FERMATA (Part 3)

TITLE : FERMATA (Part 3)

CAST:

  • Choi Sooyoung SNSD
  • Jung Daehyun B.A.P
  • Yoo Youngjae B.A.P

OTHER CAST:

  • Jung Jessica EX-SNSD
  • Moon Jongup B.A.P
  • Jun Hyosung SECRET

GENRE : Romance, Family, Friendship, Mystery

RATTING : PG 15

CREAT BY : H-BY

.

NB :

  • Maaf jika terdapat banyak kesalahan dalam penulisan (Typo)
  • Maaf jika terdapat kata-kata kasar/ menyinggung
  • Maaf jika terdapat kesamaan cerita
  • DON’T BE SIDER
  • DON’T BE PLAGIAT

.

Happy Reading

 

#FERMATA#

o

o

o

“ISHH!! Jung Daehyun! Aku akan membunuhmu!” Sooyoung terus mendumal dalam hati karena rasa kesalnya benar-benar memuncak. Dia tidak menyangka jika Daehyun akan berbuat senekat itu hanya demi merebut kamarnya.

“Dia pikir ini lucu? Ini bahkan sudah hampir tengah malam ishh!!” Keluh Sooyoung lagi.

Lalu dengan sedikit terpaksa, dia berjalan turun dan berniat meminta tolong Bibi dan Paman Jung.

‘TAPP!’ – Tapi ketika dia telah tiba di depan gerbang, ternyata gerbang itu sudah terkunci. Rumah merekapun terlihat gelap dan sepi.

“Apa mereka sudah tidur?” gumam Sooyoung sambil menggaruk rambutnya yang tak gatal. Diapun mengurungkan niatnya untuk menekan bel rumah karena takut mengganggu istirahat keluarga Jung.

“Haahh aku benar-benar bisa gila” gumam Sooyoung sambil membalikan badannya dengan lemas.

Beberapa saat kemudian, Sooyoung meraih ponselnya dan berniat menghubungi seseorang.

‘Tuut Tuuutt Tuut’

“Apa Sica juga sudah tidur?” gumam Sooyoung ketika Jessica tak kunjung menjawab panggilannya.

“Huftt!” – Setelah mengulang beberapa kali, Sooyoung akhirnya menyerah dan berniat menelpon orang lain.

‘Beeb’

“Yeoboseyo? Wae Sooyounga?” Sapa seorang gadis yang tak lain adalah Hyosung.

“Hyosunga, apa kau dirumah?” tanya Sooyoung.

“Tentu saja, ada apa?” Tanya Hyosung dari seberang telepon.

“Bisakah aku menginap dirumahmu?” tanya Sooyoung lagi.

“Tentu saja bis- Mwo? Menginap? Tunggu! memang ada apa? Apa terjadi sesuatu?” Tanya Hyosung dengan nada yang berubah sedikit panik.

“Aku akan menceritakannya nanti, kalau begitu aku kesana sekarang eoh” ucap Sooyoung.

.

.

.

Sooyoung segera turun dari Taxi ketika dia telah tiba didekat rumah Hyosung. Sayang sekali dia harus berjalan naik dan melewati sebuah tangga besar karena rumah Hyosung berada di atas.

“Ya Tuhan.. tubuhku benar-benar sudah tidak bertenaga” gumam Sooyoung ketika dia sudah menaiki beberapa anak tangga. Sesekali, dia memijat leher dan juga lengannya yang mulai terasa pegal.

“Oww.. Igeo nuguya~”

‘TAPP’ – Sooyoung langsung menghentikan langkahnya ketika dia mendengar seseorang berbicara.

‘DEG’ – Dan benar saja! Ketika Sooyoung mengangkat wajahnya, dia melihat seorang pria mabuk sedang berjalan dari arah berlawanan. Dari kejauhan, Sooyoung bisa melihat jika pria berumur 40 tahunan itu tersenyum mesum kearahnya.

‘Tap Tap tap’ – Dengan sedikit ketakutan, Sooyoungpun berjalan cepat dan berusaha menghindari orang itu.

Tapi-

“TAPP!” – Orang itu berhasil mengejar Sooyoung dengan langkahnya yang sempoyongan. Dia bahkan mencengkram lengan Sooyoung dengan erat hingga Sooyoung tak bisa lagi bergerak.

“Lepaskan aku!” mohon Sooyoung sambil memberontak dan berusaha melepaskan diri.

“Yaa~ kau… berani…berkeliaran malam~ itu berarti.. kau… siap bermain denganku~ hahahaha~ ” ucap pria itu sambil tertawa mengerikan dan menarik tubuh Sooyoung dengan paksa.

“YA! Lepaskan aku!” pekik Sooyoung sambil terus memberontak.

‘Bughh!’ – Merasa mendapat kesempatan, Sooyoungpun menendang betis kaki pria itu hingga cengkramannya terhadap Sooyoung terlepas.

Tapi-

“BUGHHH!” – Karena kesal, pria mabuk itupun langsung mengejar Sooyoung lalu menendang tubuh gadis kurus itu.

‘SRTTTT~’ – Karena kehilangan keseimbangan, Sooyoungpun langsung terjatuh dan terperosot melewati anak tangga yang keras dan juga memiliki ujung yang tajam.

“Ahh!” – Setelah tiba dibawah, Sooyoung langsung merintih kesakitan karena beberapa bagian tubuhnya menjadi lecet dan bahkan berdarah.

“Haahh kau~ kau benar-benar gadis berisik~” ucap pria itu sambil berjalan turun dan menghampiri Sooyoung.

Tapi Sooyoung tidak menyerah, dengan tenaga yang tersisa.. dia tetap berusaha mundur dan juga bangun. Dia terus berdoa dalam hati agar Tuhan memberinya kekuatan untuk melawan atau setidaknya lari dari tempat itu.

“Aku akan membunuh-“

‘DAPP!’

‘SRRRTTTTT’ – Dan mata Sooyoung langsung membulat ketika pria itu tiba-tiba saja terjungkal kedepan dan terperosot seperti apa yang terjadi pada dirinya tadi. Dengan cepat, Sooyoungpun segera minggir agar pria mabuk tadi tidak menabrak dan menindihi tubuhnya.

‘BRUKKK!’ – Hingga pada akhirnya, pria mabuk tadi sampai di bawah dengan posisi tengkurap. Sepertinya orang itu pingsan karena kepalanya terbentur beberapa anak tangga tadi.

‘Hahh haahh haahh’ – Dengan nafas memburu, Sooyoung terus saja menatap pria mabuk itu dengan ekspresi syok. Dia bahkan tidak menyadari jika seseorang sedang berjalan mendekat.

‘Tap~’ – “Nona, Gwaenchanaseyo?”

“Omma Khamchakiya!” – Sooyoung langsung memekik terkejut ketika seseorang tiba-tiba saja menyentuh bahunya. Dan orang itupun ikut terkejut sehingga dia langsung mundur dan menjauh dari Sooyoung.

“Aaa.. Mianhae.. Aku.. tidak bermaksud mengejutkanmu” ucap seorang pria berrambut pirang dengan ekspresi tak enak.

Beberapa saat Sooyoung terlihat masih takut dan juga kebingungan, tapi setelah menyadari jika orang itulah yang sudah menolongnya, Sooyoungpun berusaha untuk sedikit tenang.

“Aa.. An.. Anhi.. aku.. hanya… sedikit ketakutan tadi” ucap Sooyoung sambil berusaha untuk bangun.

“Aa.. apa kau terluka?” tanya pria pirang itu sambil beranjak menolong Sooyoung yang terlihat kesulitan untuk berdiri.

“Aa.. sepertinya.. kakiku.. sedikit terkilir” ucap Sooyoung sambil meringis kesakitan ketika dia sudah benar-benar berdiri.

“Aaa.. sebenarnya ini sedikit tidak sopan.. tapi.. aku bisa membantumu” ucap pria setinggi 178 cm itu dengan suara lembutnya.

Sooyoung terlihat sedikit bingung, “Anhi.. nan.. nan gwaenchana..” Ucap Sooyoung mencoba menolak.

“Tapi ini sudah malam, kau mungkin akan bertemu orang semacam dia lagi nanti..” ucap pria itu sambil menoleh kearah pria mabuk tadi.

Dan Sooyoung tentu saja langsung terdiam membeku mendengarnya. Sungguh, dia benar-benar takut dengan yang namanya orang mabuk. Baginya.. orang mabuk itu mirip seperti monster yang tidak bisa dikendalikan.

“Kau mau kemana?” tanya pria pirang itu sambil menggenggam lengan Sooyoung dengan hati-hati. Dia bertingkah seolah Sooyoung sudah memberinya ijin untuk membantunya.

“Aaa.. aku ingin menginap dirumah temanku” jawab Sooyoung yang akhirnya menurut dan mengikuti langkah namja itu.

“Aaa pantas saja aku belum pernah melihatmu sebelumnya” Gumam pria itu sambil mengangguk paham.

“Euumm jika boleh tahu.. siapa nama temanmu? aku tinggal didaerah ini.. jadi… mungkin saja aku mengenalnya?” lanjut pria itu.

“Hyosung, Jeon Hyosung” Jawab Sooyoung.

“Eo? Jadi kau teman Hyosung noona?” tanya pria itu dengan wajah berbinar.

Sooyoung mengangguk, “Kau.. kenal Hyosung?” tanya gadis itu penasaran.

“Eoh.. rumah kami berseberangan, tentu saja aku mengenalnya” jelas pria itu.

“Aaa… Keurokuna~” ucap Sooyoung sambil mengangguk paham.

Jika Hyosung mengenalnya, dia mungkin bukan pria berbahaya

.

.

.

‘TING TONG!’

“Eohh Sooyounga kenapa kau baru-“

“Ommo! Sooyounga waegurae?!” Setelah membukakan pintu, Hyosung langsung memekik terkejut. Bagaimana tidak? Setelah menunggu cukup lama dengan perasaan khawatir, dia malah melihat Sooyoung tidak berdiri sendiri disana melainkan dibantu orang lain.

“Ohh.. tadi.. aku… hanya terjatuh di tangga depan kompleksmu…” Jelas Sooyoung sambil tertawa kecil seolah dia tidak apa-apa.

Mwo? Hanya terjatuh?! bagaimana bisa?! Lalu- kenapa.. Moon Jongup-“ Hyosung terlihat semakin bingung karena dia melihat tetangganya disana.

“Oh.. dia.. tadi dialah yang menolongku berjalan kesini” jelas Sooyoung lagi.

Ohh jinjja? Ommoo.. gomawo Jongupa” Ucap Hyosung sambil menepuk bahu pria bernama Jongup itu.

“Aa.. tentu saja noona..” ucap Jongup sambil tersenyum tipis.

“Kalau begitu ayo kita masuk, biar kuobati lukamu” ajak Hyosung sambil mendekat dan mengambil alih tubuh Sooyoung.

“Eoh.. kakiku.. rasanya hampir mati rasa” ucap Sooyoung sambil meringis kesakitan.

Sesaat, Jongup hanya diam sambil menatap luka Sooyoung. “Eumm, kalau begitu aku pamit ya noona” ucap namja itu sambil membungkuk sopan.

Eoh.. gurae Jongupa..Jawab Hyosung singkat. Sepertinya dia terlalu focus mengamati semua luka di tubuh Sooyoung.

Chamkanmanyeo! (Tunggu sebentar)” Tahan Sooyoung ketika Jongup sudah membalikan badannya.

Jongup pun berhenti dan membalikan badannya, “Ne?” Tanya Jongup.

Euummm.. Gam.. gamsahamnida… Jong- up- ssi atas bantuanmu, aku juga minta maaf.. karena sudah merepotkanmu” ucap Sooyoung yang tentu saja merasa tak enak. Apalagi keduanya bukanlah dua orang yang saling mengenal.

Mendengar hal itu,  Jongup tentu saja langsung menggeleng pelan, “Anhimnida.. gwaenchansimnida, Kurigo… Semoga lukamu cepat sembuh… Soo-young-ssi” balas pria sipit itu dengan senyuman tipis.

.

FERMATA

.

Sooyoung berjalan dengan langkah terpincang. Jika biasanya dia memerlukan waktu 10 menit untuk berjalan dari halte menuju kantor, kali ini dia sudah menghabiskan 15 menit dan itupun baru separuh perjalanan.

“Sooyoung-ssi?” Sooyoung langsung berhenti dan menolehkan wajah kebelakang ketika seseorang memanggil namanya.

“Oh.. Youngjae-ssi Annyeong” Sapa Sooyoung sambil tersenyum pada namja yang saat ini sedang berjalan bersama dengan Daehyun. Sesaat dia melirik Daehyun dengan ekspresi dingin. Tapi setelah Daehyun menatapnya balik, dia malah mengalihkan pandangannya pada Youngjae yang sekarang berlari kecil kearahnya.

“Sooyoung-ssi… kenapa kau tidak masuk kerja kemarin?” Tanya Youngjae ketika dia sudah menyejajarkan langkahnya dengan langkah Sooyoung.

“Ommo.. apa kau mencariku?” goda Sooyoung.

“Eoh, aku kira kau ada dirumah Daehyun, tapi ternyata kau tidak ada disana” ucap Youngjae yang ternyata menanggapi pertanyaan Sooyoung dengan jawaban serius.

“Apa dia mencariku dirumah Daehyun kemarin?” Batin Sooyoung heran.

“Kau sakit? Ada apa dengan kakimu?” tanya Youngjae sambil menatap kaki Sooyoung yang masih terlihat lebam.

“Aaa.. ini…” Sooyoung terdiam sejenak.

“Beberapa hari yang lalu… seorang pria mabuk menendangku.. hingga aku terjatuh dari atas tangga..” jawab Sooyoung jujur.

Mwo? Kau ditendang dari atas tangga? Lalu.. apa kau sudah melaporkannya pada polisi?” tanya Youngjae dengan ekspresi yang berubah sedikit panik.

Sooyoung menggeleng, “Saat itu sudah sangat malam, aku tidak sempat menelpon polisi karena dia terus mengikutiku, jadi yang bisa kulakukan hanya berusaha lari karena aku sangat ketakutan..” ucap Sooyoung dengan bibir bergetar.

Youngjae terhenyak, “Ya Tuhan, Itu pasti sangat mengerikan” ucapnya sambil menepuk bahu Sooyoung pelan.

Sooyoung mengangguk, “Eumm… sesungguhnya.. aku.. benar-benar takut dengan orang mabuk, bagiku.. mereka lebih mengerikan daripada hantu” jelas gadis itu.

Youngjaepun hanya bisa menatap Sooyoung dengan ekspresi sendu. Meski sudah dua hari setelah kejadian itu.. tapi dia masih bisa melihat jelas luka lebam di kaki Sooyoung. Dia juga bisa melihat luka di pelipis dan juga rahang kanan gadis itu.

“Tapp!” – Tanpa meminta persetujuan Sooyoung, Youngjae tiba-tiba saja merangkulkan tangan gadis itu di bahunya.

Ommo Young.. Youngjae-ssi.. ap.. apa yang kau lakukan?” Tanya Sooyoung yang tentu saja terkejut dengan perlakuan itu.

“Hari ini aku sarapan cukup banyak, jadi aku punya banyak tenaga untuk membantumu” ucap Youngjae sambil tersenyum tipis.

Sooyoung mengerjapkan mata beberapa kali, “Ap.. apa maksudmu? Kau- kau tidak perlu melakukan-“

“Jika kau tidak mau seperti ini.. euuumm…”

“Ah! Apa sebaiknya aku menggendongmu saja?” tanya Youngjae sambil tersenyum lebar pada Sooyoung.

Sooyoung membulatkan mata, “Mwo?! Apa.. apa kau gila?” tanya gadis itu sambil meolehkan wajahnya kearah lain untuk menyembunyikan rona merah di pipinya.

“Cihh~” Karena ternyata Youngjae menyadari hal itu, diapun tidak bisa menyembunyikan senyumnya sehingga lesung dikedua pipinya nampak.

Aigoo Sooyoung-ssi, kau punya tubuh yang tinggi tapi kenapa beratmu seperti kapas?” Tanya Youngjae yang ternyata masih mencoba untuk menggoda Sooyoung.

“Itu karena kau tidak pernah mentraktirku makan” ucap Sooyoung pura-pura kesal.

Youngjae tertawa, “Kau menyalahkanku karena tidak pernah mentraktirmu? Hahahaha.. tapi kenapa ini terdengar seperti sebuah hadiah?” gumam Youngjae sambil melirik Sooyoung.

Sooyoung terdiam, “Apa maksudnya hadiah?” Batinnya karena dia sedikit tak paham.

“Bagaimana jika setelah pulang?” tanya Youngjae ketika Sooyoung tak kunjung memberi tanggapan.

Eoh? Eh.. Kau.. kau tidak perlu menganggapnya serius Youngjae-ssi.. aku hanya bercanda hahaha” ucap Sooyoung yang jadi merasa tak enak.

“Jadi kau tidak mau?” tanya Youngjae dengan ekspresi kecewa.

Sooyoung membulatkan matanya dan dia terlihat sedikit kebingungan, “Anhi.. bukan.. bukannya aku tidak mau-“

“Berarti kau mau?” Sahut Youngjae dengan ekspresi berbinar. Sooyoung bahkan bisa melihat lesung pipi yang terbentuk di pipi namja itu.

Sesaat, Sooyoung menggaruk tengkuknya yang tak gatal, “Aaa.. eumm.. ya baiklah.. “ jawab yeoja itu pada akhirnya.

-[Other side]-

“Cih! konyol sekali!” umpat Daehyun yang sejak tadi memang berjalan beberapa langkah dibelakang Youngjae dan juga Sooyoung. Meski dia berusaha untuk acuh dan tidak peduli, tapi pada kenyataannya.. dia melihat dan juga mendengar segala percakapan dua orang didepannya itu.

“Mereka baru satu bulan mengenal.. tapi sudah hahahihihuhu begitu.. cih! menggelikan” umpat Daehyun sambil membuang pandangannya kearah lain. Entah kenapa.. melihat dua orang didepannya itu membuat Daehyun merasakan sesuatu yang tidak mengenakan.

.

.

.

Sooyoung berjalan memasuki ruang fotocopy dengan langkah terpincang. Sebenarnya beberapa orang berniat membantunya membawakan tumpukan berkas yang ingin ia fotocopy, tapi dia menolak. Selain karena ini adalah jam istirahat, dia juga tidak mau diperlakukan lemah hanya karena kakinya sedikit terluka.

‘BRUGGH!’ – Setelah tiba diruang fotocopy, Sooyoung segera meletakan buku yang ia bawa di meja yang berada disamping mesin fotocopy.

“Huufftt berat juga~” gumam Sooyoung sambil mengibas-ngibaskan telapak tangannya yang terasa sedikit pegal. Dia juga melakukan beberapa gerakan agar otot-otot yang sejak tadi ia gunakan- bisa sedikit meregang.

“Kau mau memakai mesinnya atau tidak?”

Omma Khamchakiya!” – Sooyoung langsung terperanjak dan berbalik secara reflex karena seseorang tiba-tiba saja berbicara dibelakangnya.

“Haahh~ Ya Tuhan.. kau mengejutkanku Jung Daehyun!” keluh Sooyoung sambil memegangi dadanya yang masih berdebar kencang.

Namja yang dipanggil Daehyun itu terlihat hanya diam dengan wajah datar. Meski begitu, tidak bisa dipungkiri jika tatapan matanya bergerak dan mengamati seluruh luka yang ada di tubuh Sooyoung.

“Ada apa? Kau.. mau memakainya?” tanya Sooyoung sambil menunjuk mesin fotocopy yang sayangnya hanya ada satu di divisi itu.

“Eoh” jawab Daehyun singkat dan terkesan dingin.

“Kalau begitu.. kau pakai saja dulu” ucap Sooyoung sambil mundur dan mempersilakan Daehyun lewat.

Daehyun mengangkat salah satu alisnya, “Jinjja? Keureom neon? (Bagaimana denganmu?)Tanya namja itu.

Sooyoung mengangguk, “Aku harus mengcopy banyak berkas, jadi aku mungkin akan lama” jelas gadis itu sambil beranjak duduk di meja yang ada disamping mesin fotocopy tadi.

Daehyun diam untuk beberapa saat sebelum akhirnya dia berjalan ke mesin fotocopy tanpa mengatakan apapun.

Beberapa saat, keduanya hanya diam dengan pikiran masing-masing. Yang terdengar hanyalah suara mesih fotocopy yang sedang Daehyun gunakan.

Tanpa sepengetahuan Daehyun, Sooyoung mengamati adik Soyeon itu dengan senyuman tipis , “Aku kira dia akan membolos hingga masa magang berakhir”

“Kenapa… kau tidak marah padaku?” Dan suara khas Daehyun akhirnya memecahkan keheningan di ruangan itu. Meski begitu, dia bertanya tanpa menatap Sooyoung. Matanya terlihat focus pada lembaran-lembaran script yang akan digunakan untuk siaran nanti sore.

Awalnya, Sooyoung menoleh kearah lain karena Daehyun tiba-tiba saja mengajaknya bicara. Tapi setelah mendengar pertanyaan namja itu.. diapun kembali melirik Daehyun sambil tersenyum smirk.

“Siapa bilang aku tidak marah?” tanya Sooyoung balik.

Daehyun menggerakan bola matanya kearah Sooyoung untuk beberapa detik, “Lalu kenapa kau mengalah?” lanjutnya.

Sooyoung tertawa kecil, “Masalah kita tidak ada hubungannya dengan pekerjaanku, jadi akan sangat kekanakan jika aku mengungkitnya disini” ucap Sooyoung dengan begitu santai. Sesaat, Daehyun terdiam karena jawaban ‘savage’ itu. Tapi tentu saja dia tidak akan membiarkan Sooyoung mengetahuinya.

“Cih! Aku pikir impianmu menjadi penyiar radio hanyalah omong kosong, tapi sepertinya kau memang terobsesi dengan pekerjaan itu” sindir Daehyun yang dengan cerdik merubah topic pembicaraan.

Sooyoung sedikit tersentak, “Ommo, kau mengingatnya? Aku pikir kau sudah membakar habis semua memory masa kecil kita” Sindir Sooyoung balik. Tapi tidak bisa dipungkiri jika dia senang mengetahui hal itu.

Dan entah kenapa, Daehyun tersenyum tipis mendengarnya, “Mana mungkin aku lupa? Kau selalu berbicara seperti penyiar radio setiap kali kami menelpon rumahmu” ejek Daehyun sambil kembali melirik Sooyoung.

Sooyoung langsung membulatkan matanya, “Ya! kau tidak perlu mengungkitnya! itu sangat memalukan!” ucap Sooyoung dengan ekspresi sedikit jengkel.

“Cih!” Dan Daehyunpun kembali tersenyum karena reaksi lucu Sooyoung. Meski begitu, dia tetap menahan diri dan menjaga image cool agar Sooyoung tidak menyadarinya.

“Hmm, sungguh tidak bisa dipercaya, aku sekarang sudah berada disini” Ucap Sooyoung sambil mendongak dan menatap langit-langit ruang fotocopy itu dengan senyuman tipis.

Daehyun berdecak kecil, “Apa hebatnya saat kau sudah berada disini? Kau bilang kau ingin jadi penyiar.. tapi kenapa kau masih pergi kesana kemari dan mengerjakan pekerjaan orang lain?” tanya Daehyun sinis.

Sooyoung menoleh pada Daehyun dengan ekspresi terkejut. Sungguh, dia tidak menyangka jika Daehyun ternyata memperhatikan hal itu.

“Aku tidak tahu apa sebenarnya tujuanmu mengatakan hal itu Jung Daehyun, tapi sepertinya kau harus tahu.. Impian itu tidak bisa diraih secara instan, terkadang.. kau harus melewati beberapa tahap agar kau bisa benar-benar matang” ucap Sooyoung.

Daehyun mendengus pelan, “Apa tidak makan dan membuat badan kurusmu itu menjadi semakin kurus- termasuk tahap menjadi matang?” Tanya Daehyun sambil menoleh pada Sooyoung dengan ekspresi heran.

Sooyoung mengernyit, “Ee? Kau bilang apa?” tanya Sooyoung kebingungan karena ternyata dia tidak begitu mendengarkan ucapan namja itu.

“Sudahlah lupakan” Ucap Daehyun sambil kembali menoleh kedepan.

“Aeeyy ada apa denganmu..” gumam Sooyoung sambil menggelengkan kepalanya.

Daehyun mengepalkan tangannya, “Ya! Kenapa kau melewatkan makan siangmu? apa kau lupa jika banyak mahasiswa magang disini? Kenapa kau tidak menyuruh mereka saja? Bukankah kau punya penyakit magh?” tanya Daehyun sambil menatap Sooyoung dengan ekspresi marah.

Sooyoung mendelik dengan wajah bingung, “Ya! ke.. kenapa kau jadi marah padaku? Aku tahu apa yang harus aku lakukan, lagipula.. aku masih bisa makan setelah ini” sanggah Sooyoung tak terima.

Daehyun langsung terdiam saat dia menyadari ucapannya tadi. Tunggu! Kenapa aku marah padanya?!

“Lalu kau sendiri? kenapa kau juga tidak makan siang?” tanya Sooyoung membalikan.

“Aku tidak makan! Aku tidak punya uang!” jawab Daehyun ketus.

Sooyoung tertawa kecil, “Cih! Tidak punya uang? Wae? Uangmu sudah kau habiskan untuk membeli rokok?” sindir gadis itu.

“Ya! aku sudah tidak merokok!” ucap Daehyun tak terima.

Bibir Sooyoung membentuk ‘Aaa’ seolah dia teringat sesuatu, “Aigoo~ Lihat dirimu lihat! kau pasti lapar Jung Daehyun! itulah kenapa.. kau jadi ketus begitu padaku” ucap Sooyoung yang ternyata masih mengingat kebiasaan Daehyun sewaktu kecil.

Daehyun kembali menoleh pada Sooyoung dengan wajah geram, “Dasar bodoh! aku marah bukan karena aku lapar!” sangkalnya.

Sooyoung terdiam dan mencoba mencerna ucapan itu, “Lalu.. apa kau mau bilang jika kau marah karena aku tidak makan siang?” tanya Sooyoung yang tentu saja setengah tak percaya terhadap ucapannya sendiri.

Tapi anehnya, Daehyun tidak menyangkal maupun memberi tanggapan untuk pertanyaan itu. Dia hanya diam sambil menatap lurus kemata Sooyoung dengan begitu dingin.

Ya Jassika! Ke.. kenapa kau tidak menyangkal? kau membuatku merinding” ucap Sooyoung dengan ekspresi syok.

Daehyun sendiri memilih untuk menarik nafas dalam sebelum akhirnya dia memberanikan diri untuk mendekat pada Sooyoung.

‘TAPP’ – Pria setinggi 180 cm itu berhenti ketika dia telah berdiri didepan Sooyoung. Dan Sooyoung sendiri saat ini hanya bisa diam dan menatap Daehyun dengan wajah bingung.

“Ini!” ucap Daehyun sambil menyerahkan sebuah bungkusan kecil yang ia ambil dari saku bombernya.

Sooyoung mengernyit heran meski tangannya bergerak untuk menerima bungkusan itu, “Apa ini? obat? Kenapa.. kau memberi-“

‘TAP’ – Belum sempat Sooyoung melanjutkan ucapannya, Daehyun sudah terlebih dulu melangkah maju sehingga lutut mereka saling bersentuhan. Dan Sooyoung tentu saja langsung terdiam dengan wajah tegang.

Mungkin mereka pernah berada di jarak sedekat itu. Tapi kali ini.. auranya terasa  sangat berbeda. Entah kenapa.. tatapan Daehyun kali ini terasa lebih lembut dan lebih dalam dari biasanya. Dan hal itu tentu saja membuat jantung Sooyoung berdetak lebih cepat.

‘Srtt’ – Tanpa mengatakan apapun, Daehyun membuka sebuah palaster luka yang ada disakunya- lalu dipasangkanlah palster itu di pelipis Sooyoung yang terluka.

‘DEG’ – Mata Sooyoung langsung membulat. Sesungguhnya, 99% otaknya seperti tak bisa berfungsi lagi karena tindakan Daehyun barusan. Bagaimana tidak? Diperlakukan seperti itu oleh orang biasa saja rasanya tidak mungkin, Dan sekarang? Jung Daehyun? namja yang bisa dibilang adalah ‘Big Enemy’nya.. malah melakukan hal seperti itu? Bocah ini pasti sudah tidak waras!

Disaat Daehyun masih sibuk memasangkan plaster luka di kulit rahangnya, Sooyoung hanya bisa mengerjap-ngerjapkan mata karena rasa gugup yang menyelimuti hatinya. Benar-benar tidak seperti biasanya, kali ini pria bernama Daehyun itu memperlakukan Sooyoung dengan begitu hati-hati.

Ini.. rasanya.. sangat aneh! Kurasa.. aku harus memukul kepalanya! Atau.. kutendang saja kakinya?” Batin Sooyoung sambil memikirkan cara agar pria didepannya itu segera menyingkir. Tapi pada kenyataannya, Sooyoung sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa. Dia bahkan tidak bisa melepaskan pandangannya dari namja berkulit tan yang saat ini sedang merekatkan plaster dirahang Sooyoung dengan telunjunknya itu.

‘DEG’ – Dan sayangnya.. Daehyun tidak sengaja mengangkat wajahnya sehingga matanya bertemu dengan mata Sooyoung. Meski keduanya sadar bahwa hal itu bukanlah sesuatu yang wajar untuk dilakukan, tapi keduanya memilih diam tanpa melepaskan pandangan yang hanya berjarak sekitar 20 cm itu.

Jung Daehyun, bocah yang selalu bertengkar dengan Sooyoung  sewaktu kecil itu.. sekarang memang sudah berubah. Sekarang, Sooyoung bisa melihat otot di lengan dan juga perutnya. Dia juga bisa melihat sebuah jakun di lehernya. Dan tidak bisa dipungkiri, Daehyun memang tumbuh dengan baik sehingga dia memiliki wajah yang tampan dan juga tubuh yang cukup bagus. Hanya saja…

“TAP!” – Sooyoung segera turun dan sedikit menjauh- sesaat setelah dia tersadar dari lamunannya.

“Ahhh” Tapi sayangnya, Sooyoung langsung merintih kesakitan karena kakinya yang sakit menapak kelantai dengan cukup keras.

‘Grebb!’ – Entah sengaja atau hanya gerakan reflex, Daehyun langsung memegang kedua lengan Sooyoung dengan erat karena dia mengira gadis didepannya itu akan terjatuh.

DEG! – Dan untuk kedua kalinya, tatapan mereka kembali bertemu dijarak sedekat itu. Sooyoung bahkan bisa merasakan hembusan nafas Daehyun yang menggelitik kulit wajahnya.

“Ya Tuhan! Apa yang baru saja aku pikirkan?!” Batin Sooyoung sambil mundur dan menolehkan wajahnya kearah lain.

“Lu.. lukaku sudah hampir sembuh, kau.. tidak seharusnya.. memberiku ini” ucap Sooyoung sambil memegang plaster yang menempel dipelipisnya. Sebenarnya dia melakukan itu agar Daehyun tidak melihat rona merah diwajahnya.

“Aku hanya.. merasa tidak nyaman” ucap Daehyun pelan. Berbeda dengan Sooyoung, dia terlihat biasa saja meski beberapa saat lalu mereka baru saja berada di zona yang sedikit tidak aman.

Sooyoung memberanikan diri menoleh pada Daehyun, “Apa maksudmu?” tanya gadis itu tak mengerti.

Daehyun membuang nafas panjang, “Perhatikan dirimu dengan baik.. agar aku tidak terlalu merasa bersalah” Ucap Daehyun dengan ekspresi serius.

Sooyoung mengernyit bingung, “Mwo?”

Daehyun tidak menjawab. Dia memilih untuk mengambil berkasnya yang masih berada di atas mesin fotocopy, dan setelah itu dia melangkah pergi dan meninggalkan Sooyoung.

Sooyoung mengepalkan tangan dengan wajah geram, “Jika kau merasa bersalah, maka hentikan kekonyolanmu dan kembalikan kamarku” ucap Sooyoung sambil menatap kepergian Daehyun.

Daehyun menghentikan langkahnya namun dia tidak menoleh, “Carilah tempat lain, aku tidak ingin kau berada disana” ucap namja itu sebelum dia kembali melangkah pergi.

Sooyoung kembali mendengus, “Nappeun jassik!” Umpat Sooyoung sambil menunjuk Daehyun dengan telunjuknya. Tapi tentu saja Daehyun tidak mendengarnya karena dia sudah keluar dari ruangan itu.

Beberapa saat kemudian, Sooyoung mengangkat tangannya agar dia bisa menatap obat pemberian Daehyun tadi.

“Apa dia tidak makan karena ini?” gumamnya pelan. Dan entah kenapa, bayangan ketika Daehyun memasangkan plaster di wajahnya kembali terputar.

‘Tapp’ – Sooyoung langsung meraba dadanya yang kembali berdebar.

“Ishh! Beraninya dia mempermainkan perasaanku seperti ini!” umpat Sooyoung kesal.

.

-[FERMATA]-

.

‘Shakk!’ – Hyosung meletakan dua bungkusan sampahnya di tempat pengumpulan sampah.

“Huufft hari ini aku akan masak sesuatu yang enak” ucap Hyosung sambil tersenyum senang. Dia beranjak kembali kerumah sebelum kedua sahabatnya datang.

Gomawo Youngjae-ssi”

‘TAP’ – Tapi langkah Hyosung langsung terhenti ketika dia mendengar suara seseorang yang familiar.

“Eung?” Dan benar saja, Setelah Hyosung membalikan badan dan menoleh.. dia melihat dua orang sedang berbicara di dekat tangga. Beberapa saat, Hyosung memilih diam dan mengamati keduanya.

“Eung? Sooyoung? Dia.. sedang bicara dengan siap- Ommo, Yoo Youngjae?” Hyosung langsung menutup mulutnya karena syok dan suaranya hampir tak terkendali.

Mata Hyosung membulat dan membulat, “Kenapa.. Sooyoung bisa bersama Youngjae?” gumam Hyosung masih dengan ekspresi tak percaya.

.

.

.

“Aku pulaaang” Ucap Sooyoung ketika dia telah masuk kerumah Hyosung. Berhubung kedua orang tua Hyosung sedang tidak ada dirumah, Sooyoungpun bisa bersikap sedikit lebih bebas.

“Ya Choi Sooyoung!” panggil Hyosung yang tiba-tiba saja datang dari arah dapur. Dia menghampiri Sooyoung dan langsung menarik gadis itu kedalam kamarnya.

Ya ya.. Kenapa kau menarikku? Dan.. dimana Jessica? ” Tanya Sooyoung bingung. Meski begitu dia tetap mengikuti kemana Hyosung menuntunnya.

Hingga pada akhirnya, mereka tiba di kamar Hyosung yang sementara ini juga menjadi kamar Sooyoung.

“Ya Choi Sooyoung.. bagaimana kau bisa mengenal Yoo Youngjae?” tanya Hyosung dengan ekspresi curiga.

Sooyoung mengernyit, “Oh.. kau kenal Youngjae?” Bukannya menjawab, gadis itu malah bertanya balik.

“Ya! untuk saat ini.. itu semua tidak penting, yang terpenting adalah.. apa hubunganmu dengan namja itu? kenapa.. dia mengantarmu pulang?” tanya Hyosung mengintrogasi.

Sesaat, Sooyoung dibuat bingung dengan ekspresi sahabatnya itu. “Dia adalah mahasiswa yang sedang magang di kantorku saat ini, dan dia mengantarku karena.. hari ini..eumm.. sebenarnya kemarin.. dia punya janji untuk mentraktirku” jelas Sooyoung pada akhirnya.

Mwo?! Mentraktir?! Ya ya ya.. jangan bilang.. jangan bilang jika kau sedang berkencan dengan Yoo Youngjae, Sooyounga.. itu.. itu benar-benar tidak baik” ucap Hyosung dengan wajah panik.

Sooyoung mengernyit, “Wae? Kenapa itu bisa tidak baik? Memang ada apa dengannya?” tanya Sooyoung tak paham.

“Ya! Yoo Youngjae itu playboy di kampus, dia.. sering sekali mempermainkan hati wanita” ucap Hyosung sambil mengguncang lengan Sooyoung.

Sooyoung terdiam dengan ekspresi terkejut, “Yoo Youngjae? Playboy?”

“Hyosunga… aku minta kau tenang dulu, pertama.. aku tidak berkencan dengannya, dan kedua.. kurasa itu semua tidak benar” ucap Sooyoung yang ternyata memang menyangkal berita itu.

“Tidak benar? Ya.. kau baru mengenalnya beberapa bulan kan?.. sedangkan aku? Aku itu pernah satu kampus dengan keparat itu Sooyounga! Dan aku pernah melihat dengan mata kepalaku sendiri.. jika seorang gadis pernah berniat bunuh diri karena namja bernama Youngjae itu!” ucap Hyosung memperingatkan.

Dan Sooyoung tentu saja semakin bingung. “Jinjja? Yoo Youngjae.. membuat seorang gadis.. nyaris bunuh diri?”

“Eoh! Mengetahui jika Sica menyukai keparat itu saja sudah membuatku ketakutan, dan sekarang.. aku malah melihatnya mengantarmu sampai sini..” ucap Hyosung sambil memegangi dahinya yang terasa sedikit pusing.

“Tunggu! Sica.. menyukai Yoo Youngjae?!” tanya Sooyoung dengan mata membulat.

“Eoh! Kau tidak tahu?” tanya Hyosung balik. Dan Sooyoung hanya menggelengkan kepalanya pelan.

Hyosung terlihat semakin naik darah, “Woahhh jadi dia mendekati dua gadis yang bersahabat?! woahh keparat itu benar-benar” gumamnya sambil menggeleng tak percaya.

Sooyoung menarik nafas dalam, “Hyosunga… kurasa kau terlalu overthinking, aku.. sama sekali tidak menyukai Yoo Youngjae, kami hanya berteman, jadi berhentilah mengatainya keparat seperti itu” ucap Sooyoung yang sejujurnya merasa sedikit tak suka saat Hyosung terus saja memanggil Youngjae dengan sebutan ‘Keparat’.

“Baiklah baiklah.. aku.. aku hanya panik, tapi.. aku sangat memohon padamu Sooyounga, kau.. jangan sekalipun jatuh kedalam pelukannya, dia memang berwajah malaikat.. tapi.. siapa tahu.. dia juga mempermainkanmu suatu saat nanti” ucap Hyosung sambil menggenggam tangan Sooyoung erat.

Sooyoung tersenyum sambil mengangguk, “Kau tenang saja..”

“Teman-teman!” – Hyosung dan Sooyoung langsung menoleh kearah pintu ketika mereka mendengar suara Sica diluar sana.

“Hey! Hyosunga~ Sooyounga~” Panggil Jessica yang suaranya terdengar semakin dekat.

“Ya, bersikaplah seolah tak tidak tahu, eoh?” pinta Hyosung.

Sooyoung mengangguk, “Aku akan menunggu sampai dia mengatakannya sendiri” ucapnya.

.

.

.

“Sooyounga, bagaimana? Apa lukamu sudah sembuh?” tanya Sica pada gadis yang sedang asik menyumpit masakan buatan Hyosung.

Sooyoung mengangguk, “Eummm.. yaa.. kurasa lebamnya sudah mulai mengempes” ucapnya.

“Ya! kau harus tahu.. aku hampir memukul kepala si kunyuk itu dengan botol saat aku tahu bahwa dia menggembok kamarmu” ucap Jessica dengan ekspresi murka.

Hyosung dan Sooyoung tertawa mendengarnya, “Sejujurnya.. akupun sempat berfikir seperti itu saat dia menyuruhku mencari tempat lain” sambung Sooyoung.

Mwo?! Jadi bocah itu juga menyuruhmu untuk mencari tempat lain setelah kau nyaris diperkosa orang mabuk karenanya?” tanya Hyosung tak percaya. Dan lagi-lagi Sooyoung hanya mengangguk.

Ishh Bajingan itu benar-benar!” ucap Jessica sambil mengepalkan tangannya karena geram.

“Sooyounga.. seharusnya kau melaporkan dia saja ke polisi!” ucap Hyosung yang tak kalah geram dengan Sica.

“Eoh! Kau seharusnya melakukan itu Sooyounga! Dia benar-benar harus diberi pelajaran!” ucap Sica yang ternyata setuju dengan usulan Hyosung.

“Ya! jika aku melaporkannya ke polisi, kau pikir kedua orang tuamu akan diam saja? bagaimana jika mereka sakit? Dan bagaimana jika ayahmu lah yang jadi dihukum karena kebodohan adikmu itu?” tanya Sooyoung yang sepertinya malah terlihat paling tenang disana.

“Ahhh kau benar juga” ucap Hyosung sambil mengangguk paham.

“Hashh aku benar-benar malu punya adik semacam itu! andai saja orang tuaku bisa sedikit lebih tegas!” keluh Sica sambil melipat kedua tangannya di dada.

“Hey hey.. tapi kurasa.. Daehyun sudah mulai berubah” ucap Sooyoung yang sebenarnya sedikit ragu.

Sica dan Hyosung tentu saja menoleh dengan wajah bingung, “Pffttt.. Mworago? Berubah?”

Sooyoung mengangguk, “Awalnya.. dia memang selalu menghindar saat diberi tugas, tapi akhir-akhir ini.. dia melakukan apa yang atasanku perintahkan dengan baik, dia.. juga tidak membolos maupun merokok disana” jelas Sooyoung.

Hyosung dan Sica sepertinya masih tidak percaya, “Sooyounga.. kau pasti salah lihat, itu mungkin mahasiwa lain” Sangkal Sica.

Sooyoung menggeleng, “Anhiya.. itu benar! Kalian tahu? Dia bahkan memberiku-“ Setelah menyadari jika ucapannya mungkin bisa menimbulkan kesalahpahaman, Sooyoungpun menghentikan ucapannya.

“Memberimu? Dia memberimu… apa?” tanya Hyosung penasaran.

“Dia.. dia… memberiku ini.. dan juga sebungkus obat untuk luka di kakiku” ucap Sooyoung yang akhirnya memilih jujur.

“Dia?! Jung Daehyun? Memberimu plaster luka itu?” tanya Sica sambil menunjuk plaster luka di rahang Sooyoung.

“Eoh, awalnya aku juga tak percaya.. aku kira dia sedang mabuk atau apa..” jelas Sooyoung.

Jinjja? Isanghada~ (Aneh) Gumam Hyosung sambil memiringkan kepalanya dengan wajah heran.

“Ahh sudahlah, kau jangan pernah sekalipun masuk kedalam jebakannya! Sebaik apapun dia.. kau tetap harus merebut sesuatu yang menjadi hakmu Sooyounga” ucap Sica yang sepertinya tak peduli dengan cerita tentang adiknya.

Sooyoung mendengus, “Tentu saja aku harus merebutnya, tapi bagaimana?” gumam Sooyoung dengan wajah putus asa.

Sica tersenyum lebar, “Chaja~” Dan tiba-tiba saja, gadis berrambut pirang itu menyodorkan telapak tangannya kearah Sooyoung.

Sooyoung mengernyit saat dia melihat sebuah kunci disana. “Mwoya igeo?” Tanyanya bingung.

“Ini kunci kamarmu, aku berhasil mencurinya saat si kunyuk itu tidak sengaja meninggalkannya di rumah” ucap Sica dengan senyuman penuh kemenangan.

Sooyoung langsung menutup mulutnya, “Aaaaaa Sicayaa Gomawoo~” Rengek Sooyoung sambil memeluk kakak Daehyun itu dengan wajah haru.

.

– [FERMATA] –

.

“Sica-ya.. sebaiknya kita langsung naik saja” ucap Sooyoung ketika Sica memintanya untuk masuk dulu kedalam rumahnya.

Anhiya! Orang tuaku harus mengetahui apa yang sudah Daehyun perbuat padamu” ucap Sica yang memilih untuk bersikap keras kepala.

“Omma~ Sooyoung sudah kembali~” Pekik Sica ketika dia dan juga Sooyoung sudah masuk kedalam rumah.

“Sooyoungiee~ Ommo Sooyoungie.. kau baik-baik saja?” Bibi Jung terlihat langsung menghampiri Sooyoung dan memeluk gadis tinggi itu dengan ekspresi haru.

“Jangan khawatir, aku baik-baik saja bi” Ucap Sooyoung sambil membalas pelukan hangat ibu Sica itu.

“Ya Tuhan.. aku.. aku benar-benar terkejut mendengar kabar bahwa kau terjatuh dari tangga karena dikejar orang mabuk” ucap Bibi Jung sambil melepaskan pelukannya agar dia bisa menatap Sooyoung.

Sooyoung tersenyum, “Seseorang langsung menolongku saat itu, jadi lukaku tidak terlalu parah” ucap Sooyoung mencoba meredakan rasa khawatir Bibi Jung.

“Sooyounga.. bibi benar-benar minta maaf atas tindakan Daehyun, kali ini dia memang sudah melampaui batas” ucap Bibi Jung merasa bersalah. Sooyoung terlihat membuka mulutnya dan berniat mengatakan sesuatu, tapi-

“Dia selalu melampaui batas Omma, Omma dan Appa saja yang tidak pernah mau mengakuinya!” sindir Sica yang sejak tadi memilih untuk diam. Bibi Jung sendiri terlihat hanya melirik Sica, tapi dia tidak berniat mengatakan apapun.

“Sooyoungie.. sementara ini.. kau tidur dirumah kami saja” ucap Bibi Jung sambil menggenggam tangan Sooyoung.

“Omma!” pekik Sica tak terima.

Sooyoung menghela nafas sejenak, “Maaf bi, aku tidak bisa seperti kalian, jika kau terus memanjakannya.. dia tidak akan berubah!” ucap Sooyoung yang ternyata juga tidak setuju.

“Sooyoungie, bagaimana jika dia melakukan sesuatu lagi padamu? Sooyoungie.. aku mengatakan ini bukan karena Daehyun tapi karena aku khawatir padamu” ucap Bibi Jung sambil membelai rambut Sooyoung penuh kasih sayang.

Sooyoung menggeleng pelan, “Kau tenang saja Bi, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi, dan juga.. aku yakin kita bisa merubahnya..” ucap Sooyoung mencoba meyakinkan ibu Daehyun itu.

.

.

.

Sooyoung menatap bayangannya dari balik kaca. Disaat tangannya sibuk bergerak menyikat gigi, pikiran Sooyoung ternyata juga sibuk mengingat percakapannya dengan Youngjae tadi siang.

Flashback

“Aku tidak menyangka Daehyun melakukan hal seperti itu, apa dia sering membuatmu kesulitan?” ucap Youngjae menatap gadis yang duduk didepannya itu.

Sooyoung membuang nafas panjang, “Sejujurnya.. sebelum aku pindah dari rumah Daehyun.. aku merasa ketakutan” ucapnya pelan.

Youngjae mengangkat wajahnya dengan cepat, “Wae? Dia melakukan kekerasan padamu?” tanya Youngjae dengan ekspresi khawatir.

Sooyoung menggeleng, “Anhiya, Hanya saja.. akhir-akhir ini.. seseorang selalu menggebrak-gebrak pintu rumahmu tengah malam” tutur Sooyoung dengan ekspresi serius.

Jinjja? Daehyun melakukan hal itu padamu?” tanya Youngjae dengan wajah tak percaya.

Sooyoung kembali menggeleng, “Aku tidak bisa memastikan jika orang itu adalah Daehyun, Sejujurnya.. aku terlalu takut bahkan hanya untuk mendekat” ucap gadis itu.

“Tapi siapapun itu, aku merasa.. seseorang sedang berusaha untuk menerorku” lanjut Sooyoung dengan bibir bergetar. Sesaat, Youngjae hanya diam dan menatap Sooyoung pihatin.

“Sooyoung-ssi, jika kau mengalami hal seperti itu.. bukankah sebaiknya kau memang mencari tempat lain?” tanya Youngjae mencoba memberi saran.

Sooyoung mengangkat kedua bahunya dengan wajah bingung, “Kurasa orang itu tidak akan menyerah hanya karena aku pindah, karena setelah pindah kerumah temankupun.. seseorang tetap saja berusaha membuntutiku” jelas Sooyoung.

“Membuntutimu?!” Tanya Youngjae. Sungguh, dia tidak menyangka jika Sooyoung ternyata mengalami hal semacam ini.

Sooyoung mengangguk, “Lagipula.. aku tidak punya siapa-siapa disini, satu-satunya keluarga yang aku percaya hanyalah keluarga Daehyun, itulah kenapa.. aku memilih untuk bertahan disana” ucap Sooyoung jujur.

Youngjae terdiam beberapa saat untuk memikirkan sesuatu.

“Sooyoung-ssi.. bagaimana jika kau mencari tempat tinggal didekat rumahku saja?” tanya Youngjae.

Sooyoung yang sibuk menyedot juicenya pun langsung tersedak mendengarnya, “Ukhukk ukhukk.. Nn.. ne?” Tanya gadis itu.

Youngjae terlihat gugup, “Tunggu, jangan salah paham, aku.. aku hanya berfikir.. bahwa aku mungkin bisa menolongmu menangkap si penguntit itu jika tempat tinggal kita bedekatan, lagipula.. tempat tinggalku sangat dekat dengan kantormu.. jadi.. kau tidak perlu melakukan perjalanan jauh untuk bisa sampai rumah” ucap Youngjae mencoba mengklarifikasi.

Sooyoung sendiri terlihat kebingungan, dia melirik kekanan dan juga kiri untuk mencari jawaban yang tepat.

Dia.. memintaku tinggal didekat rumahnya?

End Flashback

Sooyoung berkumur dan membuang busa dimulutnya.

“Dia.. memintaku tinggal didekat rumahnya? Dia?!” Tanya Sooyoung pada bayangannya sendiri.

“Siapa?”

“Omma Khamchak- Ya Jung Daehyun! Ba.. bagaimana kau bisa masuk kesini?” tanya Sooyoung pada namja yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakangnya. Dari balik cermin, Sooyoung bisa melihat jika Daehyun menatapnya dingin.

Daehyun berjalan mendekat, “Dimana rantai dan juga gembok-ku? apa nenek lampir itu yang memberimu kuncinya?” tanya Daehyun curiga.

“Aku sudah membuangnya! Dan karena kamar ini sudah kembali ke tanganku, aku minta.. kau keluar dari sini!” ucap Sooyoung sambil meletakan sikat giginya sebelum dia menarik tubuh Daehyun keluar.

“Ya! aku tidak akan keluar! Aku tidak akan pernah menyerahkan kamar ini!” ucap Daehyun yang berusaha untuk melepaskan cengkraman Sooyoung.

“Ya Jung Daehyun! Kemarin itu aku sudah cukup bersabar! Jika kau tetap berusaha untuk merebut kamar ini.. aku akan melaporkanmu ke polisi!” ancam Sooyoung yang sepertinya kesulitan untuk menyeret tubuh Daehyun.

Daehyun mengibaskan cengkraman Sooyoung sambil tersenyum smirk, “Cih! kau pikir aku bodoh? Jika kau melaporkan kasus ini ke polisi.. seseorang yang akan dihukum bukanlah aku.. tapi ayahku!” ucap namja itu.

“Kau berani menjebloskan ayahku ke penjara?!” lanjut Daehyun sambil melipat kedua tangannya didada.

Sooyoungpun langsung terdiam sambil menatap Daehyun tajam. Gadis itu merapatkan bibirnya dan mengepalkan tangannya dengan geram. Nafas gadis itupun terlihat memburu dan matanya mulai berkaca-kaca.

Menyadari hal itu, Daehyun tentu saja terdiam dengan wajah terkejut. “Choi Sooyou-“

“Bisakah kau hentikan semua ini?! aku benar-benar lelah Jung Daehyun! Aku benar-benar lelah sampai rasanya ingin mati!” pekik Sooyoung sambil menghentakan kakinya.

Daehyun benar-benar tersentak melihatnya, matanya bahkan langsung melebar ketika dia melihat sebuah cairan bening mengalir di pipi Sooyoung.

“Hiks… kenapa.. kenapa kau membuat semuanya menjadi semakin sulit?! Memang… hks.. memang apa yang sudah kulakukan padamu Jung Daehyun?!” Lanjut Sooyoung masih dengan nada suara tinggi. Dan pertanyaan itupun membuat Daehyun semakin terdiam. Entah kenapa.. hatinya mulai bergetar saat melihat Sooyoung menangis seperti itu. Dia benar-benar tidak tahu jika Sooyoung akan sesakit itu karenanya.

‘Grebb~’ – Tanpa mengatakan apapun, Daehyun langsung menarik Sooyoung kedalam pelukannya. Dia melingkarkan kedua lengannya di bahu gadis itu dan menenggelamkan wajah Sooyoung dilekukan lehernya.

Mi.. mianhae… “ Bisik Daehyun dengan perasaan bersalah.

Awalnya, Sooyoung hanya diam dan terus terisak didalam dekapan Daehyun. Tapi setelah dia menyadari jika namja itu benar-benar memeluknya, mata Sooyoung pum langsung melebar. Aliran darahnya yang tadi mengalir cepat karena rasa marah, kini semakin berdesir mengiringi detak jantungnya yang semakin lama semakin tidak terkendali.

“Maaf.. karena aku membuatmu semakin menderita..” Lanjut Daehyun.

Meski isakan Sooyoung mereda, tapi dia tidak menjawab apapun. Gadis itu hanya diam dengan perasaan berkecamuk.

“Sungguh, aku bukan bermaksud mempermainkanmu, aku melakukan ini semua.. karena aku mencurigai-“

“DOKK DOKK DOKK!!” – Daehyun langsung menghentikan ucapannya ketika seseorang tiba-tiba saja menggebrak-gebrak pintu rumah Sooyoung dengan begitu keras. Namja itu melepaskan pelukannya terhadap Sooyoung agar dia bisa menoleh kearah pintu.

“DOKK DOKK DOKK!!” – Lagi-lagi suara itu muncul dan membuat Sooyoung maupun Daehyun mundur karena terkejut.

“Siapa itu?” Tanya Daehyun sambil menoleh pada Sooyoung dengan wajah bingung.

“Bukan kau?” Tanya Sooyoung yang tentu saja tak kalah bingung. Bagaimana tidak? Selama ini dia mengira jika Daehyunlah yang melakukan hal itu. Tapi sekarang.. namja itu malah berdiri di sampingnya dengan ekspresi yang sama.

“Ya Aku berdiri disini! Bagaimana itu bisa aku?!” tanya Daehyun sedikit geram.

Mendengar hal itu, Sooyoungpun langsung membulatkan mata dan ekspresi wajahnya berubah horror. Dia bahkan langsung mendekat pada Daehyun dan mencengkram lengan namja itu erat.

“DOKK DOKK DOKK!!” – Suara itu terdengar lagi sehingga Sooyoung semakin merapatkan tubuhnya pada Daehyun.

“Ya! kau.. kau mundurlah! Anhi.. Bersembunyilah dikamarmu dan hubungi orang bawah!” Pinta Daehyun sambil menoleh pada Sooyoung dengan wajah serius.

Sooyoung menatap Daehyun dengan ekspresi ketakutan. “Dan kau?” Tanya gadis itu.

“Aku akan keluar! Aku akan menangkapnya!” ucap Daehyun dengan begitu yakin.

“Apa kau gila? Bagaimana.. bagaimana jika dia orang jahat?” tanya Sooyoung yang sejujurnya merasa khawatir.

Daehyun menoleh kesekililing dan akhirnya meraih tongkat baseball Sooyoung, “Gwaenchana! Aku.. aku akan melawannya! Sekarang masuk dan kunci pintumu!” ucap Daehyun sambil mendorong Sooyoung.

“Daehyuna Hajima!” Larang Sooyoung sambil mengeratkan cengkramannya pada lengan Daehyun.

Daehyun tersenyum lalu membelai rambut Sooyoung, “Ya, aku ini jagoan.. kau jangan meremehkanku eoh” ucap Daehyun mencoba meyakinkan.

Hingga pada akhirnya, Sooyoung menurut dan melakukan apa yang Daehyun perintahkan. Dia berlari masuk kekamar dan segera menghubungi seseorang.

‘Tuuttt tuuuttt!’ – Sooyoung mencoba menghubungi rumah Daehyun tapi tidak ada siapapun yang mengangkat. Alhasil dia memilih untuk menghubungi Jessica.

‘Tuuutt tuuutt tuuutt’ – Tapi tetap saja, si sleeping beauty itu tak kunjung menjawabnya.

“Kemana semua orang” Gumam Sooyoung dengan wajah panik. Jauh didalam hati, dia hanya berharap jika Daehyun tidak apa-apa.

Tapi..

“BRAKKK!”

“ARGHH!!” – Sesaat setelah mendengar suara pintu yang terbuka, Sooyoung mendengar suara Daehyun yang merintih kesakitan.

Sooyoung membulatkan mata dan wajahnya berubah panik.

Apa yang terjadi?

Apa Daehyun terluka?

Apa.. orang itu mulai mencariku?

.

.

.

TBC

.

.

.

Apa yang akan terjadi?!!! jeng jeng jeng!!! Tunggu part selanjutnya ya ^^

Gimana readerdeul, masih amburadul kah? maaf ya kalo masih banyak kesalahan. Sebenernya hari ini aku pengen ngupload With You karena Yongguk kemaren ultah, tapi aku akhirnya ngupload ff ini karena Jongup sakit dan aku jadi baper #OkeIniAlay!

BTW, Biar si author ini semangat terus, jangan lupa kasih komen ya 🙂 !! Sakit loh tiap ngepost ff blogku selalu meledak tapi yg komen ga sesuai sama viewernya 😦

Dan buat para reader yg loyal.. makasih ya udah tetep setia :* #OkeIniJugaAlay

Happy Birthday Yongguk

#BBANGDAY

And Get well soon Moon Jongup

Iklan

22 thoughts on “FERMATA (Part 3)

  1. Yani yanuari berkata:

    woawwwwww part yng ditunggu2 akhir’a d’publis jga wkwkwkwkwk :v ntu upie? kok bisa langsung nongol gtu nyelametin soo eonni? Truss Truss ntu kenapa damchu agk kasar gtu sihhh sikap’a sma soo eonni?? dan ujae!! apaa bner Dya it playboy?? kenapa hyosung smpe geram gtu pas look ujae nganterin soo eonni plang k’rmah hyosung?? itu it it Jessica! apaa bner jga, Dya suka sama ujae? suka kah?? jinjjha? jinjjha?
    sbner’a apaa sih hbungan’a soo sma dae d’masa kecil’a?? kok damchu ampe sgtu’a sma soo eonni? tpi min!! part end’a bikin greget sumpahhhhh! sapa sih sbner’a yng suka neror soo eonni? kok gedor gedor pintu’a keras banget gtu sih?? –” Truss it sapa yng teriak kesakitan gtu?! apaa it damchu?? 😮 omegat omegat omegat! d’bkin penasaran mulu Ishhhh, kajja min keep waiting next part’a eohhh 🙂 😀 😉 fighting!!

  2. Febryza berkata:

    Sooyoungie unnie kasiaaan ..

    Ciye daehyun ciye khawatir ya sama sooyoung makanya dia gamau sooyoung di tempat itu, btw aku suka loh yg pas scene sooyoung sama daehyun di fotokopian

    Kan kan benerkan ada yg aneh sama youngjae, dia pelayboy ternyata

    Eh jongup tetanggaan sama hyosung? Terus nanti dia punya peranan penting ga kedepannya?

    Selamat ulang tahun buat abang yongguk dam cepet sembuh buat jongup yg 1line sama aku

  3. natsu berkata:

    Rada deg degan pas sooyoung udah gak kuat sama sikap daehyun, sampek sooyoung nangis dan daehyun dengan gentlenya memeluk sooyoung. Oh no i melting in here :v
    Oh iya aku nunggu with you nya ya unnie 🙂

  4. Kenapa Sooyoung takut sama orang mabuk? Jangan2 punya sesuatu di masa lalu … Dan daehyun tau? Ehem!

    Soal Youngjae aku ga percaya dia playboy. Ga masuk mukanya dia 😂 /plak

    Ff ini dipublish 5 hari yang lalu semoga sekarang jongup udah sembuh ya… (Hbd to yongguk dan sehari sebelumnya hbd to Gikwang 😘😘😘)

    • Kak, sejujurnya kadang2 komenmu malah nambahin ide baru buat ffku, tengkyu lho kak 😂
      BTW Happy birthday juga buat gikwangie 😇 #Telat

  5. huah~ akhirnya sweet moment soo-daehyun ada.. tapi masih kurang 😁
    jadi makin semangat bacanya..
    saking semangatnya jadi gak kerasa udh tbc 😦

    Kasihan soo jadi luka gara2 org mabuk..
    Apa Jongup bakal ada dipart selanjutnya?
    Apa youngjae itu gak baik?
    koq hyosung bilang gitu yah?
    Apa daehyun juga curiga sama youngjae?
    apa youngjae yg selalu neror soo?

    nice part ^^
    keep fighting!!!

  6. Johaaaaa, banyak bgt moment nya Soodae disini 😍😍 Seperti biasa selalu aja ff eonni suka bikin org ketawa tawa sendiri dan penuh misteri, sumpah aku masih blm bisa kebaca siapa yg ngedor pintu itu tiap malem, entah emang Youjae/daehyun(?)/Jong up? bener bener gl bisa kebaca pokonya, oh ya zelonya keluarin dongg eonni 😍 apalg aku yg abis liat post-an IGnya zelo bahwa dia makan makanan halal *jd merinding gt*………..

    Next!!

    Part selanjutnya harus dibikin lebih greget kayanya nih…….. #akhhhh!!! >< 😆

  7. Sebener.ny siapa yg neror soo? Apa mungkin youngjae? Ato malah keluarga daehyun?
    Oh iya soal youngjae yg playboy itu beneran gak sih? Apa itu cuman isu doang? Soal.ny ama muka youngjae gak yakin kalo dia playboy heheg
    Penasaran bngt ama lanjutan.ny…. Semangat chinggu
    Ohhh iya, zelo kapan nongol lagi nihhh chinggu?

  8. Novita Candra berkata:

    Youngjae playboy 😮. Padahal wajahnya polos begitu. Siapa ya yang selama ini neror sooyoung .? Jadi penasaran deh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s