Devious (Part 4)

TITLE : Devious (Part 4)

MAIN CAST:

  1. Choi Sooyoung SNSD
  2. Kim Woobin
  3. Choi Zelo

OTHER CAST :

  1. Song Joongki
  2. Choi Daniel
  3. Choi Minho

CREAT BY : H-By

—-

NB :

  • maaf jika terdapat kesalahan dalam penulisan (typo)
  • maaf jika ada kata-kata kasar/menyinggung
  • maaf jika ada kesamaan cerita

—-

Anyeong ^^ aku balik nih,

Salah satu reader ada yg tanya apa arti Devious, nah Devious itu adalah lawan dari Obvious yang memiliki arti Jelas, jadi arti dari Devious adalah tidak terang-terangan atau bisa juga di artikan berliku-liku/ berbelit-belit.

—-

Don’t Like? Don’t read!

—-

happy reading and don’t be siders

——

collage_20150211231720824#Devious#

Daniel menghadapkan wajahnya pada Sooyoung, “Tuan putri…, sepertinya aku tidak perlu mencari kebenaran sampai ke Yongin…, karena kebenaran itu ternyata malah datang sendiri ke sini…” ucap Daniel sambil tersenyum penuh kemenangan.

‘DEG’

“Kebenaran?” batin Woobin.

“Apa dia sudah tahu?” batin Sooyoung was-was.

Minho melirik Daniel dan juga Sooyoung dengan tatapan bingung. “Kenapa orang ini memanggilnya tuan putri?” batinya.

“Cha.., kalau begitu.. anak muda, sekarang… silakan jelaskan.. apa hubunganmu dengan Tuan putri Sooyoung ini?” ucap Daniel lalu menoleh pada Minho dengan senyuman penuh kemenangan.

Minho terdiam sejenak, “Aku..? aku adalah…” Minho menghentikan ucapanya dan malah menghampiri Sooyoung. Setelah itu dia merangkul Sooyoung dengan santainya.

Woobin dan Daniel terlihat sedikit terkejut melihatnya. Sedangkan Sooyoung merasa semakin gugup.

“Aku adalah namjachingunya..!” ucap Minho.

‘DEG’

Sooyoung langsung menoleh pada Minho dengan wajah terkejut. Sedangkan Woobin masih tetap diam dan melirik Minho dengan tatapan curiga. Di sisi lain, Daniel terlihat menatap keduanya dengan seksama. Dia seperti sedang berusaha membaca sesuatu dari gerak gerik Sooyoung dan namja bernama Minho itu.

“Hassshhh, aku sangat kesal karena kudengar dia di jodohkan dengan seseorang yang tidak dia kenal!” lanjut Minho dengan wajah kesal.

“Minho-ya! micheoseo?!” bisik Sooyoung memarahi.

Minho terlihat melepaskan rangkulanya dan kini menghadapkan tubuhnya pada Sooyoung.

“GREBB!” Setelah itu, dia segera memeluk tubuh Sooyoung dengan sangat erat.

“Noona… bogoshipeoseo..” bisiknya pada Sooyoung. Sooyoung hanya diam tapi dia membalas pelukan Minho sambil memejamkan mata. Dan itu membuat Woobin menyipitkan matanya.

“Minho? sepertinya aku pernah mendengar namanya..” gumam Woobin pelan.

“Ckckck Tuan Putri, kau berani sekali ya melakukan itu di rumah ini, bahkan di depan tunanganmu..” sindir Daniel sambil melipat kedua tanganya di dada.

“Hey anak muda! apa kau datang kesini untuk membawanya kembali?” tanya Woobin.

“Yaa, aku akan membawanya kembali ke Yongin!” ucap Minho dengan sangat yakin.

“Benarkah? kapan?” tanya Woobin lagi.

“Wae? kau ingin menahanku?!” tanya Minho.

“Cihh…” Woobin terlihat tertawa remeh setelah mendengarnya. Setelah itu dia menatap Sooyoung dan Minho bergantian.

“Menahanmu? Ya! kau tahu? aku malah berterimakasih padamu jika kau ingin membawanya pergi, Hmmm… bahkan akan lebih baik lagi jika kalian pergi hari ini saja agar orang-orangnya presedir Choi tidak mengetahuinya.., benar kan Hyung?” ucap Woobin sambil mengalihkan pandanganya pada Daniel.

“Benar! atau.. apa perlu aku membayarkan tiket bus kalian..?” sahut Daniel.

Minho tentu saja langsung terkejut melihat bagaimana dua orang itu berbicara, Sedangkan Sooyoung hanya menampakan wajah datar seolah dia sudah terbiasa dengan ucapan itu.

“Minho…, ayo kita bicara!” ajak Sooyoung lalu menarik Minho keluar dari rumah itu.

.

.

“Ya! apa kau gila?! kenapa kau bisa kesini?!” tanya Sooyoung saat mereka sudah sampai di sebuah jalan kecil yang tidak terlalu ramai.

“Aku khawatir padamu Noona! aku sudah berkali-kali minta alamatmu pada bibi Song tapi dia tidak juga mau memberitahuku!” ucap Minho.

“Untung saja anaknya yang bernama Joongki itu menemuiku…” sambung Minho.

“Joongki Oppa menemuimu?” tanya Sooyoung sedikit terkejut.

“Kau mengenalnya? ahh jadi dia tidak berbohong…” ucap Minho.

“Memang apa yang dia katakan padamu?” tanya Sooyoung curiga.

“Dia bilang, dia bekerja di perusahan yang di miliki oleh pemilik rumah yang kau tinggali saat ini.., dia juga bilang jika kau di jodohkan dengan seseorang yang tidak kau kenal sehingga dia memintaku datang ke sini untuk membawamu kembali” jelas Minho.

‘DEG’

“Kenapa Joongki Oppa melakukan hal itu? dia ingin aku keluar dari rumah ini?” batin Sooyoung.

“Tapi mengaku sebagai namjachinguku bukanlah sesuatu yang bisa menyelesaikan masalah ini Minhoya! bagaimana jika mereka malah mencelakaimu!” ucap Sooyoung memarahi.

“Aku sebenarnya ingin mengatakan jika aku adikmu, tapi karena namja kacamata itu terlihat begitu ingin tahu kebenaranmu.. akupun menjawabnya dengan kebohongan..” jelas Minho.

“Huufftt…, kau tahu? jantungku benar-benar ingin copot saat melihatnya bersamamu tadi, aku kira kau sudah mengatakan hubungan kita yang sebenarnya” ucap Sooyoung dengan wajah panik.

“Mian, Tapi.. Noona, aku sungguh ingin menanyakan hal ini…, kenapa kau berbohong padaku dan tetap bertahan disini? sepertinya mereka tidak memperlakukanmu dengan baik.. apalagi kau di jodohkan dengan seseorang padahal kau bukan salah satu dari kerabat keluarga itu? iya kan?!” ucap Minho mengintrogasi.

Sooyoung menunduk sambil membuang nafas panjang. “Sebelumnya.. aku minta maaf karena aku berbohong padamu.., aku.. hanya takut jika kau khawatir tentang keadaanku disini” ucap Sooyoung dengan wajah menyesal.

“Kenapa kau takut aku khawatir? apa yang terjadi sebenarnya?” tanya Minho seolah tidak sabar ingin tahu kebenaranya.

“Ayo kita duduk! aku akan menjelaskan semuanya..” ajak Sooyoung sambil menarik Minho menuju sebuah kursi yang setiap beberapa meter memang tersedia di sepanjang jalan itu.

.

.

Minho langsung membuang nafasnya panjang setelah dia mendengarkan semua penjelasan Sooyoung.

“Noona.., kenapa kau masih seperti ini? kejadian 5 bulan lalu bukan kesalahanmu..” ucap Minho.

Yap! dia sama sekali tidak marah karena Sooyoung sudah membohonginya. Dia memang tahu, Sooyoung selalu punya alasan saat dia berbuat sesuatu.

Sooyoung menggeleng, “Kalau saja aku tidak melakukanya.. , itu semua tidak akan terjadi…, dan bibi Lee tidak mungkin jadi seperti itu” ucap Sooyoung menyangkal. Dia berbicara dengan wajah penuh rasa bersalah.

Minho kembali membuang nafas, “Lalu sampai kapan kau akan seperti ini? Noona…, sekarang ini.. kau sedang bersandiwara di depan manusia-manusia kejam yang hanya tahu tentang uang!” ucap Minho dengan wajah khawatir.

“Aku tahu.., tapi.. aku benar-benar tidak bisa pergi dan membiarkan bibi Lee bunuh diri, aku hanya bisa menunggu sampai bibi Lee bisa melupakan kematian Yoobi dan dia sudah bisa masuk ke dalam kehidupan keluarga itu..” ucap Sooyoung lirih.

“Keureonika (maka dari itu), jangan mengkhawatirkanku dan kembalilah saja ke Yongin sebelum anak buah pak presedir tahu tentangmu..” pinta Sooyoung sambil menatap lurus pada mata Minho.

Minho meraih tangan Sooyoung lalu di genggamnya erat, “Noona.., bagaimana aku bisa pulang dengan tenang jika hidupmu disini ternyata benar-benar mengerikan? meskipun di Yongin kita hidup miskin dan ada Appa yang selalu mengamuk, tapi setidaknya masih ada aku bersamamu…,” Minho terdiam sejenak sambil menatap Sooyoung sendu.

“Sedangkan disini? siapa yang akan menolongmu jika terjadi sesuatu padamu? siapa yang menghiburmu jika kau sedih? siapa yang ada di pihakmu jika kau terpojokan? bahkan Bibi Lee yang mengaku sebagai ibumu.. malah yang terlihat paling kejam disini!” lanjut Minho. Saat mengatakan kalimat terakhir, dia terlihat begitu marah.

Sooyoung mengangguk lemah, lalu tanpa bicara apa-apa, dia menyandarkan tubuhnya pada bahu Minho. Dia seolah sudah sangat lelah dengan semua itu.

“Tapi hanya itu yang bisa kulakukan Minho-ya, karena percuma jika aku pergi bersamamu sekarang.., mereka pasti akan mencariku karena aku masih berstatus sebagai anak kedua mereka, tapi jika nanti.. jika aku sudah memberitahu yang sebenarnya.., mereka pasti akan mengusirku dan membiarkanku pergi..” ucap Sooyoung.

“Tapi ini sungguh tidak adil untukmu Noona..” ucap Minho yang terus saja mengkhawatirkan kakaknya yang sekarang bersandar pada bahunya itu.

“Hmm..setidaknya.. Tuhan tahu jika aku tidak berniat jahat sedikitpun disini.., jadi.. biar Dia yang menolongku dan mengatur segalanya..” ucap Sooyoung pasrah.

Minho membuang nafas entah untuk yang keberapa kalinya. “Hassshh baiklah aku kalah, bisa apa aku melawan yeoja keras kepala sepertimu” ucap Minho yang pada akhirnya menyerah.

Sooyoung segera duduk dan tersenyum lebar pada adiknya itu.

.

@Kediaman keluarga Choi’ze

“Tuan Putri? kenapa kau pulang?”

‘TAP!’

Sooyoung langsung menghentikan langkahnya saat Daniel menyambutnya dengan sebuah sindirian.

Dengan sedikit enggan, Sooyoung menoleh ke ruang santai yang berada di dekat kamarnya itu.

2607335084_4aab70ebcf[1]

“Dimana namjachingumu? dia kembali ke Yongin sendiri? dia tidak jadi membawamu eoh?” tanya Daniel yang terlihat duduk di samping Zelo. Dia memegang majalah sedangkan Zelo memegang sebuah stick playstation.

Meski menampakan wajah dingin, tapi Zelo terlihat terkejut mendengarnya.

“Namjachingu? membawanya kembali?” batinya curiga.

Sooyoung sendiri tersenyum remeh mendengarnya. Setelah itu dia menghadapkan tubuhnya pada Daniel sambil melipat kedua tanganya di dada.

“Aku belum merebut semua harta perusahaan ayahmu dan belum menendang kalian dari sini.., jadi mana mungkin aku kembali ke Yongin?” ucap Sooyoung dengan santainya.

Daniel menganggapi ucapan itu dengan senyuman tipis, sedangkan Zelo terlihat melirik Sooyoung dengan wajah tak percaya.

“Apa yang dia bicarakan?” batin Zelo sedikit heran.

“Setelah aku menikah dan semua harta perusahaan ini sudah menjadi miliku, baru aku akan pergi dari sini…” lanjut Sooyoung.

Setelah itu, dia langsung menghadapkan tubuhnya kedepan dan ekspresi wajahnya berubah datar.

“Cihh.. dia masih harus belajar bagaimana mengancam seseorang” ejek Daniel.

Zelo menoleh pada Daniel dengan tatapan bingung, “Apa yang kalian bicarakan sebenarnya?” tanya Zelo.

Daniel menoleh pada Zelo sambil tersenyum tipis, “Bukan apa-apa” jawabnya lalu pergi begitu saja.

–***–

Sooyoung berjalan dengan cepat saat jam kuliahnya akan di mulai beberapa menit lagi.

‘TAPP!’

Tapi dia langsung menghentikan langkahnya saat dia melihat tiga orang sedang memukuli seorang namja dan memojokanya ke loker.

‘DEG’

Dan yang semakin mengejutkan adalah, Woobin menjadi salah satu dari pemukul itu. Anhi, sepertinya dialah yang paling sering memukul atau bisa di bilang jika dia ketua dari tiga orang itu.

Sooyoung menoleh ke sekeliling untuk beberapa saat. Dan dia bisa melihat jika orang-orang di sekitar loker itu hanya diam dan melihat seolah mereka tidak bisa berbuat apa-apa.

“PLAKK!”

Sooyoung kembali tersentak saat Woobin menampar namja itu.

Flashback:

‘PLAKK!’

“Ya! apa kau mengadukanku pada guru?! wae? kau keberatan meski hanya membelikan kami sebuah roti?” tanya Sooyoung setelah dia berhasil menapar pipi seorang yeoja yang sekarang terduduk tak berdaya di lantai.

“A..aniya.., aku.. sama sekali ti-”

“PLAKK!”

Sooyoung kembali menampar gadis itu dengan wajah kesal.

“Ya! jangan berbohong!!” pekik Yoobi sambil menendang kaki yeoja itu.

“Hiks.. hiks.. hiks.. sungguh.. hiks.. hiks.. bukan aku yang mengadukan kalian..” ucap yeoja itu yang kini mulai terisak.

Sooyoung menggertakan giginya dengan kesal. “Hasshhh cengeng sekali! sudahlah! ayo Yoobiya! kita pergi saja!” ajak Sooyoung yang terlihat mulai kesal.

‘TAPP!’

Yoobi berlutut sejenak lalu mencengkram pipi gadis tadi.

“Jika kau berani macam-macam lagi.., kami tidak akan segan menggantungmu di tiang bendera!” ancam Yoobi.

End Flashback:

Jantung Sooyoung langsung berdebar cepat saat dia jadi teringat kejadian di masa lalu,

‘TAPP!’ Sadar atau tidak, Sooyoung berjalan mendekat dan berniat menolong namja tadi. Tapi..

“Sooyoungie hajima..” Sooyoung berhenti dan langsung tersadar saat seseorang memanggilnya.

“Ohh..? Joongki Oppa? kenapa kau disini?” tanya Sooyoung sedikit terkejut.

Joongki menghampiri Sooyoung dan menarik lengan Sooyoung.

“Jangan mendekat! meskipun dia tunanganmu.., tapi disini.. dia tidak akan segan memukuli siapapun..” larang Joongki.

Sooyoung mengernyit bingung, tapi setelah itu dia kembali menghadapkan wajahnya ke arah loker itu dengan wajah prihatin. Sekarang ini dia bisa melihat jika namja yang di pukuli itu terlihat kesakitan.

“Tapi.. dia kesakitan..” ucap Sooyoung lirih.

Di lain sisi, Woobin terlihat menghentikan kegiatanya memukul dan sekarang dia menoleh ke arah Sooyoung dengan matanya yang tajam. Dia bisa melihat bagaimana Sooyoung menatap ke arahnya dengan wajah ngeri sekaligus prihatin. Tapi dia sedikit heran ketika dia melihat lengan Sooyoung di pegang oleh seorang namja.

“Siapa lagi namja itu?” batinya.

“Ya! Ayo pergi!” Ajak Woobin lalu beranjak pergi dari tempat itu.

“Waeyo Woobina?” tanya teman Woobin yang bernama Jongsuk. Dia masih terlihat belum puas memukuli namja itu.

“Aku hanya malas menjadi tontonan seperti ini” ucap Woobin lalu pergi begitu saja. Jongsuk dan Jonghyun pun mengikuti langkah Woobin dan akhirnya melepaskan namja yang baru saja mereka pukuli itu.

.

“TAPP TAPP TAPP!”

“Sooyoungie hajima!” larang Joongki saat Sooyoung beranjak menghampiri namja yang sekarang terlihat terduduk tak berdaya di dekat loker itu.

“Yaa Haneul-ssi… gwenchana?” tanya Sooyoung pada namja yang memang adalah teman satu kelasnya itu.

“Ukhukk ukhukk… , pergilah.., mereka… bisa melihatmu..” suruh Haneul dengan suara parau.

Sooyoung terdiam sejenak sambil menoleh ke arah Woobin yang memang masih berjalan tidak terlalu jauh dari tempatnya sekarang.

.

“Ya Woobin-a.. seorang yeoja menolongnya.. “ ucap Jongsuk saat dia menoleh kebelakang. Woobin berhenti lalu menoleh ke belakang untuk melihatnya, dan seperti dugaanya, orang yang menolong itu memang Sooyoung.

Sesaat, mereka saling bertatapan dengan tajam karena Sooyoung memang sedang menatap ke arahnya.

“Kita habisi yeoja itu lain waktu” ucap Woobin lalu kembali menghadapkan wajahnya kedepan.

.

.

@Taman Victory University

“Aku sudah bilang jangan membantu korban yang di bully di kampus ini! tapi kenapa kau masih menghampiri namja tadi?!” ucap Joongki memarahi.

“Aku.. hanya tidak tahan melihat pembullyan seperti itu Oppa” jawab Sooyoung. Dan Joongki hanya bisa mendesah tak percaya.

“Jantungku selalu berdebar cepat saat aku melihat pembullyan seperti itu” lanjut Sooyoung.

“Huffftt… nado, saat pertama aku masuk ke sini.. aku sedikit heran, kenapa masih ada pembullyan meskipun kita sudah menginjak perguruan tinggi” ucap Joongki.

“Jadi kau berkuliah disini? “ tanya Sooyoung.

Joongki mengangguk, “Sebenarnya, aku sudah lulus saat aku berkuliah di Yongin.. tapi Tuan Choi menyruhku berkuliah lagi agar aku bisa benar-benar pantas menjadi anggota Choize group, jadi aku mengambil jalur khusus..” jelas Joongki.

“Eumm…, keureom, apa namja arogan itu memang sudah mebully begitu sejak kau masuk?” tanya Sooyoung lagi.

“Hmmm.. yaa.. karena ini universitas swasta, dan Kingkim group juga menaruh saham cukup besar disini.., jadi dia tidak takut berbuat seperti itu..” ucap Joongki.

“Dan Choize group?” tanya Sooyoung.

“Choize group sebenarnya juga menaruh saham di universitas ini, tapi karena Victory group yang memiliki sekolah ini juga bergerak di bidang fashion.. jadi mereka lebih terkesan bersaing daripada bekerjasama” jelas Joongki.

“Jadi Sooyoungie, akan sangat baik jika mereka tidak tahu jika kau putri dari Choize group, karena putri dari Victory group adalah versi yeoja dari Kim Woobin” ucap Joongki.

‘DEG’

“Versi yeoja?” gumam Sooyoung sedikit terkejut.

“Kau harus lebih berhati-hati.. dan sebaiknya kau panggil aku jika terjadi sesuatu…, karena.. aku sedikit ragu.. tunanganmu itu akan melindungimu atau malah mengganggumu disini” ucap Joongki.

Sooyoung mengangguk pelan,”Gomawo oppa” ucap Sooyoung.

——

Sooyoung kembali menatap kotak keterangan lantai lift yang sekarang menunjukan angka 4.

“Haahh satu lantai lagi” ucapnya dengan nada terburu-buru. Yap, sekarang dia memang sedang berada di lantai lima. Dan dia sedang terburu-buru pulang karena hari ini adalah hari pertamanya bekerja sebagai pelayan di sebuah café.

‘TINKK!’

Pintu Lift akhirnya terbuka dan Sooyoung tentu saja langsung beranjak masuk ke sana. Tapi,

‘TAPP!’

Dia langsung mengurungkan niatnya saat dia melihat tiga orang namja ada di dalam sana. Sebenarnya itu bukan masalah besar jika dia tak mengenal namja-namja itu. Tapi masalahnya disini adalah. ketiga namja di dalam lift tersebut adalah namja yang memukuli Haneul tadi pagi.

Ketiga namja itu terlihat menatap Sooyoung dengan tatapan mereka yang tajam. Apalagi Woobin, dia bahkan menatap Sooyoung dengan senyuman smirk yang menakutkan.

“Kau tidak masuk nona?” Tanya namja yang terlihat paling pendek di antara yang lainya.

“Aa.. anhi..” jawab Sooyoung singkat. Setelah itu dia sedikit memundurkan tubuhnya seolah dia tidak berniat masuk ke dalam.

“Tunggu.. kau yeoja yang menolong Haneul tadi pagi kan?” tanya namja berambut ikal itu. Dia meletakan kakinya di garis pintu lift agar lift tidak segera tertutup.

“Oh.. benar Jongsuk-a, ahaha.. Kalau begitu ayo masuk nona, kita harus tahu siapa wonder women ini.. benar kan Woobina?” ucap namja yang di panggil Jonghyun itu. Lalu tanpa ragu, dia menarik tangan Sooyoung lalu membawanya masuk ke lift itu.

Setelah Sooyoung masuk, Jonghyun segera menekan tombol nomor 8 yang merupakan lantai tertinggi di gedung itu. Beberapa saat kemudian, pintu lift mulai tertutup dan sudah ada 4 orang di dalam lift tersebut. Woobin sendiri masih bersandar pada dinding lift sambil terus menatap Sooyoung yang terlihat bingung dan takut. Dia diam saja seolah Sooyoung bukanlah siapa-siapa.

Jonghyun dan Jongsuk berdiri di kedua sisi Sooyoung sambil menatap Sooyoung tajam.

“Siapa namamu? apa kau anak salah satu supir dari group Victory?” Tanya Jongsuk sambil tersenyum remeh.

“…” Sooyoung hanya diam dan menunduk seolah tidak ada siapapun yang sedang mengajaknya bicara.

“Ya! aku sedang bicara denganmu!” ucap Jongsuk kesal sambil menarik dagu Sooyoung agar Sooyoung mendongak dan menatapnya.

Sooyoung mengepalkan tanganya karena geram. Ingin rasanya dia memukul wajah namja yang sudah berani memegang dagunya itu.

Melihat hal itu, Jonghyun langsung tertawa remeh. “Wae? kau mengepalkan tanganmu? kau marah? kau pikir kau sedang bicara dengan siapa eoh?” tanya Jonghyun yang ikut memarahi Sooyoung. Dia bahkan mencengram lengan Sooyoung dengan cukup kuat.

“Lepaskan tanganmu!” ucap Sooyoung pelan.

“Mwo?!” tanya Jongsuk tak terima. Jonghyun sendiri hanya menatap Sooyoung dengan tatapan tajam.

“Aku bilang lepaskan tanganmu dari wajahku!” ulang Sooyoung. Ketika mengatakan hal itu, dia menatap mata Jongsuk dengan tajam.

“Ya! saekkiya! berani sekali kau-“

“Cheodo! lepaskan tanganmu dari lenganku!” lanjut Sooyoung lalu menoleh pada Jonghyun dengan tatapan dinginya.

“MWO?!-“

‘TAPP!’

Lalu ketiganya terlihat terkejut saat Woobin tiba-tiba maju dan menyelinap di antara Jonghyun dan Sooyoung. Tanpa bicara apa-apa, dia menekan tombol nomor 1.

Jongsuk, Sooyoung maupun Jonghyun terlihat heran melihatnya.

“Ya! kenapa kau malah turun?” tanya Jongsuk bingung.

‘TAPP!’

Woobin tidak menjawab dan lebih memilih untuk merebut lengan Sooyoung yang sedang di cengkram Jonghyun. Sooyoung tentu saja terlihat semakin bingung karenanya.

“Ya!lift ini ada CCTVnya, apa kalian tidak malu mengerjai yeoja disini? cihh..” ejek Woobin pada kedua temanya.

“Tapi Woobina- kichibae ini-“

“Karena kalian sudah mengerjainya! sekarang biar giliranku..” lanjut Woobin sambil tersenyum smirk pada kedua sahabatnya itu.

‘DEG’

Sooyoung mendongak dan menatap Woobin tak percaya. Hufft.. dia kira Woobin berniat menolongnya.. tapi ternyata..

‘TINKK!’

Pintu lift terbuka dan Woobin langsung menarik Sooyoung keluar dari lift itu.

“YA! apa yang kau lakukan?” tanya Sooyoung sambil berusaha memberontak. Bagaimana tidak? Woobin mencengkram lenganya dengan kuat dan dia berjalan dengan sangat cepat dengan kakinya yang panjang itu.

“Diam!” suruh Woobin tanpa menoleh. Dia terus saja membawa Sooyoung keluar dari kampus itu. Dan itu membuat semua orang yang melihatnya menjadi bingung.

“Ya! lihat! yeoja yang tadi menolong Haneul sekarang berada di tangan ketua lucifer”

“Apa yang harus kita lakukan? dia tidak boleh berakhir seperti itu..”

“Sudah terlambat, dia akan mati”

Ucap beberapa orang sambil menatap Sooyoung dengan wajah iba.

.

Sooyoung langsung menatap Woobin bingung saat dia dimasukan paksa ke dalam mobil namja itu. Setelah memutar dan duduk di kursi kemudi.

“Ya! kau mau membawaku kemana?!” Tanya Sooyoung setengah memekik.

“Neraka!” jawab Woobin tanpa menoleh. Dia terlihat sibuk mencari kunci mobilnya.

“Mwo?!ishh jinjja michinya!!” umpat Sooyoung. Dengan kesal, diapun beranjak keluar dari mobil itu, tapi.

‘CKREK’

Sayangnya, Woobin terlebih dulu mengunci semua pintu mobil itu sehingga Sooyoung tidak bisa keluar.

Sooyoung langsung menoleh pada Woobin dengan kesal.

“Ya saekki-“

‘DEG’

Tapi dia langsung terdiam saat Woobin tiba-tiba membungkukan badanya dan merentangkan kedua tanganya seolah dia ingin memeluk Sooyoung.

‘SRRTTT!’

‘CKLIKK!’

Tanpa bicara apapun, Woobin meraih sabuk pengaman yang ada di kursi Sooyoung, lalu di tariknya dan di pasangkanya dengan hati-hati.

Sooyoung mengerjapkan matanya sambil menatap Woobin yang kali ini sama sekali tidak menampakan wajah meyebalkan. Entah kenapa, dia merasa aneh karena sikap Woobin barusan.

Sebelum kembali duduk tegap, Woobin diam sejenak sambil menatap Sooyoung yang sekarang hanya berjarak 1 jengkal di depannya.

“Diam dan turuti saja perintahku!” ucap Woobin dingin.

Sooyoung langsung menggertakan giginya dan membalas tatapan Woobin dengan tatapan tak kalah tajam.

‘TAPP!’

Sooyoung mendorong tubuh Woobin menjauh darinya.

“Shiro!” ucap Sooyoung lalu melipat kedua tanganya dan menatap keluar jendela dengan wajah kesal.

“Cihh..!” Woobin hanya tertawa kecil melihat tingkah Sooyoung. Setelah itu, dia segera menjalankan mobilnya menuju ke suatu tempat.

.

.

“Eung?”

Sooyoung terlihat bingung ketika mobil Woobin berhenti di depan rumah Tuan Choi.

“Kenapa kau membawaku kesini?” tanya Sooyoung bingung.

“Bukankah ini rumahmu?” tanya Woobin balik.

Sooyoung mengernyit, “Jadi kau ingin mengerjaiku disini?” tanya Sooyoung lagi.

Woobin menaikan kedua alisnya, “Siapa yang ingin mengerjaimu?” tanya Woobin lagi dan dengan wajah polosnya.

“Jadi kau tidak ingin mengerjaiku? wae?” tanya Sooyoung heran.

Woobin mendesah kesal, “Dikerjai dua temanku tadi saja.. kau sudah seperti ingin kencing dicelana, bagaimana jika aku yang melakukanya..” Ejek Woobin.

“Cihh!” Dan Sooyoung hanya mendesah tak percaya. Lalu tanpa bicara apa-apa, dia segera beranjak keluar dari mobil itu.

‘GREKK!’ Tapi ternyata kunci mobil itu belum juga di buka oleh Woobin.

Sooyoung menoleh dan menatap Woobin datar, “Ya! buka pintunya” pinta Sooyoung.

“Lain kali, jangan campuri urusanku..!” ucap Woobin.

“Aku sama sekali tidak mencampuri urusanmu!” sangkal Sooyoung dengan wajah tak terima.

Woobin menoleh dan menatap Sooyoung tajam. “Cepat menjauh saat kau melihat kami! jangan sampai mereka melakukan hal seperti tadi lagi padamu!” ucap Woobin dingin.

Sooyoung terdiam sambil berusaha mengartikan maksud ucapan Woobin.

‘CKLEKK!’ Beberapa saat kemudian, kunci pintu mobil itu terdengar sudah terbuka.

“Keluar!” suruh Woobin setelah itu.

Tapi Sooyoung malah menghadapkan tubuhnya pada namja di sampingnya itu.

“Dengar Woobin-ssi, perlu kau tahu jika aku sama sekali tidak takut dengan kalian.., jadi lain kali, kau bisa diam saja dan cukup melihat bagaimana aku menghadapi semua ini..” ucap Sooyoung sambil tersenyum remeh pada Woobin.

Beberapa saat kemudian, dia keluar dari mobil itu dan masuk segera masuk ke dalam rumah keluarga Choi.

—***—

“BRAKK!”

Dengan geram, Tuan Choi meletakan sebuah kertas di meja. Sedangkan orang yang memberikan ketas tersebut hanya diam dan memasang wajah datar.

“Bagaimana pewaris Choize group bisa sebodoh ini?! Choi Zelo! kau pikir kau bisa seenaknya karena kau anak keluarga kaya?!” tanya Tuan Choi dengan murka.

“Nilaiku 2 kali lebih bagus saat aku bersekolah di Yongin, jadi bagaimana jika kau mengirimkanku lagi saja kesana?” tanya Zelo dengan santainya.

“Choi Zelo! kau-“

“Aku pulang..”

Lalu dari arah pintu, Sooyoung terlihat datang dan sepertinya baru kembali dari kampus. Dia terlihat sedikit terkejut melihat Tuan Choi dan Zelo di ruang keluarga.

Sooyoung terlihat sedikit gugup saat kedua orang yang ada disana, kini menoleh kearahnya.

“Oh.. a..anyeonghaseyo” sapa Sooyoung sopan sambil membungkuk sedikit pada mereka. Setelah itu, dia beranjak naik ke kamarnya.

“Sooyoungie..” Panggil Tuan Choi.

‘TAPP!’

“Nde?” tanya Sooyoung sambil menghentikan langkahnya.

“Kemarilah sebentar” pinta Tuan Choi. Sooyoungpun menurut dan berjalan menuju ruang keluarga itu.

“Ada apa Tuan?” tanya Sooyoung. Yaa, meski sudah beberapa bulan dia berada di rumah itu.. tapi dia tetap memanggil Tuan Choi dengan sebutan ‘Tuan’ dan bukan ‘Aboji’ atau ‘Appa’.

“Aku dengar, kau meraih juara satu paralel saat kau bersekolah dulu..” tanya Tuan Choi.

Sooyoung mengernyit bingung, tapi setelah itu dia mengangguk pelan.

“Apa aku bisa minta bantuanmu?” tanya Tuan Choi.

“Bantuan?” gumam Sooyoung bingung.

Tuan Choi mengangguk,“Yaa, tolong bantu Zelo menaikan nilainya, ajari dia dan bantulah dia saat belajar..” pinta Tuan Choi.

‘DEG’

Sooyoung maupun Zelo tentu saja langsung terkejut mendengarnya.

“Aboji!”

“Tuan Choi.. aku.. sebenarnya tidak sepandai itu..” ucap Sooyoung yang berusaha menolak.

“Kau tahu sendiri kan jika Joongki benar-benar sibuk bekerja di perusahaan sehingga dia tidak bisa memberikan les private lagi pada Zelo, sedangkan nilai Zelo semakin lama semakin memburuk” ucap Tuan Choi yang berusaha menjelaskan.

“Tapi.. bukankah lebih baik jika anda memberinya guru les yang benar-benar kompeten?” Tanya Sooyoung.

“Seseorang yang kompeten.. masih kalah dengan seseorang yang terbiasa.., kurasa kau bisa mengajari Zelo hal-hal di luar pelajaran..” ucap Tuan Choi sambil tersenyum pada Sooyoung.

“Apa maksudnya?” batin Zelo maupun Sooyoung.

“Aboji! aku janji aku akan menaikan nilaiku.., jadi lupakan saja masalah ini..” pinta Zelo.

“Aniya aniya.., jika kau tidak mau di ajari oleh Sooyoung, maka satu-satunya orang yang bisa mengajarimu adalah Bibi Jo, bagaimana?” tanya Tuan Choi.

“Andwe! aku akan belajar dengan Sooyoung saja!” jawab Zelo dengan sangat cepat. Dan itu membuat Sooyoung menoleh heran.

“Kenapa dia takut sekali pada bibi itu?” batinya.

“Tok Tok Tok”

Sooyoung yang sedang mengerjakan sesuatu dengan laptopnya, kini langsung berhenti dan menoleh ke arah pintu. Setelah itu, dia berdiri dan beranjak membuka pintu tersebut.

‘CKLEEEKK’

“Oh, anyeonghaseyo..” Setelah membuka dan melihat jika pengetuk tadi adalah salah satu anak buah Tuan Choi, Sooyoung pun segera membungkuk.

“Nona Choi, sekarang adalah jadwalmu untuk memberikan les private pada Tuan Zelo” ucap penjaga itu.

“Hasshhh… ini bencana” keluh Sooyoung dalam hati.

.

.

“Tok.. Tok.. tok…” Dengan sedikit ragu, Sooyoung mengetuk pintu kamar Zelo itu.

“Zelo-ssi..” panggil Sooyoung pelan.

Dan Sooyoung mengernyit saat tidak ada jawaban sedikitpun dari dalam.

“Masuklah.. mungkin dia sedang tidur” ucap penjaga tadi yang memang masih berdiri beberapa langkah di belakang Sooyoung.

Sooyoungpun menurut dan akhirnya masuk ke dalam kamar itu.

“Choi Zelo? apa kau di dalam?” tanya Sooyoung sambil berjalan mengendap memasuki kamar Zelo.

Sepi..

Sooyoung tidak melihat sedikitpun tanda keberadaan Zelo di dalam kamar itu.

“Apa dia kabur?” gumam Sooyoung pelan sambil menoleh sekilas pada jendela kamar Zelo.

“Eung?” Sooyoung terdiam sejenak saat dia melihat sebuah foto di meja yang ada di pinggir ranjang Zelo.

Sooyoung meraih frame foto itu lalu melihat tiga orang yang ada di sana dengan seksama. Beberapa saat kemudian, dia tersenyum.

“Mereka ternyata bisa tersenyum setulus ini..” gumam Sooyoung pelan saat dia melihat bagaimana ekspresi bahagia Zelo dan Daniel ketika mereka berfoto bersama seorang yeoja yang mungkin adalah Almarhum ibu mereka.

“Deo bwonya?!”

‘DEG’

“Ommo!” Sooyoung langsung tersentak saat seseorang memegang bahunya dan berbicara di belakangnya dengan tiba-tiba.

Secara refleks, Sooyoung membalikan badan dan menghadapkan tubuhnya pada orang yang tentu saja adalah Zelo itu.

‘DEG’

“Kyaaa!” Tapi, baru beberapa detik Sooyoung berhadapan dengan Zelo, dia langsung kembali membalikan badan sambil menutup mukanya dengan telapak tanganya.

Bagaimana tidak? Ternyata saat ini, Zelo bertelanjang dada dan hanya memakai celana pendek selutut. Mungkin dia beru saja selesai mandi. Karena di lehernya masih terdapat sebuah handuk berwarna putih yang melingka, dan Rambut maupun tubuhnya masih terlihat sedikit basah. *GaKebayangGimanaSeksehnyaOjel 0,,o

Melihat reaksi Sooyoung, Zelo jadi ikut mundur satu langkah karena terkejut. Tapi beberapa saat kemudian, dia kembali menampakan wajah dinginya. Sesaat, dia menatap Sooyoung yang terlihat masih memalingkan wajahnya ke arah lain sambil menutupi wajahnya.

“Ya! kenapa ekspresimu berlebihan begitu? aku tidak sedang bertelanjang bulat di depanmu!” ucap Zelo kesal.

Sooyoung terlihat bingung karena ucapan itu, “A.. aku.. hanya tidak terbiasa” jawab Sooyoung berbohong. Benar, tentu saja dia bohong. Di Yongin.. dia bahkan tinggal bersama dua namja, jadi bagaimana dia bisa berkata jika dia tidak terbiasa?

“Ya! hubungan kita disini adalah kakak adik, jadi bagaimana kau bisa setakut itu?” ejek Zelo.

“Bahkan saat aku bertelanjang bulat sekalipun, kau harusnya bersikap biasa saja” lanjut Zelo sambil tersenyum smirk.

“Ba.. bagaimana kau bisa bicara begitu?! me.. meski kita kakak adik.. tapi.. umur kita tidak berbeda jauh!!” ucap Sooyoung yang masih saja tidak mau menatap Zelo.

Zelo mendengus, “Hassshh terserahlah..! tapi..” Zelo menghentikan ucapanya saat dia melihat sebuah frame yang sedang Sooyoung pegang.

“Ya! kenapa kau menyentuh barangku?! cepat kembalikan!” pinta Zelo. Tanpa ada perasaan canggung, dia langsung menghampiri Sooyoung dan beranjak merebut frame tadi.

‘DEG’

Sooyoung semakin terkejut karenanya. Apalagi karena posisinya sekarang adalah sedang membelakangi Zelo, sedangakan Zelo beranjak merebut frame tadi, merekapun jadi terlihat seperti sedang melakukan backhug.

Sekarang ini, Sooyoung bisa merasakan jika tubuh Zelo menyentuh bagian belakang tubuhnya. dan Sooyoung bisa mencium bau sabun dan syampo yang baru saja Zelo gunakan.

‘TAPP!’

Zelo berhasil memegang frame foto itu, sedangkan Sooyoung sendiri masih belum melepasnya. Dan entah kenapa, keduanya terdiam beberapa saat. Sooyoung menoleh pada Zelo sambil mengerjapkan matanya beberapa kali, dan Zelo juga menatapnya meski itu dengan tatapan datar.

“Ya! bi.. bisakah kau memakai bajumu dulu! kau.. kau membuatku takut!!” suruh Sooyoung sambil memberontak dan berusaha menjauhkan tubuh Zelo dari tubuhnya.

“Aku bilang.. kem-ba-li-kan!” ucap Zelo dengan begitu dinginya.

‘TAPP!’

Dengan cepat, Sooyoung melepaskan frame itu lalu mendorong tubuh Zelo agar namja itu sedikit menjauh darinya. Setelah memastikan jika frame dan foto tadi tidak apa-apa, diapun kembali menatap Sooyoung tajam.

“Apa yang kau lakukan disini dan kenapa kau berani memegang barang-barangku hahh?!” tanya Zelo dengan tatapan murka.

“Tuan Choi.. menyuruhku mengajarimu..” ucap Sooyoung. Dia berbicara sambil menoleh ke arah lain dan tidak berani berhadapan dengan Zelo.

Mendengar hal itu, Zelo langsung mendesah tak percaya. “Hasshh! lelaki gila itu benar-benar!” keluh Zelo.

Diapun melangkahkan kakinya dan sepertinya beranjak keluar dari kamar itu. Tapi baru juga membuka pintu, dia langsung terhenti karena ternyata ada seorang penjaga yang berdiri di sana.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Zelo dengan nada tidak suka.

“Aku harus berjaga disini dan memastikan jika tidak ada salah satu dari kalian yang melarikan diri” jelas penjaga itu.

Zelo mendengus dan menatap penjaga itu dengan sedikit geram. Beberapa saat kemudian, dia menutup pintu dan kembali ke dalam dengan wajah kesal.

Dia berhenti di depan Sooyoung yang sebenarnya terlihat ingin pergi. Sooyoung langsung menghentikan langkahnya dan menghadapkan tubuhnya ke arah lain agar dia tidak melihat dada Zelo yang putih itu.

Sejenak, Zelo menatap Sooyoung dengan wajah dingin. Sebenarnya dia ingin tertawa melihat sikap lucu Sooyoung itu, tapi dia terlalu gengsi melakukanya.

“Ya! berhenti menatapku begitu dan cepat pakai bajumu!” suruh Sooyoung dengan nada kesal.

Zelo mendengus pelan, “Hasshh! kau selalu saja membuatku kesal!”

—***—

Sooyoung merasakan sesuatu yang aneh ketika dia berjalan keluar kelas. Bagaimana tidak, beberapa orang langsung melihat ke arahnya dengan tatapan tidak biasa ketika dia berlalu.

“Ada apa ini?” batin Sooyoung heran. Tapi dia terus saja berjalan menuju gerbang sambil menunduk dan berusaha acuh terhadap pandangan orang-orang.

“Choi- Soo-young, apa itu kau?”

Sooyoung menghentikan langkahnya dan membalikan badan saat dia mendengar suara yeoja memanggil namanya.

“Kau bicara denganku?” tanya Sooyoung sambil menatap yeoja berwajah lonjong itu. Dia berjalan mendekat bersama empat temanya yang lain.

“Ckckck…, jadi kau adalah putri Choi-ze group?” tanya yeoja yang lain.

Sooyoung sedikit terkejut mendengarnya. “Bagaimana mereka bisa tahu?” batin Sooyoung.

Yeoja yang memanggil Sooyoung tadi terlihat menatap Sooyoung sambil melipat kedua tanganya di dada. Dia menatap tubuh Sooyoung dari bawah sampai atas dengan tatapan mengejek.

Beberapa saat kemudian, dia mengangkat tanganya seolah meminta sesuatu. Benar saja, salah satu teman yeoja itu memberikan sebuah majalah pada yeoja tadi.

Setelah menerimanya, yeoja itu mengangkat majalah tersebut di samping wajah Sooyoung. Dia menatap majalah dan wajah Sooyoung secara bergantian.

“Cihh…, disini kau terlihat cantik, tapi kenapa aslinya hanya seperti ini?” gumam yeoja itu. Dan di ikuti senyuman remeh dari teman temanya.

Sooyoung mengerutkan dahinya dan mentap yeoja itu dengan wajah bingung dan sedikit kesal.

“Apa maumu?” tanya Sooyoung.

‘BRAKK!’

Yeoja itu melepaskan majalah tadi sehingga sekarang majalah tersebut terjatuh di lantai. Dan Sooyoung semakin heran karenanya. Sejenak, dia menatap majalah itu dan melihat apa sebenarnya yang di masalahkan yeoja di depanya itu.

Sooyoung mengernyit saat dia melihat fotonya dan juga Woobin yang sedang berdiri bersisihan disana.

‘Kingkim And Choize, We’re choice to be king’ Begitu tulisan yang tertera disana.

magazinedevghgjiou3khkh3s

‘TAPP!’

Yeoja itu mendekat lalu memegang bahu Sooyoung, Setelah itu dia berjalan mengelilingi Sooyoung sambil menyentuhkan ujung-ujung jarinya pada kulit tangan Sooyoung. Setelah itu, dia meraih beberapa helai rambut Sooyoung untuk dimainkan.

“Aku sungguh terhina.. bagaimana aku bisa kalah dengan yeoja semacam ini?” gumam yeoja itu sambil menarik rambut Sooyoung.

“Kau putri dari pemilik Victory group?” tanya Sooyoung yang akhirnya mulai mengerti.

Yeoja itu berhenti lalu menatap Sooyoung takjub, “Wow, kau tahu siapa aku?” tanyanya.

Sooyoung menarik satu sisi dari ujung bibirnya dan membentuk sebuah smirk, “Kau tahu jika aku tidak mengenalmu.. tapi kau berani menyentuh rambutku seperti ini?” tanya Sooyoung. Kali ini nadanya begitu menantang.

Yeoja itu tersenyum remeh mendengarnya, sedangkan teman-temanya terlihat kesal dan mengumpat Sooyoung.

“Wae? universitas ini kepunyaan orang tuaku.., jadi aku bisa melakukanya pada siapapun..” jawab yeoja itu tanpa melepaskan peganganya pada rambut Sooyoung.

“Ciih…” dan Sooyoung hanya tertawa remeh mendengarnya. Melihat hal itu, yeoja di depan Sooyoung itupun langsung memudarkan senyumanya dan alisnya terlihat berkerut.

“Ya! apa yang kau tertawakan?!” tanya yeoja itu sambil menarik rambut Sooyoung dengan geram.

“Lepaskan!” ucap Sooyoung tanpa melakukan perlawanan.

‘TAKK!’

Bukanya melepaskan, yeoja itu malah semakin menarik rambut Sooyoung dengan kuat sehingga kepala Sooyoung sedikit miring.

“Kau tidak takut?” bisik Yeoja itu.

“Kau sendiri.. apa kau tidak malu? kau yeoja tapi memperlakukan yeoja lain seperti ini” jawab Sooyoung.

“isshh! Jinjja ige kichibae-“

“Ya Park Shinhye!”

Lalu mereka menoleh pada seorang namja bersuara berat yang baru saja memanggil yeoja itu. Benar, namja itu adalah Woobin yang terlihat datang dan sekarang berdiri di samping Sooyoung.

‘STRAPP!’

Dengan kasar, Woobin menarik tangan Shinhye agar tangan itu terlepas dari rambut Sooyoung. Shinhye bahkan sedikit terdorong karenanya.

Yeoja yang di panggil Shinhye itu langsung menatap Woobin dengan senyuman remeh.

“Wow, tunanganmu datang!” ucap Shinhye pada Sooyoung. Sedangkan Sooyoung hanya menanggapinya dengan wajah datar.

“Satu-satunya orang yang boleh mengumpatnya hanya aku! jadi jangan dekati dia atau aku akan menghabisimu!” ancam Woobin.

Sooyoung menoleh pada Woobin dengan wajah bingung, sedangkan Shinhye hanya tertawa remeh mendengarnya.

“Kajja!” Ajak Woobin lalu menarik Sooyoung pergi.

.

@Taman Victory University

“Dasar bodoh! kenapa kau tidak pergi saat Shinhye mendekat padamu?!” tanya Woobin ketika mereka telah sampai di pinggir lapangan.

Sooyoung memanyunkan bibirnya dan menatap Woobin kesal. “Kau pikir aku bisa melarikan diri dari lima yeoja ganas seperti itu?” tanya Sooyoung balik.

“Setidaknya kau tidak usah menanggapi mereka!” ucap Woobin yang masih dengan wajah marah.

“Aku kan sudah bilang padamu, kau tidak perlu berbuat apapun saat aku di bully seperti tadi..” ucap Sooyoung yang malah memarahi Woobin.

Woobin mendesah kesal, “Bagaimana aku bisa diam saja jika kau melawan perkataan mereka tapi kau tetap saja di perlakukan dengan kasar dan sama sekali tidak membalas?!” tanya Woobin geram.

Sooyoung menghela nafas sejenak, “Aku.. hanya takut menjadi tidak terkendali saat aku membalas mereka” ucap Sooyoung pelan.

“Mwo?” tanya Woobin bingung.

“An.. anhi.., lagipula.. mana aku tahu jika dialah versi yeojamu?” jawab Sooyoung mengalihkan.

“Ashhh kau ini memang benar-benar bodoh!” umpat Woobin geram. Diapun duduk dan memilih untuk meredakan emosinya.

“Lagipula.. aku heran.. kenapa yeoja-yeoja tadi membullyku begitu? aku bahkan tidak mencari masalah dengan mereka” ucap Sooyoung yang ikut duduk di samping Woobin.

‘BRAKK!’

Woobin meraih sebuah majalah di dalam tasnya, lalu di berikanya pada Sooyoung.

“Itulah yang membuat kampus ini gempar hari ini!” jelas Woobin. Sooyoung mengernyit bingung , tapi beberapa saat setelah itu, dia mengambil majalah tadi dan beranjak melihat isinya.

“Ommo.., jadi ini hasil dari pemotretan kita beberapa waktu lalu” ucap Sooyoung dengan wajah tak percaya.

Woobin sendiri hanya menatap yeoja yang duduk di sampingnya itu dengan wajah malas. Dia merasa sedikit heran karena Sooyoung bahkan sama sekali tidak merasa kesal atau apa padahal dia baru saja dipermalukanya oleh Shinhye tadi.

“Woahh bagaimana mereka bisa membuat kita jadi sekeren ini?” Lanjut Sooyoung yang terlihat begitu takjub saat dia melihat isi dari majalah itu.

“Apa maksudmu membuat kita keren? Ya! aku ini memang sudah keren sejak dulu..” sangkal Woobin dengan sombongnya. Dan Sooyoung hanya mendengus mendengarnya.

Setelah itu dia kembali membuka tiap halaman majalah itu dengan mata berbinar. Entah kenapa dia merasa benar-benar keren saat melihat fotonya terpampang di sebuah majalah dengan pakaian yang bagus dan terkenal.

collage_20150214115739223_20150214120749247collage_20150214172834743_20150214173950272

fhhuhdgthtmagaz1magazinedeviou3333smagazinedevioscollage_20150214105235426collage_2015021411351359120121001_seoulbeats_snsd_sooyoung-2

KWB047_zpsc2d2AIJSD[SDa973 mag7#Mian Editanya Jelek#

“Waaahhaha ige jinjja Daebakiya! Minho harus melihat ini..” ucap Sooyoung penuh semangat. Diapun beranjak mengambil ponselnya untuk menghubungi namja yang beberapa saat lalu baru saja ia sebut.

Woobin menyipitkan matanya saat Sooyoung menyebut namja bernama Minho itu lagi.

‘Tuuut Tuuut Tuuuut’

Tapi sepertinya Minho sedang sibuk dan tidak bisa mengangkat telepon itu.

“Eung? kemana dia? apa dia ke sekolah?” gumam Sooyoung pelan.

“Kau berpacaran dengan namja yang masih bersekolah? cihh lucu sekali” ejek Woobin.

“……” Sooyoung terlihat tidak menggubrisnya dan lebih memilih untuk mencoba menelpon Minho lagi.

“Cih, bahkan saat kalian saling berjauhan kau tetap memikirkanya, apa kau sangat mencintainya?” tanya Woobin dengan senyuman mengejek.

Sooyoung akhirnya memilih untuk menoleh pada Woobin, “Tentu saja! dia adalah namja yang paaaaaling kucintai di dunia ini” ucap Sooyoung dengan sangat yakin.

“Cih! jinjjayo? lalu apa dia akan bunuh diri jika nantinya kau menikah denganku?” tanya Woobin lagi.

“Dia tidak akan melakukanya karena kita tidak akan menikah..” ucap Sooyoung santai lalu beranjak memasukan ponselnya.

“Haiishh, Kau  bicara seolah perjodohan ini tidak akan terjadi.. tapi kau hanya diam saja dan sama sekali tidak berbuat apa-apa” ucap Woobin.

Sooyoung mendongak dan menatap langit. Sejenak, dia menarik nafasnya dan memikirkan ucapan Woobin barusan.

“Heeumm.. kau benar…, aku belum berbuat apa-apa.., haaahhh.. kurasa yang bisa kulakukan hanyalah menunggu waktu itu datang..” ucap Sooyoung pelan.

Woobin mengernyit sambil melirik Sooyoung, entah kenapa.. dia merasakan ada sebuah kepedihan saat Sooyoung mengatakan kalimat barusan.

“Waktu apa maksudmu?” tanya Woobin penasaran.

“Aa.. aniya..” jawab Sooyoung dengan cepat. Beberapa saat kemudian, dia menoleh pada Woobin saat dia teringat sesuatu.

“Eumm.. Woobin-ssi, tapi.. kenapa yeoja bernama Shinhye itu bilang.. jika dia terhina karena kalah dengan yeoja sepertiku? sebenarnya apa yang kami kompetisikan? apa dia pacarmu?” tanya Sooyoung pada namja yang sekarang terlihat menatap lurus ke arah lapangan kampus itu.

“Victory dan Choize sama-sama perusahaan yang berjalan di bidang fashion, dan keduanya.. berebut untuk bisa bersekutu dengan perusahaan departement store seperti perusahaan ayahku” jelas Woobin.

Sooyoung mengernyit, “Apa jika Victory group bersekutu dengan perusahaan ayahmu, itu berarti kau dijodohkan dengan Shinhye-ssi dan bukan denganku?” tanya Sooyoung dan di tanggapi sebuah anggukan dari Woobin.

“Eumm…, lalu apa yang terjadi jika aku pergi nanti? apa itu berarti persekutuan Choize dan juga Kingkim akan terputus?” tanya Sooyoung penasaran. Dan Woobin terhenyak saat dia mendengar ucapan ‘pergi’ dari bibir Sooyoung.

“Mungkin saja..” jawab Woobin pada akhirnya.

“Eihh, bagaimana bisa begitu? memang mereka tidak bisa bersekutu meski tidak ada perjodohan di dalamnya?” tanya Sooyoung lagi. Dia bertanya dengan wajah penasaran dan cenderung.. bodoh.

“Haasshh! Molla!” jawab Woobin yang terlihat mulai kesal karena pertanyaan Sooyoung.

Sooyoung mendengus dan memanyunkan bibirnya, “Eiihh kenapa kau sewot begitu? aku kan hanya tanya” ucap Sooyoung tak terima.

Woobin menghadapkan tubuhnya pada Sooyoung sambil menatap Sooyoung geram.

“Ya! kau ini sedang bertanya masalah perusahaan.. atau sedang menanyakan aturan dari sebuah game online?!” ejek Woobin. Setelah itu dia mengarahkan telunjuknya pada dahi Sooyoung.

“Ya! kau pikir mudah- menggagalkan- perjodohan kita- sedangkan pengetahuanmu- tentang bisnis- masih- sebodoh ini- eoh?” tanya Woobin sambil mengetuk-ngetukan telunjuknya pada dahi Sooyoung secara seirama dengan jeda pengucapanya.

Sooyoung menggigit bibir bawahnya sambil melirik Woobin geram,

‘TAKK!’

Lalu dengan cukup keras, dia menusuk perut Woobin dengan ujung-ujung telapak tanganya.

“Arrghhhh! ya IMMA?!” umpat Woobin sambil memegangi perutnya dan meringis kesakitan.

“Jangan mengejeku saekkiya! ishh!” keluh Sooyoung sambil membenarkan poninya yang jadi sedikit berantakan karena Woobin.

*NB : Percakapan Woobin dan Sooyoung disini menggunakan umpatan yg punya arti keparat/bajingan.

“Ya Saekkiya! kau ini benar-benar menurunkan harga diriku!” umpat Woobin sambil beranjak memukul Sooyoung.

“Mwo.. mwo?!” Sooyoung bahkan mengangkat kedua tanganya seolah dia siap menangkis pukulan Woobin.

“Sooyoungie!”

“Eung?” Dan keduanya segera menoleh saat seseorang seperti sedang memanggil. Dengan cepat, Soo-Bin menurunkan tangan mereka saat Joongkilah yang datang mendekat dengan wajah panik.

“Oh Oppa? waeyo?” tanya Sooyoung sambil beranjak berdiri. Sedangkan Woobin hanya melirik namja yang di panggil Oppa itu dengan matanya yang tajam.

“Kudengar kau di permalukan Shinhye? apa itu benar? kau baik-baik saja? “ tanya Joongki dengan wajah khawatir.

“Siapa namja ini? kenapa dia sok dekat sekali dengan Sooyoung?” batin Woobin curiga.

Sooyoung tersenyum pada Joongki sambil menggeleng, “Gwenchana..,” jawab Sooyoung pelan.

“Aigoo.. yeoja ini bahkan sampai bisa tersenyum seperti itu..” lanjut Woobin dan masih di dalam hati.

“Ahh syukurlah…, lalu.. kenapa.. kau..” Joongki tidak melanjutkan ucapannya dan lebih memilih untuk melirik Woobin dengan wajah ragu.

Sooyoung menoleh pada Woobin sekilas lalu tersenyum, “Ahh dia hanya tidak sengaja bertemu denganku disini..” ucap Sooyoung berbohong.

Woobin langsung ikut berdiri dan menatap Sooyoung kesal, “Ya! kau pikir siapa yang sudah menjauhkanmu dari nenek sihir itu ha?” tanya Woobin tak terima.

Joongki mengernyit tak mengerti, sedangkan Sooyoung hanya menjulurkan lidahnya pada namja itu tanpa rasa bersalah sedikitpun.

“Kalian.. sepertinya lebih dekat.. dari yang kuduga…” ucap Joongki dengan wajah curiga.

“Anhi! kami tidak pernah dekat!”
“Kami tidak pernah dekat!”

Ucap Sooyoung dan Woobin bersamaan. Dan itu membuat ketiganya terkejut.

Woobin menoleh pada Sooyoung dengan kesal dan begitu juga dengan Sooyoung.

“Kenapa kau mengikutiku?!”
“Kubilang jangan mengikutiku!”

Ucap Sooyoung dan Woobin dan lagi-lagi secara bersamaan.

Sooyoung mendengus, “Isshh! jinjja! kau membuatku malu!” umpat Sooyoung sambil menatap Woobin kesal. Dan Woobin hanya menatap Sooyoung sambil menggertakan giginya.

Melihat itu, Joongki hanya tersenyum tipis. Ini pertama kali baginya melihat Sooyoung bersikap lepas seperti itu. Biasanya, dia melihat Sooyoung dalam keadaan murung, sedih atau tertekan saja.

“Ekhem.. Sooyoungie.. apa kuliahmu sudah selesai? kau ingin pulang?” Tanya Joongki yang berusaha mengalihkan perahatian Sooyoung dari Woobin.

“Oh ne.., apa Oppa juga ingin pulang?” tanya Sooyoung balik.

Joongki mengangguk, “Kalau begitu ayo kita pulang bersama” ajak Joongki dan di balas anggukan Sooyoung. Mereka tidak sadar jika sejak tadi, Woobin hanya diam sambil menatap keduanya dengan tajam.

‘Forever With you~ with you with you with you~’

“Oh chamkanman” ucap Sooyoung ketika ponselnya berdering pertanda ada seseorang yang menelpon. Dia terlihat tersenyum ketika melihat nama Choi Minho dilayar ponsel itu.

“Yoboseyo Minhoya” sapa Sooyoung ceria.

“Ya! anak keparat! dimana kalian bersembunyi?!”

‘DEG’

Mata Sooyoung membulat seketika dan tenggorokanya seakan tercekik ketika dia mendengar suara yang sangat mengerikan disana. Dan tentu saja, itu bukan suara Minho.

“A.. boji?” gumam Sooyoung pelan. Saat mengatakanya, bibirnya terlihat bergetar.

Joongki dan Woobin langsung terheran saat mereka melihat perubahan ekspresi Sooyoung yang sekarang terlihat tidak baik.

“Dimana Minho?” tanya Sooyoung lirih dan nadanya terdengar khawatir.

“Dimana Minho?! ya jangan pura-pura tidak tahu! sekarang cepat beri aku uang atau aku akan membunuh kalian berdua!” ancam namja yang sepertinya sedang mabuk itu.

‘DEG’

Sooyoung semakin tersentak, entah kenapa pikiran buruk tentang Minho langsung terbesit di otaknya.

“Jangan menyentuhnya!! jangan lakukan apapun terhadap Minho atau aku yang akan membunuhmu!” ancam Sooyoung. Saat mengatakanya, matanya terlihat berkaca-kaca.

‘DEG’

“Siapa yang sedang bicara denganya? apa Tuan Choi? tapi kenapa.. dia berani bicara seperti itu?” batin Woobin heran.

Joongki sendiri hanya diam, sepertinya dia tahu siapa penelpon itu. Tapi yang dia khawatirkan sekarang adalah, Sooyoung tidak bisa mengendalikan emosinya sedangkan masih ada Woobin disana.

“Cepat pulang dan beri aku uang keparat!” pekik ayah Sooyoung.

“Aboji-“

‘BEEB!’

Belum juga selesai bicara, telepon itu sudah di putus dari sana.

Sooyoung terlihat bingung, matanya memancarkan kebingungan, bibirnya bergetar menampakan kekhawatiran. Sekarang ini.. dia benar-benar panik dan takut.

“Sooyoungie.. gwenchana?” tanya Joongki sambil memegang lengan Sooyoung.

“Oppa.., aku harus ke Yongin! Sekarang.., Minho dalam bahaya!” ucap Sooyoung dengan wajah ketakutan.

‘DEG’

“Yongin? tapi Sooyoungie.. Tuan Choi bisa-”

“Jebal.., biarkan aku pergi kesana” mohon Sooyoung.

Joongki membuang nafas panjang, tapi setelah itu dia terlihat mengangguk.

“Ayo.. kutemani kau kesana” ucap Joongki lalu menarik lengan Sooyoung pelan.

‘TAPP!’

Tapi langkah mereka terhenti ketika Woobin meraih lengan Sooyoung yang lain. Joongki dan juga Sooyoung menatap Woobin bingung.

“Biar aku yang menemaninya” ucap Woobin sambil menatap Joongki dingin.

“Mwo?” gumam Sooyoung terkejut.

Bagaimana tidak? seorang Woobin.. mengatakan akan menemaninya? ke Yongin? an itu hanya berdua? Yap! dia pasti sudah gila.

“Tidak perlu…, aku adalah salah satu sekretaris dari Choi-ze Group, jadi biar aku yang menemaninya..” Tolak Joongki.

“Seorang Tuan putri? pergi keluar kota bersama sekretaris? Tuan… apa kau ingin anak buah Presedir Choi mengerjar kalian seperti gerombolan anjing?” tanya Woobin dengan nada meremehkan.

Joongki terdiam sejenak karena hinaan Woobin barusan.

“Aku bisa mengatasinya..! dan setidaknya… ada yang bisa melindunginya ketika dia pergi bersamaku!” balas Joongki. Dia mulai membalas tatapan tajam Woobin dengan tatapan dinginya.

“Melindungi? Cihh Joongki-ssi.., apa kau lupa jika aku adalah tunanganya..? saat dia pergi bersamaku.., tidak akan ada siapapun yang mencurigainya..” ucap Woobin dengan sangat yakin.

Joongki terdiam, sebenarnya dia juga setuju dengan alasan Woobin yang memang sangat meyakinkan itu. Tapi.. entah kenapa dia merasa tidak rela jika Woobin lah yang pergi dengan Sooyoung. Lagipula.. dia juga khawatir jika Woobin malah jadi tahu yang sebenarnya.

“Anhi.. kalian pasti sangat sibuk, jadi.. biar aku yang pergi sendiri..” Ucap Sooyoung. Dia segera melepaskan tanganya dari dua namja itu lalu dia beranjak pergi.

‘TAPP!’

Tapi Woobin kembali menggenggam tanganya dengan kuat sehingga Sooyoung kembali berhenti.

“Jebal! jangan mempermainkanku sekali ini saja.., aku sedang terburu-buru..” mohon Sooyoung.

“Kalau begitu ayo kita berangkat sekarang!” ucap Woobin lalu menarik Sooyoung pergi begitu saja meninggalkan Joongki.

“Ya! aku bilang biar aku sendiri saja yang kesana!” tolak Sooyoung sambil berusaha memberontak.

“Diam! kau akan tahu seberapa beruntungnya kau saat akulah yang menemanimu” ucap Woobin.

“Hufftt.. bagaimana ini?” batin Sooyoung bingung.

.

.

.

—TBC—

Gimana readerdeul? jelek? aneh? kurang ngefeel? typo?

mian atas semua kesalahan, ttp di tunggu tanggepannya ya..

semakin sedikit siders, maka semakin semangat lanjutnya..😀

oh iya, mungkin part selanjutnya bakal ada adegan ranjang nih, hihihi..

76 thoughts on “Devious (Part 4)

  1. kusumaani berkata:

    joong ki suka sama sooyoung?woobin udah mulai suja sama sooyoung?jadi duku itu soo anak bandel jugaa..ceritanya belibet thor

  2. fransiscafrtnta24 berkata:

    hmm ak penasaran , joongki itu punya perasaan sama sooyoung gaa yaa ?? @.@
    kyaaaa penasaran selanjutnyaaa><

  3. krisnaningtyas berkata:

    Tambah seru thor ceritanya. Wahhh Joong ki itu suka Sooyoung juga ya? Kok berusaha ngelindungi Sooyoung banget. Pokoknya keren thor ceritanya.

  4. nisa berkata:

    seruu banget ceritanyaa makin banya konflik disini…..
    ih ayahnya sooyoung jahat banget sih…… untung aja sooyoung banyak dikeliling orang yang sayang sama dia…

  5. JuliaKim berkata:

    ciee…yg klo ngomong slalu samaan *liriksoobin haaaaahh…tambah penasaran baca nih ff,hayuuk unn,ttap smangat!!

  6. N.Azz berkata:

    Ini ff dah lma tpi sya bru bca skrang + bru coment di eps ini

    Ayah sooyoung jhat bnget…
    Joongki oppa suka sma sooyoung ya?
    Sooyoung jdi di klilingi bnyak lki” dong

    Buat author smangat terus…
    Jngan bosen buat ff ny y

  7. yani yanuari berkata:

    woahhhhh rasa pnasaran ku bner” adaa d’tingkat devil hahahaha😀 minin ddaebak!!! ahhhhh d’tnggu next part’a ajaa deh

  8. Keikooo berkata:

    eihhh, kayaknya gue mulai nge-ship mereka berdua di sini, yah meskipun crack pair cuman ggk tahu kenapa suka aja sama momen2 mereka berdua, bener2 bikin greget, iya sih bertengkar cuman ggk tahu kenapa scene mereka bertengkar selalu bikin gue senyum2 sendiri, feelnya dapet banget, dan jugaaa fic ini bener2 bikin perasaan pembaca tuh jungkir balik, bikin baper, over all bagusss banget, yah meskipun typoo dan pemilihan diksinya masih perlu di perbaiki, tingkatkan ^^

  9. ctlinebina berkata:

    ini ff aku baru baca >< ini yg bikin aku kesel tuh ayahnya soo jahat banget😦 kasian kan soo sama minho.. soo-bin tuh kenapa kesan berantemnya malah lucu kalo aku liat kkk

  10. Chansoo berkata:

    Ciee woobin kaya nya udah ada rasa nih, joong ki juga, cinta segitiga detected 😂
    Makin compicated aja.
    Itu bapaknya soo jahat banget, kasar juga. Jadi kesel😒
    Tapi tetep nice lah pokoknyaaa 😍😍😍

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s