Devious (Part 5)

TITLE : Devious (Part 5) [SPECIAL YONGIN]

MAIN CAST:

  1. Choi Sooyoung SNSD
  2. Kim Woobin (Aktor)
  3. Choi Zelo BAP

OTHER CAST :

  1. Song Joongki (Aktor)
  2. Park Shinhye (Aktris)
  3. Choi Daniel (Aktor)

cast

GENRE : Romance, Family, Sad, Friendship

RATING : PG 17

CREAT BY : H-By

—-

NB :

  • maaf jika terdapat kesalahan dalam penulisan (typo)
  • maaf jika ada kata-kata kasar/menyinggung
  • maaf jika ada kesamaan cerita

—-

happy reading and don’t be siders

—-

Autumn_by_sica1#DEVIOUS#

@ Halte (Yongin)

Woobin terlihat sedikit bingung ketika mereka berdua turun di sebuah halte.

“Ya, bukankah halte ini masih jauh dari tempatmu biasanya muncul?” tanya Woobin. *Maksud Woobin adalah daerah toko bubur Bibi Song*

“Aku pusing…, aku harus minum obat terlebih dulu” ucap Sooyoung lirih sambil memegangi kepalanya.

Woobin terkejut, sebenarnya dia ingin bicara sesuatu tapi entah kenapa, dia mengurungkanya. Mungkin dia takut jika Sooyoung akan mengira dia khawatir pada yeoja itu.

“Dasar bodoh! tadi saat aku mengajakmu makan dulu kau tidak mau! lihat sekarang.. kau malah sakit kan? hasshhh merepotkan sekali!” umpat Woobin dengan wajah marah. Meski sebenarnya dia tidak benar-benar ingin marah.

“Mianhae…” ucap Sooyoung lirih dan dengan wajah menunduk.

Woobin terdiam sejenak sambil menoleh ke sekitar halte itu. Dan dia melihat sebuah minimarket kecil yang berada sekitar 50 meter dari sana. *bayangin mini market di The heirs*

“Ayo kita kesana!” ajak Woobin. Dia berjalan sambil menarik sedikit lengan jaket Sooyoung. Sooyoungpun menurut dan mengikuti langkah Woobin.

“Duduklah.. biar aku yang membelikanya” ucap Woobin saat mereka sudah sampai di depan minimarket itu.

“Eumm…” jawab Sooyoung sambil mengangguk pelan.

Woobin terdiam sejenak sambil menatap Sooyoung. Beberapa saat kemudian dia berjalan memasuki minimarket itu.

.

.

Woobin segera berjalan keluar saat dia sudah membeli obat, sebotol minuman dan juga sebungkus roti.

“Bagaimana aku bisa seperti ini? ishh ini benar-benar bukan gayaku..” dumal Woobin sambil menatap barang yang baru ia beli itu.

‘TAPP’ Tapi langkahnya terhenti saat dia tidak melihat Sooyoung di tempat duduknya tadi.

‘DEG’

“Tunggu..ini…”

Entah kenapa, Woobin merasakan perasaan tidak enak sekarang. Diapun langsung menoleh ke arah halte dimana dia dan juga Sooyoung turun tadi.

‘DEG’

Dan dia semakin terkejut melihat Sooyoung berlari kecil ke halte itu dan beranjak naik ke dalam bus yang baru saja tiba. Sejenak, dia hanya diam tak percaya karena ternyata Sooyoung mengelabuhinya.

“Ishhh gadis gila itu benar-benar-!” umpat Woobin. Diapun segera berlari ke arah Sooyoung dan beranjak mengejar yeoja itu.

“Ya Imma!! berhenti kau Choi Sooyoung!”pekik Woobin murka.

Sooyoung yang baru beranjak naikpun kini menoleh pada Woobin dengan wajah panik. Dengan cepat, dia naik ke dalam bus itu agar Woobin tak bisa mengejarnya.

“Sajangnim, bisakah kita jalan sekarang?” pinta Sooyoung pada sang supir dengan nada terburu-buru.

“Tapi Nona, Namja itu sepertinya ingin naik” ucap Sang supir.

“Anhi.. dia.. dia ingin mencelakaiku sajangnim! jadi… jebal! jalankan busnya.., aku harus terlepas darinya!” ucap Sooyoung berbohong. Dia bahkan menampakan wajah ketakutan seolah Woobin adalah seorang penjahat kelas kakap.

Sang supir menurut dan akhirnya menutup pintu bus itu. Setelah itu bus mulai melaju perlahan.

“Ya Saekkiya! bagaimana kau bisa melakukan ini padaku!” Woobin terus saja memekik murka. Bahkan semua orang yang ada di bus itu terlihat menatap Woobin dengan wajah aneh sekaligus ngeri.

“Mianhae Woobin-ssi..” ucap Sooyoung pelan sambil menatap Woobin yang perlahan terlihat semakin jauh dan jauh.

‘Beeb Beeb’

Sooyoung langsung memeriksa ponselnya saat salah satu teman Minho bernama Minhyuk menelponya.

“Oh.. Yoboseyo Minhyuka?” sapa Sooyoung ketika dia sudah duduk di salah satu kursi yang ada di bus itu.

“Noona.. , apa kau tahu dimana Minho? sekarang.. abojimu sedang mengamuk di depan rumahku.., dia memaksaku mengeluarkan Minho sedangkan dia sedang tidak bersamaku!” ucap Minhyuk. Dari nada bicaranya, dia terdengar panik.

“Di.. dia kerumahmu?” tanya Sooyoung dengan mata membulat.

“Eumm, Noona.. apa yang sebenarnya terjadi? tadi pagi.. ommaku juga bilang jika Minho datang kesini dengan wajah panik” tanya Minhyuk lagi.

“Aku.. baru saja sampai di Yongin jadi.. aku.. tidak tahu, Mmm.. tapi Minhyuka.. bisakah kau menolongku untuk tetap menyembunyikan keberadaan Minho?” pinta Sooyoung.

“Tentu saja Noona, dan.. aku akan mencarinya setelah ini..” ucap Minhyuk.

“Gomawo, dan.. kabari aku jika kau menemukanya ya..” pinta Sooyoung.

“Eum..”

.

.

Sooyoung terus mendatangi setiap rumah teman dekat Minho. Tapi dia sama sekali tak menemukan adiknya itu.

“Minho-ya kau dimana?” gumam Sooyoung frustasi. Bahkan hari sudah mulai gelap tapi dia tak kunjung mendapatkan hasil apapun.

‘Beeb Beeb’

‘DEG’

Sooyoung langsung tersentak saat nomor Minho kembali menghubunginya.

“Ya! anak sialan! kau dimana!?” pekik Ayah Sooyoung.

“Aboji! Kenapa kau seperti ini?! kenapa kau mengamuk di depan rumah teman-teman Minho?!” pekik Sooyoung penuh emosi. Kedua matanya bahkan terlihat berkaca-kaca.

“Aku akan berhenti mencarinya jika kau memberiku uang!” jawab Ayah Sooyoung.

“Aku akan memberimu! jadi hentikan semua ini sekarang!!” pekik Sooyoung lagi.

“Aku ada di rumah Yoowon sekarang! jadi pulanglah! cepat!!” pekik Ayah Sooyoung.

Sooyoung membuang nafas panjang, “Aboji.. aku akan-“

‘Tuuut’

Lagi-lagi, ayah Sooyoung kembali memutus telepon sebelum Sooyoung selesai bicara.

.

.

Sooyoung berjalan dengan sedikit ragu ketika dia sudah berdiri di depan rumah kontrakan bibi Lee.

‘CKLEEEKK!’

Sooyoung membuka gerbang rumah itu perlahan, dia berjaga-jaga jika Ayahnya mungkin akan mengayunkan sebalok kayu lagi ke arahnya.

‘TAP!’

Dan dia berhenti ketika dia melihat ayahnya duduk di teras rumah sambil bersandar pada dinding. Sepertinya dia sudah tidak mabuk.

“Oh.. anak keparat.. kau sudah datang eoh..?” ucap Ayah Sooyoung saat dia menyadari kehadiran putri pertamanya itu. Dia segera berdiri dan menghadapkan tubuhnya pada Sooyoung.

Sooyoung menatap Ayahnya dengan tajam dan dingin. Sekarang ini, otaknya benar-benar mendidih.

“Ayah macam apa kau ini?” tanya Sooyoung dengan wajah penuh kebencian.

“Bicara omong kosongnya nanti saja! sekarang cepat beri aku uang!” pekik Ayah Sooyoung sambil berjalan mendekat pada Sooyoung.

“Uang? kenapa aku harus memberimu uang? memang kau siapa?” tanya Sooyoung dengan wajah datar.

“Ya! aku ini ayahmu! bagaimana kau bisa bicara semacam itu dasar keparat!” umpat Ayah Sooyoung.

Sooyoung membuang muka sambil tertawa kecil mendengarnya, “Ayah? cihh..”

Sooyoung kembali menghadapkan wajahnya kedepan, “Jika kau memang ayah kami… harusnya aku dan juga Minho berlari dan berlindung di pelukanmu ketika kami ketakutan!” ucap Sooyoung.

“Tapi apa yang kau lakukan? kaulah monster terbesar dalam kehidupan kami, kami selalu berlari darimu seolah kau adalah anjing gila yang kelaparan” lanjut Sooyoung. Ketika mengatakanya, dia menitikan air mata.

Ayah Sooyoung terlihat diam dan menatap Sooyoung datar. Entah dia peduli dengan ucapan Sooyoung atau tidak.

“Jadi…? aboji..? apa masih pantas kami memanggilmu begitu? pernahkan sekali saja kau bersikap seperti ayah untuk kami?” tanya Sooyoung lagi. Tapi Ayah Sooyoung masih saja diam sambil membuang mukanya.

“Sebentar lagi Minho akan melaksanakan upacara kelulusanya…? tapi kenapa kau malah mengejarnya dan membuatnya menghilang?!” pekik Sooyoung. Saat mengatakanya, dia menghentakan kakinya dengan geram.

Ayah Sooyoung kembali menoleh pada Sooyoung sambil tersenyum remeh.

“Lalu bagaimana denganmu?” Tanya Ayah Sooyoung. Sooyoung diam dan berusaha menebak apa sebenarnya maksud dari ayahnya itu.

“Jika kau tahu Adikmu selalu dalam keadaan bahaya karenaku.. kenapa kau malah tinggal dengan Yoowon? kenapa kau malah tinggal dengan wanita gila yang sedang terpuruk karena anaknya mati itu?!” tanya Ayah Sooyoung sambil memekik.

‘DEG’

Sooyoung terdiam menunduk saat dia mendengar kalimat terakhir ayahnya itu. Dan beberapa saat kemudian dia kembali mendongak. “Itu.. karena..”

“Cih!! lihat bagaimana kau diam seperti itu! Ya! anak keparat! saat kita memikirkan bagaimana keparatnya aku.., saat itu juga.. kita akan menemui kenyataan jika kau tidak ada bedanya denganku! kau bahkan sudah membunuh sahabatmu sendiri!!” lanjut Ayah Sooyoung dengan senyuman smirknya.

“Kau tidak tahu apa-apa!! Memang aku menjadi keparat seperti ini juga karena siapa bajingan?!” Pekik Sooyoung murka.

“Ya! dasar anak keparat!! sekarang tutup mulutmu dan berikan aku uang!!” pekik Ayah Sooyoung. Sepertinya dia sudah benar-benar marah dengan Sooyoung.

“Aku tidak akan memberikanya! kau tidak pantas menerima uangk-“

‘TAPP!!’

Dengan geram, Ayah Sooyoung menghampiri Sooyoung, dan setelah itu dicekiknya anak itu seolah dia bukanlah seseorang yang lahir dari rahim istrinya.

“Ukhukk ukhuk arrghhhh” Sooyoung terlihat kesakitan, nafasnya terpotong-potong karena tenggorokanya terasa benar-benar sesak.

“Jika kau bisa membunuh sahabatmu! maka aku juga bisa membunuhmu disini!” ancam Ayah Sooyoung.

Sooyoung terdiam sambil menatap tajam pada laki-laki gila di depanya itu. Semakin lama, nafasnya terasa semakin sulit.

“A.. aarghh.. ap..apa-.. seperti ini…?- arrghh.. apa ini juga-… yang kau- lakukan- rghh.. sehingga arghh..sehingga.. om..ma.. mening… gal?” tanya Sooyoung dengan susah payah. Dia berbicara penuh kebencian tapi juga penuh kepedihan.

“Gurae! dan ini juga… yang akan kulakukan padamu dan juga Minho!” ancam Ayah Sooyoung lagi.

Sooyoung memejamkan mata dengan tetesan demi tetesan air mata yang mengalir di pipinya. Sekarang, dia hanya pasrah dengan apa yang akan terjadi. Meskipun dia akan mati sekarang, dia tidak akan memberontak pada ayahnya itu.

.

–[Di sisi Lain]–

Woobin POV

“Bukankah kau orang Seoul? kenapa kau ingin tahu dimana rumahnya? “ tanya Bibi Song dengan wajah curiga.

“Ayolah Bi, aku ini temanya.., aku harus segera menemukanya sebelum dia bertemu ayah Minho” mohonku pada bibi itu.

“Ayah Minho? apa yang terjadi? jadi Sooyoung sekarang ada di Yongin?” tanya Bibi Sooyoung, wajahnya sekarang terlihat berubah panik.

Aku mengangguk cepat, “Minho hilang dan ayah namja itu sepertinya mengancam sesuatu pada Sooyoung” jelasku.

“Ya Tuhan.. baiklah.. baiklah.. aku akan memberikanya..”

.

.

Aku segera berlari menuju alamat yang Bibi tadi berikan. Sesekali, aku tersasar jauh. Yaa itu karena dulu aku tinggal disini hanya beberapa bulan, jadi aku sudah lupa alamat-alamat daerah ini.

‘TAPP!’

Aku berhenti di depan sebuah gerbang rumah yang alamatnya sama dengan alamat yang sedang kucari.

“Apa dia di dalam?” gumamku pelan. Akupun beranjak membuka gerbang rumah itu dan memeriksanya. Tapi..

‘TAPP’

“Ayah macam apa kau ini?”

Aku langsung berhenti saat aku mendengar suara Sooyoung disana.

“Bicara omong kosongnya nanti saja! sekarang cepat beri aku uang!”

Dan setelah itu, aku mendengar suara namja yang memekik di dalam sana.

“Tunggu.. apa dia.. ?” gumamku pelan.

“Uang? kenapa aku harus memberimu uang? memang kau siapa?” tanya Sooyoung dari dalam sana. Sepertinya dia cukup berani menghadapi namja itu.

“Ya! aku ini ayahmu! bagaimana kau bisa bicara semacam itu dasar keparat!” pekik namja itu lagi.

‘DEG’

Dan mataku tentu saja langsung membulat mendengarnya.

“A.. ayah?” gumamku syok.

Sebenarnya ada apa ini? kenapa orang itu mengaku sebagai Ayah Sooyoung?

“Jika kau memang ayah kami… harusnya aku dan juga Minho berlari dan berlindung di pelukanmu ketika kami ketakutan!” aku kembali mendengar Sooyoung berbicara dan mengatakan sesuatu yang sangat aneh.

Tapi karena belum terlalu yakin, akupun memilih diam dan mendengarkan percakapan mereka.

“Jadi..aboji..? apa masih pantas kami memanggilmu begitu? pernahkan sekali saja kau bersikap seperti ayah untuk kami?”

‘DEG’

Mataku kembali membulat, Sungguh.. aku benar-benar di buat bingung dengan percakapan di dalam.

Kenapa Sooyoung memanggilnya aboji? Meski berpacaran .. tapi pantaskan dia memanggil aboji pada Ayah Minho saat ini?

Dan… kenapa dia mengatakan kami? apa. jangan-jangan.. dia juga ayah Sooyoung? tapi.. bukankah Minho pacar Sooyoung? Dan… bukankah Sooyoung adalah putri dari presedir Choi?

“Lalu bagaimana denganmu?” tanya namja itu.

“Jika kau tahu adikmu selalu dalam keadaan bahaya karenaku.. kenapa kau malah tinggal dengan Yoowon? kenapa kau malah tinggal dengan wanita gila yang sedang terpuruk karena anaknya mati itu?!” lanjut namja itu.

‘DEG’

Aku benar-benar paling tersentak ketika mendengar ucapan itu.

Tunggu! Adik?

Jadi… Minho bukan namjachingu Sooyoung? lalu Yoowon? bukankah itu nama Nyonya Choi? kenapa namja itu bilang anaknya mati? Lalu siapa Sooyoung? dan kenapa Sooyoung menjadi anak nyonya Choi?

“Cih!! lihat bagaimana kau diam seperti itu! Ya! anak keparat! saat kita memikirkan bagaimana keparatnya aku.., saat itu juga.. kita akan menemui kenyataan jika kau tidak ada bedanya denganku! kau bahkan sudah membunuh sahabatmu sendiri!!” lanjut namja itu.

‘DEG’

Badanku benar-benar terasa kaku, aku seakan tidak bisa bernafas beberapa saat mendengar kalimat tadi.

Membunuh sahabatnya?

Apa ini? drama macam apa ini? jadi intinya.. Sooyoung…berbohong? dia berpura-pura dan menipu kami semua? dia bukan pewaris grup Choize tapi.. dia mengaku sebagai anaknya?

‘TAPP!’

Perlahan, aku mundur dengan perasaan yang berkecamuk. Sungguh, aku sama sekali tidak percaya dengan semua ini.

Akupun beranjak pergi dan mengurungkan niatku untuk menolong Sooyoung. Meski ini rumit dan masih belum jelas.. tapi.. aku benar-benar enggan untuk menolongnya, menolong seseorang yang sudah membohongiku.

“Ukhukk ukhuk arrghhhh”

Tapi langkahku kembali terhenti ketika aku mendengar Sooyoung terbatuk di dalam sana. Suaranya benar-benar aneh dan terdengar menyakitkan.

Tanpa sadar, aku membalikan badan dan melihat apa yang terjadi dari balik gerbang yang terbuka sedikit itu. Dan mataku membulat ketika Aku melihat namja itu mencekik Sooyoung dengan kuat.

“Apa yang dia lakukan? apa dia gila? bagaimana dia bisa melakukan itu pada anaknya?” gumamku heran. Aku bisa melihat jika Sooyoung sangat kesakitan disana.

“A.. aarghh.. ap..apa-.. seperti ini…?- arrghh.. apa ini juga-… yang kau- lakukan- rghh.. sehingga arghh..sehingga.. om..ma.. mening… gal?” aku bisa mendengar Sooyoung bertanya dengan susah payah pada ayahnya itu.

‘DEG’

“Jadi.. ibunya sudah meninggal?” gumamku pelan.

“Aishhh bagaimana ini?” Akupun semakin bingung. Satu sisi, Egoku menyuruhku untuk pergi dan tidak usah lagi memperdulikan Sooyoung. Tapi.. hatiku benar-benar sakit dan ikut bergetar ketika melihat bagaimana Sooyoung menangis kesakitan disana.

‘TAPP!’

Pada akhirnya, aku berjalan cepat kearah mereka.

‘TAPP!’ Setelah sampai, aku segera menarik tangan namja itu agar terlepas dari Sooyoung.

“BUGHH!!!”

“BRUKKK!”

Lalu dengan satu ayunan, aku memukul ayah Sooyoung itu hingga dia terjatuh dengan mulut berdarah.

.

Normal POV

‘TAPP!’

“BUGHH!!!”

“BRUKKK!”

Dan dengan sekali hentakan, orang itu melepaskan cekikan Ayah Sooyoung lalu di pukulnya namja gila itu hingga dia jatuh tersungkur. Sooyoung bahkan sampai menutup mulutnya dengan tangan karena dia terlalu terkejut.

‘DEG’

“Woobin-ssi?” Gumam Sooyoung syok. Woobin menoleh sekilas pada Sooyoung dengan tatapan tajam. Tapi setelah itu dia kembali menoleh pada ayah Sooyoung.

‘Tapp!’

Woobin melemparkan sebuah amplop kecil ke arah Ayah Sooyoung dengan tatapan tajam dan dengan cara yang amat tidak sopan.

“Ambil uang itu dan urusanmu dengan mereka selesai!” ucap Woobin dengan begitu dingin.

“Siapa kau?!” Tanya Ayah Sooyoung murka sambil beranjak berdiri.

“Aku-“

“Jangan beritahu dia!” bisik Sooyoung dengan wajah ketakutan. Dan Woobin terlihat bingung mendengarnya.

“Kau tidak perlu tahu siapa aku! tapi jika kau melakukan ini lagi padanya.. aku tidak akan segan membunuhmu!” ancam Woobin.

“Woobin-ssi hajima!” larang Sooyoung sambil menggenggam lengan Woobin erat.

“Mwo?! Ciihh! ya! apa kau pacar Sooyoung?!” tanya Ayah Sooyoung dengan wajah curiga.

“Benar! aku pacarnya!” jawab Woobin dengan sangat yakin. Dan Sooyoung hanya bisa mendesah pasrah mendengarnya.

Bagi Sooyoung, lebih baik dia menjadi orang yang berdiri sendiri di hadapan ayahnya. Dia tidak mau orang-orang menjadi sasaran ayahnya saat terjadi sesuatu.

“Cihh! dan kau berani mengancam ingin membunuh calon mertuamu?” tanya Ayah Sooyoung dengan senyuman tak percaya.

Woobin tertawa remeh, “Mertua? ciih kau pikir masuk akal.. jika calon ayah mertuaku berniat membunuh calon istriku?” tanya Woobin balik.

“Woobin-ssi… khemanhae!” Mohon Sooyoung.

“Ya! Anak keparat! kau masih berhutang padaku!” pekik Ayah Sooyoung sambil menunjuk yeoja yang sekarang berdiri di belakang Woobin.

Mendengar itu, Woobin langsung mengepalkan tanganya, “Yah!! Apa aku harus membayarnya dengan sebuah pukulan lagi?!!” pekik Woobin sambil menghampiri Ayah Sooyoung dengan wajah murka.

Ayah Sooyoung terlihat menghindar dan akhirnya lari meninggalkan rumah itu. Dan Woobin terus melihat namja itu hingga dia benar-benar dipastikan pergi.

“Huuffftt..” Sooyoung terlihat mendesah lega saat suasana rumah itu tidak lagi tegang. Dia pun langsung duduk di sebuah kursi panjang berbahan kayu yang ada di taman kecil rumah itu.

‘TAKK!’

“Awww!!” Sooyoung langsung merintih dan memegangi kepalanya saat Woobin menjitaknya dengan cukup keras.

“Ya appoo!!!” pekik Sooyoung kesal.

“Dasar bodoh!! kau benar-benar manusia paling bodoh yang pernah ku temui!! bagaimana kau bisa pergi seperti tadi eoh?!” ucap Woobin murka.

Sooyoung menunduk dengan wajah menyesal, “Mian.. aku.. hanya tidak mau.. kau terlibat dalam masalahku” ucap Sooyoung.

“Tapi lihat! aku tetap terlibat kan?!” sangkal Woobin.

“Eumm.. Mianhae..” ucap Sooyoung lirih.

“Asshhh kau ini benar-benar! kau pikir kenapa aku harus ikut denganmu?! bermain-main?!” tanya Woobin lagi.

Sooyoung semakin menunduk mendengarnya, “Cheosuhamnida..” ucap Sooyoung. Ya, kali ini dia hanya bisa minta maaf pada namja itu.

“Untung saja bibi Song itu mau mengatakan dimana alamatmu! bayangkan jika tidak?! kau mungkin sudah pingsan atau mati di tangan ayahmu itu!!” ucap Woobin.

Sooyoung mendongak dan menatap Woobin yang masih berdiri di depanya. “Gomawo karena kau sudah menyelamatkanku..” ucap Sooyoung lirih.

Woobin terdiam sambil menatap Sooyoung sendu. Dan bukanya menjawab, dia malah ikut duduk di samping Sooyoung. Sejenak, dia menoleh dan melihat ke arah leher Sooyoung yang terlihat memerah itu.

Woobin memegang leher Sooyoung secara perlahan dan hati-hati.

‘DEG’ Sooyoung menoleh pada Woobin dengan wajah bingung.

“Apa sakit?” tanya Woobin dengan suara yang sedikit melembut. Tidak bisa di pungkiri jika wajahnya menampakan kehawatiran pada Sooyoung.

‘DEG’

Sooyoung terdiam sejenak sambil menatap Woobin. Entah kenapa, ada perasaan aneh yang tiba-tiba muncul saat Woobin bertanya seperti itu.

“Aa.. eum.. nan.. nan gwenchana..” Jawab Sooyoung pada akhirnya.

“Hufftt.. syukurlah” Woobin membuang nafas lega. Diapun melepaskan tanganya dari leher Sooyoung.

Sooyoung terdiam sejenak sambil menarik nafas dalam, “Karena urusanku sudah selesai, kau.. kau bisa pergi sekarang, bus malam jurusan Seoul berakhir pada pukul 9 jadi kau masih bisa pulang..” ucap Sooyoung.

“Bagaimana denganmu?” tanya Woobin.

“Aku harus menemukan Minho dan memastikan jika dia baik-baik saja” ucap Sooyoung.

“Kalau begitu aku pulang bersamamu” ucap Woobin.

“Mwo? ta.. tapi-“

“Dimana kau akan tidur? apa kita harus menyewa kamar hotel?” tanya Woobin memotong.

“Aku.. akan tidur disini, jika kau memang ingin pulang besok.., kau bisa menginap di hotel yang ada di ujung gang ini.., memang tidak terlalu besar.. tapi-“

“Kalau begitu aku juga akan tidur disini” ucap Woobin dengan santainya.

Mata Sooyoung langsung membulat, “Mwo?! tapi.. disini.. hanya ada satu kamar!” ucap Sooyoung sedikit ragu.

“Lalu kenapa?” tanya Woobin.

“Kenapa? ki.. kita kan..” Sooyoung terlihat ragu menjelaskanya.

“urineun mwo? kita kan sudah bertunangan.. jadi tidak ada masalah disini.., kalau begitu ayo masuk.., udara sudah mulai dingin” ajak Woobin sambil beranjak berdiri.

‘Beeb Beeb’

Tapi Woobin kembali duduk saat seseorang menghubunginya. Dan matanya terlihat membulat ketika dia tahu siapa orang itu.

“Yo..yoboseyo aboji..” sapa Woobin pada penelpon itu. Sooyoung ikut menoleh dengan mata melebar.

“Dimana kau? kenapa belum datang..?” tanya Tuan Kim dari seberang telepon.

“Da.. datang kemana?” Tanya Woobin bingung.

“Kau lupa jika hari ini kita mendapatkan undangan makan malam di rumah presedir Choi?” Tanya Tuan Kim.

‘DEG’

Woobin semakin terkejut mendengarnya. “Mm..makan.. malam?”

Mata Sooyoung langsung membulat saat samar-samar dia mendengar suara Tuan Kim.

“Ya Tuhan.. aku lupa jika hari ini keluarga kita akan mengadakan makan malam..” ucap Sooyoung yang malah teringat acara itu. Dan itu membuat Woobin menoleh pada Sooyoung dengan wajah panik.

“Ya Kim Woobin, cepat kemari karena kami sudah berada di kediaman mereka!” suruh tuan Kim.

“Kalian sudah ada disana? tapi.. aboji..” Woobin terlihat kebingungan untuk menjawabnya.

“Oh ya.. tadi salah satu sopir mengatakan bahwa dia mengantarmu dan juga Sooyoung ke suatu tempat.., apa kau masih bersamanya? jika iya, bawa dia dan cepat datang ke Rumah presedir Choi!” suruh Tuan Kim lagi.

Sooyoung dan Woobin langsung bertatapan dengan wajah panik saat mereka mendengar perintah Tuan Kim barusan.

“Ya! Kim Woobin kau mendengarku?!” tanya Tuan Kim saat Woobin tak bicara sedikitpun.

“Eumm.. Aboji.. begini… sebenarnya.. aku-”

“Jangan katakan!” larang Sooyoung.

“Sebenarnya aku dan juga Sooyoung sedang berada di Yongin.” ucap Woobin.

“Huuftt.. matilah aku!” ucap Sooyoung dengan wajah pasrah.

“Yongin?! apa yang kau lakukan disana? apa kau ingin membuangnya dan tidak membawanya kembali agar perjodohanmu gagal?” tanya Tuan Kim murka.

“An.. anhi…, aku hanya mengantarnya karena dia ada sedikit masalah disini..” jelas Woobin.

“Mengantarnya?” Nada Tuan Kim terdengar memelan.

“Eum, aku harus menjaganya, aku tidak bisa membiarkan dia bepergian jauh sendiri..” lanjut Woobin dengan wajah serius. Dan itu membuat jantung Sooyoung berdegub kencang secara tiba-tiba.

“Kau kesana.. karena ingin menjaganya?” tanya Tuan Kim seolah dia tidak percaya ucapan anaknya itu.

Woobin terdiam sejenak, “Benar..” jawab Woobin.

“Huffft.. baiklah, kalau memang seperti itu, kalian pergi saja ke hotel tempat kita menginap dulu.., nanti.. biar aku yang mengurus biayanya” ucap Tuan Kim.

Woobin dan Sooyoung mengernyit heran saat ternyata Tuan Kim sama sekali tidak marah dan malah menawarkan bantuan.

“Aniya.., aku.. dan Sooyoung.. tidur di rumah kontrakan Nyonya Choi saja.., sejak dulu aku.. ingin merasakan bagaimana rasanya tidur di rumah kontrakan.., aku juga ingin merasakan rasanya menjadi orang biasa aboji” ucap Woobin menjelaskan.

Tuan Kim tersenyum tipis, “Baiklah.., hubungi aku jika kau membutuhkan sesuatu”

“Nde..”

.

.

@Kediaman keluarga Choi.

“Tuan Kim? Apa yang terjadi? siapa yang berada di Yongin?” tanya Tuan Choi setelah Tuan Kim menutup teleponya.

Semua orang yang ada di ruang makan itupun menatap Tuan Kim dengan wajah penasaran. Tak terkecuali Zelo.

“Sooyoung dan Woobin” jawab Tuan Kim.

‘DEG’

Semua terlihat terkejut. Apalagi Bibi Lee, dia terlihat mulai panik dan ketakutan.

“Apa yang mereka lakukan disana?” tanya Tuan Choi bingung.

“Woobin bilang.. Sooyoung mengalami sedikit masalah disana, dia bilang dia tidak bisa membiarkan Sooyoung pergi sendiri jadi dia ikut dan berniat untuk menjaganya..” Jelas Tuan Kim.

‘DEG’

“Menjaganya?” batin Zelo terkejut.

“Jeongmalyeo?” tanya Nyonya Kim dengan wajah tak percaya.

Tuan Kim mengangguk, “Seumur hidupku.., baru kali ini aku mendengar Woobin berkata ingin menjaga seseorang, Woobin bahkan ikut tidur di rumah kontrakan Nyonya Choi karena ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi orang biasa..” Ucap Tuan Kim dengan wajah terharu.

“Woobin.. adalah seseorang yang hanya mau bepergian jauh jika itu adalah perintah dari Presedir Kim” sambung Nyonya Kim.

“Benarkah? aku senang mendengarnya” ucap Bibi Lee dengan wajah haru.

Di lain sisi, Daniel terlihat diam dan berusaha mengartikan semua kejadian ini. Dia bahkan masih ingat, beberapa hari lalu Woobin berkata seolah dia ingin Sooyoung pergi, tapi.. kenapa sekarang dia malah menemaninya?

“Apa yang mereka lakukan? apa mereka sudah sedekat itu sehingga berani keluar kota berdua?” batin Zelo. Enta kenapa, dia merasakan sesuatu yang tidak mengenakan di hatinya.

“Semoga.. ini bisa membuat mereka semakin dekat, karena setelah majalah Choize rilis.. banyak perusahaan yang ingin ikut menanamkan sahamnya pada kita” ucap Tuan Choi dan di tanggapi anggukan Tuan Kim.

“Tapi..”

Semua menoleh pada Bibi Lee yang terlihat panik.

“Ada apa?” tanya Tuan Choi.

“Rumah kontrakanku.., benar-benar kecil.., dan hanya ada satu kamar disana” ucap Bibi Lee.

‘DEG’

Semua terlihat terkejut. Tapi keterkejutan Tuan Choi dan Tuan Kim di barengi dengan sebuah senyuman. Sedangkan keterkejutan Daniel dan Zelo di barengi dengan wajah kepanikan.

“Mereka berdua? tinggal di kontrakan kecil yang hanya punya satu kamar?” Batin Zelo was-was. Entah kenapa, dia semakin merasa takut sekarang.

“Zelo-ya.. waegurae?” tanya Daniel saat dia melihat tingkah aneh Zelo. Matanya melirik kek kanan dan kiri. Wajahnyapun terlihat sangat tegang.

“An.. anhi” jawab Zelo singkat. Diapun berusaha menenangkan diri dengan meminum air.

“Nyonya.. apa jangan-jangan… malam ini.. akan menjadi malam bulan madu mereka..” ucap Nyonya Kim pada Nyonya Choi.

“Ahh apa mungkin? Ya Tuhan bagaimana jika terjadi sesuatu dengan mereka?” sambung Bibi Lee.

“Ukhukkk ukhukk!” Zelo langsung terbatuk setelah mendengar percakapan dua nyonya gila itu.

“Bulan madu? terjadi sesuatu?” Batin Zelo was-was.

“Zeloya? Gwenchanhi?” tanya Bibi Lee dengan wajah khawatir. Dan Zelo hanya mengangguk.

“Kurasa.. Woobin bukan namja seganas itu.., tapi.. tidak apa-apa jika malam ini terjadi sesuatu.., itu berarti.. pernikahan mereka akan lebih cepat, benar kan Tuan Choi?” ucap Tuan Kim dengan senyuman bahagia.

“Hahaha.. benar Tuan Kim, ahh aku jadi ingin segera menggendong cucu” sambung Tuan Choi.

‘DRRTTT!’

“Maaf, aku.. harus ke toilet” pamit Zelo. Dia segera berdiri dan beranjak pergi meninggalkan ruang makan itu.

“Ada apa denganya?” batin Daniel sedikit heran.

.

.

@Rumah Bibi Lee

Woobin melirik sedikit pada Sooyoung yang sekarang berbaring di sampingnya. Ya.. sebenarnya bukan benar-benar di sampingnya karena ada sebuah guling yang membatasi kasur lipat mereka.

“Kau belum tidur?” tanya Woobin pada yeoja yang sekarang menatap langit-langit kamar itu.

Sooyoung menoleh pada Woobin, “Aku harus memastikan kau tidur terlebih dulu.. baru aku bisa tidur dengan tenang” ucap Sooyoung.

Woobin tertawa mendengarnya, “Hahahaha.. kau takut aku akan menyerangmu? ya.. meskipun aku namja.. aku juga pilih pilih untuk melakukanya” ejek Woobin.

Sooyoung mendengus, “Aku kan hanya berjaga-jaga” ucap Sooyoung lalu kembali menghadapkan wajahnya ke atas. Woobin terdiam sejenak dan ikut menatap langit-langit kamar.

“Emm.. Woobin-ssi” Panggil Sooyoung tanpa menoleh.

“Wae?” tanya Woobin juga tanpa menoleh.

“Berapa uangmu yang ada di amplop tadi? biar.. biar kuganti semuanya..,” ucap Sooyoung sedikit ragu.

“Aku malas mengingatnya.., kita pikirkan masalah itu nanti saja..” ucap Woobin dengan malas.

“Tapi.., kurasa.. tidak ada kata ‘nanti’ lagi untuk kita..” ucap Sooyoung lirih.

Woobin mengernyit dan menoleh pada Sooyoung. “Apa maksudmu?” tanya Woobin.

“Aku tahu kau mendengarnya…, mendengar bagaimana busuknya aku..” ucap Sooyoung sambil tersenyum miris.

Woobin menarik nafas dalam sebelum menjawabnya. “Kita bicarakan itu lain kali, Sekarang.. pikirkan saja tentang adikmu itu..” Ucap Woobin seolah dia baik-baik saja dengan pernyataan Sooyoung tadi.

“Aku tahu.. kau pasti akan tahu.., awalnya.. aku sangat takut ketika kau ingin menemaniku kesini.., aku takut.. semua kebohonganku akan terbongkar di depanmu..” ucap Sooyoung pelan.

“Tapi ketika aku berfikir jika kebohongan ini tetap akan terbongkar meskipun itu dalam waktu cepat ataupun lambat, akupun berusaha menerimanya..” lanjut Sooyoung, dia berbicara dengan wajah menyesal.

“Khemanhae!” ucap Woobin dengan wajah enggan.

“Jika kebohonganku berakhir sampai sini… aku-“

“BRUKK!”

‘DEG’

Sooyoung langsung tersentak saat Woobin tiba-tiba berguling melewati guling pembatas dan sekarang dia berbaring di sampingnya. Bukan hanya berbaring, tapi namja itu juga menutup mulut Sooyoung sehingga dia tidak bisa melanjutkan ucapanya.

“Kau tuli ya? aku bilang kita bicarakan itu lain kali!” ucap Woobin lirih sambil menatap Sooyoung yang sekarang hanya berjarak.. anhi.. mereka sekarang sama sekali tidak memiliki jarak. Seluruh tubuh mereka bersentuhan dan hanya leher dan wajah mereka saja yang berjarak sekitar dua jengkal.

“Hmmmppp!!!” Sooyoung tentu saja langsung melepaskan tangan Woobin dari mulutnya.

“Ya! michinya?!” pekik Sooyoung kesal. Dia sedikit menjauh dari Woobin meskipun di belakangnya sekarang ada lemari kecil yang membuatnya terpojok.

Woobin merubah posisinya menjadi berbaring dan tidak lagi menghadap pada Sooyoung.

“Aku ngantuk! jadi jangan bicara apa-apa lagi!” suruh Woobin lalu memejamkan matanya.

‘Dap! dap! dap! dap! dap!’

Dengan sekuat tenaga, Sooyoung menendangi tubuh Woobin agar namja itu pergi dari kasurnya. Tapi.. tubuh Woobin tetap saja terlalu besar untuk seorang yeoja kuat seperti Sooyoung.

“Jika kau ingin tidur maka pindahlah ke kasurmu! Ya! kau.. kau membuatku takut!!” suruh Sooyoung sambil terus mendorong tubuh Woobin meskipun itu tidak akan berhasil.

“Disana dingin..” ucap Woobin singkat.

“Ya! ba.. bagaimana kita bisa tidur sedekat ini?! kau.. kau mau membuatku mati terserang penyakit jantung eoh?!” Sooyoung terus saja memarahi Woobin. Sungguh, jantungnya sekarang benar-benar beedegub sangat cepat.

Woobin kembali menghadapkan tubuhnya pada Sooyoung. Beberapa saat dia menatap Sooyoung intens dan membuat yeoja di depanya itu benar-benar gugup bukan main.

“Bagaimana jika yang kita takutkan malah terjadi?” tanya Woobin dengan nada merajuk.

‘DEG’

Mata Sooyoung membulat seketika, darahpun mulai berdesir dan berkumpul di pipinya.

“Ya! ja.. jangan mempermainkanku saekkiya!!!” pekik Sooyoung sambil berusaha menyembunyikan rasa malunya.

Mendengar hal itu, Woobin malah merapatkan tubuhnya pada tubuh Sooyoung.

“Bagaimana… jika kau dan aku-“

“Andwe!!!” Potong Sooyoung sambil menutup kedua telinganya . Dia langsung mundur dengan wajah ketakutan.

Tapi..

“BRUKK!!”

Sialnya, kepala Sooyoung malah terbentur almari kecil yang ada dibelakangnya itu.

“Awww…” Dengan cepat, Sooyoung memegangi kepalanya dengan wajah kesakitan karena dia merasakan denyutan di kepala itu.

“Yy.. ya.. ya Gwenchana?” Tanya Woobin sambil mendekat pada Sooyoung dengan wajah panik. Dia ikut memegang kepala Sooyoung dengan kedua tanganya.

‘DEG’

Bukanya memikirkan kepalanya, Sooyoung malah mendongak perlahan dan menatap Woobin yang sekarang berada di depanya. Dengan refleks Woobin ikut menunduk dan menatap Sooyoung.

Beberapa saat mereka terdiam dan saling bertatapan. Tangan Woobin pun masih memegang kedua tangan Sooyoung yang tadi di gunakan untuk memegangi kepalanya.

Perlahan, Woobin menarik tangan itu turun agar dia bisa menatap Sooyoung secara keseluruhan. Setelah itu, dia mulai mendekatkan wajahnya pada Sooyoung.

‘DEG DEG DEG’

Entah kenapa, jantung Sooyoung berdegub semakin kencang seiring dengan gerakan Woobin yang mendekat. Dia mulai bisa merasakan hembusan nafas Woobin yang menyapu kulit wajahnya.

‘STRAPP!’

Tiba-tiba..Sooyoung memalingkan wajahnya dan berniat pindah ke kasur Woobin yang di tinggalkanya tadi. Melihat hal itu, Woobin tersenyum tipis.

‘TAPP!’

Tapi dengan cepat, Woobin langsung memegang kedua bahu Sooyoung agar Sooyoung kembali tidur.

“Ya!!” Sooyoung berniat memberontak, entah kenapa.. dia mulai takut dengan namja di depanya itu.

Saat tangan kanan Woobin di gunakan untuk memegangi Sooyoung, tanganya yang lain ia gunakan untuk mengambil kasur yang tidak di pakai itu.

‘STRAPP!’

Setelah itu, di taruhnya kasur lipat tipis tadi di atas tubuh Sooyoung, sehingga Seluruh tubuh Sooyoung tertutupi kecuali leher dan kepalanya.

“Tidurlah..” ucap Woobin pelan. Saat mengatakanya, dia tersenyum lembut pada Sooyoung. Setelah itu dia sedikit menjauh dan kembali menghadapkan wajahnya ke langit-langit kamar.

‘DEG’

Sooyoung sedikit tersentak melihat bagaimana Woobin memperlakukanya. Dia kira, namja itu akan melakukan hal aneh padanya. Tapi ternyata.. Woobin malah memilih untuk mejadikan kasurnya sebagai selimut Sooyoung.

“Perkataanku tadi itu hanya bercanda saekki-ya, walau bagaimanapun.. aku paham jika kita belum menikah..“ ucap Woobin sambil tersenyum tipis.

Sooyoung langsung mengeratkan giginya karena geram,

‘TAKK!!’ Diapun menyempatkan untuk menjitak kepala Woobin dengan kekuatan maksimalnya.

“Arrgghh!!! ya!!” Woobin langsung memegangi kepalanya itu dengan wajah kesakitan.

“Jika kau melakukanya lagi! aku akan memukul kepalamu dengan botol minuman! arraseo?!” ancam Sooyoung.

“Aigoo.. kau ini benar-benar ganas.., kau bahkan lebih ganas dari anjing polisi yang lidahnya selalu menjulur keluar!” ejek Woobin.

“Mworago?!” pekik Sooyoung tak terima sambil menoleh pada Woobin.

“Kau.. lebih ganas dari anjing polisi!” ucap Woobin lalu menjulurkan lidahnya pada Sooyoung.

Sooyoung menggertakan giginya dengan geram. “Kau ini benar-benar-!”

“Hashh sudahlah..! kita ini ingin tidur.. seharusnya tubuh kita itu rileks, tapi kau malah membuat darahku naik!” keluh Sooyoung. Diapun kembali berbaring dan menatap ke atas seperti apa yang Woobin lakukan.

“Yeee.. arrasimnika” ucap Woobin.

Untuk beberapa saat, keduanya hanya diam dan menikmati sunyinya malam di Yongin itu.

“Kau tahu? ini.. pertama kalinya.. aku tidur di lantai dengan kasur lipat seperti ini” ucap Woobin sambil tersenyum tipis. Sooyoung menoleh pada Woobin dengan wajah bingung.

“Saat bersamamu… aku bisa benar-benar merasa menjadi orang biasa..” lanjut Woobin. Dan Sooyoung tentu saja semakin tak mengerti dengan namja itu.

“Jadi.. ketika bersamaku.. kelasmu jadi turun?” tanya Sooyoung.

“Aniya.. bukan itu maksudku.., aku.. hanya merasa.. jika kita bukanlah dua orang yang sedang di jodohkan.., aku bahkan bisa lupa jika aku adalah pewaris KingKim group” ucap Woobin lagi.

Woobin melipat kedua tanganya ke atas lalu di gunakanya tangan itu sebagai bantalan.

“ Bahkan.. aku tidak bisa menjadi benar-benar kasar saat aku bersamamu..” lanjut Woobin. Tapi kali ini, dia mengatakanya dengan lirih dan hampir tidak bisa di dengar.

“Wae?” Tanya Sooyoung.

“Molla” jawab Woobin asal. Atau mungkin karena dia tidak mau mengatakan yang sebenarnya.

“Apa namja bernama Joongki itu sudah tahu..? kurasa.. dia.. sangat dekat denganmu..” tanya Woobin. Dan Sooyoung mengangguk pelan.

“Dia.. adalah putra Bibi Song, makanya.. dia bisa memahamiku dan bisa merasakan apa yang aku rasakan, karena kami sama-sama berasal dari kelas bawah..” ucap Sooyoung lagi.

“Kau pikir selain dia.. tidak ada yang bisa memahamimu disini?” tanya Woobin sedikit tak terima.

“Setidaknya.. dia membantuku bukan karena uang.., sedangkan kita? kita menjadi seperti ini.. karena uang bukan?” jawab Sooyoung. Dan entah kenapa, Woobin tersinggung mendengarnya.

Dengan sedikit ragu, Sooyoung memiringkan badanya agar dia bisa berhadapan dengan Woobin.

“Hmm.. mianhae Woobin-ssi.., kau harus bertunangan dengan yeoja sepertiku, yeoja kelas rendah yang hanya bisa menipu semua orang..,” ucap Sooyoung pelan.

“Isshh! kenapa kau suka sekali bicara omong kosong seperti itu.., itu sunggu tak cocok untukmu!” omel Woobin.

“Jeongmal mianhamnida..” ulang Sooyoung dengan wajah menyesal.

Dengan sedikit kesal, Woobin memiringkan tubuhnya sehingga keduanya sekarang saling berhadapan.

Sejenak, dia memandang Sooyoung yang diam dengan tatapan nanar.

“Kenapa kau melakukan semua ini?” Tanya Woobin yang akhirnya mau mengungkit masalah Sooyoung.

Sejenak, Sooyoung tersenyum nanar, “Balas budi.. ah anhi.. tapi.. ini.. hukum karma..” ucap Sooyoung pelan.

Woobin menarik tanganya ke atas lalu ia gunakan sebagai alas kepala.

“Siapa kau sebenarnya?” tanya Woobin.

Sooyoung terdiam sejenak sambil tersenyum miris. “Gadis pembakar nomer satu di Yongin.. “ .

“Mwo?”

“Itu.. adalah julukan untuku sejak aku duduk di sekolah dasar..” lanjut Sooyoung.

“Gadis.. pem..bakar?” tanya Woobin tak mengerti. Dan Sooyoung mengangguk pelan.

“Seperti matahari… , yang saat dia datang.. bulan dan bintang akan bersembunyi…” ucap Sooyoung pelan.

“Begitu juga denganku.., aku ini.. seperti matahari yang sangat panas dan kesepian.., ketika aku datang.. semua akan pergi dan menjauh., bahkan.. hampir semua orang tua melarang anaknya untuk berteman dengan anak preman sepertiku..” lanjutnya.

Woobin cukup terhenyak mendengar kisah Sooyoung.

“Selain karena mereka semua menjauhiku, sejak kecil .. aku..di tinggal Ommaku meninggal.. dan aku.. di besarkan oleh laki-laki keparat seperti itu..”

“Hhh… Karena semua itu, karena aku tidak punya seseorang yang bisa mengajariku hal benar, akupun.. tumbuh menjadi gadis yang benar-benar nakal..” jelas Sooyoung.

“Apa karena itu.., kau bilang jika kau tidak takut dengan kami?” batin Woobin.

“Tapi.. suatu saat.. seseorang datang ke kehidupanku..”

Flashback:

‘DAPP!’

Sooyoung segera berlari setelah dia berhasil kabur dari kelas melalui jendela.

“Jung Yunho sialan! kenapa dia suka sekali membandingkanku dengan murid lain? dia pikir itu akan membuatku berubah? ishh..” Sooyoung terus mendumal kesal karena salah seorang guru.

“Ya! anak preman! pasti kau kan yang merusak sepedah ini?”

‘TAPP!’ ketika Sooyoung melewati tempat parkir, dia merasa seperti ada yang berteriak padanya.

Sooyoungpun berhenti dan membalikan tubuhnya untuk menatap orang itu. “Apa maksudmu?” tanya Sooyoung tak terima.

“Siwana.. sudahlah..” ucap yeoja yang berdiri di samping namja tadi. Dia terlihat ketakutan ketika Sooyoung menatap ke arah mereka.

“Kau merusak sepedah Sunny karena guru memilihnya untuk mengikuti lomba sains dan bukan memilihmu kan?” tanya Siwan lagi.

Sooyoung tersenyum remeh mendengarnya, “Kau punya bukti?” tanya Sooyoung.

Kali ini Siwan yang tertawa remeh, “Memang yeoja keji mana lagi yang berani melakukan hal seperti ini selain ka-“

‘TAPP!’ Tanpa membiarkan namja itu selesai bicara, Sooyoung langsung mendekat dan menendang dada namja itu dengan kakinya yang panjang.

“BRAKK!!!”

“BRUKKK BRUKK BRUKKK!”

Siwan yang sedang berdiri membelakangi sepeda, kini langsung terjatuh dan menimpa sepedah Sunny tadi, bahkan bukan hanya sepedah Sunny yang ambruk, tapi sepedah yang berjajar di belakangnya pun ikut ambruk layaknya domino.

“Ya Tuhan.. Siwana” pekik Sunny syok. Diapun langsung menghampiri Siwan yang terlihat kesakitan.

Sooyoung terlihat menggelengkan kepala dan menggerakan tanganya seolah dia sedang mergangkan ototnya yang tadi tegang. Sesaat dia menatap Siwan yang menatapnya murka.

“Mwo?! kau marah? ya saekkiya! jika kau berani dan ingin membalas, aku masih berdiri disini untuk melihat seberapa kuat pukulanmu!” tantang Sooyoung sambil tersenyum remeh.

“Deo.. deo Jinjja saekkiya!!!” Siwan beranjak bangun dan menghampiri Sooyoung. Tapi..

“Ya! hentikan!!!”

Lalu dari arah gedung utama, Jung Sonsaengnim datang dan berteriak ke arah mereka.

“Apa yang terjadi?! dan Choi Sooyoung.. kenapa kau tidak berada di kelasku?!!”

Sooyoung mendengus kesal,”Sialan itu!”

.

.

Sooyoung memandang lapangan sepak bola yang terlihat sangat panas itu.

“Choi Sooyoung!”

Sooyoung menoleh saat Jung Saem datang dari belakang dan dia membawa seorang yeoja yang juga terlihat enggan seperti Sooyoung.

“Dengar, Lee Yoobi.. kau harus mengelilingi lapangan ini sebanyak 5 kali karena kau membolos 3 mata pelajaran, sedangkan Choi Sooyoung.. kau harus mengelilingi lapangan ini sebanyak 15 kali karena kau membolos, berkelahi dan membuat semua sepedah di tempat parkir menjadi berantakan..” ucap Jung Saem.

“Nde..” jawab keduanya.

“Hasshh jinjja! bisakah kalian bersikap wajar? bagaimana bisa ada siswi yang bertingkah sebandel kalian?” keluh Jung saem dengan wajah putus asa.

.

“Kau berkelahi? aku baru tahu jika ada yeoja yang berani berkelahi di sekolah ini”ucap Yoobi ketika dia sudah mulai berlari mengelilingi lapangan.

Sooyoung hanya diam dengan wajah dinginya. Dia seolah tidak tertarik dengan orang di sampingnya itu.

“Eumm… kau dari kelas apa?” tanya Yoobi. Dia terlihat tidak peduli jika Sooyoung menampakan wajah angkuhnya.

Sooyoung tetap terlihat diam dan acuh, dia bahkan mempercepat langkahnya agar dia tak sejajar yeoja itu. Dan Yoobi tertawa kecil melihatnya.

.

“Apa yang kau lakukan? kau sudah berlari 5 kali?!” tanya Sooyoung ketika Yoobi tetap berlari di sampingnya.

“Hmm.. kesalahanku dan kesalahanmu tidak beda jauh.. jadi kurasa 5 kali untuku itu masih tidak adil..” ucap Yoobi.

“Babo!” ejek Sooyoung.

End Flashback

“Disaat orang lain menjauh dan merendahkan hidupku.., Yoobi datang dan dengan senang hati.. dia mau berteman denganku. Dia.. adalah orang kedua.. yang bisa mencairkanku setelah Minho… “ Jelas Sooyoung.

“Dan karena sejak kecil..Bibi Lee dan Yoobi dipandang sebelah mata oleh orang-orang karena Tuan Choi.., dia.. juga tumbuh menjadi yeoja pemberontak sepertiku..” lanjut Sooyoung. Entah kenapa, matanya mulai berkaca-kaca ketika dia mengingat Yoobi. Mengingat bagaimana manisnya senyuman sahabatnya itu.

“Jadi.. Yoobi.. adalah putri Nyonya Choi yang sebenarnya?” tanya Woobin.

Sooyoung mengangguk, “Dia.. yeoja yang sangat cantik.., dan juga berhati hangat jika kau mengenalnya. Hmm.. kalau saja dia masih hidup.., dan dia berada di posisiku sekarang.., kau.. pasti menyukainya..” ucap Sooyoung lirih. Ketika mengatakanya, air matanya mulai jatuh. Dan Woobin hanya bisa terdiam mendengarnya.

“Tapi.. hiks.. hiks..”

“Aku… malah membuatnya celaka… hiks.. hiks..” Sooyoung langsung menutup mulutnya ketika dia benar-benar terisak dan merasa tak sanggup untuk mengatakanya.

Woobin membuang nafas panjang sambil menatap Sooyoung sendu. Entah kenapa, tidak ada perasaan benci yang muncul meskipun Sooyoung sudah mengatakan dengan mulutnya sendiri jika dia adalah yeoja keparat.

“Hiks.. hiks.. hiks… Akulah.. yang malah… hiks.. membuatnya pergi…hiks.. hiks..” isakan Sooyoung semakin keras dan itu semakin membuat hati Woobin bergetar.

‘GREBB’

Tanpa bicara apa-apa, Woobin meraih tubuh Sooyoung lalu di peluknya dengan hangat.

“Shh.. kau tidak perlu mengingatnya jika itu terlalu menyakitkan..” bisik Woobin sambil membelai rambut Sooyoung pelan.

.

.

Woobin terlihat masih terjaga di samping Sooyoung. Dia masih terus menatap Sooyoung yang beberapa menit lalu tertidur dengan posisi miring dan menghadap ke arahnya.

camera_20150224220342768*Karena foto mereka ga ada yang kaya gini, jadinya aku nyeket#mian jelek*

‘TAPP’

Dengan hati-hati, Woobin menyibakan rambut Sooyoung yang menutupi wajahnya. Kali ini, dia benar-benar memperlakukan Sooyoung dengan lembut.

“Bahkan setelah tahu jika aku di bohongi.., aku malah tidur di atas kasur yang sama denganmu..” ucap Woobin lirih.

‘TAPP’ Tangan Woobin kini bergerak untuk memegang pipi Sooyoung pelan.

“Heeuuhhh…, sebenarnya apa yang sudah kau lakukan padaku?” tanya Woobin.

——

“Hoaaammm…” Woobin melenguh pelan saat dia merasa masih mengantuk.

“Apa kau tidak bisa tidur?” tanya Sooyoung pada namja yang berjalan di sampingnya itu.

Woobin menoleh pada Sooyoung sekilas, “Eumm.., kau mengorok kencang sekali seperti suara roket Korea utara” ucap Woobin asal.

‘TAPP!’

Sooyoung langsung menutup mulutnya dengan wajah terkejut.

“Jinjjayo?” Tanya Sooyoung penasaran.

Mendengar pertanyaan itu, Woobin tentu saja langsung tertawa. Dia tidak tahu jika Sooyoung bisa sepolos itu.

“Keureom (tentu), kau bahkan mengilar sampai air liurmu mengenai bajuku..” lanjut Woobin.

“Ommo..” Sooyoung langsung menutup wajahnya dengan kedua tanganya. Dia benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana anehnya dia tadi malam.

“Ahahahahaa… kau percaya? ya! bukankah kau pembohong? bagaimana kau bisa semudah itu di bohongi?!” ejek Woobin sambil tertawa puas melihat ekspresi Sooyoung.

Ekspresi Sooyoung langsung berubah, diapun menoleh pada Woobin dengan wajah kesal. “Isshh ige saekkiya jinjja!-”

‘TAKK!’ Sooyoung menendang kaki Woobin dengan cukup keras sehingga Woobin menghentikan langkahnya.

“Ya saekkiya! kenapa kau suka sekali memukulku asshh jinjja!” Woobin langsung mengumpat Sooyoung dengan wajah murka. Sedangkan Sooyoung malah menjulurkan lidahnya pada Woobin.

“Ya! ayo bertaruh.. yang terakhir sampai di toko bubur bibi Song.. dia yang harus membayar semua biaya ketika kita berada di Yongin, bagaimana?” tantang Sooyoung.

Woobin yang masih membungkuk dan memegangi kakinya, kini mendongak dan menatap Sooyoung.

“Ya! kau bahkan baru saja menendangku! bagaimana bisa ka-“

“Mulaai!!” Pekik Sooyoung lalu berlari begitu saja meninggalkan Woobin.

“Ya!”

‘beeb beeb’

Sooyoung langsung berhenti ketika ponselnya berdering.

“Yoboseyo Minhyuka..?” sapa Sooyoung.

“Noona.. aku tahu dimana Minho..”

‘DEG’

“Jinjjayo? eodi?”

.

.

‘TAPP’

Sooyoung yang sejak tadi berlari menyusuri jalan untuk mencari sosok Minho, akhirnya berhenti.

“Haaahhh..” Sejenak, dia mendesah lega saat dia sudah menemukan Minho.

“Tikkk..” Tanpa sadar, air mata Sooyoung menetes ketika dia menyadari jika Minho terlihat pucat. Apalagi sekarang, adiknya itu terlihat sedang mengangkat barang-barang dari dalam rumah dan di taruh di atas mobil Box.

“Karenaku.. dia menjadi seperti ini..” ucap Sooyoung menyalahkan dirinya sendiri.

Woobin terlihat menatap Sooyoung dengan wajah sendu. “Jangan menyalahkan dirimu sendiri seperti itu…, walau bagaimanapun.. ini semua ujian untuk kalian..” ucap Woobin pelan.

“Sekarang kesanalah dan temui dia..” lanjut Woobin sambil mendorong bahu Sooyoung pelan.

Sooyoung terlihat berlari kecil untuk mendekat pada Minho, sedangkan Woobin hanya berjalan pelan di belakangnya.

“Minho!!” panggil Sooyoung ketika dia sudah berjarak 10 meter dari adiknya itu. Namja yang memakai seragam pengantar barang itupun langsung menoleh pad Sooyoung dengan ekspresi terkejut.

“Noona?!” pekik Minho yang beberapa saat masih telihat tidak percaya. Tapi setelah itu, dia langsung berlari menghampiri Sooyoung.

‘GREBB!’

Mereka langsung berpelukan dengan sangat erat seakan sudah tidak bertemu selama bertahun-tahun.

“Ya Tuhan.. Minhoya.. syukurlah kau baik-baik saja.. “ ucap Sooyoung sambil memejamkan mata dan mengeratkan pelukanya.

“Noona.. apa yang kau lakukan disini? apa dia menghubungimu dengan ponselku?” tanya Minho tanpa melepaskan pelukanya.

“Eumm…, aku takut dia melakukan sesuatu yang buruk padamu.. makanya aku kesini..” ucap Sooyoung pelan.

Minho membuang nafas lega. Sungguh, bertemu dan melihat Noonanya baik-baik saja.. sudah sangat membahagiakan baginya. Tapi..

‘Tekk!’

Minho terheran ketika dia melihat Woobin yang sekarang berdiri di belakang Sooyoung dan berhadapan denganya. Woobin hanya diam dan menatap Minho datar. Meski begitu, tatapanya kali ini berbeda dengan tatapan ketika mereka pertama kali bertemu.

“Noona.. kenapa..” Minho terlihat ragu menanyakanya. Dan itu membuat Sooyoung melepaskan pelukanya untuk melihat apa yang Minho maksud.

“Kenapa.. kau.. membawa tunanganmu?” tanya Minho bingung.

Sooyoung terdiam sejenak, tapi setelah itu dia tersenyum tipis pada Minho.

“Dia… menemaniku kesini.., dia.. bahkan menolongku saat aboji mencekiku dan hampir membunuhku..” jelas Sooyoung.

Minho mengernyit, “Me.. menemani? ja.. jadi.. dia bertemu.. aboji? tapi..”

“Aku sudah tahu semuanya..” ucap Woobin yang sudah mengerti dengan maksud Minho.

‘DEG’

“Di.. dia.. sudah tahu? lalu.. bagaimana dengan..”

“Lupakan dulu masalah itu, kami kesini untuk melihat keadaanmu..” sahut Woobin.

“Kami..?” gumam Minho pelan.

“Kalau begitu.. apa kau sudah makan? bagaimana jika kita makan di toko bubur bibi Song?”

.

.

@Toko Bubur Bibi Song

“Sooyoungie..? Aigoo.. Sooyoungie.. ternyata kau memang ada disini?” Bibi Song terlihat terkejut ketika Sooyoung, Woobin dan juga Minho datang.

Bibi Song melirik sekilas pada Minho yang sudah duduk di meja makan. “Aigoo.. kau juga sudah bertemu dengan Minho? Ya.. gwenchanhie..?” tanya Bibi Song sambil memeluk gadis itu.

Sooyoung tersenyum, “Nan gwenchana bi, eumm.. nan jeongmal bogoshipeo..” ucap Sooyoung sambil membalas pelukan bibi Song sejenak.

“Heumm.. nado.., kau tahu? saat Joongki mengatakan jika kau di jodohkan dengan orang yang tidak kau kenal.., aku sangat terkejut…” ucap Bibi Song setelah dia melepaskan pelukanya.

“Aku saja masih tidak bisa mempercayainya sampai sekarang” sambung Sooyoung.

“Keureom.. Bagaimana disana, apa keluarga Yoowon baik padamu? lalu bagaimana dengan tunanganmu? apa dia tampan? apa dia baik? “ tanya Bibi Song penasaran.

Mendengar pertanyaan itu, Sooyoung melirik Woobin yang memang memesan bersamanya.

“Mereka semua baik bi, tapi.. orang yang di tunangkan denganku…” Sooyoung terlihat mengulum senyum sebelum melanjutkan ucapanya.

“Sebenarnya dia sangat kaya.. tapi dia tidak setampan Joongki Oppa bi..” Ucap Sooyoung dengan wajah sedih. Dan Woobin tentu saja langsung menatap geram pada Sooyoung.

“Kau tahu..? dia bahkan mengerikan bagiku..” Lanjut Sooyoung. Dan Woobin semakin kesal mendengarnya, sedangkan bibi Song terlihat terkejut.

“Mengerikan? wae? apa dia pemabuk? atau… dia suka bermain wanita?” tanya Bibi Song.

“Hmm.. kurasa itu juga.. tapi.. ada yang lebih mengerikan bi..” ucap Sooyoung dengan nada sedikit berlebihan. Bibi Song terlihat semakin penasaran, sedangkan Woobin hanya menatap Sooyoung murka. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.

“Dia itu.. selalu bicara padaku dengan kata-kata ‘YA SAEKKIYA’” jelas Sooyoung sambil meniru cara Woobin mengumpatnya. Mendengar itu, Woobin mengeratkan giginya. Dia terlihat sudah benar-benar geram dengan Sooyoung.

“Oh jinjjayo? aahh bagaimana ada namja sejahat itu? Ya Sooyoungie.. apa kau tahu? sebenarnya.. aku.. ingin menjodohkanmu dengan Joongki..” ucap Bibi Song. Dan Sooyoung maupun Woobin terlihat terkejut mendengarnya.

“Oh.. jinjjayo?” gumam Sooyoung sambil tersenyum malu dan menutup mulutnya. Woobin melirik Sooyoung dengan tatapan aneh saat dia melihat ekspresi Sooyoung barusan.

“Tentu saja, kurasa.. Joongki.. juga menyukaimu.., dia bahkan sering menanyakan keadaan Minho padaku..” ucap Bibi Song. Sooyoung dan Woobin kembali tersentak mendengarnya.

“Jinjja? pantas saja dia sering mengatakan jika Minho baik-baik saja..” ucap Sooyoung.

“Hmm.. tapi.. kurasa.. Joongki oppa terlalu baik untuku bi ^^” lanjut Sooyoung merendah.

“Eihh…, kenapa bicara begitu, jadi yang cocok untukmu itu tunanganmu yang sering menyebutmu saekki(bastard)?” tanya Bibi Song.

Sooyoung menggeleng, “Anhi.. kurasa.. dia.. juga terlalu baik untuku..” jawab Sooyoung pelan. Saat mengatakanya, dia terlihat sungguh-sungguh.

‘DEG’

Woobin tentu saja langsung menoleh tak percaya pada Sooyoung.

“Kenapa dia suka sekali merendahkan dirinya sendiri begitu” batin Woobin geram.

“Haahh, lagipula aku.. tidak akan benar-benar menikah dengannya.. hihi.. mungkin beberapa hari lagi.. kebohonganku sudah terbongkar” ucap Sooyoung sambil tertawa miris. Pasti yang dia maksud adalah Woobin.

“Itu bagus! kau malah bisa terlepas dari keluarga Choi itu.., dari wanita gila bernama Yoowon itu, dari perjodohanmu dan tunangan mengerikanmu itu.. dan kau bisa kembali ke Yongin untuk menemani Minho” Ucap Bibi Song dengan menggebu-gebu.

‘DEG’

Woobin terdiam, “Apa pergi dari Seoul.. akan lebih baik bagi Sooyoung?” batin Woobin.

.

.

“Pagi itu, aku berniat berangkat sekolah untuk mengurusi acara kelulusanku.., tapi preman-preman yang di hutangi ayah datang dan mengobrak-abrik isi rumah, untungnya aku sempat lari.., dan setelah itu aku memilih tinggal ditempat kerjaku..” Jelas Minho.

Sooyoung dan Woobin membuang nafas panjang. Mereka tahu.. Minho pasti kesulitan saat itu.

“Mianhae Minhoya.., karena aku tidak bisa mengirim banyak uang untukmu..” ucap Sooyoung menyesal.

Minho tersenyum, “Aniya, Akulah yang minta maaf noona.., karena semua ini.. kalian jadi harus repot-repot datang ke Yongin..” balas Minho.

‘GREBB’

Minho meraih tangan Sooyoung lalu di genggamnya erat.

“Nanti.. jika aku sudah lulus, aku akan mencari kerja dan membawamu ke tempat yang jauh dari manusia-manusia keparat itu.. “ ucap Minho pada Noonanya.

‘DEG’

Woobin sedikit tersentak mendengarnya, “Apa semua orang memang ingin Sooyoung pergi dari Seoul?” batin Woobin.

“Aniya.., kau harus kuliah Minhoya, kau tidak perlu memikirkan uang ataupun bekerja karena aku yang akan melakukanya..” larang Sooyoung.

Dan di depan mereka, Woobin hanya bisa terperangah melihat bagaimana indahnya hubungan brother kompleks antara Minho dan Sooyoung itu.

“Sooyoungie.. setelah ini kau ingin kembali ke Seoul kan? jadi kemarilah!”

Lalu mereka bertiga menoleh saat Bibi Song memanggil Sooyoung. Dengan sedikit ragu, Sooyoung berdiri dan beranjak menghampiri pada Bibi Song. Sekarang, hanya tinggal Minho dan Woobin yang diam dengan pikiran masing-masing.

“Gomapsumnida..” ucap Minho pelan.

“Mwoga?” tanya Woobin.

“Karena kau sudah menemaninya.., dan kau sudah menolongnya dari ayahku..” jawab Minho. Dan Woobin hanya menggeleng satu kali seolah dia sudah menerima ucapan terimakasih itu.

“Tapi.. ini terasa sangat aneh..” lanjut Minho sambil tersenyum tipis.

“Wae? karena ternyata kau juga seorang pembohong yang mengaku sebagai pacarnya?” tanya Woobin.

“Anhi…, untuk itu.. kurasa aku sudah melakukan hal benar” sangkal Minho sambil menoleh pada Sooyoung yang terlihat menerima sesuatu dari bibi Song.

“Lalu?” tanya Woobin sambil menatap Minho tajam.

“Kukira kau membencinya..” ucap Minho lalu menoleh pada Woobin.

“Cih.., kau menganggapnya hanya perkiraan? Jadi kau pikir aku kesini benar-benar untuk membantunya?” Tanya Woobin.

‘DEG’ Minho cukup tersentak mendengarnya.

“Hey.. kau tidak tahu apa yang akan aku lakukan setelah kami sampai disana kan?” lanjut Woobin dengan senyuman smirk.

Mendengar hal itu, Minho tersenyum remeh. “Baiklah.., jadi kau kesini hanya untuk mengetahui siapa Sooyoung Noona sebenarnya?” tanya Minho seolah mengerti.

“Apa yang akan kau lakukan jika aku mengadukan segala yang kutahu pada keluarga Choi?” tanya Woobin yang malah bertanya balik. Minho melipat kedua tanganya lalu dia bersandar pada sandaran kursi.

“Jika ditanya sebagai seorang adik yang selalu di siksa ayahnya.., aku akan sangat senang Sooyoung Noona kembali ke Yongin.., tapi.. jika ditanya sebagai adik Sooyoung Noona.., aku… tidak yakin” ucap Minho pelan.

“Wae? bukankah disana.. tidak ada seorangpun yang mendukungnya? dia bahkan tidak mendapatkan perlakuan baik dari keluarga Choi” ucap Woobin.

“Kau benar, meski kembali ke sini adalah ke inginan dia yang sesungguhnya, dan meski disana dia selalu mendapatkan perlakuan buruk dari kalian.. , tapi meninggalkan bibi Lee dan melupakan kematian Yoobi Noona, kurasa itu akan terus mengnyiksa batinya” ucap Minho. Saat mengatakanya, ada siratan prihatin dari wajah namja itu.

“Kau pikir kebohonganya bisa bertahan abadi? atau setidaknya sampai Tuan Choi meninggal? Hey.. disana ada Daniel Hyung yang memiliki otak cerdik dan licik..” ucap Woobin memperingatkan.

“Tentu saja tidak…, tapi… kurasa.. dia bisa kembali tenang jika Bibi Lee sudah bisa melupakan kejadian itu..” jawab Minho.

Woobin membuang nafas panjang. Entah apa yang sedang ia pikirkan dan rencanakan saat ini.

“Woobin-ssi…, aku tahu.. kau ataupun keluargamu ikut tersulitkan karena semua ini, tapi… bisakah aku mohon satu hal padamu..” pinta Minho.

Woobin menaikan satu alisnya sambil menatap Minho penuh tanya. “Mwo?”

“Jika kau memang ingin mengungkap semuanya pada keluarga itu, aku tidak akan melarangmu karena kau pasti juga kesal karena sudah dibohongi..” ucap Minho.

Woobin mengernyit, “Apa dia yakin dengan ini?” batin Woobin sedikit tak percaya.

“Tapi.. aku mohon padamu Woobin-ssi.. jangan biarkan satu orangpun menyakitinya atau melakukan kekerasan padanya karena pengakuanmu itu.., lebih dari apapun.. dia adalah orang yang paling sering mendapatkan kekerasan dari ayah kami..” lanjut Minho.

“Huffftt…” Woobin membuang nafas panjang. Sekarang ini, batinnya sedang berkonfliks. Dia bingung, apa yang harus dia lakukan pada Sooyoung.

.

.

‘GREBB’

Sooyoung memeluk Minho untuk terakhir kalinya sebelum dia naik ke dalam bus.

“Jaga dirimu Minhoya, jika terjadi sesuatu.. bilang saja padaku..” bisik Sooyoung.

“Kokkchongma.., kaulah yang harusnya menjaga diri karena tidak ada siapapun yang berpihak padamu disana..” sindir Minho. Ketika mengatakanya, dia melirik Woobin sejenak.

“Gwenchana.. lagipula.. sebentar lagi aku pasti kembali kesini..” Ucap Sooyoung yang secara tersirat juga menyindiri Woobin.

.

.

@Perjalanan

“Pasti kau bahagia sekali ya bisa mengejeku di depan bibi itu..” ucap Woobin.

Sooyoung menoleh pada Woobin dengan mata berbinar, “anhi.. tapi aku.. saaaaaaaaangat senang.. hihihi..” ucap Sooyoung sambil terkekeh kecil.

‘TAKK!’

Woobin menjitak kepala Sooyoung pelan.

“Awww…” Dan Sooyoung hanya bisa merintih namun dia tidak berniat membalas Woobin.

“Lagipula.. apa kerennya Joongki? kulitnya saja seperti yeoja.., dia juga pendek…” ejek Woobin.

“Ya Woobin-ssi, keren itu tidak dilihat dari penampilanya, meski dia tidak tinggi dan tidak berpenampilan manly sepertimu…tapi Joongki Oppa itu selalu berbicara dengan baik padaku..” sangkal Sooyoung.

“Ya! Kenapa kau memanggilnya Oppa sedangkan memanggil tunanganmu dengan –ssi? hey! aku ini satu tahun lebih tua darimu” ucap Woobin tak terima.

“Untuk apa? kau bahkan tidak lebih dewasa dari Minho..” ucap Sooyoung dengan santainya.

“Ya saekkiya! kau ini!“

“Lihat! kau memanggilku saekki lagi, ckckck”

“Hasshh sudahlah!”

.

.

Woobin dan Sooyoung menatap rumah Tuan Choi dari depan gerbang.

“Huffftt…”
“Hufttt..”

Tanpa sadar, keduanya membuang nafas bersamaan.

“Sooyounga..,apa yang harus aku lakukan?” Tanya Woobin pelan tanpa menoleh.

“Aku tahu.., ini semua akan terjadi, jadi.. aku akan menerima apapun yang kau pilih..” jawab Sooyoung juga tanpa menoleh.

“Kau tahu aku benci kebohongan…” ucap Woobin.

Sooyoung mengangguk, “Arra.., semua orang pasti .. membencinya..” jawab Sooyoung lagi.

“Apa kau masih bisa menganggapku.. jika aku mengatakan semuanya?” tanya Woobin lalu menoleh pada Sooyoung.

Sooyoung tersenyum tipis dan masih tanpa menoleh pada Woobin. “Wae? kau mengatakan sesuatu yang benar.. jadi aku tidak berhak marah” jawab Sooyoung santai.

“Lagipula.., kita.. tidak akan bertemu kembali setelah ini..” lanjut Sooyoung.

“Bagaimana jika aku menemuimu?” tanya Woobin lagi.

“Aku akan bersembunyi, aku akan pergi ke tempat dimana kau tidak akan bisa menemukanku..” jawab Sooyoung dengan sangat yakin.

“Huffftt..” Woobin menunduk sambil membuang nafas panjang.

‘GEEBB!’

Setelah itu, dia menggenggam tangan Sooyoung.

“Kalau begitu.. ayo kita bicara dengan Presedir Choi bersama..” ajak Woobin lalu menarik Sooyoung untuk masuk.

Sooyoung tersenyum tipis dan berusaha menguatkan hatinya.

“Gurae.. kajja” jawabnya.

.

.

TBC

.

.

Hayoloh.. mana nih NCnya?

Aaaduuhh reader kecewa nih karena ternyata ga ada NC di sini, hahaha

Maaf sebelumnya, kalo kalian nyari ff NC/17+ Jangan di blog ini. Yaa..selain aku ga berani.. kalian kan masih pelajar, jadi agak ga pantes lah kalo dibawah 17 udah baca NC.

.

Trus ff ini gimana readerdeul? aneh? jelek? typo?

mian atas semua kesalahan, tetep di tunggu tanggepanya ya, smakin dikit sider, smakin smangat nulisnya. ^^

75 thoughts on “Devious (Part 5)

  1. pajin berkata:

    sooyoung woobin momentnya banyak banget aku suka😍😍 terus sikap woobin ke sooyoungnya care tapi gengsi wkwkwk

    • Maaf ya, kalo kmu nyari ff nc, jgn di blog sya! Krena umur sya jga msh 19th. Dn sya g mau mrusak moral ank2 yg msh skolh dg ff sprti itu.

  2. fransiscafrtnta24 berkata:

    semoga woobin cinta tulus ama sooyoung deh :’)
    semoga kesalahpahaman ini cepat terselesaikan dan soobin live together forever😀
    penasaran selanjutnyaaaaa
    editannya cool bgtttt ><

  3. N.Azz berkata:

    Ciee woobin care banget sih sma sooyoung + baik bnget smpai nyelamatin sooyoung dri bpany…

    Dsini woobin dah mlai tertarik ya sma sooyoung…

  4. yani yanuari berkata:

    ahhhh in mah bner” kek baca sinopsis drama tau kaga sih, ktawa pas adaa scene yng lucu, trhura pas adaa scene sad, ashhhhhh pko’a bner” cocok buat d’jadiin drama deh kkkk~ ^^ d’tunggu next part’a min😉🙂

  5. Keikooo berkata:

    finallly! konflik yg sebenarnya baru muncul kkkk, huft, sedih juga sih lihat Sooyoung yg harus terbebani dengan sesuatu yg bahkan ggk bisa dia mengerti, tapi untungnnya ada Woobin, eiiih mereka semakin dekat sajaa, ahhhh hahaha, seperti biasa chapter ini kembali dengan feelnya yg dapet banget apalagi hubungan persaudaraan Sooyoung sama Minho di sini bener2 di jelaskan dengan penuh kasih sayang dan saling menjaga, tiba2 pengen punya kakak kayak Minho, hahha dan juga scene di toko bubur duhh haha lucu, tapi ada sedikt diksi yg tepat di part ini, seperti tersulitkan, jadi kedengarannya agak ganjil, mngkin lain kali bisa diganti sma yg lebih tepat gituh, hahah itu aja, over all baguss, tingkatkan!!

  6. ctlinebina berkata:

    tuh kan bikin greget tambah seru juga kan kan. jadi bingung mau koment apa ceritanya bikin tegang,feel nya juga dpt, suka sama sikapnya woobin di part ini, bikin senyum” sendiri .

    zelo cemburu yaa haduh ><

  7. Chansoo berkata:

    Ada yaa bapak macem gitu ?!
    Makin gak suka nih sama bapaknya soo, ya kali anak sendiri di cekik gitu, aish jinja !!
    Untung ada si ganteng
    Woobin ssi kenapa kamu keren bgt disini ?! Kenapa?! Reader sampe terlena nih 😍😍
    Oya aku juga kaget sama hasil sketsa kamu. Itu beneran kamu yg bikin ? bagus bgt. Bisa nulis trus bisa gambar. Daebak !! 👍👍

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s