Black Flower (One Shoot)

TITLE : Black Flower (One Shoot)

CAST :

  • Choi Sooyoung SNSD
  • Choi Junhong (Zelo) B.A.P

fghfj

OTHER:

  • Shin Sekyung
  • Find by yourself

GENRE : Sad, Romance, Fluffy, Songfic, Mystery

SONG BY: AKB48 -> Download MP3 (Disarankan untuk mendengarkan lagu ini saat membaca)

RATTING : PG 15

CREAT BY : H-BY

.

NB :

  • Maaf jika terdapat banyak kesalahan dalam penulisan (Typo)
  • Maaf jika terdapat kata-kata kasar/ menyinggung
  • Maaf jika terdapat kesamaan cerita
  • DON’T BE SIDER
  • DON’T BE PLAGIAT

.

Happy Reading

jkgut2

#Black Flower#

.

Ketika kelopak bunga hitam

Gugur berayunan

Itu artinya selamat tinggal

.

“Teng Teng Teng”

Denting lonceng terus terdengar, gemanya menyebar, mengiringi langkah para pengantar. Isak tangis memang sudah tiada arti, tapi air mata tetap saja mengalir tanpa henti.

“Wae? Kenapa ini semua harus terjadi pada anakku?! Hiks.. hiks.. anakku yang malaaangg!” Rintih seorang wanita paruh baya yang berjalan di barisan paling depan. Meski matanya sudah sembab dan tak lagi bisa terbuka lebar, dia tetap saja meratapi kepergian anaknya.

Benar! hanya getir dan sakitlah yang saat ini mereka rasakan. Mendatangkan rasa penyesalan yang tentunya tak lagi berguna.

.

Di dunia ini..

Ada satu..

Yang masih lengah,

Dan mudah goyah,

Bunga Takdir

.

Flashback ( 6 Month ago)

Seorang Namja terlihat melangkah keluar kelas dengan senyuman tipis. Dia sudah merelakan waktu yang biasa dia gunakan untuk tidur agar dia bisa melihat suasana sekolah barunya saat jam istirahat. Sejujurnya, dia merasa sedikit penasaran karena sekolah barunya itu berada di daerah pedesaan.

Dari balik jendela pun, dia bisa melihat indahnya pohon dan juga bukit yang ada di sekitar sekolahnya.

“Hmm.. Joha” Gumam Namja itu sambil memejamkan matanya dan menghirup udara segar.

“Brukk!!” – Lalu sebuah suara membuat mata Namja itu terbuka, dan wajahnya langsung tertoleh ke sumber suara. Sesaat dia mengernyit dan mencoba menyadari apa yang sebenarnya terjadi.

“Apa ini?” Namja tinggi itu sedikit tersentak saat dia melihat seorang yeoja dengan rambut sebahu- duduk di lantai dengan wajah menunduk. Di depan, kanan dan juga kirinya, terdapat tiga yeoja yang berkacak pinggang sambil menatapnya tak suka.

“Hey Choi Sooyoung! Kau pikir kau bisa jadi teman kami hanya karena nilaimu tertinggi?” Tanya seorang yeoja sambil mendorong kepala si yeoja lemah dengan begitu kasar.

Yeoja lemah yang tadi terjatuh itu memilih tidak menjawab, dia hanya diam dengan wajah tertunduk. Kalau tidak salah dengar, namanya adalah Sooyoung.

“Apa mereka tidak punya kerjaan? Kenapa semua sekolah selalu ada pembullyan?” gumam Namja tadi sambil menggeleng pelan. Sesaat, dia melirik sebuah tongkat yang ada di samping yeoja lemah tadi.

Dan matanya tentu saja langsung melebar, “Mereka bahkan membully orang sakit?!” batinnya seakan tak percaya.

“Ya! jawab dia! Apa kau tuli?!” Tanya yeoja lain sambil melakukan hal yang sama pada si Sooyoung.

Namja tinggi tadi menarik nafas dalam karena ada perasaan aneh yang tiba-tiba saja muncul di hatinya. Entah kenapa, hatinya merasa sesak dan sakit saat melihat ekspresi wajah Sooyoung yang sangat tersiksa itu.

Dia fikir, dia bukan satu-satunya yang merasakan hal semacam itu. Tapi ternyata.. ketika dia  menoleh ke sekeliling koridor, semua orang hanya diam. Mereka semua hanya diam dan bersikap acuh seolah yeoja yang di bully itu hanyalah binatang yang tak perlu di bela.

“Byurrr!!” – Dan ketika Namja itu kembali menoleh ke aksi pembulliyan tadi, yeoja lain terlihat menyiramkan seember air berwarna coklat ke seluruh tubuh Sooyoung.

Kejam! Mereka benar-benar kejam! Apapun yang sudah di perbuat yeoja lemah itu, mereka tidak seharusnya melakukan hal semacam ini!

“Cih! andai saja kau ini adalah daun kering yang bisa hilang saat aku menyiramu!” tutur salah satu dari mereka dengan wajah geram.

“Ya Choi Sooyoung! Kenapa kau tidak pergi saja dari sekolah in- maksudku dari dunia ini? kau harusnya sadar.. tidak ada siapapun yang menginginkanmu di dunia ini” ucap seorang yeoja paling tinggi yang sepertinya adalah pemimpin mereka.

“Ah sudahlah Sekyunga.. kau hanya buang-buang tenaga!” ucap temannya.

“Hyosung benar, sebaiknya kita pergi saja! Disini sangat bau! Aku tak kuat berada lama-lama di sini pfftt!” ucap teman Sekyung yang tadi menyiramkan air pada yeoja bernama Sooyoung itu.

Dan setelah ketiga yeoja ular tadi pergi, semua orang kembali ke aktivitas masing-masing seolah beberapa saat lalu tidak terjadi apa-apa.

Yeoja bernama Sooyoung itu melihat ke sekeliling sambil menggigit bibir bawahnya. Seperti biasa, tidak ada yang peduli padanya, tidak ada yang menganggap kehadirannya. Semua orang hanya bersikap acuh meski dia sekarat sekalipun.

Krrttt~ – Sooyoung mengepalkan tangannya dan berusaha mengumpulkan kekuatan yang tersisa.

“Sepedih inikah? Sekonyol inikah hidup yang bisa dia jalani?” dengan wajah yang kembali menunduk, tetes demi tetes air mata pun mulai mengalir di pipi chubynya.

Benar, hanya itulah yang bisa dia lakukan saat ini. Saat ini.. dan entah sampai kapan.

“DAPP!” – Merasakan kehadiran seseorang, Sooyoungpun mengangkat wajahnya dengan ekspresi bingung.

“Grebb~” – Dan ketika dia menoleh, dia melihat seorang Namja sudah duduk bersimpuh di sampingnya sambil meletakan blazer sekolah di atas tubuhnya yang masih basah kuyub.

Beberapa saat, keduanya hanya diam dan saling bertatapan.

“He.. hey, Ap.. apa yang kau lakukan? Blazermu.. bisa kotor!” ucap Sooyoung sambil berusaha melepas blazer Namja tadi. Tapi sepertinya sang pemilik blazer itu tidak setuju. Buktinya dia memegang bahu Sooyoung dengan erat dan di tatapnya yeoja itu dengan senyuman tipis.

Kajja” Ajak Namja itu dengan suara lembutnya. Tanpa rasa jijik, dia membantu Sooyoung berdiri. Dia juga mengambilkan tongkat Sooyoung sesaat setelah yeoja tinggi itu berhasil berdiri.

“He.. hey, Aa.. aku.. bisa berjalan sendiri” tolak Sooyoung ketika Namja itu berniat mengalungkan tangan Sooyoung di bahunya.

“Sepatumu basah, kau mungkin bisa kembali terjatuh..” lagi-lagi, Namja itu tidak mau menuruti ucapan Sooyoung. Dia bahkan memegang erat tangan Sooyoung sehingga yeoja itu tak bisa lagi menolak.

Kurigo.. Kau bisa mengganti kata Hey dengan Junhong saja” sambung Namja itu sambil tersenyum tipis dan mengedipkan sebelah matanya pada Sooyoung.

End Flashback

.

Layu dan membusuk..

Dia kembali ke tanah

.

Seorang yeoja hanya bisa bersembunyi di balik sebuah pohon. Dari sekian banyak manusia yang ada di bukit itu, tatapannya hanya tertuju pada seseorang. Orang itu berjalan sendirian di barisan paling belakang. Langkahnya gontai, tatapannya kosong, dan wajahnya benar-benar pucat. Berbeda dengan pelayat lainnya, orang itu memilih untuk memakai pakaian serba putih seakan dia tidak mau menerima semua kenyataan ini. Dia juga memutuskan untuk tidak memakai alas kaki- sehingga dinginnya rumput di bukit itu bisa benar-benar terasa di kakinya.

Flashback ( 5 Month ago)

Junhong berhenti melangkah dan ekspresinya wajahnya terlihat takjub. Sejenak dia menoleh pada gadis yang berdiri di sampingnya.

Benar! Gadis itu adalah Sooyoung. Sebenarnya gadis tinggi itulah yang sudah mengajak Junhong datang ketempat itu. Awalnya, Sooyoung bilang jika tempat itu sangat special sehingga Junhong langsung menyetujuinya. Dan ternyata benar, tempat yang ada di hadapannya itu saaaangatlah indah. Sama Indahnya dengan gadis yang ia pandangi itu.

Beberapa minggu setelah perkenalan pertama mereka, Junhong dan Sooyoung memang menjadi semakin dekat. Meski notabennya Sooyoung duduk di kelas tiga dan Junhong duduk di kelas satu, Junhong tetap saja bisa menyempatkan waktu untuk menemui Sooyoung. Dia bahkan bisa selalu tepat waktu ketika ada murid lain yang berniat membully Sooyoung.

“Woahh Noona! Ige.. wanjeon daebak (ini sangat keren)Puji Junhong. Dia terlihat kembali memandang hamparan bukit yang hijau dan indah itu.

Sooyoung tersenyum senang “Kau suka?” Tanya Sooyoung.

Junhong kembali tersenyum. “Eum, Neomu joha” Jawabnya dengan begitu yakin.

“Sebenarnya tempat favoritku adalah di sana Junhonga, di pohon itu” ucap Sooyoung sambil menunjuk sebuah pohon yang berada di atas bukit.

Junhong mencoba mengikuti arah tangan Sooyoung, “Aaaa… Pohon itu? pohon yang ada ayunannya itu?” Tanya Junhong memastikan. Dan Sooyoung langsung menjawabnya dengan anggukan cepat.

“Almarhum ayahkulah yang menanam pohon itu dan membuat ayunan itu untukku” jelas Sooyoung.

Aaa.. Kureohkuna? Kalau begitu ayo kita kesana!” ajak Junhong penuh antusias.

“A- Junhonga.. Chamkanman!” ucap Sooyoung sambil menahan lengan Junhong.

Junhong pun menoleh pada Sooyoung dengan ekspresi bingung. “Wae? Apa kau lelah? Atau.. kakimu sakit?” Tanya Junhong khawatir.

Bagaimana tidak khawatir? bukit yang mereka datangi saat ini berjarak cukup jauh dari sekolah jika di tempuh dengan berjalan kaki. Jadi jangan heran jika Junhong merasa khawatir terhadap keadaan kaki Sooyoung.

Sooyoung menggeleng pelan sehingga Junhong semakin bingung. “Lalu ada apa?” Tanya Junhong.

“Mmm.. begini… bisakah.. aku… minta tolong padamu?” Tanya Sooyoung malu-malu.

Dan Junhong tentu saja tersenyum gemas melihatnya, “Katakan saja Noona, jika aku bisa.. aku pasti akan melakukannya ^^” ucap Namja tinggi itu sambil membelai rambut Sooyoung dengan lembut.

Sooyoung menarik nafas dalam, “Sebenarnya.. aku.. ingin..  berjalan ke pohon itu.. dengan kedua kakiku” tutur Sooyoung sambil menolehkan wajahnya ke pohon yang dia bilang adalah tempat favoritnya itu.

Junhong tentu saja terkejut. “Mw.. mwo? Kau.. serius?” Tanya Junhong sedikit ragu.

Sooyoung mengangguk mantab, “Eoh, Aku tahu.. jika kaki kananku benar-benar lemah, tapi.. karena kau ada disini, aku yakin.. kau.. bisa membawaku kesana 🙂 ” ucap Sooyoung dengan begitu yakin.

‘DEG’ – Jantung Junhong langsung berdegup kencang ketika dia menyadari maksud Sooyoung. Sungguh, dia tidak menyangka jika Sooyoung mempercayainya sedalam itu.

“Dan aku.. juga ingin.. melepas sepatuku Junhonga, aku.. ingin merasakan.. embun yang membasahi rumput di bukit ini dengan telapak kakiku” Lanjut Sooyoung dengan sungguh-sungguh.

Junhong terlihat berfikir sejenak. Sejujurnya dia takut jika Sooyoung akan jatuh dan terluka karenanya. Tapi..

“Baiklah.. ayo kita coba” Ucap Junhong pada akhirnya.

.

Hingga suatu saat nanti

Dia tumbuh kembali

.

Setelah melepas kedua sepatunya, Sooyoung berdiri dan menghadapkan tubuhnya pada Junhong. Beberapa saat, mereka hanya diam dan saling melempar senyum. Lalu setelah itu Junhong mendekat dan mengulurkan kedua tangannya pada Sooyoung.

‘Tap’ – Dengan mantab, Sooyoung menerima uluran tangan Junhong dan menggengganya erat. Setelah itu dia bergerak sedikit maju sehingga mereka hanya menyisakan jarak beberapa centi saja.

“Kau siap?” Tanya Junhong dan di balas sebuah anggukan dari Sooyoung.

Kajja, Kita pergi kesana.. bersama ^^” Ucap Junhong sambil tersenyum lembut.

“Eum! Bersama!” ucap Sooyoung sambil balas tersenyuman manis pada namja berlesung pipi itu.

Meski saat ini.. jantung Sooyoung berdebar sangat kencang, dia tetap menyukai sensasi itu. Dan meski dia bisa jatuh kapan saja setelah ini, dia sama sekali tidak merasa takut.

Karena ada Junhong, dia merasa benar-benar kuat.

‘Greb~’ – Junghong maupun Sooyoung mengeratkan kaitan tangan mereka sebelum Sooyoung akhirnya mulai berjalan maju dan Junghong mencoba menyeimbangkan langkahnya sambil berjalan mundur.

Meski langkah mereka sangat pelan, tapi Sooyoung tersenyum karena hal itu. Sooyoung tersenyum karena dia bisa merasakan dinginnya rumput di bukit itu. Sooyoung tersenyum karena akhirnya dia bisa berjalan disana tanpa harus menggunakan tongkat. Dan Sooyoung tersenyum.. karena Junhong… tersenyum bersamanya.

Noona, Kau melakukannya dengan baik” Puji Junhong saat mereka sudah berhasil menempuh separuh perjalanan.

Jinjjayo? Ini semua berkatmu Junhonga, kau benar-benar sumber kekuatanku ^^” ucap Sooyoung sambil tersenyum riang. Sungguh, dia benar-benar bahagia karena akhirnya dia bisa merasakan rasanya berjalan dengan kedua kakinya. Dia mungkin tidak menyadari jika ucapannya tadi membuat wajah Junhong memerah. Namja itu bahkan langsung diam di tempat dengan ekspresi kosong. Aku.. adalah sumber kekuatannya?

“Brughhh!” – Karena tidak menyadari jika Junhong berhenti, Sooyoung pun menabrak tubuh tinggi itu sehingga keduanya langsung kehilangan keseimbangan dan akhirnya terjatuh di atas rumput.

Meski proses jatuh itu sangat cepat, Junhong tetap sempat untuk meringkuh tubuh Sooyoung dengan erat sehingga yeoja itu tidak terbentur tanah.

Setelah beberapa saat menikmati rasa sakit karena terjatuh, kedua orang tadi pun segera membuka mata.

‘DEG’ – Sooyoung dan Junhong langsung terdiam setelah mereka menyadari jika tidak ada lagi jarak di antara keduanya. Mereka bahkan bisa merasakan hangatnya hembusan nafas masing-masing.

Beberapa saat, mereka hanya diam seperti seseorang yang sedang di hipnotis. Mungkin benar, Junhong maupun Sooyoung sedang terhipnotis oleh sosok menawan di depan mereka. Sosok yang sadar ataupun tidak sudah memberi pengaruh besar di kehidupan mereka.

Merasa jika jantungnya akan segera meledak jika mereka berlama-lama seperti itu, Junhongpun segera melepaskan ringkuhannya pada tubuh Sooyoung dan dia segera duduk sambil bergerak sedikit menjauh.

“Aaa.. Mi.. mianhae, Aku.. aku tidak bermaksud memelukm-”

“Tidak bermaksud?” Sahut Sooyoung setelah dia sudah berhasil duduk.

Junhong terlihat salting dan kebingungan, “Anhi.. maksudku.. bukan begitu, maksudku.. adalah… aku-“

“Hahahahaha…” – Junhong langsung berhenti bicara ketika Sooyoung tiba-tiba saja tertawa dengan cukup keras.

“Kenapa.. kau tertawa?” Tanya Junhong bingung.

Sooyoung menatap Junhong beberapa saat sebelum akhirnya dia membelai rambut pirang itu. “Aigoo uri Junhongie~ Kau tahu? Kau benar-benar terlihat polos dan menggemaskan saat salting seperti ini.. hihihi” puji Sooyoung sambil terkekeh geli.

End Flashback

.

Kelopak bunga hitam

Mereka pergi untuk mati

.

Gerimis mulai jatuh membasahi rerumputan. Angin berhembus pelan dan mengiringi rasa kepedihan.

Sekali lagi, Junhong memandang sebuah peti kayu berukuran sedang yang semakin lama semakin mendekat pada sebuah liang.

“Noona” Gumamnya sambil menunduk cepat dan memejamkan mata. Sungguh, dia benar-benar tak kuasa melihat semuanya.

“Jongmal Mianhada..ttsskk..” Seiring dengan tetesan air mata yang tak lagi bisa ia bendung, Namja tinggi itupun mengepalkan tangannya sekuat tenaga hingga tangkai mawar yang ada di tangannya patah menjadi dua bagian. Dia tak peduli dengan duri di mawar itu, karena bagi Junhong.. kepergian cintanya terasa seribu kali lebih menyakitkan dibandingkan jatuh dari langit sekalipun.

“Junhonga..” Lalu sebuah panggilan membuat Junhong mengusap air matanya dengan punggung tangan. Setelah dia melirik orang itu, dia melihat Sekyung berjalan di sampingnya sambil menatapnya sendu. Junhong sendiri memilih untuk tidak menoleh dan bersikap acuh.

“Junhonga.. kau.. kau harus kuat, sama sepertimu.. aku.. maksudku.. kami semua.. juga sedih atas kepergi-“

“Cih! Sama sepertiku?” Sahut Junhong sambil tersenyum remeh. Tatapannya yang kosong dan wajahnya yang pucat membuatnya terlihat mengerikan dengan senyuman itu.

“Aan.. anhi.. maksudku.. aku tahu jika kau mencintainya lebih dari siapapun.. tapi-“

“Jika kau tahu maka tutup mulut busukmu itu! jika kau terus bicara omong kosong…” Junhong berhenti sejenak sambil menoleh pada Sekyung perlahan. Sesaat, dia menatap mata Sekyung dalam diam namun benar-benar penuh kebencian.

Junhong tersenyum smirk saat dia melihat ekspresi takut di wajah Sekyung, “Ya, kau lihat liang lahat itu kan? Kurasa sampah sepertimulah yang lebih pantas di kubur disana, dan dengan begitu.. kau bisa merasakan apa yang Sooyoung rasakan selama ini” ucap Junhong sambil menolehkan wajahnya sekilas ke liang lahat yang sebentar lagi akan terisi oleh sebuah peti mati. Saat mengatakannya.. dia tersenyum pada Sekyung. Senyuman yang sangat mengerikan.

‘DEG’ – Dan seketika, Jantung Sekyung serasa berhenti berdetak. Seluruh bulu kuduknya berdiri dan dia merasakan udara dingin yang menjalar di seluruh kulitnya.

‘Tapp!’ – Dan tanpa menjawab apa-apa lagi, Sekyung pun langsung berlari menjauh dari Junhong.

.

Kelopak bunga hitam

Tapi aku tetap hidup

.

Dari balik sebuah pohon besar, seorang yeoja berambut panjang mulai mengulurkan tangannya kearah Junhong.

Meski ekspresinya kosong dan datar, tapi air mata terus mengalir di pipinya.

Ingin rasanya dia membelai rambut namja itu, memeluknya, dan mengusap air mata yang jatuh dari mata indahnya.

Flashback ( 3 Month ago)

“Junhonga..” Panggil Sooyoung pada namja yang sekarang sedang berdiri beberapa meter di belakang ayunannya.

Wae?” Tanya Junhong bingung karena Sooyoung terlihat menghentikan laju ayunannya.

“Duduklah, kau pasti lelah” ucap Sooyoung sambil membalikan badannya.

Junhong tertawa mendengar perintah itu, “Lelah? Noona.. aku bahkan seperti mendorong ayunan kosong” ledek Junhong yang berusaha untuk menolak. Dia tahu benar jika Sooyoung menyukai ayunan itu, yeoja itu bahkan bisa tersenyum dengan begitu mudah ketika dia menaikinya.

“Udaranya mulai dingin, aku bisa flu jika terus memainkan ayunan ini” ucap Sooyoung mencari alasan lain. Entah apa tujuan dia sebenarnya, tapi Junhong akhirnya berhenti dan memilih untuk duduk di sisi depan ayunan Sooyoung.

Karena ingin merasakan hal sama, Sooyoung pun berusaha untuk turun dari ayunannya dan duduk di samping Junhong. Yaa meski dengan sedikit susah payah.. tapi dia menolak ketika Junhong berniat menolongnya.

“ Junhonga.. kau tahu kenapa tempat ini adalah tempat favoritku?” Tanya Sooyoung setelah dia duduk di samping Junhong. Saat ini, tidak ada jarak di antara mereka sehingga bahu dua orang itu saling bersentuhan.

Junhong terlihat berfikir sejenak, “Eumm.. karena kau bisa bermain ayunan disini?” Tanya Junhong dengan senyuman lebar.

Sooyoung tertawa kecil, “Anhiya~” Jawab Sooyoung sedikit kesal.

“Lalu?” Tanya Junhong yang akhirnya menyerah.

Sooyoung mengarahkan pandangannya ke sebuah bukit yang tidak terlalu jauh dari tempat mereka duduk saat ini, “Pertama.. aku menyukai tempat ini karena aku bisa melihat tempat dimana ayahku di makamkan” jawab Sooyoung.

Junhong membulatkan mata, “Jadi.. makam ayahmu berada di sekitar sini?” Tanya Junhong tak percaya.

Sooyoung mengangguk sambil menunjuk sebuah bukit yang sejak tadi memang terus ia pandangi. “Disana! Di bukit besar itulah.. semua anggota keluargaku dimakamkan” jelas Sooyoung dan dibalas anggukan oleh Junhong.

“Aku juga menyukai tempat ini.. karena aku bisa merasakan damai dan bahagia meskipun aku hanya sendiri” jelas Sooyoung sambil tersenyum tipis.

“Tapi sekarang kau punya aku, kau tidak lagi sendirian..” ucap Junhong mengklarifikasi.

Sooyoung mengangguk paham, “Kau benar, sekarang.. aku punya dirimu, tapi-“ Sooyoung terlihat diam saat dia merasakan sesuatu yang aneh di hatinya.

Junhong menoleh pada Sooyoung dengan ekspresi bingung, “Tapi…?”

“Tapi jika suatu saat nanti.. aku sudah tidak ada.., aku harap.. kau tetap datang kesini Junhonga…, tetaplah datang kesini.. sehingga aku tetap bisa melihatmu dari sana…” mohon Sooyoung sambil menoleh pada Junhong.

Junhong terdiam mendengar ucapan itu. Sungguh, darahnya langsung berdesir cepat ketika Sooyoung mengatakannya.

Shireo! (Aku tidak mau!)” Ucap Junhong sambil membuang mukanya kearah lain. Sejujurnya.. dia benci mendengar ucapan semacam itu.

“Junhonga-“

“Jika kau mati.. maka aku juga akan mati! Jika aku bisa menemanimu disini.. maka aku juga akan menemanimu disana!” potong Junhong sambil menatap Sooyoung tajam namun juga penuh kepedihan.

Dan kali ini, Sooyoung yang di buat terdiam. Dia tidak tahu jika Junhong akan mengatakan hal seperti itu padanya. Dia tidak tahu jika Junhong akan seserius itu terhadap hubungan mereka.

“Grebb~” – Mencoba menghilangkah amarah, Junhongpun menarik tubuh Sooyoung lalu didekapnya yeoja kurus itu kedalam pelukannya.

Noona, Kau tahu jika aku sangat mencintaimu kan? jadi berhentilah bicara seperti itu! Sampai kapanpun kita akan terus bersama! Jadi.. mulai sekarang.. jangan lagi berbicara tentang perpisahan, Eoh?” mohon Junhong dengan suara lirih. Sepertinya dia terlalu takut dengan ucapan Sooyoung tadi.

Sooyoung melepaskan pelukan Junhong agar dia bisa menatap namja itu, “Arraseo! Kita akan selalu bersama. Maafkan aku ya, aku tidak seharusnya bicara seperti itu tadi.. ” Ucap Sooyoung mencoba menenangkan Junhong.

Junhong membuang nafas panjang dan berusaha meredakan amarahnya. Beberapa saat, dia hanya diam dan memilih untuk menatap Sooyoung. Dan seiring dengan angin yang berhembus lembut, Junhongpun mulai menggerakan tangannya untuk membelai rambut Sooyoung. Dia juga menyibakan beberapa helai rambut yang menutupi mata cantik yeoja itu- sebelum akhirnya dia beralih memegang pipi Sooyoung.

Sungguh, Junhong tidak bisa membayangkan ucapan Sooyoung tadi. Membayangkan jika Sooyoung pergi meninggalkannya dan dia harus duduk di bukit itu sendirian. Baginya, perasaan yang dia rasakan terhadap Sooyoung sudah benar-benar terikat dan tak bisa terlepas lagi. Bagi Junhong, Sooyoung adalah urat nadinya.

Sooyoung sendiri memilih untuk diam dan menikmati sentuhan lembut Junhong. Tidak bisa di pungkiri, Sooyoung memang menyukai Namja itu. Bukan karena wajahnya yang tampan, tubuhnya yang tinggi, kulitnya yang putih, ataupun kelebihan lain yang dimiliki Junhong. Tapi.. sikap lembut namja itulah yang membuat siapapun meleleh termasuk dirinya. Terlebih lagi.. Junhong sama sekali tidak menjauhinya meskipun dia cacat dan menjadi pecundang di sekolah.

Seakan ditarik oleh sebuah magnet, Junhongpun mulai mendekatkan wajahnya pada Sooyoung secara perlahan. Sooyoung bahkan bisa merasakan hangatnya nafas Junhong dan aroma parfume citrus dari tubuh namja itu.

Seiring dengan semakin dekat jarak diantara wajah mereka, Junhong dan Sooyoung pun mulai memejamkan mata dan merasakan sensasi kupu-kupu yang beterbangan di perut mereka ketika bibir mereka akhirnya bertemu dan saling menyatu.

Sama seperti ketika Junhong memperlakukan Sooyoung, ciuman namja itupun terasa begitu lembut dan sama sekali tidak ada nafsu yang berlebihan. Dan Seperti ciuman pada umumnya, bibir merekapun mulai berpagutan secara seirama. Hanya saja.. jauh di dalam hati Sooyoung, dia bisa merasakan dalamnya rasa cinta Junhong dan ketulusan namja itu untuknya.

Setelah dikiranya mereka membutuhkan oksigen, Junhongpun melepaskan ciuman itu secara perlahan. Meski bibir mereka tak lagi menyatu, tapi tangan Junhong tetap bertengger lembut di pipi Sooyoung dan dahi mereka bersentuhan.

Sooyoung mulai membuka mata dan di tatapnya mata Junhong yang hanya berjarak 2 cm didepanya itu. Entah kenyataan atau karena dia sedang jatuh cinta, tapi dimatanya.. Junhong tetap terlihat sangat tampan meski dia melihatnya dari jarak sedekat itu.

“Kau juga harus tahu Junhonga, aku.. sangat mencintaimu..” ucap Sooyoung lirih.

Mendengar hal itu, Junhong pun tersenyum sebelum akhirnya dia kembali menyatukan bibir mereka.

End Flashback

.

Cinta merupakan doa

Sesuatu yang diharapkan

.

Peti kayu mulai di turunkan, memenuhi liang lahat yang mulai basah karena terkena air hujan. Seiring dengan di tanah yang dijatuhkan untuk menutupi peti itu, isak tangispun terdengar semakin kencang.

Namun.. disaat orang lain menangis tersedu-sedu, Junhong malah memilih untuk diam. Dia menatap setiap pelayat dengan ekspresi penuh kebencian.

“Air mata busuk kalian.. Air mata yang tak berguna!”

“Air mata palsu kalian.. hanya membuatku ingin muntah”

“Air mata tak berguna kalian.. hanya membuatku ingin mencabut bola mata kalian!”

Flashback ( 1 Month ago)

“Choi.. Junhong?” – Junhong menghentikan langkah ketika seseorang memanggil namanya. Dan ketika dia membalikan badan, Junhong melihat seorang yeoja berrambut pendek sedang menatapnya dengan ekspresi aneh.

“Kau memanggilku?” Tanya Junhong sedikit bingung.

Yeoja itu mengangguk cepat, “Eumm.. apa benar.. kau.. adalah pacar Sooyoung?” Tanya yeoja ber-bedge nama Jieun itu.

Junhong mengernyit, “Benar, aku namjachingunya.. ada apa? Kenapa kau menanyakan hal itu?” Tanya Junhong curiga.

“Begini.. aku adalah Jieun, teman satu kelasnya, aku hanya ingin memberitahumu.. jika.. jika sesuatu mungkin sedang terjadi pada Sooyoung!” ucap Jieun dengan ekspresi yang berubah panik.

Junhong tentu saja terkejut mendengarnya, “Mwo?!” Pekik Junhong yang tentu saja ikut panik.

“Tadi.. aku.. aku tidak sengaja melihat Sekyung dan teman-temannya menarik Sooyoung secara paksa! kurasa.. mereka membawa Sooyoung ke atap!” Ucap Jieun menjelaskan.

DAPP!’ – Tanpa bicara apa-apa lagi, Junhong tentu saja langsung berlari untuk menyelamatkan Sooyoung.

Saat Junhong tak terlihat lagi, Jieun pun membuang nafas panjang. Setelah itu, dia meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang.

“Hyosunga.. dia sudah berlari kesana”

@Atap

“Kau pasti senang kan Sooyounga? Sekarang.. kau punya seorang pacar yang selalu melindungimu, menggendongmu dan memperlakukanmu seperti gadis normal” ledek Sekyung pada seorang gadis yang sekarang duduk di sebuah kursi dengan kedua tangan yang di ikat kebelakang.

“Apa maumu?” Tanya Sooyoung dengan ekspresi tajam sehingga semua orang terkejut melihatnya. Sungguh, ini pertama kalinya Sooyoung membalas ucapan Sekyung ketika dia di bully seperti itu.

“Woow, sepertinya cinta mereka sangat kuat Sekyunga! Buktinya gadis ini berlaga sok kuat sehingga dia berani menjawabmu” ucap Choa sambil tertawa remeh.

Sekyung tersenyum smirk, “Kau sangat mencintainya eoh? Kau pasti berharap dia akan datang kesini” ucap Sekyung sambil memegang kerah baju Sooyoung dengan lembut.

Sooyoung menatap tangan Sekyung yang mulai menyentuh kancing seragamnya. “Mwo.. mwohaneungeoya?” Tanya Sooyoung dengan mata berkaca-kaca.

Sekyung kembali tersenyum smirk, “Aku ingin tahu.. apa dia akan tetap mencintaimu setelah foto telanjangmu tersebar di internet” bisik Sekyung sambil terus membuka kancing baju Sooyoung.

Sooyoung membulatkan mata dan air matanya mulai mengalir, “Jeba.. jebal! Hajima!” Mohon Sooyoung sambil menggerak-gerakan tubuhnya.

“Uuu… tubuhmu bagus juga” puji Hyosung dengan senyuman remeh.

“Benar, sepertinya aku rela jika namchinku menikmati tubuhnya disini.., kau juga mau kan Jongin-a?” Tanya Choa pada namja yang saat ini berdiri di depan pintu.

Keureom, Jika kau mengijinkannya.. tentu aku akan melakukannya dengan senang hati” ucap Jongin sambil merangkul temannya yang juga sedang berdiri di dekat pintu.

Dan ucapan itu tentu saja membuat Sooyoung semakin ketakutan. Apalagi Hyosung mulai mengeluarkan ponselnya dan memotret tubuhnya yang setengah telanjang itu.

“Hentikaaann!!!” pekik Sooyoung sekeras mungkin. Dia tidak tahu apakah akan ada seseorang yang menolongnya. Tapi setidaknya.. dia tetap harus berusaha menyelamatkan dirinya sendiri.

“BRAKKK!!” – lalu suara pintu yang terbuka membuat semua orang menoleh termasuk Sooyoung.

“Aaaa.. dia datang juga” bisik Choa sambil tersenyum smirk.

Benar, seseorang baru datang itu adalah Junhong. Sesaat, dia menatap semua orang yang ada di atap itu sebelum akhirnya dia menoleh pada Sooyoung. Dan dia terlihat cukup terkejut melihat keadaan Sooyoung saat ini.  Apalagi.. Sekyung, Hyosung maupun Choa malah sengaja memotret dan memperlebar bukaan seragam Sooyoung.

“Dasar jalang!! Singkirkan tangan kalian darinya!!!” pekik Junhong sambil berlari menghampiri Sooyoung dengan rasa amarah yang telah mencapai ubun-ubun. Tapi sayangnya, tiga namja yang sejak tadi berdiri di depan pintu langsung menghalangi jalan Junhong.

“Arrgghhh!! Minggir kalian!!” pekik Junhong sambil memukul semua namja itu tanpa ampun. Sungguh, dia sama sekali tidak peduli jika dia akan membunuh seseorang setelah ini. Karena yang dia pikirkan hanyalah melepaskan Sooyoung dari iblis-iblis itu.

Benar saja, seolah sudah gelap mata, Junhong memukuli semua namja tadi tanpa ampun. Salah satu dari mereka bahkan ada yang pingsan karena kepalanya terbentur dinding pembatas atap.

“Wow! Junhong-ssi.. kau pasti sangat mencintai gadis pincang ini” ejek Sekyung sambil menghalangi Junhong  yang sekarang sudah berdiri didepannya.

“Benar! Aku sangat mencintainya! Aku sangat mencintainya sehingga aku bisa saja membunuh seseorang jika dia berani melukai Sooyoungku!” ancam Junhong dengan wajah murka.

Sooyoung pun mengangkat wajahnya dengan ekspresi tak percaya. Junhongnya yang selama ini bersikap lembut dan manis sekarang berubah menjadi sangat mengerikan… karenanya.

“Woahh aku sangat terkes-“

‘TAPP!’ – “BRUKK!!”- Tanpa mengizinkan Hyosung berbicara, Junhong langsung menarik kerahnya dan mendorong tubuh gadis itu sembarang. Dan hal itu tentu saja membuat Choa maupun Sekyung membulatkan mata dan berubah ketakutan.

“Hyosunga” ucap Choa sambil membantu temannya itu untuk berdiri.

“Ya! bagaimana bisa kau melukai seorang yeoj-“

‘PLAKK!!’ – Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Sekyung sehingga gadis itu terdiam membeku. Benar, Junhong menamparnya. Namja itu memukulnya tanpa mempedulikan jika dia adalah yeoja.

“Jika kau bisa memperlakukan yeoja lain seperti ini- lalu kenapa aku tidak bisa memukul kalian?!” Tanya Junhong balik.

‘TAPP’ – Junhong maju sehingga tubuhnya dan tubuh Sekyung hampir sepenuhnya bersentuhan.

“Manusia diperlakukan seperti manusia, kotoran diperlakukan seperti kotoran, dan dimataku.. kalian lebih menjijikan dari kotoran!” bisik Junhong tepat di telinga Sekyung.

‘Tapp!’ – Sebelum Junhong mundur, dia menyempatkan diri untuk mengambil ponsel di tangan Sekyung. Setelah itu, dia mengambil memory card yang ada di dalamnya, dan..

‘KRAAKKK!!’ Dia menjatuhkan ponsel itu dan menginjaknya sekuat tenaga hingga ponsel tersebut pecah. Dan Sekyung tentu saja langsung menutup mulutnya dengan ekspresi syok. Begitu juga dengan Choa maupun Hyosung.

“Pergi jika kalian tidak ingin wajah kalian rusak seperti ponsel ini” ancam Junhong sambil menatap semua orang di atap itu dengan tajam.

Melihat bagaimana perlakuan Gore Junhong ketika dia marah- tentu saja membuat semua orang pergi dari tempat itu tanpa harus berfikir panjang.

Hingga akhirnya.. hanya ada Junhong dan Sooyoung disana.

Beberapa saat, mereka hanya diam tanpa menatap satu sama lain. Jika Sooyoung memilih untuk menunduk, Junhong sendiri memilih untuk mendongakkan wajah agar air matanya tidak keluar. Sejujurnya.. amarah Junhong sama sekali belum reda. Sejujurnya.. dia ingin sekali melemparkan semua orang tadi dari atas sana.

“Hiks.. Hiks..” Lalu suara isak tangis Sooyoung memecahkan keheningan, kesedihan yang gadis itu rasakan bisa terdengar sangat jelas dan menghancurkan hati Junhong menjadi brkeping-keping.

Sungguh, dia sama sekali tidak tega melihat keadaan Sooyoung saat ini. Baginya.. gadis itu terlalu berharga untuk dilukai dengan cara sekejam ini. Tapi mengingat jika tangan Sooyoung masih terikat dan seragamnya masih terbuka, Junhongpun segera melepas ikatan tersebut sebelum akhirnya dia berlutut di depan Sooyoung.

Dengan tangan bergetar dan air mata yang mulai mengalir, Junhong mengancingkan seragam sekolah Sooyoung satu persatu. Saat ini, yang ia pikirkan bukanlah indahnya tubuh Sooyoung melainkan bagaimana perasaan yeoja itu setelah dilecehkan seperti tadi.

Mi.. mianhae…, Aku.. aku tidak bisa… melindungimu…” ucap Junhong dengan suara bergetar. Dia terlihat menunduk sambil menutupi kedua matanya dengan telapak tangan.

Dia memang seharusnya tidak menangis, dia seharusnya bersikap kuat agar Sooyoung tidak terpuruk teralu dalam, tapi.. tapi ini terlalu menyakitkan baginya.

Melihat namja yang ia cintai menangis seperti itu- tentu saja membuat Sooyoung semakin terisak. Junhong bahkan tidak melakukan kesalahan, tapi dia harus merasakan penyesalan seperti ini.

“Ak.. aku.. seharusnya.. aku-“

‘Grebbb~’- Dengan isakan yang semakin menjadi, Sooyoungpun memilih untuk memeluk tubuh Junhong dengan erat. Baik dia maupun Junhong memang sama-sama membutuhkan ketenangan. Dan baginya.. berpelukan adalah pilihan terbaik untuk melepaskan rasa sakit di hati mereka.

End Flashback

.

Hanya perasaanlah..

Yang akan terus abadi…

.

Flashback ( 1 week ago)

Sooyoung membalikan badan ketika Junhong telah tiba di atap. Tidak seperti biasanya, gadis itu memilih untuk menatap Junhong dengan tatapan tajam.

Noona-“

“Wae? kenapa kau melakukannya? Kenapa kau tidak mengatakan yang sebenarnya?” Tanya Sooyoung dengan mata berkaca-kaca.

Junhong hanya diam. Karena jika dia mengatakan alasannya.. Sooyoung pasti akan merasa semakin bersalah.

Flashback (From Flashback’s part)

‘Tapp!’ – Sekyung melempar sebendel foto ke meja Junhong. Dan mata Junhong langsung membulat ketika dia melihat foto setengah telanjang Sooyoung disana.

“Cih! kau pikir hanya aku yang memotretnya saat itu?” Tanya Sekyung remeh.

‘BRAKK!’ – Junhong berdiri sambil menggebrak meja. Untung kelas sudah berakhir sehingga tidak ada siapapun yang tekejut karenanya.

“Apa maumu sebenarnya?! Apa pelecehan kalian terhadapnya masih belum cukup?!” Tanya Junhong murka.

“Karena kedatanganmu.. kami kehilangan mainan kami” ucap Sekyung dengan ekspresi berubah tajam.

Junhong mendesah tak percaya, “Mainan?! Ya! Dia itu manusia! Dia bukan boneka! Dia punya hati dan perasaan! Dia-“

“Jika kau peduli pada perasaannya.. maka menyerahlah” potong Sekyung.

“Mwo?!” Tanya Junhong tak mengerti.

“Mengakulah jika kau memang sudah memukuli kami, mengakulah jika kau bersalah-“

“AKU TIDAK BERSALAH!” Pekik Junhong sambil menarik kerah baju Sekyung.

Sekyung kembali tersenyum smirk, “Kalau begitu.. aku akan menyebarkan foto ini ke internet dan grup chat sekolah ini”

End Flashback (From Flashback’s part)

“Aku tidak bisa melakukan apa-apa, ayahku terlalu murka sehingga-”

“Cih! Tidak bisa melakukan apa-apa?” potong Sooyoung dengan senyuman miris. Sesaat dia mengusap air matanya yang kembali menetes.

“Kenapa kau tidak memanggilku?! Aku bisa bilang pada kepala sekolah tentang semua itu! aku-”

Noona, Kumohon kau tenang dulu, aku tahu aku akan pergi, tapi kita masih bisa-“

“Bagaimana aku bisa tenang jika kau dikeluarkan dari sekolah ini karena menyelamatkanku?! Bagaimana… bagaimana aku bisa tenang.. saat kau.. hiks… Saat kau.. akan pergi ke Luar Negeri dan meninggalkanku sendiri disini?!” Tanya Sooyoung setengah memekik. Junhong bahkan cukup tersentak mendengarnya.

Namun meski saat ini hati Junhong tak kalah bergejolak, dia tetap berusaha untuk bersikap tenang. Dengan hati-hati dia beranjak untuk mendekat pada Sooyoung, Tapi..

‘TAPP!’ – Tapi tenyata Sooyoung mundur dan mencoba menghindari sentuhan Junhong.

“Kau sendiri yang bilang- kita akan selamanya bersama! Kau sendiri yang bilang.. jangan pernah memikirkan tentang perpisahan! Tapi- Tapi apa yang kau lakukan? Kenapa kau tega meninggalkanku sendiri disini, KENAPA?!” Pekik Sooyoung semakin keras.

Junhong mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ingin rasanya dia memukul wajahnya sendiri karena sudah membuat Sooyoung menangis seperti ini. Bajingan kau Choi Junhong!!

“Kau.. hiks.. kau adalah sumber kekuatanku Junhonga.. hiks..hiks…, Jika.. jika kau pergi.. meninggalkanku.. lalu bagaimana aku bisa hidup?” Tanya Sooyoung dengan suara yang memelan.

Entah kenapa, ucapan terakhir Sooyoung membuat Junhong memberanikan diri untuk kembali mendekat. Dia bahkan memegang kedua bahu Sooyoung dengan kuat sehingga yeoja itu tak bisa lagi untuk mundur.

“Junhonga.. Jebal.. khajima..” Mohon Sooyoung dengan suara parau dan tatapan sendu.

‘Tapp!’

‘Chu~’ – Karena Junhong tak lagi kuasa untuk menjawabnya, namja itupun memutuskan untuk mencium Sooyoung dan mengunci bibir gadis itu dengan bibirnya. Berbeda dengan biasanya, kali ini ciuman Junhong terasa lebih kasar karena emosi terpendam yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.

Dan tidak pula seperti biasanya, kali ini.. Sooyoung pun mencoba menolak ciuman Junhong. Dia bahkan mendorong dan memukul dada Junhong beberapa kali sebelum akhirnya dia kalah dan mulai membalas ciuman Junhong tak kalah kasar.

End Flashback

.

Kelopak bunga hitam

Jikalau mereka berceceran

.

Junhong meremas sebuah kertas yang berada di tangannya yang lain.

Bagi Junhong, kertas itu adalah segalanya…

Karena berkat kertas itu..

Dia akan bertemu dengan Sooyoung lagi..

Entah kapan..

Entah bagaimana..

Mungkin.. setelah dia membalaskan semua dendamnya..

Mungkin.. setelah Junhong menghancurkan semua keparat itu..

Kemanhae.. Junhonga..”

‘DEG’ – Mata Junhong membulat.

Flashback (1 day ago)

@Bandara Incheon

Mr. Choi melirik Junhong yang terus saja diam dengan wajah dingin.

“Berhenti memikirkan gadis itu! dia cacat! Tidak ada yang bisa kau harapkan darinya! Dia juga sudah membuatmu menjadi anak nakal yang-“

“Jangan berbicara buruk tentangnya jika Ayah tidak ingin aku kembali kesana! Ayah tidak bisa menilai orang dari fisiknya! Dia gadis baik! Dia membuat hidupku lebih berarti! Dan Ayah harus tahu.. anakmu Junhong sudah mati sesaat setelah dia pergi dari sekolah itu! Ayah tahu kenapa? Karena nyawa Junhong berada disana! Di hati gadis cacat bernama Choi Sooyoung” ucap Junhong.

Mr. maupun Mrs. Choi tentu saja cukup terkejut mendengarnya. Mereka sepertinya baru menyadari betapa dalamnya perasaan Junhong terhadap Sooyoung.

“Setiap hari.. dia di bully dan di permalukan di depan semua orang! Tidak ada satupun yang membelanya, tidak ada satupun yang mau menjadi temannya” Jelas Junhong dengan mata berkaca-kaca.

“Lalu apa salahnya jika aku berusaha melindunginya? Apa salahnya.. jika aku memukuli orang-orang yang sudah dengan tega menelanjanginya, memotretnya, dan berniat menyebarnya di internet? Apa salah kami ayah?” Tanya Junhong pada namja yang sekarang duduk di sebelah kanannya.

Mrs.Choi terlihat merangkul Junhong, “Kau tidak salah Junhonga.. , kalian sama sekali tidak salah, Jika kau mencintainya.. yakinlah.. suatu saat.. kalian pasti akan bersatu kembali” ucap Mrs. Choi dengan lembut.

“Berhenti bersikap cengeng! Lagipula kalian bisa tetap berkirim pesan, dan jika dia mau.. dia bisa menyusulmu ke Amerika” sambung Mr.Choi dengan suara yang juga melembut.

Junhong terdiam beberapa saat, “Berkirim Pesan? Ah! Surat dari Sooyoung!”

Setelah teringat sesuatu, Junhongpun segera meraik sebuah surat yang ada di saku hoodienya. Benar, surat dari Sooyoung sebelum dia pergi ke bandara.

@Other Side:

‘TAKK!’ – Seorang gadis menjatuhkan tongkat yang biasa ia gunakan untuk berjalan.

Untuk Cintaku: Junhong

Setelah itu, dia berjalan secara perlahan-lahan menuju dinding pembatas tepi atap.

 Junhonga…

Kau tahu betapa bahagianya aku ketika kau masuk ke dalam hidupku, Junhonga?

Rambut panjangnya tertiup angin. Helaian indahnya melambai-lambai dan sesekali menutupi wajah cantiknya.

Setiap hari..

Aku selalu memikirkanmu Junhonga..

Setiap hari..

Aku bisa tersenyum meski hanya mengingat wajahmu Junhonga..

Selangkah demi selangkah, gadis itu mulai mencapai tepi atap.

Karenamu Choi Junhong..

Aku jadi sadar.. jika orang cacat sepertiku juga bisa merasakan cinta

Dan karenamu juga Choi Junhong..

Aku jadi sadar.. jika aku bisa memiliki alasan untuk hidup

Seiring dengan langkah kakinya yang lemah, tetes demi tetes air pun mengalir lembut di pipinya.

Terimakasih Junhonga..

Karena kau sudah menjadi kakiku, hatiku, dan juga kekuatanku

Terimakasih..

Karena kau mau menerimaku apa adanya

Meski sedikit kesulitan, tapi akhirnya gadis itu berhasil naik dan bisa berdiri di dinding setinggi 1.5 meter itu.

Maaf Junhonga..

Maaf karena hidupmu menjadi sulit karenaku

Maaf karena aku tidak bisa bertahan dan menjadi kuat seperti saat kau bersamaku

Choi Sooyoung, gadis tinggi yang berdiri di dinding pembatas itu terlihat merentangkan kedua tangannya ke samping.

Junhonga..

Jika kau kembali ke Korea..

Datanglah ke bukit dan lihatlah aku dari sana..

Gadis itu memejamkan mata, menikmati hembusan angin malam yang menusuk tiap pori-pori kulitnya.

Aku mencintaimu, Junhonga..

Lalu hingga pada akhirnya, dia mengayunkan tubuhnya kedepan. Mencoba pergi ke kehidupan yang lebih baik. Ke kehidupan dimana tidak ada yang membullinya dan merampas kebahagiaannya.

.

Kelopak bunga hitam

Maka aku akan mencarinya

.

Junhong membulatkan mata setelah dia selesai membaca pesan itu.

“Apa ini? apa.. dia.. berniat bunuh diri?” Junhong langsung berdiri dengan wajah panik.

Waegurae?” Tanya Mr. Choi bingung.

“Ayah, aku.. aku harus kembali.. , Sooyoung.. sepertinya.. sepertinya dia mencoba melakukan bunuh di-“

‘Beeb Beeb’ – Junhong terdiam ketika ponselnya tiba-tiba bordering. Dan dia mengernyit ketika melihat nama Daehyun disana.

Yoboseyo Hyung, ada apa?” Tanya Junhong pada kakak kelasnya itu.

“Junhonga.. kau dimana sekarang?” Tanya Daehyun.

“Aku? Aku masih dibandara, pesawatku delay dan-“

“Kalau begitu kembalilah kesini! Choi Sooyoung.. yeojachingumu- dia bunuh diri dari atap gedung sekolah sore ini”

‘TAKKK’ – Ponsel Junhong terjatuh begitu saja di atas lantai. Bunuh diri?

“Ada apa Junhonga?” Tanya Ibu Junhong dengan ekspresi khawatir. Bagaimana tidak? Putranya tiba-tiba saja diam dengan ekspresi kosong, namun air matanya terlihat mengalir.

“Ayah.. ibu.. maafkan aku.., tapi.. aku harus pergi” pamit Junhong sebelum dia melangkahkan kakinya.

End Flashback

Kemanhae.. Junhonga..” – Bisik seseorang sehingga mata Junhong langsung membulat.

“Semuanya sudah berakhir.. jadi kau bisa berhenti sekarang” Lanjut suara lembut itu entah dari mana.

Junhongpun menoleh ke kanan dan kekiri untuk memastikan jika suara itu adalah suara gadisnya. Dia harap suara itu memang suara Choi Sooyoung.

“Junhonga…” panggil orang itu lagi. Namun kali ini- suara terdengar lebih jelas sehingga Junhong bisa langsung tahu darimana suara itu berasal.

‘DEG’ – Dan mata Junhong langsung membulat ketika dia melihat seorang yeoja berrambut panjang dan berbaju serba putih sedang melambaikan tangan padanya dengan senyuman yang begitu manis. Gadis itu berdiri tegap di dekat sebuah pohon yang sangat familiar.

“Sooyoung Noona?” gumam Junhong setengah tak percaya.

Sooyoung terlihat berjalan menghampirinya sambil tersenyum manis. Dia tak lagi memakai tongkat ataupun berjalan dengan pincang karena kedua kakinya terlihat sangat normal.

Merasa tak sabar, Junhongpun berlari menghampiri Sooyoung dan memeluk tubuh gadis itu dengan erat. Sesungguhnya, dia sangat merindukan Sooyoung. Dia rindu senyum, tawa dan juga suaranya. Dia merindukan segala hal tentangnya.

Noona.. aku sangat merindukanmu, aku kira.. aku.. tidak akan bisa lagi bertemu denganmu” ucap Junhong sambil mengeratkan pelukannya.

Nado Junhonga” balas Sooyoung sambil memeluk Junhong tak kalah erat.

Junhong melepaskan pelukannya lalu di tatapnya Sooyoung dengan ekspresi kesal, “Kenapa kau melakukannya?! Apa kau bodoh?  Kau tahu aku sangat ketakutan saat itu!” omel Junhong.

Sooyoung tertawa kecil, “Mianhae, Aku hanya terlalu lelah menjadi boneka mainan mereka” ucap Sooyoung sambil menatap Sekyung cs yang masih berdiri di dekat makamnya.

.

Kelopak bunga hitam

Aku ingin tahu..

Mengapa mereka menangis?

Dan siapa yang akan gugur selanjutnya?

.

Other Side:

Para pelayat mulai bepergian. Mereka meninggalkan makam bertuliskan Choi Sooyoung setelah pendeta selesai membacakan doa untuk kepergiannya.

“Yaa.. bagaimana jika Junhong balas dendam pada kita?” bisik Choa pada Sekyung.

“Benar, kalian lihat tatapannya tadi kan? Dia bahkan lebih mengerikan dari pembunuh ataupun hantu” sambung Hyosung dengan ekspresi tak kalah takut.

Sekyung sendiri terlihat hanya diam. Entah kenapa ancaman Junhong tadi masih terus terngiang di otaknya sehingga tubuhnya terus berkeringat dingin dan nafasnya sedikit sesak.

“YA YA YA! Ada berita heboh!” pekik Jongin sambil berlari menghampiri ketiga gadis tadi.

“Ssst yeobo! Pelankan suaramu! Kita masih berada di area makam!” ucap Choa mengingatkan.

“Aa mianhae Noona, tapi.. tapi ini berita yang sangat menggemparkan!” ucap Jongin masih dengan nada excited-nya.

“Ya! berhenti bicara omong kosong dan katakan isi beritanya!” omel Himchan, namjachingu Hyosung.

“Ya, kalian tahu namjachingu Choi Sooyoung? Dia.. dia adalah namja yang mengamuk di atap dan memukul Himchan hingga pingsan itu!” ucap Jongin.

Wae? Memang ada apa dengannya?” Tanya Himchan.

“Sttt! Jangan bicara keras-keras, bagaimana jika dia mendengar!” ucap Hyosung memperingatkan.

Dan entah kenapa, Jongin langsung tertawa mendengarnya, “Noona,.. bercandamu tidak lucu! mana mungkin orang yang sudah meninggal bisa mendengar pembicaraan kita? hahahaha” ejek Jongin sambil tertawa semakin keras. Beberapa pelayat bahkan meliriknya dengan tatapan sinis.

‘DEG’ – Dan semua mata tentu saja langsung membulat mendengarnya.

“Ap..apa.. apa maksudmu meninggal? Dia tadi datang kesini! Tadi aku bicara dengannya!” ucap Sekyung menyangkal. Meski begitu, tidak bisa di pungkiri jika ada rasa takut yang tiba-tiba menyelimuti hatinya.

Jongin tentu saja ikut bingung, “Mwo? Hahahaa ya Tuhan mana mungkin dia datang kesini disaat mayatnya sedang terbaring di kamar jenazah?” sangkal Jongin yang lagi-lagi kembali tertawa.

“Jongin bercandamu tidak lucu! Apa yang kau baca sebenarnya!” omel Choa sedikit kesal dan juga takut.

“Ahhh aku bacakan ya beritanya, ‘Seorang siswa SMA Hanbyeol bernama Choi Junhong mengalami kecelakaan mengenaskan di jalan dekat Bandara Incheon’” ucap Jongin.

“Dari chatroom sekolah yang aku baca, saat itu dia masih berada di Bandara, setelah dia mendengar kabar bahwa Choi Sooyoung bunuh diri.. dia langsung membatalkan keberangkatannya ke Amerika dan memilih untuk kembali Hanbyeol, tapi sayangnya.. di tengah perjalanannya kesini, dia tertabrak sebuah truk dan langsung meninggal di tempat” sambung Jongin dengan begitu polosnya. Sepertinya dia tidak menyadari jika semua orang langsung terdiam setelah mendengar ceritanya. Sungguh, bulu kuduk ketiga gadis pembully tadi langsung berdiri karena mereka tidak bisa menalarkan semua ini.

Other Side:

“Kita harus memaafkan mereka Junhonga.., itu satu-satunya cara agar kita bisa pergi dengan tenang” ucap Sooyoung pada namja yang sejak tadi terus menatap Sekyung Cs dengan tatapan penuh kebencian.

Tapi setelah mendengar nasihat Sooyoung, Junhongpun langsung menoleh padanya dengan senyuman tipis. Senyuman manis yang selalu menampakan lesung pipi di pipi kanannya.

“Kau tahu apa yang membuatku bisa pergi dengan tenang?” Tanya Junhong.

“Wae? karena kau sudah memaafkan mereka?” Tanya Sooyoung mencoba menebak.

Junhong menggeleng, “Aku bisa pergi dengan tenang.. karena aku memenuhi janjiku”

Sooyoung mengernyit, “Janji? kau berjanji sesuatu padaku?” Tanya Sooyoung tak ingat.

Junhong mengangguk mantab, “Eum! janji untuk selalu bersamamu, menemanimu, dimanapun.. dan kapanpun..” jelas Junhong sambil membelai rambut Sooyoung pelan.

“Chu~” – Sooyoung mengecup pipi Junhong sekilas untuk mengungkapkan rasa terimakasihnya.

“Chu~” – Dan Junhongpun membalas ciuman itu dengan sebuah ciuman singkat di bibir Sooyoung sehingga keduanya langsung tertawa bersama.

Bagi mereka.. tidak ada lagi yang lebih membahagiakan dari pertemuan ini.

“Kajja.. kita pergi kesana.. bersama!” ucap Junhong sambil menggenggam tangan Sooyoung erat.

Sooyoung tersenyum dan mengangguk mantab, “Bersama! ^^”

.

.

END

.

.

Gimana readerdeul? aneh? gaje? ga ngefeel?

duh maaf ya kalo masih banyak kecacatan. Maaf juga kalo ceritanya terlalu aneh hehehe

apapun itu, tolong kasih tanggepannya ya kalo kalian udah baca semua. aku nulis ini sampe jam 3 malem lho, nulisnya sambil merinding2 gimana gitu. hahaha

.

.

Gitu aja yah, sampai bertemu di FF selanjutnya ^^

Iklan

32 thoughts on “Black Flower (One Shoot)

  1. Rabiah berkata:

    Bikin sedihhh …kurang hajar pembully tue.. part yg sooyoung kena buka baju.. huhu nangis.. ya Allah sedihhh.. rupanya zelo pun mati kemalangan..baru tahu c sekyung tue ketakutan.. huhu ..faithing chinggu.. mantap

  2. yani yanuari berkata:

    yakkk mimin!! satnight ku jdi sedih gara2 baca New ff karya mu it, yng tdi’a Happy berubah jdi sedih 😥 feel’a bner2 Dpet bnget pas scene junhong belain soo eonni pas yng diatap skolah….. bner2 bkin nyesek 😥 😥 😥 ashhhh Jinjjha!! keep waiting for New ff’a min, klo bisa sih adaa sequel’a min hehehe :’D

  3. rinarinachoi berkata:

    Hueeee nangis bombay bacanya walopun ada sensasi merinding2nya.. tega bgt tu yg ngebully dikira junhong bakalan balas dendam taunya ngga hadeeuuhh
    Btw itu lagu akb48 beneran serem? Gamau download takut ga bisa tidur hahaaa 😀
    Ditunggu with you next part sma ff2 yg lain

  4. Gak nyangka kalo cerita.ny bakalan sesedih ini… Ampe nangis beneran aku baca.ny… Yg bikin gak nyangka lagi kalo ternyata zelo juga meninggal, gak ketebak dah

  5. nisa berkata:

    hihh jahat banget tuh si sekyung…. sumpah rasanya pengen jambak dia… pinter banget kak milih cast nya… soale cocok banget….. jaman sekarang mana ada gitu cowok kaya junhong…. setia banget sumpah

  6. fransisca24 berkata:

    walaupun agak bingung alurnya flashback gitu ff nya bagus! bagus2 sedih 😥
    ah hrsnya bales dendam tuh thor biar sekyung cs ga bisa hidup tenang :v #sadestt :v
    ditunggu ff lainnya, author hwaiting!

  7. Huahhhh 😭😭
    Sedih banget…
    Aku kira Junhong masih hidup ternyata enggak..
    ffnya nge-feel sampe bikin aku nangis..
    Meskipun sedih tapi tetap So Sweet..
    Dan untuk Hanifah nanti aku kirim bon untuk tagihan tissue aku ya ^^ #justkidding

    Ditunggu ff lainnya ^^
    Keep Fighting!!!

  8. Kesian dgn soo young meskipun cacat mana bisa dipelecehkan begitu…dasar wanita² jalang tpi akhirnya soo young dan junhong bahagia akhirnya happy ending kukira sad ending…

  9. SY berkata:

    Waw sudah lama tidak mampir ke sini hehe

    Yess cast nya ku suka bgetttt… ini asli nge feel, bikin baperr dan ku baca jam 2 pagi wow aga aga deg deg ser gimanaaa gitu haha

    Ya pokoknya best lah, di tunggu ff lainnya yaa
    Semangat! 😊

  10. saoloh sedih banget😭 ampe banjir nih air mata😭😭 sumpah sekyung cs gak punya hati. mereka udah ngebully ditambah ngelecehin soo. kejam bat sumpah😭
    bagus bat chingu ff nya romance – sad nya dapet banget😊

  11. Novita Candra berkata:

    Sampe nangis baca ff ini 😢. Tanggung jawab min 😤

    Lanjutin min, gak sabar baca ff yang lain. Fighting 💪

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s