Devious (Part 1)

TITLE : Devious (Part 1)

MAIN CAST:

  1. Choi Sooyoung SNSD
  2. Kim Woobin
  3. Song Joongki

OTHER CAST :

  1. Choi Zelo
  2. Choi Daniel
  3. Park Minyoung

GENRE : Romance, Family, Sad

RATING : PG 17

CREAT BY : H-By

—-

NB :

  • maaf jika terdapat kesalahan dalam penulisan (typo)
  • maaf jika ada kata-kata kasar/menyinggung
  • maaf jika ada kesamaan cerita

—-

Assalamu’alaikum ^^

Piye kabare readerdeul? masih menunggu And One Kah?

hehe.. ff baru nih, terinspirasi dari banyak drama terutama the heirs,

Niatnya sih mau publish kalo And One tamat, tapi malah aku publish sekarang *mian

Semoga kalian suka ye…🙂

—-

happy reading and don’t be siders

1421566304909122

#Just Tell Me Honestly#

–*Devious*–

.

“Krink! Krink!”

Suara bel sepeda memecahkan keheningan pagi itu.

Seorang yeoja terlihat bersepedah dengan penuh semangat. Meski masih sangat pagi, dia sudah mengeluarkan tenaganya untuk melemparkan tiap gulungan koran yang ada di keranjang sepedahnya ke setiap rumah yang ada di kompleks itu.

‘Chit!’

Yeoja itu menghentikan sepedahnya di dekat sebuah toko bubur kecil yang ada di pinggir jalan. Seperti biasa, dia ingin membeli semangkuk bubur untuk mengisi perutnya.

(Bayangkan scene mini market tempat Shinhye-Woobin @ the heirs)

“Bibi Song, aku datang ^^” ucap yeoja itu pada sang penjual.

“Oh.. Sooyoungie, kenapa sudah datang?” Tanya sang bibi dengan wajah senang.

“Hehe sebenarnya belum semua koran ku antar bi, tapi aku sudah sangat lapar… jadi aku kesini terlebih dulu” jawab yeoja bernama Sooyoung itu.

“Ya Tuhan, kau melupakan sarapanmu lagi? kalau begitu ambil ini dan makanlah” ucap bibi itu sambil menyerahkan semangkuk bubur pada Sooyoung.

Sooyoung tentu saja beranjak mengambil mangkuk itu dengan wajah berseri-seri. Tapi..

‘TAPP!’

“Ya permisi ajhuma.., tapi aku yang memesanya terlebih dahulu, kenapa kau malah memberikan bubur itu padanya?”

‘DEG’

Sooyoung langsung menoleh pada seorang namja yang sejak dia datang sudah berdiri di depan Bibi Song.

“Ah maaf maaf, aku akan segera menyelesaikan hidangan bubur yang ku buatkan untukmu” ucap Bibi Song sambil membungkuk sedikit pada namja itu.

“Ah sudahlah aku sudah tidak berselera!” ucap namja itu lalu beranjak pergi.

“Eh?”

“Tuan Tunggu!” Sooyoung yang tidak bisa membiarkan itu terjadipun langsung berlari dan menahan namja itu.

“Tuan, bibi Song sudah membuatkan bubur yang kau pesan, jadi jebal.. kembalilah” pinta Sooyoung.

Namja itu terdiam sejenak sambil menatap Sooyoung dingin. “Shiro! aku bilang aku sudah tidak berselera jadi lupakan saja!” ucap namja itu lalu kembali beranjak pergi.

“Tuan, kau bisa mengambil buburku jika kau mau…, biar.. biar aku yang menunggu masakan bibi” tawar Sooyoung.

Namja itu membalikan badan dan menatap Sooyoung datar. Sejenak dia melihat Sooyoung dari atas sampai bawah.

“Berhenti berlebihan, bibi itu hanya kehilangan satu pelanggan…, jika kau takut dia rugi karena ini.. kau bisa membayar gantinya” ucap namja itu dengan suaranya yang berat.

Sooyoung membuang nafas dengan kesal, “Dia pasti tidak tahu nilai uang” dumal Sooyoung pelan. Meski begitu namja itu tetap bisa mendengarnya.

“Ciihh! kau mendumal? kau pikir aku benar-benar ingin makan bubur murah seperti itu, di tempat seperti ini…? yhang benar sajha!” ucap namja itu sambil tertawa remeh.

“Ya! hati-hati dengan ucapanmu!” ucap Sooyoung tak terima.

“Sudahlah- berhenti mem-“

“HyeonJung?”

‘DEG’

Sooyoung dan namja itu menoleh saat seseorang seperti sedang memanggil namja di depan Sooyoung itu.

“Oh? jadi ini benar-benar kau? apa yang kau lakukan disini?” tanya seorang yeoja berambut panjang yang sekarang sudah berdiri di antara Sooyoung dan namja itu.

Sejenak, Sooyoung menatap namja di hadapanya yang sekarang tidak lagi menampakan wajah menyebalkan.

“Lama tidak bertemu ya Noona, begini.. aku harus menemani Abojiku menghadiri pertemuan di Yongin beberapa hari…,dan saat aku berjalan-jalan, aku ingat jika dulu kau sering datang ke sini…” ucap namja itu.

“Jinjjayo? Hmmm… kureom, sudah lama sekali ya sejak kau pindah ke Seoul… ” ucap yeoja itu.

Sooyoung mendengus lalu segera beranjak pergi. Diapun beranjak mencari tempat duduk untuk makan. Dia tidak mau bosnya mengamuk lagi karena koran di antar terlalu siang.

.

.

.

“Bibi Song, aku pergi dulu ya, gomawo atas buburnya.. anyeong~” pamit Sooyoung pada bibi Song.

“Nde.. hati-hati di jalan ya, dan bilanglah pada Minho untuk datang ke sini sesekali” ucap Bibi itu.

“Nde~” Jawab Sooyoung sebelum dia benar-benar mengayuh sepedahnya.

Tapi…

‘CHIIITT!’

Sooyoung langsung berhenti saat dia melihat hal yang tidak menyenangkan di salah satu meja makan. Meja itu adalah tempat dimana namja yang bertengkar denganya tadi duduk.

Dengan geram, Sooyoung mengayuh sepedahnya dan di arahkanya ke meja tadi dan ..

“Ya! apa yang ingin kau lakukan?!” Pekik namja itu yang sepertinya melihat tindakan Sooyoung. Diapun segera berdiri dan mendorong sepedah Sooyoung agar dia bisa melindungi yeoja yang memang sedang duduk bersamanya tadi.

“Woaaaaahhh!!”

‘BRAKK!’

Meski sebenarnya bukan meja itulah yang ingin Sooyoung tabrak, tapi karena namja itu menghalanginya, sepedah itu malah benar-benar menabrak meja.

“Ommo!” Semua orang yang ada di sana tentu saja langsung memekik terkejut.

“Ya! bwohaneungeoya?!” tanya namja tadi dengan murka. Dia menatap geram pada Sooyoung yang sekarang terjatuh bersama sepedahnya.

“Sooyoungie…?” pekik bibi Song.

Sooyoung tak peduli dengan orang-orang yang menatapnya aneh sekarang. Dia masih menatap seorang namja yang tadi terjatuh karena terdorong meja yang Sooyoung tabrak. Namja itu terlihat bangun dengan tergesa-gesa dan berlari menjauh dari kerumunan itu sambil membawa sebuah tas.

“Ya! pencuri! jangan lari!” pekik Sooyoung pada namja itu.

‘DEG’

“Pencuri?” Semua tentu saja semakin tersentak mendengarnya. Mereka langsung menoleh cepat pada ‘pencuri’ yang sekarang terlihat berlari menjauh.

‘“Ya Tuhan, Tasku?!” pekik yeoja tadi yang akhirnya sadar dengan apa yang sebenarnya terjadi.

‘DEG’

‘TAPP!’

Meski sedikit kesakitan, Sooyoung segera bangun dan berniat mengejar namja tadi. Beberapa dari orang yang ada di sana juga ikut mengejar pencuri tadi, termasuk namja dan yeoja yang Sooyoung tabrak.

“YA! Cepat kembalikan tas itu saekkiya! itu bukan milikmu!” pekik Sooyoung. Dia berlari cukup kencang sehingga jaraknya dan juga sang pencuri tidak terlalu jauh.

“Ya! siapapun! cepat hentikan orang itu! dia mencuri tas kakaku!” pekik Sooyoung pada orang-orang yang ada di sekitar terotoar itu.

“Pencuri?”

“Mana pencurinya?” Gumam beberapa orang sambil menoleh ke kakan dan ke kiri.

“Haahhh hahhh hahhh..” Sooyoung terlihat mulai kehabisan nafasnya. Jaraknya dengan pencuri itupun terlihat semakin jauh.

Tapi tiba-tiba…

‘PRAKK!!!’

‘BRUKK!!’

Sooyoung terhenti seketika saat dia melihat seorang namja yang sedang duduk di salah satu kursi terotoar, mengayunkan sketboardnya ke wajah sang pencuri tadi.

Dan benar saja, Pencuri tadi langsung terjatuh dan mungkin wajahnya terluka karena terkena sketboard itu.

“Huuffttt..” Sooyoung membuang nafas lega setelah melihatnya. Diapun segera berlari menghampiri pencuri yang sekarang di pegangi oleh namja sketboard tadi.

“Hahh hahhh Gamsahamnida.. jeongmal gamsahamnida…” ucap Sooyoung pada namja itu.

Meski sudah menolong, tapi namja itu terlihat begitu dingin saat menanggapi rasa terimakasih Sooyoung.

“Pagi-pagi sudah berisik sekali “ ucap namja itu dengan wajah kesal, dia bahkan sedikit mengorek-ngkorek kupingnya karena merasa keberisikan. Dan Sooyoung hanya bisa membungkuk beberapa kali pada namja itu.

“TAPP! TAP! TAP!”

Lalu dari arah belakang, datanglah yeoja yang tasnya di curi tadi bersama temanya. Mereka segera menghampiri Pencuri tadi lalu mengambil tasnya.

“Ahh tasku” ucap yeoja tadi dengan wajah lega.

“Haashh, yang benar saja! ya Noona.. apa yang harus kita lakukan pada pencuri ini?” tanya si teman yeoja itu.

“Kenapa kalian harus bingung? tempat pencuri adalah kantor polisi! jadi bawa saja dia kesana” ucap namja sketboard tadi dengan santainya.

Pencuri itu terlihat panik, “Jebal tuan, nona, jangan membawaku ke kantor polisi, aku… aku hanya bingung mencari uang untuk biaya melahirkan istriku” mohon sang pencuri.

Yeoja itu menatap pencuri tadi dengan wajah iba.”Ya sudah,paman.. kau bisa pergi, tapi kuharap kau tidak akan mengulanginya lagi” ucap yeoja itu. Dan Sooyoung tersenyum melihatnya, sebenarnya dia juga tidak setuju masalah ini harus di bawa ke kantor polisi.

“Ah gamsahamnida… gamsahamnida” ucap sang pencuri itu lalu segera pergi dari sana.

Beberapa saat kemudian, yeoja tadi menghadapkan wajahnya pada Sooyoung sambil tersenyum.

“Nona, gamsahamnida karena kau sudah mau menolongku meski kita tidak saling mengenal, jeongmal gamsahamnida” ucap yeoja itu sambil membungkuk beberapa kali pada Sooyoung.

Sooyoung tersenyum, “Sebenarnya namja inilah yang sudah membuat pencuri tadi berhenti.. jadi berterimakasihlah padanya” ucap Sooyoung sambil menoleh sekilas pada namja tinggi yang membawa sketboard itu. Namja itu menatap Sooyoung dingin meski hanya beberapa saat.

Dua orang tadi langsung menoleh pada namja yang Sooyoung maksud. “Oh.. gamsahamnida” ucap yeoja itu.

“Aku hanya tidak suka mendengar teriakanya di pagi hari seperti ini” jawab namja tadi sambil menoleh sekilas pada Sooyoung.

Sooyoung mendengus kesal sambil melirik namja tadi. Kalau saja namja itu adalah Minho, dia pasti sudah menjambak rambutnya habis-habisan.

“Kau bisa duduk di makam jika kau mencari suasana yang sepi..” dumal Sooyoung pelan.

Namja itu terlihat melirik Sooyoung dengan tatapan tidak suka. lalu tanpa berpamitan pada siapapun atau bahkan menatap siapapun, namja itu pergi dari sana.

“Tunggu!” Panggil teman yeoja tadi.

Namja skeatboard itu berhenti dan menoleh dengan tatapan dingin.

“Apa kita pernah bertemu? kurasa.. wajahmu tidak asing” gumam namja itu sambil berusaha mengingat.

“Kau pikir aku peduli?” ucap namja skeatboard tadi dengan ekspresi yang masih dingin. Beberapa saat kemudian, dia kembali melangkah pergi. Dan teman yeoja itu hanya mendengus kesal mendengar tanggapan yang menjengkelkan itu.

“Mmmm.. kalau begitu aku pergi, dan kuharap.. lain kali kau lebih berhati-hati dengan barangmu Nona” ucap Sooyoung sebelum dia beranjak pergi.

“Nde” Jawab yeoja itu sambil tersenyum.

“Lain kali, kau juga harus berhati-hati dengan tindakanmu! kau hampir saja mencelakai kami dengan sepedahmu!” ucap teman yeoja itu.

‘TAPP!’ Dan Sooyoung tentu saja langsung menghentikan langkahnya lalu menoleh pada namja itu dengan wajah kesal.

“Maaf tuan, tapi kalau saja kau tidak mendorong sepedaku, aku pasti sudah membuat pencuri tadi jatuh dan bukanya menabrak mejamu!” ucap Sooyoung tak terima.

“Heeyy, kenapa kau seperti itu? bahkan nona ini sudah terjatuh bersama sepedahnya untuk menolongku, jadi sudahlah…” ucap yeoja tadi pada temanya.

“Kau bahkan tidak bisa menolong teman wanitamu sendiri” dumal Sooyoung saat dia beranjak pergi.

“Ya! mworago?!” pekik namja itu. Tapi Sooyoung tak peduli dan terus saja berjalan dengan sedikit terpincang.

.

.

[Toko bubur Song’]

“Omma…”

Seorang namja berjalan menghampiri Bibi Song yang sekarang sedang membereskan kerusakan tadi.

“Oh.. Joongki, kenapa kau kesini? bukankah kau harus mengantarnya ke Sekolah?” Tanya Bibi Song pada namja itu.

“Aku hanya mampir, kurasa ini masih terlalu pagi jika aku berangkat sekarang…” jawab namja itu.

Bibi Song hanya mengangguk tanpa melepaskan pandanganya dari sepedah Sooyoung.

“Sepedah siapa ini Omma? kenapa disini berantakan sekali?” tanya Joongki.

“Ini sepeda salah satu pelanggan Omma, dia tadi jatuh dan menabrak meja ini” Jelas Bibi Song.

“Mwo? apa dia mabuk? kenapa dia bisa menabrak meja? dan… dimana dia sekarang?” Tanya Joongki sambil menoleh ke sekeliling toko.

“Dia sedang mengejar pencuri yang sebenarnya ingin dia tabrak…, ahh bagaimana dia bisa melakukan hal segila itu?” gumam bibi Song dengan wajah khawatir.

“Pencuri?”

“Eh?” Lalu kedua orang yang sedang berbincang itu menoleh saat seorang yeoja datang dengan langkah terpincang.

“Sooyoungie? Ya Tuhan… apa kau baik-baik saja?” tanya Bibi Song dengan wajah panik.

Sooyoung terlihat tersenyum sambil menghampiri bibi itu.

“Nan Gwenchana…” jawab Sooyoung lalu segera berjongkok untuk membereskan koran-koranya yang berantakan.

Lalu tanpa bicara apa-apa, namja bernama Joongki itu ikut berlutut dan membantu Sooyoung membereskan koran-koran tadi. Dan tentu saja, Sooyoung sedikit terkejut karena seorang namja asing tiba-tiba membantunya.

“Lihat akibat dari apa yang kau lakukan! semua koranmu jadi tak layak antar…” omel bibi Song.

Sooyoung mendongak sejenak dan tersenyum, “Tenang saja, aku dan bosku adalah teman baik… jadi dia tidak akan marah” ucap Sooyoung menghibur.

Setelah selesai membereskan, dia mengangguk dan tersenyum sopan pada Joongki sebagai rasa terimakasih. Lalu dia segera berdiri dan mengambil alih sepedahnya yang sedang Bibi Song pegang.

“Gomapsumnida tuan, bibi…, aku pergi dulu…, anyeong ^^” pamit Sooyoung. Setelah itu dia segera menuntun sepedanya yang sedikit rusak karena insiden tadi.

——

“Minho-ya… apa yang kau lakukan disini?”

Sooyoung terlihat bingung saat dia melihat adiknya berdiri di depan tempat tinggalnya.

“Noona? apa yang terjadi dengan kakimu?” Namja yang di panggil Minho itu terlihat terkejut saat melihat Sooyoung datang dengan langkah terpincang.

“Ah.. tadi.. aku.. terjatuh dari sepedah.., ini bukan apa-apa jadi mungkin besok sudah sembuh ^^” jawab Sooyoung sambil tersenyum lembut pada Minho.

“Kau belum menjawab…, kenapa kau kesini?” Tanya Sooyoung lagi.

Minho terlihat menunduk sambil menggaruk tengkuknya. “Mmmm… begini… Noona… tadi malam… appa…”

Sooyoung mengernyit bingung saat adiknya itu terlihat takut dan ragu-ragu.

“Mwosuniriya? apa lagi yang dilakukan Appa kepadamu?” Tanya Sooyoung yang mulai berpikiran buruk.

Minho menarik nafas dalam sebelum dia berbicara, “Dia.. mengambil uangku yang.. akan ku gunakan untuk membeli buku pelajaran..” ucap Minho. Saat mengatakanya dia terlihat menunduk.

Sooyoung mendesah lemah melihat bagaimana adiknya itu.

“Jinjja? Hmmm.. baiklah…, kau tunggu sebentar ne.., aku akan mengambilkan uang..” ucap Sooyoung sambil memegang lengan Minho sekilas.

.

.

“Ini… uangnya, cukup tidak?” Tanya Sooyoung sambil menyerahkan beberapa lembar uang pada Minho.

Minho menerimanya dengan sedikit ragu. Beberapa saat kemudian dia mendongak dan menatap kakaknya itu sendu,

“Mianhae Noona.., karena aku.. selalu menyusahkanmu…, a.. aku janji, aku akan segera mengembalikanya saat-“

“Apa maksudmu mengembalikanya? kau adiku… jadi ini semua sudah menjadi kewajibanku” potong Sooyoung.

“Huuffttt…” Minho membuang nafas panjang dan wajahnya terlihat menyiratkan rasa lelah.

‘TAPP!’

Sooyoung maju satu langkah lalu di usapnya rambut Minho dengan lembut.

“Jangan berekspresi seperti itu… ^^, nanti.. jika Bibi Lee sudah sembuh, aku akan kembali… aku janji” ucap Sooyoung.

—***—

“Sooyoungie…, bagaimana jika kita membeli baju hangat setelah makan bubur?” tanya Bibi Lee.

Sooyoung menoleh pada yeoja berumur 40 tahunan yang sedang berjalan di sampingnya itu.

“Bibi Lee… kau tidak perlu me-“

“Kenapa kau masih memanggilku bibi? panggil aku Omma.. arraseo?” pinta Bibi itu.

Sooyoung membuang nafas panjang. Tapi setelah itu dia tersenyum dan mengangguk.

—–

“Bi- eumm.. Omma, kau duduk di sini ne? biar aku yang memesan” ucap Sooyoung. Bibi itu mengangguk lalu segera duduk di salah satu kursi yang berada paling dekat dengan jalan.

Sooyoung pun berjalan menuju kasir untuk memesan makanan. Dia berdiri di samping seorang namja yang sedang menunggu pesanannya jadi. Dengan iseng, Sooyoung menoleh pada orang itu. Ya.. meski hanya sekedar menoleh dan sama sekali tidak ada keinginan untuk tahu siapa dia.

Tapi..

Ekspresi wajah Sooyoung berubah saat namja itu ternyata adalah seseorang yang beberapa hari lalu bertengkar denganya di sana. Namja itu terlihat menoleh dan menatap Sooyoung dingin. Sedangkan Sooyoung hanya menatap namja itu datar, lalu beberapa saat kemudian dia menoleh seolah tidak tertarik.

“Sooyoungie.. kau datang?” sapa Bibi Song. Sooyoung tersenyum dan mengangguk.

“Nde… aku pesan dua bubur ya bi..” ucap Sooyoung.

Bibi Song mengangguk. Di sela kegiatanya menata makanan, dia menoleh sejenak pada tempat duduk pelanggan.

“Ommo, Kau datang bersama denganya?” tanya Bibi Song dengan wajah terkejut.

“Nde, sepertinya dia sudah bisa melupakan kejadian itu..” jelas Sooyoung sambil tersenyum simpul.

Bibi Song terlihat membuang nafas sambil menatap Sooyoung sendu, “Kau pasti kesulitan karena semua ini”

Sooyoung menggeleng, “Anya…, semua ini salahku.. jadi ini semua bukan masalah besar” ucap Sooyoung.

Bibi Song tersenyum dan mengangguk paham, “Chamkaman…” ucapnya.

“Ini pesananmu nak..” ucap Bibi Song sambil menyerahkan semangkuk bubur pada namja yang berdiri di samping Sooyoung itu.

“Ah.. nde.. gamsahamnida..” Namja yang sepertinya sedang memikirkan sesuatu itu, kini tersadarkan dan akhirnya mengambil makananya itu.

Sooyoung melirik namja itu dengan tatapan aneh, “Dia bilang dia tidak suka makan disini.., tapi dia kembali.., dasar!” batin Sooyoung.

.

.

“Ini pesananmu Sooyoungie..”

“Nde gamsahamnida..” ucap Sooyoung. Diapun segera mengambil nampan berisi dua mangkuk bubur itu, lalu di bawanya ke meja dimana Bibi Lee duduk saat ini.

Tapi..

‘TAPP!’

“YAA! ANDWEEE!!!”

Sooyoung langsung menghentikan langkahnya saat dia melihat tiga orang berpakaian bodyguard sedang menarik Bibi Lee dengan paksa menuju sebuah mobil yang berhenti tak jauh dari sana.

“OMMAA!!” Pekik Sooyoung panik. Diapun segera menaruh nampan yang ia pegang itu dengan sembarang, lalu di kejarnya orang-orang itu.

Beberapa orang di toko itu hanya bisa melihat bagaimana Bibi Lee di seret seperti orang yang sedang di culik.

“Sooyoungiee!!!! Tooloooong!!” pekik Bibi Lee saat dia akan di masukan ke dalam mobil.

“Ommaa!!! Yaa! andweee!!” Pekik Sooyoung.

Dia berhasil sampai di samping mobil itu. Tapi…

“Menyingkir!” Salah satu penjaga itu keluar dan mendorong Sooyoung hingga dia jatuh tersungkur.

“Sooyoungie!” Pekik Bibi Lee sambil beranjak menghampiri Sooyoung.

‘BRRMMM!!!’

Beberapa saat kemudian, Mobil itu melaju dengan cepat dan meninggalkan Sooyoung yang masih duduk tersungkur di lantai.

“Ommaa!!!” Pekik Sooyoung lagi. Tidak peduli jika mobil itu melaju cepat, Sooyoung tetap beranjak berdiri dan mengejar mobil itu.

“Sooyoungie hajima!” pekik Bibi Song.

‘DRTTT’

Lalu bibi Song langsung menoleh pada seorang namja yang terlihat berdiri dengan cepat sambil menatap kepergian Sooyoung. Beberapa saat kemudian, namja itu terlihat ikut berlari ke arah Sooyoung dan mobil tadi pergi.

.

.

“Omma!!” pekik Sooyoung lagi. Dia tidak peduli jika orang-orang di jalanan itu menatapnya dengan tatapan aneh.

“Ommaaa!!!”

Semakin lama, Jarak Sooyoung dan mobil itu semakin jauh.

‘TAPP’

“OMMAAA!!!!!” Pekik Sooyoung dengan tenaga yang tersisa. Dia terpaksa menghentikan langkahnya karena dia sudah kehabisan nafas. Dia berhenti di sebuah halte sambil berpegangan pada salah satu tiang.

“Siapa mereka? Haahhh haahhh.. kenapa mereka menulik Bibi Lee?” gumam Sooyoung pelan.

Sekarang, dia hanya bisa menatap sendu pada mobil yang semakin lama semakin terlihat kecil dan pada akhirnya menghilang.

“Eoteohke?” Gumam Sooyoung dengan wajah putus asa.

‘TAPP!’

Diapun duduk di kursi halte itu sambil menunduk.

“Omma…” gumam Sooyoung lagi.

“Apa berteriak adalah kegiatanmu setiap pagi? asshh jinjja! berisik sekali..”

‘DEG’

Sooyoung tersentak saat seseorang yang juga duduk di kursi halte itu seperti mengajaknya berbicara. Sooyoung menoleh perlahan untuk melihat siapa orang itu.

Sooyoung membuang nafas panjang lalu kembali menghadapkan wajahnya kedepan. Dia seolah tidak peduli dengan ucapan namja yang duduk di sampingnya sambil memegang sebuah skeatboard itu. Namja itu terlihat tersenyum remeh melihat bagaimana acuhnya Sooyoung padanya.

“Nona… kau harus berterima kasih padaku” ucap namja itu lagi.

Sooyoung memutar bola matanya malas seolah dia enggan dengan namja itu. “Jangan membuatku kesal..” ucapnya singkat.

Namja tinggi dan putih itu tersenyum, “Kudengar.. kita bisa melacak seseorang dengan plat nomor mobil…, tapi…” Namja itu menoleh pada Sooyoung dengan tatapan remeh lagi.

“Tapi sepertinya kau tidak ingin tahu nomor plat mobil yang kau kejar tadi..” lanjut namja itu.

‘DEG’

Sooyoung menoleh dengan ekspresi berbeda. Sekarang, kelopak matanya terlihat sedikit melebar.

“Aaaaahhh….,paboya! kenapa aku tidak mencatatnya tadi?! ahhhh jinjja paboya!!” gumam Sooyoung sambil memukul kepalanya beberapa kali.

“Ahh bagaimana ini?” gumam Sooyoung pelan. Beberapa saat kemudian, dia terlihat berdiri dan beranjak pergi.

Namja skeatboard itu hanya menatap Sooyoung dengan wajah datar.

“Haassshhh…, dasar bodoh!” umpatnya sambil tersenyum tipis. Tapi.. dia hanya diam dan sama sekali tidak memberitahu Sooyoung jika sebenarnya dia sudah memfoto plat nomor mobil tadi.

‘TAPP!’

Sooyoung menghentikan langkahnya saat dia mengingat sesuatu. Beberapa saat kemudian dia membalikan badan dan menghampiri namja skeatboard tadi.

Namja itu terlihat mendongak dan menatap Sooyoung datar.

“Ya! apa kau tahu plat nomor mobil tadi?” Tanya Sooyoung to the point.

Namja itu tertawa remeh sambil menoleh ke arah lain. “Bagaimana kau bisa sebodoh itu? kau seharusnya-“

“Bisakah kau memberitahuku? jebal! mobil tadi menculik ibuku! padahal dia sedang sakit dan baru saja mengalami peristiwa buruk!” potong Sooyoung. Kali ini dia berbicara dengan wajah memohon.

Namja itu terdiam sejenak dan menatap Sooyoung. “Kau pikir aku peduli?” tanya namja itu sambil menatap Sooyoung dingin.

Sooyoung membuang nafas kesal, “Jika kau tidak peduli.. kenapa kau memperhatikan plat nomornya?” Tanya Sooyoung balik.

‘DEG’

Namja itu terlihat terkejut. “Kenapa aku harus memotretnya?” batinya heran.

“Jebal! aku harus menyelamatkan ibuku sebelum terjadi hal buruk padanya..! aku.. aku akan membayarnya jika kau tidak mau memberikanya secara gratis” ucap Sooyoung.

“Cih.. kau pikir aku orang miskin? ya-“

“Aku akan membalasnya! aku janji! tapi tolong… beritahu aku nomer plat mobil tadi“ mohon Sooyoung lagi.

Namja itu terlihat membuang nafas panjang. “Baiklah…, kau bisa mendapatkanya.., tapi aku tidak akan melupakan janjimu itu “ ucap namja itu. Beberapa saat kemudian, dia meraih handphone nya lalu di tunjukan foto plat nomor mobil tadi pada Sooyoung.

Sooyoungpun segera meraih handphonenya dan di catatnya nomor itu.

.

.

“Gamsahamnida.., jeongmal gamsahamnida.. “ ucap Sooyoung.

“Ingat, kau punya hutang padaku” ucap namja itu dingin.

“Kau tenang saja… aku tidak akan mengingkari janj-“

~Forever with you.. with you with you with you…~

Sooyoung langsung menghentikan ucapanya saat seseorang tiba-tiba menelponnya.

“Chamkanman” ucap Sooyoung pada namja itu.

“Nde yoboseyo” sapa Sooyoung.

“Apa kau anak Lee Yoowon?”

‘DEG’

Mata Sooyoung membulat mendengar seseorang menyebut nama bibi Lee.

“Ya! apa kau penculik tadi?! ya! dimana dia sekarang?! cepat katakan padaku!!!” pekik Sooyoung dengan murka. Namja di hadapanya bahkan sampai menatapnya bingung sekaligus penasaran.

‘BEEB’

Lalu namja itu segera memeriksa ponselnya saat seseorang menghubunginya. Diapun berjalan menjauh dari Sooyoung untuk mengangkat telepon tersebut.

.

.

“Apa kau anaknya?” Tanya orang itu.

“Benar! aku anaknya! sekarang cepat katakan dimana ibuku atau aku akan melaporkanmu ke kantor polisi!” ancam Sooyoung.

“Dengar nona, aku dan juga ibumu.. sekarang sedang dalam perjalanan ke Seoul”

‘DEG’

“SEOUL?!” Pekik Sooyoung terkejut.

“Ya.., jika kau ingin melihat bagaimana keadaanya.. kau bisa menyusul kami…, aku akan mengirimkan alamatnya dan kau harus datang kesini, jika tidak.. kau mungkin hanya akan melihat upacara pemakamanya lusa” ancam orang itu.

‘DEG’

Mata Sooyoung membulat sempurna. Dia hanya bisa terperangah mendengar ancaman namja itu.

“Ya! aku akan ke sana sekarang juga! jadi.. jadi.. jangan menyakitinya sedikitpun!!” ucap Sooyoung.

.

.

“Yoboseyo, ye hyung waeyo?” Tanya namja skeatboard itu.

“Ya! apa kau tahu? abojimu ada di Yongin sekarang!” ucap ‘Hyung’ itu dari seberang telepon.

‘DEG’

Namja itu menyipitkan matanya, “Wae? apa dia mencariku?” tanya namja itu dengan ekspresi tidak suka.

“Kurasa.. dia akan membawamu pulang”

‘DEG’

Namja itu membuang nafas panjang setelah mendengarnya, “Hassshh… jinjja! Katakan saja jika kau sudah tidak bersamaku hyung, dan jangan katakan apapun tent-“

‘GREBB!’

‘DEG’

Namja itu langsung tersentak dan menoleh saat dua orang tiba-tiba memegangi kedua lenganya dengan erat.

“Ya! Bwohaneungeoya?!” pekik namja itu sambil memberontak.

“Tuan Muda! kau harus pulang!” ucap salah satu bodyguard itu. Mereka terlihat menyeret namja itu untuk masuk ke mobil.

“Mwo?! Ya! andwe! cepat lepaskan aku! aku tidak mau pulang!” berontak namja itu.

“Maaf tuan, tapi ini perintah dari presedir”

“Ya! shiro! aku tidak mau! ya! cepat lepaskan aku!”

.

.

“Dimana bocah tadi?” gumam Sooyoung heran saat namja skeatboard tadi tiba-tiba menghilang begitu saja.

—[Disisi Lain]—

Someone POV

Aku terus berlari mengerjar yeoja tadi. Entah apa yang akan kulakukan setelah itu. Aku hanya tidak bisa membiarkan jika orang-orang tadi menyakiti yeoja bodoh itu.

‘BEEB BEEB’

‘TAPP!’

Dan aku terpaksa menghentikan langkah saat handphoneku berdering.

Dan mataku membulat melihat tulisan ‘Aboji’ di layar itu.

“Ah sial!” umpatku pelan.

“Nde Yoboseyo aboji” sapaku pada ayahku itu.

“Dimana kau sekarang?”

Aku menghela nafas panjang seolah enggan menjawab, “Aku sedang sarapan aboji.., aku akan kembali ke hotel setelah aku selesai” ucapku.

“Kau tidak usah kembali ke hotel karena aku sudah dalam perjalanan ke Seoul”

‘DEG’

Mataku membulat mendengar ucapan ayahku itu.

“Mwo? aboji.. lalu bagaimana denganku?” tanyaku bingung.

“Kau masih muda, jadi pulanglah dengan naik bus atau kereta bawah tanah”

‘DEG’

Aku semakin tersentak. “Mwo? Tapi.. aboji…”

“Aku sudah menyuruh semua sopir agar mereka tidak mau menjemputmu.., jadi datanglah kesini dengan transportasi umum, dan jika sampai besok kau tidak sampai.., kau akan merasakan bagaimana panasnya naik bus sampai saat kau masuk pertama ke universitas” ancam aboji.

“Huuffffttt…” Aku membuang nafas panjang. Aku memang tidak bisa berbuat apa-apa melawan laki-laki itu.

“Baiklah.. aku akan segera pulang…,” jawabku lemah.

——

Normal POV

Sooyoung segera berjalan mencari kursi kosong yang tersisa di bus itu.

“Itu dia…” gumam Sooyoung. Diapun berjalan menuju tempat duduk yang berada di urutan nomer 3 dari belakang.

Tapi..

‘BRUKK!’

Dia bertabrakan dengan seseorang yang sepertinya juga ingin duduk di kursi tersebut. Sooyoung menoleh pada orang itu dengan sedikit kesal. Dan ekspresinya terlihat bertambah kesal saat dia tahu siapa orang itu.

“Kau?” pekik keduanya bersamaan saat mereka menyadari satu sama lain. Ya, dia adalah namja yang bertemu dengan Sooyoung di toko bubur Bibi Song.

“Apa yang kau lakukan disini? kau mengikutiku ya?” Tanya namja itu.

“Cihh! kau pikir aku tidak punya kegiatan sehingga harus mengikutimu?!” sangkal Sooyoung.

Namja itu mendengus. Lalu beberapa saat kemudian, mereka bergerak cepat agar bisa duduk lebih dulu. Meskipun sebenarnya masih tersisa dua kursi kosong disana.

“Ya! aku yang lebih dulu kesini!” pekik namja itu disela kegiatanya berebut.

Sooyoung mendengus dan menatap namja itu kesal. “Ya! tapi aku yang lebih dulu hampir duduk disini! lagipula dua kursi ini masih kosong jadi kenapa kau berlebihan sekali?!” balas Sooyoung.

“Mwo?! Ya! tapi aku yang harus duduk di dekat jendela!” paksa namja itu.

“Andwe!” tolak Sooyoung. Dia langsung beranjak masuk dan duduk di kursi yang berada di dekat jendela.

‘TAPP!’ Namja itu meraih bahu Sooyoung agar yeoja itu tertahan dan tidak bisa duduk.

“Ya! aku bilang aku yang-“

BRRMMM~~~~

“Wooahhh~”

Sooyoung dan juga namja itu langsung kehilangan keseimbangan saat Bus mulai berjalan.

‘DAPP!’

‘GREBB’

Dan tanpa sengaja, Sooyoung terjatuh di dada namja itu sehingga keduanya sekarang terlihat seperti sedang berpelukan.

‘DEG’

Sooyoung mendongak dan menatap orang itu dengan tatapan terkejut. Sama dengan namja yang sekarang hanya bisa menatap Sooyoung dengan mata membulat.

‘. . .’

‘SHEETT!’

Setelah menyadarkan dirinya, Sooyoung langsung menjauh dan dengan cepat dia duduk di kursi dekat jendela itu.

Namja itu terlihat mendesah kesal karena pada akhirnya dia yang kalah. Lalu tanpa bicara apa-apa, dia duduk di samping Sooyoung.

.

.

~Forever with you.. with you with you with you…~

“Yoboseyo Minhoya…”

“Noona, apa yang terjadi? kau dimana sekarang?” Tanya Minho dari seberang telepon.

“Begini Minho-ya.. tadi pagi.. seseorang menculik bibi Lee dan membawanya ke Seoul, Dan sekarang.. aku sedang dalam perjalanan kesana” ucap Sooyoung.

“Mwo?! Seoul? Noona.. tapi.. kau belum pernah Ke Seoul.., bagaimana kau bisa mencarinya?” Tanya Minho dengan nada khawatir.

“Tenang saja, Seseorang tadi memberitahuku dimana alamat dia di bawa…” ucap Sooyoung.

Minho terdengar membuang nafas, “Seharusnya kau mengajaku Noona, setidaknya ada seseorang yang melindungimu saat kau berada di sana sendiri” ucap Minho.

Sooyoung tersenyum mendengar ucapan namja itu, “Ya.., kkokcheongma(Jangan khawatir), aku akan segera kembali saat aku sudah bertemu denganya, Sekarang yang perlu kau pikirkan hanya belajar dengan baik,dan jangan bekerja lagi! kalau kau masih bekerja.. aku akan benar-benar membuat kepalamu botak! arraseo!” ancam Sooyoung.

“Euumm, arra arra… telpon aku jika terjadi sesuatu.. kalau begitu.. aku tutup ya, istirahatku sudah hampir habis…, anyeong”

“Nde Anyeong ^^”

‘BEEB’

“Huuffftt…” Sooyoung membuang nafas panjang setelah Minho menutup teleponya.

“Eoteohke?” gumam Sooyoung pelan sambil menatap ke luar jendela. Dia menyandarkan kepalanya sejenak untuk merilekskan pikiranya.

“Ya..”

Sooyoung melirik ke samping saat namja yang duduk di sampingnya seperti sedang memanggilnya.

“Mwo?” Tanya Sooyoung sambil menatap namja itu datar.

“Bisa aku pinjam ponselmu?” Tanya namja itu.

Sooyoung mengernyit, “Wae?” tanya Sooyoung curiga.

“Aku hanya ingin menelpon sopirku agar mereka menjemputku!”

Sooyoung terdiam sejenak sambil menatap namja itu seksama. “Dia sepertinya orang kaya..” batin Sooyoung.

“Mana ponselmu?” tanya Sooyoung.

“Ponselku mati!”

“Tunjukan padaku dan aku akan meminjamkan ponselku” ucap Sooyoung dengan tatapan datar.

“Wae?” tanya namja itu geram.

“Aku harus memastikan jika kau tidak akan lari setelah kau meminjamnya, jadi berikan ponselmu sebagai jaminanya” ucap Sooyoung dengan angkuhnya.

Namja itu mendesah kesal, “Kau pikir aku sejahat itu sehingga mencuri ponsel semacam ini?” ucap Namja itu kesal.

“Ya.., aku hanya berantisipasi karena kita tidak saling mengenal…” ucap Sooyoung.

Namja itu menatap tajam pada Sooyoung. tapi pada akhirnya dia menurut dan memberikan ponselnya.

.

.

“Ini!” ucap Namja itu setelah dia selesai meminjam ponsel Sooyoung.

Sooyoung pun mengangguk. Setelah itu mereka saling mengembalikan ponsel masing-masing.

“Bagaimana kau bisa hidup dalam kecurigaan seperti itu..” dumal sang namja tanpa menatap Sooyoung.

“Aku hanya berhati-hati.., jika tidak begini… kita akan mudah tertipu” ucap Sooyoung juga tanpa menatap namja itu.

“Cih! terserahlah!” ucap namja itu enggan. Diapun melipat kedua tanyanya di dada lalu dia memejamkan mata seolah ingin tidur.

Sooyoung terdiam sejenak untuk berfikir, beberapa saat kemudian dia menoleh pada namja di sampingnya itu.

“Emm… tapi… maaf… bisakah aku bertanya sesuatu?” ucap Sooyoung dengan sedikit ragu.

Namja itu membuka mata dan menatap Sooyoung kesal.

“Mwo? apa yang ingin kau tanyakan dari orang jahat sepertiku?” Sindir namja itu.

Sooyoung mendengus kesal, “Begini.. apa kau orang Seoul?”

“Wae?” tanya namja itu dingin.

“Mmm.. apa kau tahu dimana alamat ini?” Tanya Sooyoung sambil menunjukan sebuah tulisan yang da di layar handphonenya.

Namja itu melihat apa yang Sooyoung tunjukan, beberapa saat kemudian, dia mengernyit curiga.

“Kenapa kau mencari alamat ini?” Tanya Namja itu.

Sooyoung terdiam sejenak, “Ibuku… diculik dan penculiknya memintaku datang ke alamat ini” jelas Sooyoung.

Namja itu memuang nafas sambil menoleh ke arah lain. “Aku tidak tahu.., kau kan bisa naik taxi dan menunjukan alamat itu..” ucap namja itu lalu kembali memejamkan mata.

Sooyoung mendengus dan menatap namja itu kesal. “Benar-benar arogan!” dumal Sooyoung. Diapun membuang wajahnya ke luar jendela lalu mulai memejamkan mata.

—–

Sooyoung memijakan kakinya memasuki sebuah rumah besar. Bisa di bilang jika rumah itu seperti istana.Karena di halaman depan rumah itu terdapat taman yang luas. Di tengah taman itu bahkan terdapat air mancur yang begitu indah.

“Apa kau anak Lee Yoowon?” tanya salah satu penjaga.

“Ya! aku anaknya! dimana dia sekarang?” tanya Sooyoung dengan tatapan tajam.

“Ikut aku!” ucap penjaga itu lalu beranjak pergi masuk ke dalam rumah.

.

.

‘Tapp!’Sooyoung berhenti tepat di sebuah ruangan yang sepertinya adalah ruang keluarga.

“Tuan Choi.., dia sudah datang” ucap sang penjaga pada seseorang.

Sooyoung mengernyit dan menatap seorang laki-laki berumur 50 tahunan yang duduk di sebuah kursi yang terlihat paling mewah dari lainya.

“Siapa pak tua ini?” batin Sooyoung penasaran.

“Bawa mereka kesini..” ucap pak tua itu pada petugas-petugasnya.

Sooyoung masih terlihat bingung. Sedangkan Pak Tua itu terlihat menatap Sooyoung dengan seksama.

“Siapa namamu?” Tanya Pak Tua itu.

“Choi.. Soo… young imnida..” jawab Sooyoung sedikit ragu.

Pak Tua itu terlihat tersenyum, “Cihh dia bahkan memakai margaku untuk menamaimu.. ckckck”

“Eung?” Sooyoung terlihat bingung dengan ucapan orang itu.

“Sooyoungie?”

‘DEG’

Sooyoung langsung menoleh pada seorang yeoja yang keluar dari sebuah ruangan dengan wajah haru. Dia terlihat begitu lega setelah melihat Sooyoung.

“Omma?” ucap Sooyoung terkejut sekaligus senang. Sungguh, dia lega melihat tidak terjadi sesuatu yang buruk pada Bibi Lee.

“GREBB!” Tanpa ragu, Bibi Lee menghampiri Sooyoung dan memeluk gadis itu dengan erat.

“Kupikir kau tidak akan kesini.. , ahh aku lega sekali” ucap Bibi Lee.

“Nyonya Choi.. silakan duduk” pinta sang petugas pada bibi Lee.

Bibi Lee pun duduk di sofa yang ada di dekat pak tua tadi.

“Nyonya Choi?” batin Sooyoung bingung.

“Dimana anak itu?” Tanya Pak Tua itu pada sang penjaga.

“Arrghhh lepaskan aku!! kenapa kalian memperlakukanku seperti tahanan hahh?! assh jinjja!”

Semua menoleh ke arah tangga saat mereka mendengar seorang namja mendumal kesal kepada dua petugas yang mencengkram tanganya dan memaksanya untuk turun ke lantai satu.

‘DEG’

Dan Sooyoung cukup terkejut melihat siapa orang itu.

“Dia..? namja skeatboard itu?”

“Ya! bisakah kau menurut hanya untuk sekali ini saja?! kita sedang kedatangan tamu!” pekik Pak tua tadi dengan wajah murka.

Namja skeatboard itu langsung diam dan menoleh ke arah ruang keluarga.

‘DEG’

Dan namja itu membulatkan matanya saat dia melihat Sooyoung berdiri di depan pak tua yang baru saja memarahinya.

“Apa yang namja itu lakukan disini?” batin Sooyoung heran.

“Sooyoung-ssi..” Panggil Tuan Choi.

Sooyoung yang tadinya menatap namja skeatboard itu, kini langsung menoleh pada Tuan Choi.

“Nde?” Tanya Sooyoung.

Tuan Choi itu tidak menjawab. Dia malah berdiri dan mulai mendekat pada Sooyoung.

Sooyoung dan namja skeatboard itu terlihat bingung. apalagi setelah..

‘GREBB’

Pak tua itu terlihat memeluk Sooyoung dengan erat dan hangat. Dan itu semakin membuat Sooyoung maupun namja skeatboard itu bingung setengah mati.

Beberapa saat kemudian, Tuan Choi melepaskan pelukanya sambil menatap Sooyoung bahagia.

“Akhirnya aku menemukanmu…, putriku.. ” ucap Tuan Choi dengan wajah haru.

‘DEG’

“Mw.. mwo?”

“Putri?”

.

.

_TBC_

 

Gimana readerdeul? jelekah? mian atas semua kesalahan. Tetep di tunggu tanggepanya ya🙂

Oh iya.. yang mau minta pinku.. bisa invite ke = 51CEE380

Pai pai ^^

55 thoughts on “Devious (Part 1)

  1. Keikooo berkata:

    fanfic ini sih sudah lama ada di list fanfic bacaan gw sih, cuman baru sempet baca abisa and one belom selesai :v, tapi serius dari awal baca yah meskipun beberapa scene di jelaskan dengan kalimat yg kurang tepat, tapi tetap saja itu ggk jadi maslah, seriuss baguss bangett, konfliknya emang udah keliatan pas dari awal, kerenn!

  2. ilahkim_28 berkata:

    wah keren ff nya walaupun msh bingung sama ceritanya tp tetep menarik buat baca jadi pengen cepet* baca next part nya

  3. Chansoo berkata:

    Aigoo ada wonbin sama jongki oppa aku 😂
    Seru nih kayaknya kalo dibikin drama beneran. Pemerannya itu loh greget semua😍
    Izin baca next partnya yaa thor ☺

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s