boong kan aduh, gue pengen mewek. Ini juga bagian paling ngenes
    “Buang nama Choi Sooyoung dari hatimu..”
    “Berhenti mencariku…”
    “Hapus semua kenangan dan ingatanmu tentangku..”
    “Tutup telingamu saat kau ingin mendengar suaraku..”
    “Tutup matamu saat kau mencariku dan ingin melihatku…”
    “Tutup hatimu saat kau merindukanku..”
    “Pergi ke tempat dimana aku tidak akan datang kesana..”
    “Datang pada waktu dimana aku tidak berada di waktu yang sama..”
    “Dan… “
    “Belajarlah untuk mencintai orang lain…”

    I know what you feel, Myung. Ini sakit banget gue tau, sakit lagi kalo lo gak bisa ngelupain dia padahal udah digituin. Poor Myung.

    Dan ini ya tolong Gongchan dikondisikan. Part mereka pulang, bikin gue mikir lagi ini Soo sama siapa. Labil kan? Gini amat, Sooyoung yang ngerasain gue yang ribet.

    Dan yah buat lo Gongchan sukses bikin gue baper entah untuk keberapa kali. Manis banget mereka ya allah, bisa ae gitu.

  2. sooexoyoung143 berkata:

    Saat gue nantikan. Aduh Gongchan ah. Gue terus senyum mulu baca ff ini. Gue sukaaa. Sukaaaa bnget. Gue ngak tahu mahu ekpres bagaimana. 👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍

  3. Rabiah berkata:

    Aiyoo gongchan malah d cippuk oleh sooyoung..waduhhh 😱😱😱..soojin onnie kesian..aduhh teringat pula dgn arwah mama saya dgn bapa sya ..😭😭😭

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s